Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 54

Memuat...

“Dalam hal ini, jalan hidup kita bersimpang, kawan. Aku belum pernah berpikir tentang perjuangan dan pemberontakan, akan tetapi aku hanya ingin mengulurkan tangan kepada mereka yang tertindas dan menentang si penindas dan mereka yang melakukan kejahatan. Akan tetapi, aku berjanji bahwa kalau ada kesempatan kita saling bertemu, aku tentu akan membantumu.”

Ong Siu Coan menarik napas panjang.

“Sayang, tenagamu amat berharga untuk suatu perjuangan. Akan tetapi, yang dipentingkan dalam perjuangan melawan penjajah adalah semangat, bukan sekedar ilmu berkelahi. Baiklah, dan apakah yang kaulakukan tadi di gedung hartawan itu?”

“Sudah kukatakan bahwa aku hanya akan memperingatkan hartawan itu agar jangan mengedarkan candu.”

“Hanya itu?” “Hanya itu…”

Kata Ci Kong sambil meraba-raba hati sendiri, apakah ada terbawa rasa dendam mengingat betapa ayahnya dahulu pernah dipukuli di rumah hartawan Ciu, akan tetapi dengan lega dia melihat kenyataan bahwa dendam itu tidak ada pada hatinya.

Ong Siu Coan tertawa.

“Ha-ha-ha, semua jerih payahmu itu tiada gunanya. Kukira apa yang kulakukan tadi lebih berguna.”

“Membunuhi pasukan itu?”

“Bukan hanya itu. Tadi ketika engkau berkelahi, peti kecil yang dipegang si gendut terjatuh. Aku mengambil peti kecil itu dan tahukah engkau apa isinya?”

Ci Kong menggeleng.

“Isinya candu murni! Dan aku membuang setengahnya, lalu kuganti dengan tahi kering yang kuaduk menjadi satu dengan candu. Ha-ha, ingin aku melihat muka orang yang menghisap candu itu sekarang, ha-ha!”

Ci Kong juga tertawa, akan tetapi dia memandang heran. Orang ini bercita- cita besar dan muluk, akan tetapi apa yang dilakukannya itu, mencampuri candu dengan tahi kering, sungguh kekanak-kanakan sekali. Dan mengingat bahwa orang gagah ini adalah murid seorang datuk sesat seperti Thian-tok, diam-diam diapun menjadi bingung sendiri. Murid datuk sesat menjadi patriot “Sudahlah, sobat Ong Siu Coan. Aku akan pergi sekarang dan selamat

tinggal. Mudah-mudahan cita-citamu yang tinggi itu akan dapat berhasil.” “Tentu saja berhasil. Eh, Tan Ci Kong, apakah engkau diutus oleh gurumu

yang gendut itu untuk mencari Giok-liong-kiam?”

Pertanyaan yang tiba-tiba ini mengejutkan Ci Kong, akan tetapi dengan tenang dia menggeleng.

“Tidak, akan tertapi kalau aku bertemu dengan saudara seperguruanmu itu, tentu akan kucoba untuk merampas kembali Giok-liong-kiam untuk dikembalikan kepada yang berhak.”

Ong Siu Coan mengangguk-angguk. Sejenak timbul keinginan hatinya untuk menyerang pemuda murid Siauw-bin-hud ini, akan tetapi keinginan ini ditekannya. Tidak perlu menanam permusuhan dengan pemuda ini, dan diapun belum yakin benar akan dapat mengalahkannya.

“Hemm, biarlah di lain kesempatan saja aku akan menguji kelihaianmu.

Aku masih mempunyai urusan yang lebih besar. Selamat tinggal!”

Siu Coan lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat meninggalkan Ci Kong. Pemuda ini lalu melanjutkan pula perjalanannya, menuju Kanton.

Apa yang dikatakan Ong Siu Coan kepada Ci Kong, yaitu bahwa perbuatannya mencampur madat dengan tahi kering itu lebih penting dari pada tindakan Ci Kong, memang terbukti. Perbuatannya yang nakal kekanak- kanakan itu telah menimbulkan akibat yang amat hebat terhadap keluarga hartawan Ciu Lok Tai. Dan juga ketika dia mengatakan bahwa dia ingin sekali melihat muka orang yang menghisap madat bercampur kotoran itu, andaikata dia benar-benar menyaksikan, tentu dia akan merasa puas dan geli, karena yang menjadi korban kenakalannya justeru adalah seorang pembesar Mancu yang dibencinya!

Seperti kita ketahui, dua orang kepercayaan Ciu Wan-gwe, yaitu Gan Ki Bin dan Lok Hun, sedang berangkat meninggalkan rumah gedung hartawan itu untuk melaksanakan tugas mengantarkan sepeti kecil madat kepada wakil kepala daerah Kanton yang oleh Ciu Wan-gwe diharapkan untuk dapat melindunginya dan membantu meredakan kemarahan Wang Taijin dan Ma- ciangkun yang merasa terhina dalam pesta itu oleh Kui Eng. Dan baru saja mereka muncul dari dalam gedung pagi itu, mereka berjumpa dengan Ci Kong sehingga terjadilah keributan. Setelah keributan itu selesai dengan larinya dua orang pemuda yang mengacau itu, mereka berdua menemukan kembali peti candu. Giranglah hati mereka melihat bahwa peti itu masih penuh. Bergegas mereka berganti pakaian lalu melaksanakan tugas yang tertunda itu, naik kuda menuju ke Kanton.

Ketika Gan Ki Bin dan Lok Hun tiba di rumah gedung Lai-taijin, yaitu wakil kepala daerah Kanton, mereka disambut dengan kegembiraan besar oleh Lai- taijin. Pembesar ini adalah seorang pecandu yang sudah tidak ketolongan lagi, sudah mendarah daging. Agaknya racun madat sudah menyusup sampai ke tulang sumsum, sehingga sehari saja tidak mengisap madat, dia akan tersiksa hebat. Dia sudah kehabisan madat yang baik, dan sudah berhari-hari dia terpaksa mengisap madat yang tidak murni lagi, kurang memuaskan. Oleh karena itu, melihat kedatangan dua orang utusan Ciu Wan-gwe yang membawa sepeti kecil madat murni, kegirangannya memuncak.

“Cepat ambilkan pipaku, akan kunikmati sekarang juga, ha-ha!” katanya, dan para pembantunya cepat mengambilkan pipa madat yang segera diisi dengan tembakau yang dicampuri madat murni yang diambil dari peti kecil itu. Dua orang utusan Ciu Wan-gwe masih berlutut di situ. Mereka berdua juga merasa girang sekali, dengan wajah berseri mereka melihat betapa pembesar itu bergembira dan segera mencoba madat murni yang mereka bawa. Tak salah lagi, sebentar lagi mereka tentu akan keluar dengan saku berat dan sarat oleh

hadiah-hadiah berharga!

Jari-jari tangan orang yang ketagihan madat tak dapat bergerak tetap, melainkan agak gemetar, dan kedua tangan wakil kepala daerah itupun gemetar ketika dia sendiri mencampurkan madat murni dari peti itu dengan tembakau, lalu dimasukkanya ke dalam mulut pipanya. Mencampur tembakau dengan madat, lalu memasukkan tembakau madat itu ke dalam pipa, semua ini dilakukan dengan jari-jari tangan yang terlatih dan terbiasa, dan di dalam pekerjaan inipun terkandung kenikmatan besar! Terdapat keluwesan dan seolah-olah mengandung ‘seni’ tersendiri.

Memasukkan tembakau madat ke mulut pipa, tidak boleh terlalu padat, karena hal itu akan menyukarkan penyedotan dan terbakarnya ramuan itu kurang lancar, juga tidak boleh terlalu sedikit sehingga sudah habis terbakar sebelum isapan penuh memasuki paru-paru. Kemudian menyalakan tembakau itu dengan mendekatkan mulut pipa pada api lilin yang tersedia. Lilinnya juga terbuat dari api sumbu lemak, tidak berbau malam. Semua gerakan ini disertai bayangan betapa akan nikmat rasanya kalau asap candu itu memasuki paru- paru. Hangat-hangat menyusup melalui kerongkongan, memasuki paru-paru, dan dari dada yang terasa hangat itu akan menjalar rasa nikmat ke seluruh tubuh. Kalau hawa itu sudah memasuki kepala, maka tubuh akan terasa ringan melayang-layang, pikiran akan menjadi kosong dan bebas seperti seekor burung dara yang terbang di angkasa, panca indera akan menjadi demikian tajam dan peka sehingga warna-warna akan nampak lebih cerah di mata, suara-suara akan terdengar lebih merdu di telinga, dan hidung akan mencium keharuman dan kesedapan suasana yang biasanya tidak pernah terasa. Sorga di dunia!

Dua orang utusan dari Tung-kang itu dengan wajah berseri dan mulut tersenyum mengikuti semua gerak-gerik pembesar itu yang duduk di kursi. Dengan kedua mata dipejamkan, akhirnya Lai-taijin membakar mulut pipa pada api kecil di atas meja, lalu disedotnya pipa itu. Tembakau madat terbakar, nampak bara api pada mulut pipa itu dan tercium bau asap yang aneh. Lai- taijin menyedot terus, sekuatnya karena dia menginginkan agar semua tembakau itu cepat terbakar dan asapnya memenuhi rongga dadanya.

“Eh-ehh... ohh... ugh-ugh-uuggghhh...!”

Tiba-tiba pembesar itu tersentak, duduknya tegak dan matanya mendelik, terbatuk-batuk dan tangan kirinya mencekik leher. Asap yang keluar dari mulutnya berbau aneh dan memuakkan, dan pembesar itu terus batuk-batuk sampai kemudian muntah-muntah. Tentu saja para pengawal menjadi terkejut sekali, juga dua orang utusan itu memandang dengan muka pucat.

Post a Comment