Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 43

Memuat...

Akan tetapi, Siauw-bin-hud tetap saja tersenyum lebar, bahkan kadang- kadang terkekeh lirih. Justeru dalam suara kekehnya inilah terletak kekuatan yang dapat menolak serangan suara Sin-houw Ho-kang itu! Agaknya bukan hanya Thian-tok yang menjadi penasaran, juga Siu Coan mengerutkan alisnya. Dia biasanya amat menyombongkan Ilmu Sin-houw Ho-kang ini dan sekarang suhunya sudah mengerahkan tenaga sekuatnya, belum juga mampu mengalahkan atau setidaknya membuat Siauw-bin-hud kerepotan. Maka tiba- tiba diapun mengeluarkan suara melengking yang disusul pula oleh Seng Bu dalam usaha dua orang murid itu untuk membantuguru mereka! Kini ada tiga suara yang mengandung Sin-houw Ho-kang yang menyerang ke arah Siauw- bin-hud dan Ci Kong!

Ci Kong merasa terkejut bukan main. Serangan tambahan dari dua orang pemuda itu sungguh tidak boleh dibuat main-main. Kekuatan yang terkandung dalam lengkingan suara mereka itu tidak selisih banyak dengan kekuatan suara Thian-tok, dan karena dua orang pemuda itu menggabungkan suara mereka, maka kekuatan suara gabungan itu bahkan lebih kuat lagi daripada suara Thiantok.

Ci Kong merasa betapa tubuhnya menggigil dan cepat dia lalu duduk bersila dan mengerahkan semua tenaganya. Baru setelah dia duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalamnya, dia mampu menahan serangan getaran tiga suara yang bergabung itu.

Dan kini, senyum Siauw-bin-hud makin melebar dan mulai terdengar suara terkekeh-kekeh dari mulutnya. Suara ini demikian kuatnya sehingga tiga orang penyerang itu merasa betapa suara mereka terpukul membalik, membuat mereka terkejut sekali. Akan tetapi Thian-tok masih berkeras mengerahkan tenaganya.

“Thian-tok, engkau sedang menderita luka, apakah engkau mau bunuh diri?” tiba-tiba terdengar Siauw-bin-hud berkata, suaranya lembut, akan tetapi aneh karena dalam kelembutan itu terkandung kekuatan dahsyat sekali yang serentak membuyarkan kekuatan Sin-houw Ho-kang dari tiga orang penyerang itu!

Thian-tok menghentikan serangan suaranya dan mukanya menjadi agak pucat. Dua orang muridnya terpaksa menghentikan pula suara mereka, dan di dahi dan leher mereka nampak butiran-butiran keringat yang besar-besar dan dingin. Kalau dilanjutkan melawan suara kakek Siauw-lim-pai itu, yang membuat suara mereka sendiri membalik, mereka akan dapat menderita luka parah sekali oleh tenaga khikang mereka sendiri yang memukul balik!

“Hemm, aku masih belum kalah, Siauw-bin-hud. Coba kausambut seranganku dan kaukalahkan aku kalau bisa!”

Berkata demikian, kakek gendut itu kini sudah menerjang ke depan, menyerang Siauw-bin-hud kalang kabut. Angin pukulan dahsyat menyambar- nyambar dengan hebatnya dan Siauw-bin-hud mengeluh.

“Omitohud, engkau menderita masih nekat, Thian-tok?” Siauw-bin-hud juga menggerakkan tubuhnya, mengelak sambil mengebut- ngebutkan ujung lengan bajunya untuk menangkis. Kakek ini tidak pernah membalas, akan tetapi semua serangan Thian-tok yang amat hebat itu dielakkannya saja sambil kadang-kadang ditangkis dengan ujung lengan baju. Thian-tok adalah seorang tokoh besar, seorang datuk iblis yang sudah mematangkan ilmunya selama puluhan tahun ini, semenjak kalah oleh Siauw- bin-hud, maka ilmu kepandaiannya meningkat banyak sekali.

Siauw-bin-hud maklum akan hal ini, akan tetapi kakek yang batinnya penuh dengan welasasih ini, selain tidak suka memukul orang, juga merasa amat kasihan kepada Thian-tok yang dia tahu sedang menderita luka cukup parah di sebelah dalam tubuhnya. Dan memang benarlah. Pertemuannya dengan bekas muridnya yang murtad, yaitu Koan Jit, yang memukulnya dengan tiba-tiba sehingga kakek itu terluka, membuat tenaganya banyak berkurang, bahkan kalau dia terlalu mengerahkan tenaga dalam, amat membahayakan diri sendiri. Karena merasa kasihan inilah, maka Siauw-bin-hud hanya mengelak dan menangkis saja atas semua desakan Thian-tok yang mempergunakan Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hong Kun-hoat yang amat diandalkannya itu. Selama puluhan tahun dia menyempurnakan ilmu ini dan selama ini belum pernah menemui tandingan.

Ci Kong memandang penuh kekhawatiran, karena pemuda inipun dapat melihat betapa hebatnya serangan-serangan Thian-tok dan betapa susiok couwnya hanya mengelak dan menangkis saja dengan sikap amat mengalah. Kakek gurunya itu sudah amat tua, dan betapapun sakti dan tinggi ilmunya, usia tua membuat tubuh itu tentu saja ringkih. Mana mungkin kakek itu dapat bertahan terus menghadapi serangan dengan ilmu sedahsyat itu kalau hanya mengelak dan menangkis saja tanpa membalas sama sekali.

Sementara itu, Thian-tok merasa makin penasaran. Siauw-bin-hud sekarang, tidak seperti empatpuluh tahun yang lalu, menghadapinya tanpa membalas dan sudah lewat limapuluh jurus, belum juga dia mampu menyentuh tubuh kakek itu, apalagi merobohkan! Padahal, Siauw-bin-hud sama sekali tidak pernah membalasnya. Empatpuluh tahun yang lalu, setelah melalui perkelahian mati-matian selama belasan jam, baru Siauw-bin-hud mampu mengalahkannya, akan tetapi Siauw-bin-hud ketika itu balas menyerang, tidak seperti sekarang ini, sama sekali tidak membalas dan hanya mengelak dan menangkis saja. Sungguh tak mungkin dia dapat menerimanya, bahkan sukar mempercayanya.

Maka, tanpa memperdulikan luka yang dideritanya akibat pukulan bekas muridnya, kakek gendut ini menyerang terus mati-matian. Dia tahu bahwa dengan lukanya, dia sama sekali tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Hal ini akan membuat luka pukulan beracun bekas muridnya itu menjadi semakin parah. Akan tetapi, Thian-tok memiliki watak yang angkuh dan kepala batu, maka dia tidak memperdulikan diri sendiri dan terus menyerang dengan maksud mengalahkan, kalau mungkin membunuh. Sepasang matanya sudah merah, mulutnya masih tersenyum, menyeringai menyeramkan karena dalam senyum ini terbayang nafsu membunuh! Dia tidak perduli bahwa lawannya tidak pernah membalas, dan hal ini malah dianggap amat menguntungkan, memberi kesempatan sebanyaknya kepadanya untuk menang. Sikap Siauw-bin-hud yang mengalah itu dianggap suatu kebodohan, ketololan lawan yang menguntungkan dirinya!

“Aagghhhh...!” Tiba-tiba dia mengeluarkan suara gerangan rendah yang menggetarkan tanah sekitar tempat itu, seperti seekor raja hutan menggereng dengan dahsyatnya dan sambil mengeluarkan suara gerengan itu, Thian-tok menubruk ke depan, kedua tangannya mendorong ke arah dada Siauw-bin-hud sambil mengerahkan seluruh tenaga yang ada pada dirinya. Agaknya Thian-tok sekali ini mengeluarkan segalanya untuk merobohkan lawan.

“Omitohud... kau menyiksa dirimu sendiri”

Siauw-bin-hud berseru dan hwesio gendut ini tidak sempat mengelak lagi, terpaksa mengulur kedua tangannya menyambut. Siauw-bin-hud yang berhati penuh welas asih itu tidak mengerahkan tenaga keras, melainkan menggunakan kelembutan menerima serangan dahsyat dari lawan.

“Plakkk...!”

Tubuh Siauw-bin-hud terlempar ke belakang dan diterima oleh Ci Kong dengan lembut. Tubuh Thian-tok tetap berdiri tegak, dengan kedua kaki terpentang lebar, dan dia tertawa bergelak, akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya berganti suara muntah-muntah, dan dari mulutnya tersembur keluar darah segar, lalu diapun terjungkal! Dua orang muridnya cepat melompat dan membantunya bangkit duduk, kemudian Thian-tok cepat bersila dan mengatur pernapasannya yang memburu. Dia terluka semakin hebat oleh tenaganya sendiri yang membalik.

Sementara itu, Siauw-bin-hud ternyata tidak apa-apa, hanya mukanya saja berobah agak pucat dan nampak kakek ini lelah sekali. Seperti juga Thian-tok, dia duduk bersila memejamkan mata dan pernapasannya berjalan dengan lembut dan panjang.

Ong Siu Coan merasa penasaran dan tersinggung sekali karena gurunya jelas mengalami kerugian atau kekalahan dari kakek Siauw-lim-pai. Dia memang licik. Melihat betapa kakek yang sakti dari Siauw-lim-pai itu agaknya juga terluka atau setidaknya kehabisan tenaga, diapun meloncat ke depan menantang.

“Orang-orang Siauw-lim-pai yang sombong! Kalian datang untuk mengganggu kami, majulah dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!”

Mendengar tantangan murid Thian-tok ini, Ci Kong bangkit berdiri dari samping suhunya. Ingin dia menyambut tantangan itu, dan biarpun dia tahu bahwa kaum sesat tidak segan untuk berbuat curang dan mengeroyok, namun pemuda perkasa ini tidak merasa gentar. Yang membuat dia tidak enak adalah susiok-couwnya. Tanpa ijin kakek itu, tentu saja dia tidak berani sembarangan turun tangan. Maka, biarpun dia sudah berdiri menghadapi Siu Coan, dia menoleh kepada kakek gurunya yang masih duduk bersila sambil memejamkan matanya.

Agaknya, tanpa membuka matanya, Siauw-bin-hud maklum akan keraguan cucu murid itu. Diapun menggerakkan bibirnya dan biarpun tidak ada suara keluar dari mulutnya, namun Ci Kong mendengar bisikan di dekat telinganya.

“Ingat, kita datang bukan untuk mencari permusuhan. Serahkan saja kepada pinceng dan jangan ikut mencampuri urusan ini.”

Mendengar bisikan ini, Ci Kong menarik napas panjang untuk mencairkan kebekuan di dalam batinnya karena penasaran tadi, dan diapun duduk kembali bersila di belakang susiok-couwnya. Melihat ini, Siu Coan tertawa bergelak dengan sikap menghina.

“Ha-ha-ha… setelah tua bangka itu luka dan lelah, engkau kehilangan nyali!” Itulah penghinaan yang hebat bagi seorang gagah. Setiap orang pendekar pantang untuk merasa takut, dan makian bahwa dia kehilangan nyali merupakan penghinaan yang sukar dapat ditahan. Dan ini merupakan ujian berat bagi Ci Kong. Pemuda ini hanya menundukkan mukanya yang sebentar merah dan sebentar pucat menahan kemarahan yang berkobar di dalam dada. “Hemm, kalau kalian diam saja, biarlah aku yang turun tangan, menyelesaikan pekerjaan suhu yang kepalang tanggung tadi. Aku akan bunuh

kalian!”

Su Coan berkata lagi dan Seng Bu hanya memandang bingung. Di dalam hatinya dia tidak setuju dengan sikap suhengnya itu. Akan tetapi dia juga merasa tidak enak kalau harus memperlihatkan sikap membela musuh! Maka, pemuda ini hanya diam saja dan memandang dengan mata terbelalak penuh ketegangan.

Ong Siu Coan sudah melangkah maju, siap untuk menyerang kakek gendut itu. Diapun dapat menduga bahwa kakek itu sakti sekali, biarpun nampak lelah akan tetapi harus dihadapi dengan amat hati-hati.

“Siu Coan, mundurlah!”

Tiba-tiba terdengar suara Thian-tok. Siu Coan terkejut sekali dan diapun mundur lagi, tidak berani menentang perintah gurunya. Lalu terdengar Thian- tok tertawa.

“Heh-heh-heh, anak bodoh. Aku sendiri saja tidak mampu menandinginya, apa engkau kepingin mampus, berani mencoba untuk menyerangnya?”

“Suhu, untuk membela suhu, aku berani menghadapi kematian!” kata Siu Coan dengan sikap gagah.

Kembali Thian-tok tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, gagah-gagahan apa untungnya? Mundur dan jangan mencampuri urusanku dengan Siauw-bin-hud. Eh, Siauw-bin-hud, aku tidak perlu malu mengatakan bahwa sekali inipun aku belum mampu menandingimu. Nah, aku memenuhi janjiku tadi. Mari kita bicara tentang Giok-liong-kiam. Apa kehendakmu mengenai pusaka itu?”

“Ha-ha, engkau bersikap baik sekali, Thian-tok. Pinceng tidak tamak dan tidak butuh pusaka. Akan tetapi karena engkau merampas pusaka itu mempergunakan nama pinceng, atau setidaknya semua orang menyangka pinceng yang merampasnya, maka pinceng ingin membersihkan suasana. Serahkan pusaka itu kepada pinceng agar dapat pinceng kembalikan kepada yang berhak.”

“Siapa yang berhak?”

“Karena pusaka itu dicuri orang dari pusat Thian-te-pai, maka tentu saja akan pinceng kembalikan kepada mereka.”

“Uhh, tolol kalau kaukembalikan kepada mereka! Yang berhak memiliki pusaka itu adalah orang yang paling sakti di dunia ini. Siapa yang mampu memilikinya, dialah yang berhak menjadi pemiliknya.”

“Ha-ha-ha… tidak ada gunanya berdebat tentang pendapat, Thian-tok.

Serahkan pusaka itu dan pinceng akan akan pergi.”

“Heh-heh, tak kusangka engkau sebodoh ini, Siauw-bin-hud. Ketika engkau baru datang tadi, sudah kukatakan bahwa kedatanganmu terlambat. Baru pagi tadi pusaka itu hilang dari tanganku.”

“Omitohud...! Hilang lagi?”

“Bekas muridku yang amat pandai, mungkin lebih pandai dari pada aku sendiri, bernama Koan Jit, tadi datang dan mengambil pusaka itu. Kalau saja dia tidak lebih dulu datang dan melukai aku dengan pukulannya yang beracun, belum tentu sekarang aku sudah menyerah kalah padamu!”

“Omitohud! Muridmu sendiri yang merampasnya dan memukulmu? Hemm, dia bernama Koan Jit? Dimanakah tempat tinggalnya?”

“Ha-ha-ha-ha, Siauw-bin-hud. Engkau seperti nenek-nenek bawel saja dalam bertanya. Dimana dia? Mana aku tahu? Cari saja sendiri, nama Hek-eng- mo tidak sukar untuk dikenal.”

Siauw-bin-hud mengangguk-angguk.

“Hek-eng-mo! Hemmm, terima kasih, Thian-tok, selamat tinggal.”

Kakek gendut itu sambil tersenyum lalu menjura ke arah kakek gendut lainnya yang masih duduk bersila, kemudian memberi isyarat kepada Ci Kong untuk pergi meninggalkan tempat itu. Dua orang murid Thian-tok tidak berani mengganggu dan hanya mengikuti gerakan dua orang itu dengan pandang mata sampai mereka lenyap di sebuah tikungan.

Setelah dua orang itu pergi, Thian-tok memandang kepada dua orang muridnya. Mulutnya masih menyeringai, akan tetapi sekarang nampak bahwa kakek ini menderita kesakitan yang ditahan-tahan sejak tadi.

“Siu Coan dan Seng Bu, mulai hari ini kalian boleh turun gunung dan berpencar. Kalian kuberi tugas untuk mewakili aku, mencari Koan Jit dan berusaha merampas kembali Giok-liong-kiam sebelum keduluan orang lain. Hati-hati, setelah kini Siauw-bin-hud tahu, tentu tugas kalian akan menjadi semakin berat karena akan terdapat banyak saingan. Siapa di antara kalian yang berhasil membawa Giok-liong-kiam kepadaku, akan kuwarisi ilmu pedang yang cocok untuk dimainkan dengan Giok-liong-kiam, dan dia yang akan menjadi pemilik Giok-liong-kiam. Nah, pergilah kalian, aku harus mengaso dan bertapa lagi untuk mengobati lukaku.”

“Tapi, suhu. Kemanakah aku harus mencari suheng Koan Jit itu?” Siu Coan bertanya.

“Ha-ha, kalau engkau pintar, tidak akan sukar mencari murid murtad itu. Julukannya Hek-eng-mo, dia haus akan kedudukan, ingin menjadi jago nomor satu di dunia, dan aku sendiri tidak tahu dimana tempat tinggalnya. Akan tetapi ada dua hal yang patut kauingat dan selidiki. Dia sahabat baik pai-cu (ketua) dari perkumpulan wanita Ang-hong-pai, dan dia musuh besar perkumpulan Thian-te-pai. Agaknya karena permusuhannya itulah yang membuat dia ingin memiliki Giok-liong-kiam yang pernah menjadi pusaka Thian-te-pai. Sudahlah, aku tidak tahu apa-apa lagi. Kalian pergi dan selidiki sendiri.”

Mereka menuruni puncak bersama. Seng Bu menggendong sebuah buntalan pakaian yang kecil, hanya terisi beberapa potong pakaiannya. Sebaliknya, Siu Coan membawa bungkusan yang agak besar karena selain pakaiannya, juga diam-diam pemuda ini mengambil beberapa barang berharga dari dalam guha untuk bekal. Pemuda yang cerdik ini tahu bahwa perjalanan jauh membutuhkan banyak biaya, maka diam-diam dia mengambil beberapa puluh tail emas dari simpanan gurunya. Hal ini tanpa setahu gurunya. Karena andaikata Thian-tok tahu sekalipun, dia tidak akan marah, bahkan merasa bangga kalau muridnya itu pandai mencuri, satu di antara ciri kejahatan orang sesat. Setelah tiba di jalan simpangan, Siu Coan berkata.

Post a Comment