Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 48

Memuat...

Sesaat kemudian ditengah angkasa sayup sayup berkumandang irama musik yang mengalun tinggi merusak pendengaran.

Tersipu sipu Ki Houw melorot turun berlutut demikian juga Rasul ungu seluruh tubuhnya ikut mendekam dilantai, kepalapun tidak berani bergerak.

Irama musik itu semakin jelas dan dekat, hidung semua orang sudah mengendus wangi semerbak.

Koan San gwat dan lain lain hanya tercengang, ditempatnya.

It lun bing gwat dan Ban Ii bu berdiri tegak meluruskan tangan, badannya gemetar keras seperti kedinginan.

Selang sejenak pula, tampak bayangan berkelebat diambang pintu, masuklah sepasang dayang kecil yang menggelung rambutnya dikedua pinggir kepalanya wajah mereka ayu rupawan, setiap orang menentang lampion berkaca yang memancarkan cahaya terang benderang.

Dibelakang dua dayang kecil yang seraya pula, masing masing menyanggul sebuah anglo berbentuk binatang, dari hidung ini mengepul keluar asap wangi warna hijau.

Dan yang terakhir masuk pula seorang dara cantik rupawan mengenakan pakaian yang molek dan cemerlang, langkahnya enteng dan lembut tak bersuara, gayanya lemah gemulai mempesonakan.

Pakaian yang dikenakan dara ini terbuat dari bila burung merak yang halus dan warna warni sangat menyolok dan indah.

Sehingga tindak tanduknya bak umpama dewi kahyangan sedang berlenggang turun memperlihatkan keagungannya.

Begitu berada ditengah pendopo melihat Koan San gwat duduk tegak, dara itu mengerut alis, dengan suara yang menyedot sukma ia bertanya : "Siapakah dia ini?" Sambil berlutut Ki Houw menjawab : "Dia ahli waris Tokko Bing!" "Ahli waris Tokko Bing?" tanya gadis itu menegas, "Siapakah TokkoBing?" Kejadian diluar dugaan dan menegangkan urat syiraf, ia tahu akan kedudukan gadis itu tentu sangat tinggi, maka segera ia mendahului menjawab, "O, kiranya Ui ho"." ujar si gadis, "Hebat benar dia memilih akhli waris." Ucapan yang terakhir ditujukan kepada Koan San gwat, sementara kedua matanya pelirak pelirik dari atas kebawah mengawasi Koan San gwat, saking risi Koan San gwat balas bertanya, "Siapa kau?" Gadis itu tertawa nyaring, katanya.

"Pertanyaan ini kurang hormat!" "Usiaku tidak terpaut banyak dengan kau selamanya belum kenal lagi, tidak perlu aku sungkan dan rikuh terhadap kau." Gadis itu tersenyum lebar, ujarnya, "Bukankah kau hendak bertanya Thian gwat thian, Aku inilah?" Jawabannya ini sudah diduga oleh Koan San gwat, munculnya gadis ini di luar dugaannya Liong Hwa hwe, Hong sin pang, Siau se Thian dan nama nama lain sudah cukup membuat kepalanya pusing, untunglah hari ini ia memperoleh jawaban seluruhnya, namun diluar dugaan muncul lagi seorang Thian gwat thian, inilah sikap dan kelakuan Ki Houw dan lain lain menunjuk bahwa kedudukan gadis ini sangat tinggi atau istimewa.

Sementara itu gadis itu sudah berpaling kearah Ki Houw katanya sambil tertawa manis "Mo kun mengundang kami, entah ada petunjuk apa?" Ki Houw berlutut kaku dilantai, suaranya gemetar: Hamba ceroboh, usil lagi sehingga membuat kaget tuan putri?" Gadis itu bersuara dalam tengorokan lalu katanya.

"Jadi hanya karena usil maka Mo kun mengundang kemari?" Pucat pasi muka Ki Houw, ratapnya dengan ketakutan, "Berat ucapan Sian cu bukan begitu maksud hamba." Tiba tiba sigadis muka, katanya bersungut : "Aku tidak peduli apa maksudmu!

Untung kau sebagai pelaksana hukum, hukuman apa harus dijatuhkan terhadap orang orang yang suka melanggar aturan dan disiplin kau paling apal!

Silahkan kau putuskan sendiri!" Biasanya sikap Ki Houw terhadap orang lain galak dan takabur, namun dihada pan gadis ini, ternyata bertekuk lutut tak berani bergeming, mukanya pun pucat pias seperti mayat, serunya gemetar : "Hamba akan mengutungi sabelah tangan saja, bagaimana menurut Sian cu?" Gadis itu tersenyum, ujarnya : "Bukankah putusan sudah kuserahkan kepada kau kenapa harus tanya lagi kepadaku!" Ki Houw kertak gigi, jari tangannya dirangkap terus mengetuk kesiku tangan yang lain, tempat yang diarah adalah urat pencacad tepat disaat ujung jarinya hampir mengenai sasarannya, gadis itu mendadak membentak : "Tahan!" Ki Houw merasa lega seperti memperoleh pengampunan, dengan haru ia pandang sekilas kearah segadis.

Gadis iti.

tertawa cekikikan katanya: "Pertemuan besar sudah menjelang kalau sekarang lenganmu cacad tentu membawa pengaruh besar terhadap para kerabat di Mo pang kalian, mungkin mereka mengatakan hukuman ini kurang adil." "Terima kasih sian cu" seru Ki Houw girang.

Tapi gadis ku menarik muka, katanya kereng "Jangan sangka bahwa aku ampuni kau, undang undang harus dilaksanakan secara ke keras dan tidak mengenal belas kasihan baru semua orang akan menaruh hormat dan patuh.

Maka hukuman putusan lengan boleh dilaksanakan setelah pertemuan besar itu berlangsung!" "Hamba menerima hukuman dengan setulus hati, mempunyai tangan kalau tidak dimanfaatkan adalah merupakan suatu siksaan.

Lalu bagaimana kau akan mengembalikan dirimu".

bagaimana pula aku tahu bahwa sebelum pertemuan besar itu kau benar benar tidak melanggar laranganku?" Seketika Ki Houw mengunjuk rasa bingung dan serba sulit, tanyanya: "Bagaimana menurut maksud Sian cu?" "Begini saja!" ujar gadis itu setelah berpikir sebentar, untuk sementara kau serahkan saja padaku, nanti setelah waktunya tiba akan kuserahkan kembali kepada kau." Sikap Ki Houw seperti sangat menderita, namun ia tidak berani membangkang, terpaks ia mengiakan, Koan San gwat keheranan dan tak habis mengerti, hanya karena menyebut Thian gwat thian tiga huruf Ki Houw harus memperoleh ancaman berat.

Peraturan itu memang cukup kejam, apalagi lengan merupakan salah satu anggota badan yang penting, gadis itu berkata hendak menyimpanya sementara waktu, akan dikembalikan pula setelah waktunya tiba, ini betul betul merupakan suatu kejadian yang aneh dan jarang terlihat maka dengan mendelong ia mengawasi, bagaimana cara orang akan bekerja.

Terdengar sigadis tertawa nyaring lalu bertanya: "Kau suduh siap belum?" Lekas Ki Houw menekuk lengan kirinya, gadis itu memberi tanda dengan kedipan mata salah seorang dayang membawa lampion maju kedepan Ki Houw melolos seutas benang warna merah amat kecil, lalu mengikat lengan Ki Houw dengan benang merah itu.

Baru sekarang Koan San gwat paham duduk persoalannya hatinnya: "Kiranya disimpan demikian, gadis ini berjiwa sempit, daripada dihukum siksa demikian lebih baik dikuntungi saja lengannya kan beres." Soalnya benang merah itu sangat kecil getas, dan sedikit bergerak pasti putus, diikat kencang dan ditali pati lagi, tak mungkin dibuka" benang sekecil itu tentu tidak kuasa membelenggu sebuah lengan, maka dia paham betapa besar tenaga belenggu dari seutas benang sekecil itu serta artinya . . . ." Setelah memberi hukuman kepada Ki Houw, gadis itu mendekat kedepan It lun dan Ban li, katanya tertawa "Kusampaikan selamat kepada kalian, hari baik kailan sudah hampir tlba !" "Sampai pada waktunya, mohon bantuan Siang cu yang berharga !" demikian sabda Ban li sambil menjura.

"Kau terlalu sungkan, aku tidak berguna yang penting kalian sendirilah yang harus berusaha, tapi akan kuberi kelonggaran kepada kalian, sehingga nama kalian dapat dicantumkan lagi diatas daftar dan menghadapi i rintangan yang tidak berarti." "Terima kasih Sian cu!" seru It lun bin gwat dengan haru.

Sambil tertawa halus gadis itu maju ke depan Koan San gwat, kedua biji matanya yang bening laksana jamrud dengan tajam mengawasi Koan San gwat rada lama kemudian baru mulutnya mendesis perlahan "Em, baik sekali!

Post a Comment