Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 40

Memuat...

Seng Bu memandang wajah suhengnya denga heran.

“Engkau tahu siapa dia, suheng? Apakah kau sudah mengenalnya?” Siu Coan menggeleng kepala. “Sute, lupakah engkau akan ucapan suhu ketika dia menerima kita sebagai murid? Suhu pernah mengatakan secara samar-samar bahwa suhu mempunyai seorang murid yang sudah tidak diakuinya lagi. Agaknya orang itulah murid suhu, mengingat bahwa dia mengenal ilmu silat Ngo-heng Lian-hoat kita, juga ketika dia menyerang kita dengan Sin-houw Ho-kang. Siapa lagi orangnya yang mampu melakukan dua ilmu itu kalau bukan murid suhu itu?”

Seng Bu mengangguk-angguk.

“Akan tetapi, kalau benar dia, berarti dia itu adalah toa-suheng kita. Mengapa dia menyerang kita mati-matian seperti itu? Kurang cepat sedikit saja kita mengelak atau menangkis, tentu seorang di antara kita akan roboh dan tewas.”

“Akupun tidak tahu mengapa, sute. Hanya, menurut ucapan suhu dahulu, tentu dia tidak berhubungan secara baik dengan suhu. Entah mengapa suhu tidak mengakuinya lagi. Sebaiknya hal ini kita tanyakan kepada suhu.”

Dua orang pemuda lalu membersihkan diri di sumber air dan setelah itu mereka berjalan kembali menuju ke guha besar tempat tinggal mereka. Ketika mereka mencari guru mereka, akhirnya mereka menemukan guru mereka duduk bersila di depan kamar harta karun dimana disimpan semua pusaka dan barang-barang berharga milik guru mereka itu. Akan tetapi, mereka terkejut bukan main melihat betapa Thian-tok yang duduk bersila itu berwajah pucat sekali dan jelas kelihatan sedang menghimpun hawa murni dengan tarikan- tarikan napas panjang. Siu Coan berseru kaget dan heran, diikuti oleh Seng Bu yang kemudian mereka berlutut di depan kakek itu.

“Suhu… ada apakah?”

Kakek itu membuka kedua matanya dan melihat dua orang muridnya, dia tersenyum menyeringai, lalu berkata dengan suara yang agak parau.

“Ah, dia datang... mengambil Giok-liong-kiam... dan aku kena ditipunya, terkena pukulannya, akan tetapi... diapun membawa bekas pukulanku, mungkin terluka parah pula...”

Siu Coan yang cerdik segera dapat menduga.

“Suhu, apakah suhu maksudkan murid suhu itu yang datang?” Thian-tok terbelalak.

“Kau… kau sudah mengenal Koan Jit?” Siu Coan menggeleng kepala.

“Tidak, suhu… teecu hanya menduga saja. Tadi ada seorang bertubuh jangkung, bermuka hitam dan berpakaian serba hitam pula, menyerang teecu berdua yang sedang berlatih silat di depan guha sumber air. Melihat gerakan- gerakannya, teecu menduga bahwa tentu dia murid suhu itu. Dan dia lalu melarikan diri setelah tidak berhasil merobohkan kami.”

Kakek itu mengangguk-angguk.

“Benar, dialah Koan Jit, murid durhaka itu. Ah, aku terlalu sayang kepadanya... dan dia terlalu durhaka...”

“Suhu, apakah yang telah terjadi?”

Seng Bu kini bertanya dengan hati penasaran sekali. Suhunya ini menyatakan merasa sayang terhadap murid yang bernama Koan Jit itu, akan tetapi juga mengatakan bahwa murid itu terlalu durhaka.

“Kalian belum tahu... baiklah kuceritakan agar kalian dapat mengenal siapa dia dan orang macam apa dia itu. Akan tetapi dia memang hebat, dia paling berbakat, dan dia patut menjadi datuk iblis penggantiku, akan tetapi dia durhaka kepadaku. Ah… sungguh sayang. Kalau tidak, tanpa dimintapun akan kuberikan Giok-liong-kiam kepadanya…”

Kakek itu lalu bercerita dengan singkat tentang muridnya yang bernama Koan Jit itu. Orang she Koan bernama Jit itu telah menjadi murid Thian-tok, murid tunggal semenjak dia masih kecil. Thian-tok amat sayang kepada muridnya ini, karena bukan saja Koan Jit memiliki bakat yang amat baik sehingga dapat mewarisi hampir seluruh ilmu kepandaiannya akan tetapi juga watak anak itu cocok benar dengan watak Thian-tok. Anak itu kejam, dapat bersikap jahat dan licik, pendeknya seorang yang patut menjadi calon datuk iblis yang menjagoi di dunia kaum sesat! Dan di waktu kecilnya Koan Jit nampak patuh dan setia sekali kepada gurunya sehingga Thian-tok merasa sayang kepadanya. Thian-tok yang tidak pernah berkeluarga dan tidak mempunyai keturunan itu, bahkan hanya mempunyai seorang saja murid, menganggap Koan Jit seperti anak sendiri.

Akan tetapi setelah Koan Jit tamat belajar, limabelas tahun yang lalu, dalam usia duapuluh lima tahun, watak jahat Koan Jit mencapai puncaknya, bukan saja dia melakukan segala perbuatan jahat seperti mencuri, merampok, membunuh, memperkosa dan mengkhianati siapa saja, bahkan dia berkhianat pula kepada gurunya sendiri! Urusannya hanya menyangkut diri seorang wanita yang diculik oleh Thian-tok. Kebiasaan Thian-tok, satu di antara kebiasaan buruknya adalah menculik dan memperkosa wanita mana saja yang menarik hatinya. Dan setelah diperkosanya, biasanya hanya untuk satu dua hari saja, lalu wanita itu dibunuhnya.

Akan tetapi, beberapa hari kemudian, guru ini mendapatkan wanita pilihannya itu ada dalam pelukan muridnya! Hal ini saja masih belum menyakitkan hati datuk iblis itu kalau saja si wanita tidak terang-terangan menyatakan bahwa ia mencinta Koan Jit dan tidak sudi berdekatan dengan Thian-tok. Marahlah si datuk iblis dan wanita itupun dibunuhnya.

Tak disangkanya sama sekali bahwa Koan Jit mendendam karena peristiwa ini, dan pada suatu malam, selagi Thian-tok tidur pulas, murid durhaka itu telah menotoknya, membelenggunya dan menyerahkannya kepada yang berwajib! Tentu saja alat pemerintah girang melihat penjahat besar itu diserahkan dalam keadaan terbelenggu, karena kalau tidak, mereka tahu tidak akan mungkin dapat memegang Thian-tok yang menjadi iblis jahat dan terkenal sekali di dunia kaum sesat.

Setelah siuman dan mendapatkan dirinya dalam tahanan, terbelenggu, Thian-tok menjadi marah. Dia memberontak, melepaskan diri dan melakukan penyelidikan. Ketika mendengar bahwa Koan Jit yang menyerahkan dirinya dalam keadaan pingsan terbelenggu kepada alat negara, dia marah sekali dan cepat pulang. Setibanya di dalam guha di puncak Tai-yun-san itu, dia mendapat kenyataan bahwa Koan Jit telah kabur dan membawa banyak barang-barang berharga yang dikumpulkannya di dalam kamar dalam guha! Tentu saja Thian-tok marah sekali, bukan karena Koan Jit mencuri barang- barang, melainkan karena murid itu telah mendurhakainya. Dengan kemarahan meluap-luap, datuk iblis itu lalu mencari muridnya.

Dan setahun kemudian, d Thian-tok ia dapat menemukan Koan Jit. Mereka bertanding, akan tetapi betapapun lihainya Koan Jit, menghadapi gurunya dia kalah matang dan akhirnya dia roboh. Akan tetapi, ketika Thian-tok hendak membunuhnya, kakek ini tidak tega. Dia terlalu sayang kepada murid yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri itu. Apalagi ketika Koan Jit berkata kepadanya bahwa sepatutnya guru itu bangga mempunyai murid yang dapat melakukan kejahatan yang lebih besar dari pada kejahatan gurunya!

“Suhu hanya merampok, mencuri, menculik, memperkosa dan membunuh. Pernahkah suhu mengkhianati guru sendiri? Nah, aku ingin melakukan kejahatan yang melebihi suhu, dan hal itu sudah kulakukan ketika aku mengkhianati suhu. Kalau aku tidak cinta kepada suhu, tentu suhu telah kubunuh, bukan kuserahkan kepada yang berwajib. Aku tahu bahwa suhu tentu akan mampu melepaskan diri. Kenapa sekarang suhu marah-marah? Pantasnya memujiku, karena bukankah suhu yang mengajarkan semua itu kepadaku?”

Mendengar ucapan muridnya ini, hati Thian-tok menjadi semakin lemah dan diapun mengampuni muridnya itu. Akan tetapi hatinya telah menjadi kecewa dan diapun tidak mau mengakui lagi muridnya, dan mengatakan bahwa kalau sekali lagi saling jumpa, dia tentu akan membunuh murid durhaka itu.

“Kurang ajar! Aku akan mengejar dan mencarinya, suhu!” Siu Coan mengepal tinju.

“Benar, murid durhaka itu perlu dihajar!” kata pula Seng Bu marah. Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala.

“Jangan! Aku bahkan diam-diam merasa bangga bahwa dia menguasai pedang pusaka itu dengan cara yang demikian licik dan berani. Perbuatan itu patut kalian jadikan contoh. Orang harus licin dan cerdik untuk dapat maju di dunia ini, ha-ha-ha! Dan Koan Jit benar-benar membuat aku bangga. Pula, belum tentu kalian dapat menang menghadapinya. Dalam hal ilmu silat, kiranya kalian tidak perlu kalah, hanya mungkin kalah matang dalam latihan. Semua ilmuku telah kuberikan kepada kalian. Akan tetapi, dalam hal kelicikan dan kecurangan, kalian kalah jauh, apalagi Seng Bu. Biarlah, pusaka Giok-liong- kiam itu biar berada di tangannya. Tentu saja kelak, kalau kalian sudah merasa mampu, kalian boleh coba-coba merampas dari tangannya. Ketahuilah, pusaka Giok-liong-kiam itu menjadi semacam ukuran kelihaian seseorang. Pemiliknya boleh mengangkat diri menjadi orang terpandai di dunia persilatan!”

“Omitohud... kata-kata yang sungguh tidak baik untuk didengar dan ditaati…”

Suara ini halus seolah-olah di dekat mereka ada orang yang berbisik. Hal ini amat mengejutkan hati Thian-tok dan dua orang muridnya. Thian-tok segera maklum bahwa ada orang sakti yang datang, karena orang yang berada di luar guha dapat mendengarkan kata-katanya tadi dan dapat mengirim suara melalui ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh) sedemikian lihainya, tentulah seorang yang memiliki kesaktian luar biasa.

“Awas, di luar ada orang sakti. Mari kita sambut dia!”

Post a Comment