Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 42

Memuat...

Ci Kong mengeluarkan suara menahan kemarahannya melihat betapa pemuda tinggi besar itu begitu saja menyerang dengan ganas. Sebagai seorang murid terkasih Siauw-bin-hud yang telah mewarisi ilmu-ilmu silat paling tinggi dari Siauw-lim-pai, bahkan mewarisi ilmu-ilmu simpanan rahasia yang bahkan jarang ada tokoh Siauw-lim-pai menguasainya, Ci Kong dengan tenang menghadapi Ong Siu Coan.

Ci Kong memiliki ketenangan yang luar biasa. Sekali pandang sekelebatan saja, diapun sudah tahu bahwa serangan lawannya itu mengandung hawa maut dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Juga dia tidak dapat diikat perhatiannya oleh pukulan tangan kiri lawan yang menyambar lambungnya, maka sambil mengelak, dia tetap waspada. Kewaspadaannya ini ternyata amat berguna, karena belum juga pukulan tangan kiri Siu Coan itu terelakkan, tangan kanan Siu Coan sudah menyambar dengan lebih cepat dan lebih ganas dari pada gerakan tangan kiri, dan yang diserang adalah pelipis kiri Ci Kong. Kiranya inilah serangan intinya sedangkan sambaran tangan kiri tadi hanyalah pancingan atau gertakan saja. Memang demikian sifat ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang dirangkai oleh Thian-tok. Serangan susul menyusul dan sambung-menyambung sehingga sukar diketahui lawan mana serangan pancingan dan mana yang inti, karena kesemuanya nampak berbahaya, makin lama makin cepat.

“Dukkk...!”

Keduanya terkejut karena begitu dua lengan bertemu, tubuh mereka tergetar dan tiba-tiba tangan kiri Siu Coan pada detik berikutnya sudah menyambar dengan dorongan ke arah ulu hati lawan. Serangan susulan yang amat berbahaya! Akan tetapi Ci Kong juga memapakinya dengan tangan kirinya. Dua telapak tangan kiri itu saling dorong dan bertemu di udara. “Plakk!!”

Keduanya terdorong ke belakang sampai tiga langkah dan sama-sama memandang dengan sinar mata kagum, karena dari pertemuan telapak tangan itu saja, mereka dapat mengetahui betapa kuatnya tenaga dari lawan masing- masing.

“Heh-heh, Ci Kong, apa gunanya bersitegang dan berkelahi seperti anak kecil? Mundurlah!”

Tiba-tiba terdengar suara halus Siauw-bin-hud dan mendengar suara susiok-couwnya ini, Ci Kong mundur walaupun pada saat itu, Siu Coan sudah menyerangnya lagi!

Kombinasi pukulan tiga kali berturut-turut secara cepat lagi dilancarkan oleh Siu Coan ke arah tubuh gendut itu. Pertama ke arah leher, kedua ke arah lambung, dan ketiga kalinya ke arah dada. Cepat sekali dan mengandung tenaga sepenuhnya. Demikian cepatnya tiga pukulan berantai itu sehingga jatuhnya hampir berbareng, sekali dengan tangan kiri dan dua kali dengan tangan kanan.

“Buk! Buk! Buk!”

Tiga kali pukulan itu mengenai sasaran dengan tepatnya, akan tetapi akibatnya sungguh aneh. Ong Siu Coan terkulai dan tentu sudah roboh kalau lengannya tidak cepat disambar oleh sutenya, Gan Seng Bu. Ketika tiga kali pukulan tadi mengenai leher, lambung dan dada kakek gendut itu, Siauw-bin- hud sama sekali tidak mengelak, dan Siu Coan merasa betapa pukulan- pukulannya seperti mengenai benda yang amat lunak, dingin dan yang mengandung daya serap, menyedot semua tenaga singkang yang terkandung dalam semua pukulannya. Dan seketika kaki tangannya terasa lemas dan lumpuh sehingga dia hampir terguling roboh kalau tidak disambar oleh sutenya. Dia cepat melangkah mundur dan memandang kepada kakek pendeta Siauw-lim-pai itu dengan mata terbelalak.

“Ha-ha-ha, Thian-tok, engkau mempunyai murid-murid yang amat lihai.”

Siauw-bin-hud berkata, ucapannya itu sama sekali bukan merupakan ejekan, karena kakek ini tahu benar betapa lihainya pemuda tinggi besar yang menyerangnya tadi. Dia bisa menderita malu kalau menghadapi pemuda itu dengan kekerasan pula, dan diapun tahu bahwa biarpun cucu muridnya mungkin tidak kalah, akan tetapi untuk dapat memenangkan pemuda murid Thian-tok itupun bukan merupakan hal yang mudah. Yang paling mengagumkan hatinya adalah sinar mata Siu Coan, begitu mengandung kecerdikan dan keanehan, sehingga pemuda itu memang patut menjadi murid seorang sakti aneh seperti seorang di antara Empat Racun Dunia itu.

“Ha-ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, tak perlu kau mengejek. Tentu saja murid- muridku masih belum cukup matang untuk melawan tua bangka bangkotan seperti engkau, akan tetapi mari kita yang tua sama tua mencoba kepandaian masing-masing. Kalau engkau tidak mampu menang dariku, bukan saja engkau tidak akan mendengar dariku tentang pusaka Giok-liong-kiam, bahkan aku akan membunuhmu dan membunuh muridmu ini! Akan tetapi kalau aku kalah, aku mau bicara tentang Giok-liong-kiam!”

Tentu saja Ci Kong semakin marah mendengar ucapan dan melihat sikap Thian-tok. Dimana ada orang menggunakan aturan yang demikian boceng-li, mau menang sendiri dan mau enaknya sendiri saja?

Terhadap orang macam ini, yang lebih mendekati gila dari pada sekedar jahat, perlu dipergunakan kekerasan untuk menghajarnya. Akan tetapi, pemuda itu tentu saja tidak berani berbuat atau berkata dengan lancang tanpa ijin dari susiok-couwnya yang kini hanya tersenyum lebar saja menghadapi tantangan Thian-tok.

“Omitohud... Thian-tok, sejak puluhan tahun engkau selalu haus kemenangan, haus darah. Apakah sampai mati engkau akan selalu kehausan seperti ini? Sungguh kasihan sekali!”

Ucapan ini oleh Thian-tok yang selalu berprasangka buruk itu dianggap sebagai penghinaan dan memandang rendah. Mukanya menjadi merah walaupun senyumnya masih lebar, senyum menyeringai dan tiba-tiba dia mengeluarkan mangkok dan guci araknya. Dituangkannya arak ke dalam mangkok sampai penuh, lalu diminumnya dengan sepasang matanya masih terus menatap wajah Siauw-bin-hud.

Dua orang muridnya yang sudah mengenal kakek ini diam-diam menjadi tegang. Kalau gurunya sudah bersikap seperti itu, minum arak seperti itu, maka hanya ada dua hal terjadi dalam batin gurunya. Terlalu gembira atau terlalu marah, dan agaknya kini gurunya itu telah marah sekali.

Setelah menghabiskan tiga mangkok arak, Thian-tok menggantungkan kembali mangkok dan ciu-ouw di pinggangnya, lalu terkekeh. Suara ketawanya tadinya terdengar ketawa biasa saja, akan tetapi makin lama suara itu makin meninggi sampai seperti ringkik kuda, dan makin tinggi lagi melengking- lengking.

Tentu saja Ci Kong menjadi terkejut bukan main, apalagi ketika suara itu jelas mengandung tenaga khikang kuat yang menyerang dia dan susiok- couwnya. Dia melihat betapa Siauw-bin-hud masih tersenyum saja. Akan tetapi dia sendiri cepat-cepat mengerahkan singkang untuk menjaga diri, karena dia tahu bahwa kalau dia tidak membela diri, mungkin dia akan terkena serangan melalui suara itu dan terluka. Suara itu adalah ilmu Sin-houw Ho-kang yang amat berbahaya. Diciptakan oleh Thian-tok meniru suara harimau. Seekor binatang harimau yang menjadi raja hutan, menundukkan lawan atau korbannya cukup dengan suaranya saja.

Harimau yang mengeluarkan suara gerengan itu mengandung tenaga yang menggetarkan jantung, dapat membuat lawannya lumpuh dan ketakutan sehingga tanpa dikejar sekalipun sudah akan roboh di depan kakinya. Suara inilah, dengan kekuatan getarannya, yang ditiru oleh Thian-tok, disesuaikan dengan suara yang dapat keluar dari perutnya melalui tenggorokannya, dan dibandingkan dengan suara harimau aseli, maka Sin-houw Ho-kang ini jauh lebih hebat dan lebih berbahaya lagi.

Hanya dengan pengerahan sinkangnya, Ci Kong dapat menghadapi serangan suara itu sambil berdiri tegak dan mengatur pernapasan. Akan tetapi, Siauw-bin-hud masih tersenyum enak-enak saja, seolah-olah suara itu tidak mempengaruhinya sama sekali. Hanya kedua matanya saja yang bersinar lembut itu menentang pandang mata Thian-tok yang melotot.

Melihat sikap Siauw-binhud yang seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh oleh serangannya, tentu saja Thian-tok menjadi penasaran. Di antara Empat Racun Dunia, dia terkenal sekali dengan Sin-houw Ho-kangnya, bahkan datuk iblis yang lain tidak berani memandang rendah. Pemuda Siauw- lim-pai itupun sudah harus mengerahkan sinkang untuk melawan suaranya. Akan tetapi kenapa Siauw-bin-hud enak-enak saja? Sikap enak-enakan itu merupakan tanparan baginya, seolah-olah menunjukkan bahwa Sin-houw Ho- kang yang dipergunakannya untuk menyerang itu bagi Siauw-bin-hud hanya nyanyian yang merdu saja. Dia lalu mengerahkan tenaga khikang lebih kuat lagi sehingga suaranya itu kini melengking semakin tinggi sampai seperti suara nyamuk-nyamuk berterbangan. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, daya serangan menjadi semakin kuat sehingga Ci Kong yang lihai itupun terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan bahkan memejamkan mata untuk memusatkan tenaga.

Post a Comment