Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 48

Memuat...

“Kami merayakan tamat belajarnya puteri kami, dan maafkanlah puteri kami yang hendak memperlihatkan hasil ilmu yang selama ini dipelajarinya. Karena cuwi yang hadir adalah ahli-ahli silat kenamaan, maka diharap agar sudi memberi petunjuk kalau permainan puteri kami masih dangkal,” kata Ciu Wan-gwe.

Dan ketika Kui Eng naik ke atas panggung, ia disambut dengan tepuk tepuk tangan memuji, tentu saja memuji kecantikannya. Akan tetapi, hampir semua tamu berasal dari Tung-kang, tidak ada yang berani memandang rendah. Semua orang di Tung-kang sudah tahu bahwa gadis cantik ini adalah murid seorang kakek sakti yang demikian pandainya sehingga berhasil menghadapi ujian senjata api dari Ciu Wan-gwe! Biarpun mereka sendiri belum pernah membuktikan kelihaian Kui Eng, namun mereka dapat menduga bahwa tentu gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Sudah banyak para pelayan dan pengawal keluarga Ciu membocorkan berita bahwa gadis itu benar-benar lihai sekali, seringkali bersama gurunya yang aneh bermain-main dengan ular- ular besar dan ular-ular beracun!

Setelah menjura ke empat penjuru dengan sikap gagah dan senyum manis sekali tak pernah meninggalkan bibirnya, Kui Eng lalu mulai bersilat. Tentu saja ia tidak mau mempertontonkan jurus-jurus simpanannya, melainkan hanya bersilat dengan landasan ilmu ginkang yang hebat, sehingga tubuhnya berkelebatan dengan amat cepatnya di atas papan panggung.

Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara, dan panggung itu sedikitpun tidak terguncang biarpun ia bermain silat dengan berloncatan cepat. Bagi para penonton yang belum tinggi ilmu silatnya, mereka akan tersenyum mengejek karena mengira bahwa gadis itu tidak memiliki tenaga sakti sehingga gerakannya kosong dan ringan. Sebaliknya, mereka yang lebih ahli, diam-diam terkejut dan kagum karena mengenal pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang hebat!

Setelah Kui Eng menghentikan permainan silatnya, semua orang bertepuk tangan gemuruh, bahkan ada yang bersuit-suit, yaitu dari para muda yang lebih mengagumi kecantikan dan keindahan gerak tubuh Kui Eng dari pada ilmu silatnya sendiri. Kui Eng menjura ke empat penjuru, lalu dengan nyaring ia berkata, suaranya lantang dan sama sekali tidak canggung atau malu-malu. Ia memang seorang gadis yang tabah, gagah dan juga galak, kegalakan yang lebih terdorong oleh kemanjaan dari pada oleh watak yang jahat.

“Cu-wi yang mulia. Ilmu silat hanya nampak indah saja kalau dimainkan sendirian, akan tetapi tidak ada artinya dan tidak kelihatan kelihaiannya kalau tidak dimainkan dalam suatu pertandingan antara dua orang. Maka, saya menantang kepada cu-wi yang memiliki kepandaian untuk mengadakan pertandingan silat persahabatan, untuk saling berkenalan dan saling memberi petunjuk dalam ilmu silat. Dengan demikian, barulah yang menonton dapat menikmatinya. Tidak tahu apakah di antara cu-wi ada yang berani untuk maju melayani saya barang sepuluh jurus?”

Di dalam ucapan ini terkandung kesombongan dan pandangan rendah terhadap para tamu, dan hal ini memang disengaja oleh Kui Eng untuk memanaskan hati mereka agar ada yang berani menyambut tantangannya.

“Oho, biarlah aku yang mencoba kelihaian nona Ciu!” terdengar suara nyaring dan sesosok tubuh tinggi besar sudah meloncat naik ke atas panggung. Panggung itu tergetar dan bergoyang-goyang ketika kedua kakinya hinggap di atas papan panggung. Laki- laki ini berusia tigapuluh tahun lebih, tinggi besar dengan muka merah, agaknya terlalu banyak minum arak. Akan tetapi semua orang dari Kanton mengenal siapa dia. Seorang guru silat muda yang memiliki tenaga gajah! Dan orang yang masih belum berkeluarga ini, ketika melihat Kui Eng, diam-diam sudah tergila-gila, maka melihat kesempatan untuk memamerkan ilmunya dan kesempatan bertanding, beradu tangan, berdekatan dengan nona cantik itu, terus saja dia menyambutnya. Untuk mendatangkan kesan dan untuk pamer, begitu kedua kakinya menginjak papan panggung, terus saja guru silat itu bersilat.

Gerakannya mantap dan pukulannya mendatangkan angin, bahkan panggung itu terus bergoyang-goyang seperti akan ambruk. Memang kelihatan hebat dan gagah sekali dia, terdengar bunyi otot dan tulang berkerotokan dan angin menyambar-nyambar kalau dia menendang.

“Nona Ciu, ilmu silatmu sungguh hebat sekali. Tidak tahu apakah ilmu silatku tadi cukup baik untuk melayani ilmu silatmu?”

Kui Eng mamandang tajam dan alisnya berkerut ketika ia melihat sinar mata laki-laki itu mengandung kekurangajaran. Ia balas menjura dan suaranya lantang terdengar semua orang yang berada di situ.

“Ilmu silatmu menunjukkan tenaga besar, cukup baik untuk manakut- nakuti orang, akan tetapi aku sangsi apakah cukup tangguh untuk bertahan selama lima jurus melawan ilmu silatku!”

Tentu saja semua orang terkejut, bahkan para ahli sekalipun terkejut. Biarpun guru silat muda itu lebih mengandalkan tenaga besar, namun dia memiliki ilmu silat yang tidak boleh dibilang lemah. Mana mungkin mengalahkannya dalam lima jurus saja? Gadis itu terlalu membual atau memang sombong. Ciu Wangwe sendiri berobah wajahnya, merasa khawatir karena puterinya bicara terlalu besar. Bagaimana kalau puterinya kalah? Berarti sekali keluar namanya terbanting keras dan hanya mendatangkan malu dan menjadi buah tertawaan saja.

Wajah guru silat muda itu menjadi semakin merah, akan tetapi sekali ini bukan merah karena hawa arak, melainkan karena penasaran dan marah. Gadis cantik ini ternyata telah membikin malu padanya di depan umum. Tunggu saja, manis, pikirnya gemas. Dalam pertandingan ini, aku akan membalas padamu, cukup dengan sekali raba dadamu saja sudah dapat membalas. Kemarahan ini saja sudah menunjukkan bahwa guru silat muda itu kurang luas pandangannya dan kurang matang ilmunya. Bagi orang yang sudah matang, melihat sikap gadis itu yang berani memandang rendah saja tentu sudah menjadi waspada, curiga dan berhati-hati sekali. Sebaliknya, guru silat yang terlalu membanggakan kepandaian sendiri ini dikuasai emosi dan bernafsu sekali untuk membalas dendam.

“Nona Ciu, benarkah bahwa engkau akan mampu mengalahkan aku dalam lima jurus? Hati-hati, kaki tangan tidak bermata, aku khawatir kalau-kalau nona akan terluka kalau kita harus mengadu ilmu silat.”

“Kau ini mau adu silat ataukah adu suara? Majulah dan jangan omong saja!” Kembali ucapan Kui Eng disambut suara ketawa dan tiba-tiba guru silat itu mengeluarkan suara seperti harimau menggereng dan tubuhnya sudah menubruk ke depan. Kedua lengannya dipentang lebar, dari kanan kiri mengurung dan hendak menerkam, seperti seekor biruang besar hendak menerkam kelenci. Mata para tamu kini memandang penuh perhatian dan dengan hati tegang, karena mereka maklum bahwa guru silat muda itu agaknya sudah marah sekali dan menyerang dengan sungguh-sungguh, walaupun serangannya bukan merupakan tendangan atau pukulan, melainkan

tubrukan untuk menerkam dan memeluk gadis itu!

Akan tetapi, dengan gerakan yang amat lincah, tahu-tahu tubuh gadis itu sudah menyelinap ke bawah kiri dan tubrukan itu luput. Guru silat itu tadi sudah melihat bayangan tubuh itu menyelinap ke kiri, tubrukannya dirobah menjadi terkaman ke samping dan kini dua lengannya itu menerkam dari atas dan bawah, kedua kakinya siap menyusulkan tendangan andaikata nona itu mengelak lagi. Akan tetapi sekali ini Kui Eng tidak mengelak, bahkan menghadapi serangan itu sambil membalikkan tubuhnya dan dua pasang kaki tangan itu bergerak cepat, seperti ada empat ekor ular menotok ke depan dan tiba-tiba saja guru silat muda itu mengeluarkan teriakan aneh dan tubuhnyapun roboh berlutut di depan Kui Eng!

Tentu saja semua orang menjadi heran dan terkejut sekali. Dalam dua kali serangan saja, guru silat itu telah roboh berlutut dan mereka tidak melihat bagaimana caranya sampai guru silat itu roboh. Guru silat itu sendiri menjadi pucat wajahnya. Tadi, ketika dia menerkam, tiba-tiba saja kedua siku dan lututnya terpukul, dan seketika kedua lengan dan kakinya menjadi lumpuh sehingga dia tidak mampu berdiri lagi dan terpaksa jatuh berlutut. Bagaimanapun juga, kini tahulah dia bahwa gadis itu memang sungguh seorang yang memiliki kesaktian dan sama sekali bukan lawannya.

“Maafkan saya, nona... saya... mengaku kalah...!” katanya lirih dan ketakutan karena dia belum mampu menggerakkan kaki tangannya.

“Hemm, belajarlah silat dengan baik, bukan memamerkan tenaga gajah,” kata Kui Eng.

Dan seperti orang menyuruh pergi, tangannya bergerak cepat sekali menyentuh ke pundak, dan ujung sepatunya menyentuh pinggang. Seketika tubuh yang lumpuh itu dapat bangkit lagi, dan dengan muka yang kini berobah merah sekali, guru silat itu memberi hormat kepada Kui Eng lalu melompat turun dan kembali ke tempat duduknya tanpa banyak cakap lagi.

Tepuk tangan riuh menyambut kemenangan ini, akan tetapi beberapa orang mengerutkan alisnya. Benarkah guru silat itu kalah sedemikian mudahnya? Ataukah guru silat itu memang sengaja ‘dibeli’ untuk berperan sebagai orang yang dikalahkan? Ciu Wangwe adalah seorang yang kaya raya, mampu membayar apa saja dan guru silat itu merupakan orang baru di Kanton, siapa tahu dia memang sengaja bermain sandiwara agar dikalahkan dalam dua gebrakan saja!

Akan tetapi, mereka yang memiliki kepandaian lebih tinggi berpendapat lain. Mereka melihat bahwa selain guru silat itu memang tidak begitu pandai, ternyata bahwa gadis hartawan ini benar-benar lihai sehingga mereka memandang kagum, dan ketika Kui Eng mempersilahkan jagoan lain untuk naik, tidak ada seorangpun berani menyambutnya.

Yang paling gembira adalah Ciu Wan-gwe. Ternyata puterinya mampu membuktikan omongannya. Guru silat yang hebat tadi dirobohkan hanya dalam waktu sebentar saja! Makin percayalah dia bahwa kakek sakti itu memang benar telah mewariskan kepandaiannya kepada Kui Eng.

“Cu-wi yang mulia! Benarkah tidak ada lagi jagoan yang mau memberi petunjuk kepadaku? Ah, dan aku mendengar bahwa Kanton adalah gudangnya jago silat yang tinggi ilmunya. Apakah cu-wi ingin mengecewakan hatiku?”

Kui Eng berkata karena memang ia kecewa sekali. Ia ingin memamerkan kepandaiannya dan juga mendatangkan kesan agar keluarganya ditakuti orang dan hati ayahnya menjadi tenteram. Kiranya di antara para jagoan itu, yang maju hanyalah seorang guru silat mentah !

Wang Taijin, kepala daerah Kanton, merasa tersinggung mendengar ucapan gadis itu. Seorang gadis yang sombong, pikirnya. Memang di sudut hatinya, Wang Taijin merasa tidak suka kepada hartawan ini, karena dia mendengar bahwa orang she Ciu ini merupakan pedagang dan penyelundup candu terbesar di Kanton dan Tung-kang, seorang yang bersekongkol dengan orang-orang kulit putih. Juga dia mendengar bahwa hartawan ini seolah-olah sudah menguasai semua pembesar di Kanton dengan suapan-suapannya. Kalau saja tidak dibujuk oleh Lai Taijin, tentu dia sudah menyuruh orang- orangnya menuntut hartawan ini di pengadilan atau setidaknya melakukan penyitaan atas candu-candu simpanannya.

Kini, melihat sikap anak hartawan Ciu itu, yang seolah-olah menantang dan menghina orang-orang gagah di Kanton, dia mendongkol sekali. Dengan isyarat tangan dan mata, diapun lalu menyuruh kepala pengawal yang menemaninya untuk maju dan menandingi gadis yang dianggapnya amat sombong itu.

Kepala pengawal ini adalah pengawal bawaan Wang Taijin dari kota raja, seorang laki-laki berusia limapuluh tahun yang tubuhnya jangkung, matanya tajam dan kumis jenggotnya panjang terpelihara rapi. Dalam mengawal Wang Taijin, dia selalu berpakaian preman. Orangnya pendiam dan sikapnya halus. Melihat betapa majikannya memberi isyarat agar dia maju, pengawal yang jangkung ini mengangguk, akan tetapi alisnya berkerut. Dia adalah seorang kepala pengawal daerah Kanton, seorang yang memiliki kedudukan tinggi dan kini dia disuruh maju melayani dan melawan seorang gadis yang usianya belum duapuluh tahun!

Memang, diapun tadi melihat bahwa gadis itu bukan orang sembarangan, akan tetapi maju melawan seorang gadis semuda itu saja sudah menurunkan martabatnya. Akan tetapi, karena yang memerintah adalah majikannya, tanpa banyak cakap diapun bangkit berdiri dan sekali menggerakkan tubuhnya, dia sudah melayang naik ke atas panggung. Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara apapun ketika hinggap di atas panggung, berhadapan dengan Kui Eng dan menjura dengan hormat. Diam-diam Kui Eng terkejut. Ini baru orang pandai, pikirnya, aku harus berhati-hati menghadapinya.

“Nona Ciu, maafkan kalau saya orang yang tua memenuhi undangan nona untuk bermain-main sebentar menghibur para tamu dan menggembirakan suasana. Harap nona suka mengalah kepada saya.”

Kui Eng makin berhati-hati. Orang ini pandai merendahkan diri, akan tetapi sinar matanya begitu tajam. Tentu lawan yang berbahaya, pikirnya.

“Ah, paman terlalu sungkan. Kuharap pamanlah yang suka mengalah terhadap orang muda yang belum berpengalaman.” katanya sambil balas menjura.

“Saya sudah siap, harap nona suka mulai,” kata kepala pengawal Wang Taijin itu.

“Paman adalah tamu, silahkan mulai.”

Akan tetapi, kepala pengawal itu tentu saja rikuh sekali kalau harus menyerang lebih dulu. Dia adalah seorang tua yang menang segala-galanya, mana mungkin harus menyerang dulu? Maka diapun diam saja, hanya berdiri tegak, sama sekali tidak berlagak dengan kuda-kuda kokoh seperti yang dilakukan guru silat muda tadi. Melihat orang ragu-ragu, Kui Eng tersenyum dan ia semakin hati-hati.

Post a Comment