Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 50

Memuat...

Kui Eng berkata, kaget dan juga penasaran melihat betapa perwira itu kini menyerang dengan senjata pedang, dengan sungguh-sungguh lagi, bukan sekedar pi-bu persahabatan lagi. Akan tetapi, luputnya serangan pertama ini seperti minyak disiramkan pada api, membuat kemarahan Ma Cek Lung makin berkobar. Pedangnya mengeluarkan suara berdesing ketika diputarnya dan dia sudah menyerang kalang kabut. Pedangnya berobah menjadi sinar bergulung- gulung dan menyambar-nyambar ke arah tubuh Kui Eng. Gadis ini terus mengelak, dengan kecepatan yang luar biasa dan sekali lagi ia mengingatkan Ma Cek Lung.

Dalam keadaan marah seperti itu, tentu saja Ma Cek Lung tidak mau menghentikan serangannya sebelum berhasil. Pedangnya menyambar semakin ganas seolah-olah perwira itu menghadapi dan menyerang seorang musuh besar yang harus dibunuhnya! Menghadapi serangan seperti ini, Kui Eng yang mempunyai watak galak dan keras itu menjadi penasaran dan marah sekali. “Plak...! Tranggg...!”

Pedang itu terlempar ke atas papan panggung dan tubuh perwira itupun terpelanting dengan keras. Semua orang ternganga dan terbelalak memandang ke atas panggung. Sekali ini, tidak ada seorangpun berani bertepuk tangan atas kemenangan Kui Eng, walaupun mereka terkejut, kaget dan juga kagum bukan main. Kini tidak ada yang menyangsikan lagi akan kehebatan ilmu kepandaian Ciu Kui Eng.

Ma Cek Lung tidak terluka parah, karena Kui Eng yang masih ingat bahwa ia berhadapan dengan seorang komandan, hanya menotok pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas, kemudian sebuah tendangan ke arah lutut kaki membuat perwira itu terpelanting. Akan tetapi karena pantatnya terbanting keras ke atas papan, rasa nyeri membuat dia meringis ketika bangkit dan mengambil pedangnya. Dia mengeluarkan suara makian yang diguman saja, matanya mendelik ke arah Kui Eng. Kemudian dia bangkit berdiri dan memandang ke arah Ciu Wangwe dengan mata melotot.

“Ciangkun, harap maafkan kelancangan anakku...”

Suaranya penuh permohonan. Akan tetapi Ma Cek Lung hanya mendelik, kemudian tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan meloncat turun dari atas panggung, kemudian dengan langkah lebar tanpa pamit dia keluar dari situ untuk meninggalkan rumah keluarga Ciu dan langsung keluar. Wang-taijin yang tadi sudah merasa tidak suka karena kepala pengawalnya terluka, apalagi ketika mendengar bahwa tulang pundak pengawalnya itu patah-patah, melihat perginya Ma Cek Lung, dia juga bangun berdiri dan pergi dari situ tanpa pamit! Ciu Wan-gwe cepat menghampiri dan memberi hormat, mencoba untuk menahan sang pembesar. Akan tetapi Wang-taijin hanya mendengus, kemudian pergi dan langsung kembali ke Kanton. Para tamu juga merasa tidak enak, dan seorang demi seorang lalu berpamit meninggalkan tempat itu walaupun hidangan belum sempat disuguhkan semua. Hanya tinggal Lai-taijin

yang masih berada di situ karena ditahan-tahan oleh Ciu Wan-gwe.

“Harap taijin sudi memaafkan kami dan tolonglah keluarga kami dari kemarahan Wang-taijin dan Ma-ciangkun. Saya tidak akan melupakan budi kebaikan taijin.”

Berkali-kali Ciu Lok Tai memohon kepada wakil kepala daerah Kanton itu yang mengangguk-angguk sambil tersenyum-senyum, apalagi ketika hartawan itu menyerahkan sebuah kantong terisi potongan-potongan emas!

“Ah, tak perlu sungkan-sungkan, saudara Ciu,” katanya meringis malu- malu kucing.

“Akan kuusahakan agar kemarahan mereka mereda. Mereka tadi tentu hanya dikuasai oleh perasaan marah saja. Jangan khawatir. Biar aku pulang dulu dan eh... anu... persediaanku tinggal sedikit...”

Ciu Lok Tai tersenyum lega.

“Ah, jangan khawatir, taijin, akan saya kirim besok. Akan saya pilihkan yang murni dan paling baik.”

“Terima kasih, terima kasih...”

Sambil tersenyum ramah, pembesar itu lalu meninggalkan rumah keluarga Ciu dengan keretanya yang sudah menanti di luar.

Ciu Lok Tai lalu memanggil Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang tamu bekas jagoan-jagoannya yang masih berada di situ. Dua orang ini juga merasa khawatir sekali dan segera mengikuti Ciu Wan-gwe bersama puterinya yang masuk ke dalam ruangan belakang. Setelah tiba di situ, Ciu Wan-gwe menegur puterinya.

Kui Eng mengerutkan alisnya, tidak senang disalahkan oleh ayahnya. “Ayah, apakah aku harus membiarkan saja orang menghinaku dan kurang

ajar kepadaku? Jangankan baru para pembesar Kanton, biar dia dari istana sekalipun, kalau kurang ajar tentu akan kuhajar dia!”

“Ssttt, tahan tuh mulutmu!”

Ayahnya membentak, akan tetapi tidak melayani anaknya yang sudah pergi meninggalkan ruangan itu dengan marah. Dia tahu akan kekerasan hati puterinya dan melihat betapa lihainya anak itu sekarang, diapun tidak mau membikin ribut. Bagaimanapun juga, setelah Tee-tok pergi, dia harus mengandalkan kepandaian puterinya itu untuk keselamatan dirinya dan keluarganya.

“Harap kalian suka bermalam di sini, dan besok tolong kirimkan candu yang pilihan kepada Lai-taijin. Hatiku masih tegang dan khawatir, harap kalian temani aku malam ini.”

Pada sore hari itu, seorang pemuda memasuki sebuah rumah makan di kota Tung-kang. Pemuda ini berpakaian sederhana sekali, membawa sebuah buntalan pakaian, tubuhnya sedang tegap, dadanya bidang dan wajahnya yang tampan membayangkan kesabaran dan kebijaksanaan. Pakaiannya seperti pakaian seorang petani, akan tetapi melihat gerak-geriknya, dia seperti bukan petani dusun, dan cara dia menerima sambutan pelayan dan duduk di kursinya menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang sopan. Pemuda ini memang bukan orang sembarangan walaupun nampak sederhana sekali, karena dia adalah Tan Ci Kong!

Baru saja Ci Kong memasuki kota Tung-kang, tempat kelahirannya, dan begitu memasuki pintu gerbang kota itu, hatinya dicekam rasa haru. Dia langsung mengunjungi makam ayahnya. Akan tetapi dia tidak menangis ketika bersembahyang di depan kuburan ayahnya yang sederhana. Juga dia tidak berjanji apa-apa, karena bimbingan yang bijaksana dari manusia sakti Siauw- bin-hud membuat batin Ci Kong bersih dari pada benci dan dendam. Dia tahu bahwa ayahnya tewas dalam tahanan karena berani menentang pemerintah, dan dia masih ingat betapa ayahnya disiksa oleh seorang perwira gendut di rumah hartawan Ciu di kota Tung-kang. Akan tetapi dia tidak menaruh hati dendam. Berulang kali Siauw-bin-hud memberi wejangan kepadanya, meyakinkan hatinya bahwa dendam dan benci adalah penyakit yang meracuni badan dan batin sendiri.

Sebagai seorang pendekar, tentu saja dia boleh bertindak memper-gunakan kepandaiannya untuk menentang yang jahat dan membela yang benar, akan tetapi semua tindakan itu sama sekali salah kalau dilandasi kebencian dan dendam.

Setelah duduk bersila sampai berjam-jam lamanya di depan kuburan ayahnya, dan tahu-tahu siang telah berganti senja, diapun meninggalkan makam itu, dan karena perutnya terasa lapar, dia lalu memasuki sebuah rumah makan di ujung jalan. Tidak ada seorangpun di kota itu yang mengenalnya. Dia dahulu baru berusia tujuh tahun ketika pergi meninggalkan kota itu, dan kini dia telah berusia hampir duapuluh tahun. Tentu saja tidak ada yang tahu bahwa pemuda sederhana ini adalah putera tunggal Tan Siucai atau Tan Seng yang namanya dikenal oleh seluruh penduduk Tung-kang, bahkan terkenal pula sampai ke Kan-ton sebagai seorang sasterawan miskin yang gagah berani dan patriotik. Terutama sekali kaum patriot dan orang-orang gagah, amat menghormati nama Tan Siucai itu.

Restoran itu tidak begitu ramai. Ketika Ci Kong masuk dan duduk di sudut, di situ hanya ada empat orang yang sedang makan minum di meja tengah, akan tetapi ketika mereka menyebut-nyebut nama Ciu Wan-gwe mengingatkan dia akan hartawan yang pernah memukuli ayahnya bersama seorang perwira gendut, dan nama Ciu Wan-gwe memang dikenal di seluruh penduduk Tung- kang, termasuk dia sendiri. Sambil diam-diam makan pesanan nasi dan sayur, tanpa menoleh, Ci Kong memasang telinga mendengarkan.

“Luar biasa sekali puteri Ciu Wan-gwe itu. Betapa mudahnya ia mengalahkan pria-pria yang lihai itu!”

“Benar, ia memang cantik jelita, lihai dan kaya raya. Akan tetapi aku berani tanggung ia tidak akan mudah memperoleh jodohnya.”

“Eh, kenapa kau bilang begitu, A-kao?”

“Bayangkan saja. Siapa berani sembarangan melamar anak orang yang paling kaya di Tung-kang? Pula, kepandaiannya demikian hebat, salah-salah yang menjadi suaminya bisa dibunuhnya!”

“Lho! Kenapa begitu?”

“Masa kau tidak tahu, A-piu! Ayahnya masih gila perempuan, tentu memikirkan diri sendiri, mana mau memikirkan jodoh anaknya?”

“Kabarnya banyak korban gadis-gadis dan istri-istri muda di tangan Ciu Wan-gwe,” terdengar suara lirih akan tetapi masih dapat ditangkap oleh telinga Ci Kong.

“Bahkan enci adik Phoa yang menjadi kembang di kampung belakang pasar itupun kini menjadi miliknya.”

“Memang benar, baru beberapa hari yang lalu. Habis, ayahnya menjadi setan candu sih, maka anak-anaknya ditukar dengan candu.”

“Menjijikkan benar! Kaki tangan Ciu Wan-gwe itu selalu mengincar keluarga yang ada wanita-wanita cantiknya, lalu kepala keluarga dilolohi candu sampai menjadi ketagihan, dan kalau sudah begitu, anak atau bininya sendiri akan dijual untuk memperoleh candu.”

“Banyak orang bunuh diri setelah dipaksa melayani hartawan itu, yang oleh suaminya ditukar dengan candu.”

Post a Comment