Kata Thian-tok yang segera bangkit dan melangkah keluar dengan sikap tenang dan dengan wajah tersenyum mengejek, karena kakek ini belum pernah merasa takut menghadapi lawan siapa saja di dunia ini. Dua orang muridnya mengikuti dari belakang dengan hati tegang dan penuh pertanyaan dan dugaan. Apakah Koan Jit datang kembali?
Mungkin saja murid pertama suhu mereka itu yang datang, karena memang orang itu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi mengapa ada seruan ‘omitohud’ yang biasa hanya keluar dari mulut para pendeta atau para umat Buddhis yang beribadat? Agaknya tidak mungkin kalau toa-suheng mereka yang sudah tidak diakui itu menggunakan seruan seperti itu.
Ketika mereka tiba di luar, Siu Coan dan Seng Bu memandang heran. Di depan guha itu telah berdiri seorang pendeta hwesio yang tubuhnya gendut bulat, segendut dan sebulat guru mereka. Bahkan ada persamaan atau kemiripan wajah di antara dua orang kakek itu, mirip sekali bentuk mata, hidung dan mulut pada muka yang sama-sama bundar itu. Hanya perbedaannya, kalau kepala Thian-tok botak dan di belakangnya berambut, kepala hwesio itu gundul plontos tanpa ada sedikitpun rambutnya, dan kalau baju Thian-tok tidak pernah tertutup sehingga nampak bulu di dadanya, sebaliknya tubuh hwesio itu tertutup rapat oleh jubah kuning, juga wajah Thian-tok dihias kumis pendek tebal, sedangkan hwesio itu sedikitpun tidak memelihara kumis.
Sejenak dua orang gendut itu saling pandang dan lucunya, keduanya sama- sama tersenyum lebar. Hanya terdapat perbedaan dalam senyum itu. Kalau senyum Thian-tok menyeringai dan membayangkan ejekan dan kesombongan, senyum hwesio itu halus dan ramah dibayangi ketulusan hati.
“Ha-ha-ha-ha!” Thian-tok akhirnya tertawa bergelak.
“Akhirnya ketemu juga! Akan tetapi kedatanganmu itu terlambat beberapa jam saja, Siauw-bin-hud!”
Hwesio yang disebut Siauw-bin-hud itu tertawa dan menoleh kepada pemuda berpakaian pemuda tani sederhana yang wajahnya membayangkan kesabaran.
“Ci Kong, inilah dia yang dujuluki orang Thian-tok, satu diantara empat orang datuk iblis yang dinamakan Empat Racun Dunia.”
Kemudian Siauw-bin-hud menghadapi Thian-tok dengan senyum lebar. “Heh-heh, Thian-tok, engkau pandai sekali menyembunyikan diri. Setelah
yakin bahwa engkaulah orangnya yang duabelas tahun yang lalu merampas Giok-liong-kiam dengan mempergunakan nama pinceng, barulah pinceng memaksa diri mendatangi tempat ini. Thian-tok, mengapa engkau melakukan perbuatan itu?”
“Ha-ha-ha, ketika itu aku hanya menggunduli rambut dan kumisku, memakai jubah kuning dan merobah sedikit alisku, mencoba-coba merasakan bagaimana kalau menjadi seorang hwesio. Aku sama sekali tidak pernah mengaku bahwa aku adalah Siauw-bin-hud. Kalau kemudian orang menyangka aku Siauw-bin-hud, salah siapakah itu? Ha-ha-ha, dan sudah sepatutnya kalau engkau menjadi pusing karenanya. Ingatkah engkau pada empatpuluh tahun yang lalu ketika engkau pernah mengalahkan aku dalam pertandingan selama hampir satu malam di puncak Thai-san?”
Siauw-bin-hud tersenyum lebar.
“Aihh, perlu apa mengingat-ingat masa lampau waktu kita masih gila- gilaan dan dikuasai nafsu untuk menang? Pinceng sekarang sudah tidak lagi haus kemenangan, Thian-tok. Akan tetapi karena orang menyangka pusaka itu pinceng rampas, maka pinceng terpaksa datang mengunjungimu dan minta agar engkau suka mengembalikan kepadaku untuk diserahkan kepada mereka yang berhak.”
“Ha-ha, enak saja! Majulah dan kalahkan aku sekali lagi kalau engkau mampu!”
Siauw-bin-hud hanya tersenyum dan menggeleng kepala. “Biarlah pinceng mengaku kalah.”
“Kalau engkau kalah, berarti aku yang menang, dan jagoan nomor satu sajalah yang berhak menguasai Giok-liong-kiam. Jadi, akulah yang menguasainya dan akulah yang patut disebut jagoan nomor satu di dunia, ha- ha-ha!”
“Omitohud! Heh-heh, Thian-tok, bagi pinceng sama sekali tidak berkeberatan kalau engkau menjadi jagoan nomor satu di dunia atau di akhirat. Biar kauborong semua gelar dan julukan itu, ha-ha-ha!”
Sementara itu, Ci Kong yang menyaksikan pertemuan antara kakek gurunya dan kakek gendut itu, sejak tadi memandang penuh keheranan. Memang mirip sekali dua orang kakek itu satu sama lain, dengan kebiasaan yang sama pula, yaitu suka tersenyum lebar dan ketawa-ketawa. Hanya bedanya kalau senyum, susiok-couwnya itu ramah dan tulus, sebaliknya senyum kakek botak itu mengandung ejekan dan sinar matanya mengandung kekejaman. Akan tetapi, diam-diam dia merasa kagum kepada dua orang pemuda yang muncul keluar bersama Thian-tok itu. Mereka adalah dua orang pemuda yang nampak gagah dan sama sekali tidak membayangkan watak yang jahat.
“Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, kalau kau sudah mengaku kalah, pergilah dan jangan ganggu aku!” Thian-tok berkata dan kini dua orang muridnya yang merasa heran.
Biasanya, tidak mungkin guru mereka itu membiarkan orang yang datang mengganggu pergi begitu saja dan menghabiskan perkara itu sampai di situ! Dari sikap ini saja mereka dapat menduga bahwa suhu mereka itu merasa jerih terhadap hwesio tua ini. Hal itu membuat mereka merasa penasaran sekali.
“Thian-tok, pinceng tidak mau merebut keunggulan jagoan, akan tetapi pinceng sudah berjanji kepada para orang gagah untuk mencari perampas Giok-liong-kiam yang menyamar pinceng. Kalau engkau tidak mau menyerahkan pusaka itu kepada pinceng untuk dikembalikan kepada yang berhak, marilah kau ikut pinceng ke Siauw-lim-si dan engkau menghadapi sendiri mereka yang menuntut dikembalikannya pusaka itu.”
“Hua-ha-ha, enak saja kau membuang kentut, hwesio busuk!”
Thian-tok tertawa bergelak dan memaki dengan nada mengejek sekali. “Aku merampas pusaka itu menggunakan kepandaian, dan kau hendak
mengambilnya dariku hanya dengan menggunakan bujukan suara kentut busuk? Kalau engkau mampu mengalahkan aku, baru aku mau bicara tentang Giok-liong-kiam, kalau engkau tidak berani melawanku, pergilah dan jangan perlihatkan lagi kepala gundulmu itu di sini!”
“Ha-ha-ha, Thian-tok, jangan seperti anak kecil yang memperebutkan mainan. Pinceng hanya ingin meluruskan perkara yang bengkok, bukan untuk memperebutkan sesuatu denganmu.”
Siauw-bin-hud masih tertawa-tawa gembira, agaknya kata-kata yang menghina dari Thian-tok sama sekali tidak dirasakannya. Ci Kong mengerutkan alisnya yang tebal. Hatinya sudah terasa panas sekali. Dia seorang pemuda sederhana yang menerima gemblengan lahir batin dari Siauw-bin-hud selama enam tahun, juga wataknya bijaksana, sabar dan serius. Akan tetapi, mendengar betapa susiok-couwnya yang amat dihormatinya itu kini dimaki- maki dengan kata-kata kotor oleh seorang datuk sesat, dia merasa penasaran sekali dan menganggap bahwa sikap susiok-couwnya terlalu lemah. Orang yang begitu jahat seperti Thian-tok ini tidak perlu dikasih hati, pikirnya, karena makin lemah sikap kita, tentu akan makin diinjaknya.
“Heh-heh, Siauw-bin-hud, engkau mengaku kalah tanpa bertanding, mana mungkin itu? Kalau saja engkau mengaku bahwa engkau takut melawan aku, nah… baru aku mau bicara tanpa bertanding. Gundul busuk, kau berlututlah dan mengaku takut!” kata Thian-tok sambil menyeringai dengan sikap merendahkan sekali.
Anehnya, Siauw-bin-hud hanya tersenyum saja, dengan sinar mata penuh kesabaran seperti dewasa melihat tingkah seorang anak kecil yang nakal. Akan tetapi, Ci Kong sudah cepat melangkah maju.
“Susiok-couw, segala sesuatu mempunyai batas. Orang ini terlalu menghina dan memandang rendah, biarlah saya yang mencoba-coba menghadapi dan menandingi ilmunya!”
Mendengar Ci Kong menantang gurunya, Ong Siu Coan murid Thian-tok segera berseru.
“Orang sombong, kalau engkau yang maju, tidak perlu suhu menghadapimu, akupun cukuplah. Sambut seranganku!”
Ong Siu Coan selain cerdik dan berwatak aneh, juga gagah perkasa, dan melihat gurunya ditantang oleh pemuda yang menjadi cucu keponakan seperguruan Siauw-bin-hud, dia menjadi marah. Juga dengan cerdik dia mendahului maju untuk menyenangkan hati gurunya, karena perbuatannya itu tentu saja merupakan suatu kebaktian dan kesetiaan seorang murid yang baik. Begitu mengeluarkan tantangan dan celaan terhadap Ci Kong yang dipandangnya rendah, karena bagaimanapun juga, pemuda itu hanyalah cucu murid Siauw-binhud, tentu hanya merupakan seorang murid Siauw-lim-pai tingkat rendah saja, Siu Coan sudah mengirim serangan dengan dahsyatnya. Begitu menyerang, dia telah mempergunakan sebuah jurus yang ampuh dari Ngo-heng Kun-hoat dan tentu saja dia mengerahkan tenaga singkang dalam serangan itu sehinggapukulan tangan kirinya yang menyambar dari samping
ke arah lambung lawan itu mengeluarkan angin keras. “Hemmmm...!”