“Hati-hati, Siauw-bin-hud! Jangan kau mempermainkan aku yang jauh-jauh datang menagih janji, atau... tongkatku takkan mengampuni tubuhmu yang sudah tua renta itu!”
Mendengar ancaman ini, Siauw-bin-hud menjadi semakin geli dan senyumnya melebar.
“Ha-ha-ha, betapa lucunya melihat kalian ini orang-orang tua masih saja dicengkeram setan tamak sehingga begitu haus memperebutkan sebuah benda mati. Giok-liong-kiam tidak ada padaku. Pinceng bahkan belum pernah melihatnya, ha-ha-ha…!”
“Aihh, Siauw-bin-hud, apa kau berani mengatakan bahwa engkau akan melanggar janji, menjilat ludah sendiri?”
San-tok berkata, kaget karena sukar dia membayangkan kakek gendut Siauw-lim-pai ini berani melanggar janji, padahal sejak dahulu Siauw-bin-hud terkenal sebagai seorang gagah yang memegang teguh janjinya dan dapat dipercaya sepenuhnya.
“Ha-ha-ha, San-tok, makin tua kau makin kurang sabar saja. Baiklah, dengarkan semua kawan yang sudah melimpahkan kehormatan kepada pinceng sehingga hari ini berkumpul di sini. Selama enam tahun ini, sama sekali pinceng tidak pernah melanggar janji. Pinceng menjelajahi hampir seluruh dunia untuk mencari jejak perampas Giok-liong-kiam yang menyamar sebagai pinceng. Dan pinceng sudah bertemu dengan orangnya!”
Kakek itu berhenti sebentar, membiarkan semua orang saling pandang dan keadaan menjadi berisik.
“Ha-ha-ha, kalian berdua, Hai-tok dan San-tok, kiranya tidak akan sukar menduga siapa orangnya. Agaknya kalian hanya pura-pura saja tidak tahu selama ini, bukan?”
Ketika dua orang kakek itu saling pandang dengan mata dilebarkan, Siauw- bin-hud menyambung.
“Ya, siapa lagi pelawak yang membuat lelucon yang tidak lucu itu kalau bukan rekan kalian Thian-tok?”
“Ahhh…” Coa Bhok, wakil ketua Thian-te-pai berseru.
“Apakah buktinya bahwa beliau yang menyamar sebagai locianpwe?” tanyanya karena menghadapi seorang tokoh yang namanya pernah menjulang ke langit seperti Thian-tok, bukan hal yang boleh dibuat main-main.
“Ha-ha-ha, memang dia tidak pernah mau mengaku bahwa dia telah memalsukan nama pinceng. Dan dia benar, si cerdik itu! Dia hanya mencukur rambut dan menutupi bulu di dadanya dengan jubah kuning, cukuplah. Memang wajahnya mirip pinceng. Dan dia mengaku bahwa Giok-liong-kiam berada di tangannya, sampai pada hari dia bertemu dengan pinceng itu...”
“Ha-ha-ha, jadi si Racun Langit itu mengalah dan mengembalikan pusaka itu kepadamu, Siauw-bin-hud?”
San-tok mentertawakan rekannya yang disangkanya mengalah atau takut kepada hwesio ini sehingga mengembalikan pusaka Giok-liong-kiam.
Kembali semua orang kecewa melihat Siauw-bin-hud tersenyum lebar sambil menggeleng kepalanya menjawab pertanyaan San-tok itu.
“Pedang pusaka Giok-liong-kiam itu telah dirampas orang lain, hanya beberapa jam sebelum pinceng tiba di sana.”
Kembali terdengar suara berisik dari semua orang yang hadir, dan Hai-tok memukulkan tongkatnya ke atas tanah.
“Kalau bukan Siauw-bin-hud yang bicara, sungguh mati aku tidak akan dapat percaya begitu saja. Siapakah orang yang dapat merampas pusaka itu dari tangan Thian-tok?”
“Perampasnya adalah bekas muridnya sendiri yang bernama Hek-eng-mo Koan Jit. Jangan tanyakan dimana dia tinggal, karena pinceng sendiri juga tidak tahu. Nah, selesailah urusan Giok-liong-kiam ini yang mengait nama pinceng. Harap kalian jangan mengganggu pinceng lagi.”
Tentu saja semua tokoh itu merasa kecewa mendengar ini. Tak mereka sangka bahwa pusaka itu telah lenyap lagi begitu mereka ketahui jejaknya. Dan di antara mereka banyak yang sudah mendengar akan nama Koan Jit yang berjuluk Hek-eng-mo. Apalagi wakil ketua Thian-te-pai Coa Bhok. Wajahnya berobah ketika dia mendengar bahwa pusaka perkumpulannya itu telah terjatuh ke tangan Hek-eng-mo Koan Jit! Iblis Bayangan Hitam itu bukan orang asing bagi Thian-te-pai, karena merupakan musuh besar! Akan tetapi, keterangan itu mereka dengar dari Siauw-bin-hud yang tidak dapat diragukan lagi kebenarannya. Kakek pendeta Siauw-lim-pai itu tidak mungkin membohong. Maka merekapun bubaran dan kini terjadi lagi perlumbaan yang dipersiapkan, yaitu untuk mencari Hek-eng- mo Koan Jit dan mencoba untuk merampas pusaka Giokliong-kiam dari tangannya. Akan tetapi, tentu saja hanya tokoh-tokoh besar yang akan berani melakukan ini, karena semua orang sudah mendengar belaka akan kesaktian Iblis Bayangan Hitam itu yang namanya tidak kalah menakutkan dibandingkan Empat Racun Dunia.
San-tok Bu-beng San-kai mengajak muridnya meninggalkan Siauw-lim-si, dan di tengah perjalanan, kakek ini tiada hentinya senyum-senyum sendiri.
“Heh-heh, sungguh lucu sekali! Sejak dahulu aku sudah menduga bahwa tentu Racun Langit itu yang menyamar sebagai Siauw-bin-hud, akan tetapi karena ragu-ragu yang kukejar-kejar adalah Siauw-bin-hud. Sayang baru sekarang aku yakin setelah pusaka itu dirampas oleh si maling cilik Hek-eng- mo.”