It lun menghela napas panjang, baru ia hendak membuka mulut, Ban li bu in segera berteriak: "Gendut!
Bila kau buka mulut, maka aku akan melabrakan, karena itulah kewajiban, aku tidak hiraukan persahabatan kita selama puluhan tahun lagi." It lun bing gwat rertawa getir, katanya.
"Ban li heng, lebih baik kau bunuh aku saja, supaya aku tidak menderita dalam melanjutkan hidup ini!" Ban li bu in angkat telapak tangan nya yang berwarna kuning emas, It lun bing gwat pejamkan mata dengan tenang ia menunggu kematian.
Lok Siou hong cepat berseru: "Hai kenapa kau tidak melawan!" "Kalau Kim hud ciang si kurus dilancarkan aku tidak akan bisa hidup lagi, perlu apa aku melawan?" Lok Siou hong tidak percaya, tanyanya "Apakah dia lebih lihay dari kau?" "Tidak!" Ban li malah yang menjawab, "Thay im ciang sigendut dapat juga membunuh ku dalam satu gebrak hingga mampus bersama, tapi aku yak in ia tidak akan berbuat demikian, karena aku berkewajiban membunuh dia, sebaliknya dia tiada hak buat membunuh aku." Lok Siou hong jadi serba salah, cepat Koan San gwat memberi tanda kepadanya, cepat iapun berkata: "Anggap batal, aku tarik kembali perintahku tadi, kini kuminta kau ikut kami meninggalkan tempat ini." It lun angkat pundak dan menurut saja tanpa bersuara lagi.
Sebaliknya Ban li naenjengek dingin: "Jangan kau kira dengan membawa sigendut ke lain tempat lantas bisa mengompres keterangannya.
Aku tidak akan melepas dia, kemana dia pergi kesitu aku datang, setiap waktu ku awasi gerak geriknya!" "Kalau aku perintahkan mengusir kalian pergi bagaimana?" ejek Lok Siau hong, "Kalau benar benar harus berkelahi kekuatan kedua belah pihak berimbang, akhirnya gugur bersama!" Lok Siau hong kewalahan, terpaksa ia minta bantuan Koan San gwat untuk menentukan langkah selanjutnya.
Agaknya Koan San gwat juga kehabisan akal, setelah termenung sesaat baru ia berkata: "Baiklah, sementara waktu biar ikut kita, kelak kita bicarakan lebih lanjut." Karena ribut ribut ini mereka sudah menghabiskan banyak waktu, terpaksa mereka putar balik turun gunung, meski kedua orang tua gendut gering (kurus) ini berjalan kaki, namun langkah mereka ternyata, tidak kalah cepat dengan lari kuda dan unta.
Waktu mereka sampai dipenginapan Lu Bu wi sudah gelisah menunggu mereka cepat ia memburu datang terus menyeret Koan San gwat kesamping tanyanya: "Orang macam apakah kedua orang itu?" "Harap jangan tanya, apakah bantuan kalian sudah tiba." "Sudah tiba empat orang, Losiu sudah perintankan mereka bekerja sesuai dengan pesan Ling cu!" Koan San gwat merenung sejenak, lalu berkata: "Bagus!
Hari ini kita lanjutkan wilayah Su cwan, kupercaya kalian tentu sudah tidak sabar menunggu bukan!" Selama perjalanan Lok Siau hong, Lau Sam thay dan Lu Bu wi bungkam, dengan penuh perhatian mereka mencongklang kuda mengintil dibelakang Koan San gwat yang menunggang unta, sementara It lun dan Ban li berlari dipaling belakang.
Rombongan mereka hari itu tiba dibawah Kiam bun san, unta sakti yang menuntun jalan tiba tiba mengebaskan ekornya membelok kesebuah jalan kecil yang menembus ke atas gunung.
Ban li kelihatan gelisah, cepat ia memburu kedepan menghadang jalan seraya berseru : "Kau tahu tempat apa yang hendak kau tuju?" "Aku tidak tahu tempat apa di sana, tapi aku tahu di sana ada orang yang sedang kucari!" demikian jawab Koan San gwat tersenyum.
Ban li tercengang, serunya serak : "Kau hendak mencari siapa?" "Seorang yang menggelari dirinya Thian ki mo kun!" Pucat air muka Ban li bu in, suaranya tersendat "Kau punya hubungan kental dengan dia ?" "Mesti pernah bertemu sekali, hubungan kental sih tidak.
Aku kemari hendak menyelesaikan perhitungan kita yang belum selesai, dan lagi akupun ingin memecahkan beberapa persoalan yang sangat mencurigakan?" "Tidak!
Bocah bagus!
Beberapa nama yang kau sebut tempo hari tidak akan dapat kau temukan di sana!" Sejenak Koan San gwat tertegun, dilain saat ia berkata sambil tersenyum : "Aku tahu tapi hanya Thian ki mo kun seoranglah yang mampu memberikan penjelasan dan jawaban kepadaku." Ban li manggut manggut, katanya : "Memang benar, tapi kau masuk pintu besar sarang iblis itu, jangan harap kau bisa keluar pula!" "Untuk ini tidak perlu kau pusing bagi diriku, aku tidak minta kau ikut dalam perjalanan ini, boleh silahkan tinggal pergi." Ban li bersungut duka, sesaat ia menyingkir lalu berpandangan dengan It lun.
Urusan sudah ketelanjur terpaksa harus menurut saja.
Di bawah petunjuk sang unta Koan San gwat memanjat kepuncak gunung, perjalanan nanjak ini rada sempit tapi banyak juga banyak cabang, begitu rumit simpang siur seperti sarang laba laba saja, tapi unta sakti itu seperti sudah kenal jalan, dengan enak saja ia berlenggang maju, setelah belak belok akhirnya mereka tiba didepan sebuah hutan gelap.
Entah kapan tahu tahu seorang paderi gundul bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang berkulit hitam dengan kedua biji mata berkilat kilat menghadang didepan jalan masuk sambil merangkap kedua tangan.
Dari atas tunggangannya Koan San gwat menjura serta menyapa "Toa suhu, harap memberi jalan!" "Omitohud!" sabda sipadri tua sambil pejamkan mata, "derita tiada ujung pangkal, kembalilah mencapai tepian, Siau sekalian harap sampai disini saja." Koan San gwat tidak hiraukan ucapannya, katanya tertawa : "Apakah Toa suhu sekomplotan dengan pemilik hutan ini?" "Pinceng orang beribadah, mana boleh sekomplotan dengan mereka," sahut padri tua itu sambil menghela napas.
"Lalu untuk apa Toa suhu mencegat jalan kami?" Padri tua menuding It lun dan Ban li katanya : "Karena kedua sahabat lama inilah maka Pinceng membujuk kalian supaya kembali saja"." "Kepala gundul!" sela Ban li sambil tertawa dingin, "Jangan kau pura pura saleh peristiwa dulu karena gara garamu, walau kejadian sudah berselang sepuluh tahun, tapi kami masih ingat akan kebaikanmu itu, kini kau masih pura pura berhati baik seperti kucing menangisi tikus belaka!" Berubah sikap paderi tua katanya pelan : "Terhadap kejadian pencoretan nama dulu agaknya kalian masih dendam sampai sekarang?" It lun yang selama ini pendiam tak tahan lagi, dengan marah marah ia menyemprot : "Sudah tentu!
Beberapa tahun ini kau berusaha tekun maksudnya untuk memainkan nama baik kami diatas daftar Hong sio pang baru setelah itu kami akan membuat perhitungan dengan kau kepala gundul." "Merindukan hidup kembali, nama terkekang terlibat keuntungan adalah belenggu kehidupan dengan susah payah Lolap mengeluarkan kalian dari lautan derita, kehidupan yang bebas betapa menyenangkan, kenapa kalian tidak insaf dan sesat pikiran malah." "Cis!
Enak benar bicaramu," damprat Ban li bu in, "Kenapa kau sendiri tidak mengundurkan diri?" Perasaan si padri kembali tenang, sahutnya : "Lolap berjanji dan pernah bercita cita hendak memberi keinsafan kepada seratus delapan anggota, bila sehari tugas ini belum selesai seharipun Lolap tidak akan merasa tentram?" "Sudahlah !" ujar Ban li uring uringan, "Sebal bicara deagan kau, lekas menyingkir saja !" Paderi tua tertegun serunya : "Andikata kalian tidak sudi mendengar nasehat Lolap, juga tidak perlu ikut masuk kesana, bila sampai terjeblos lagi di dalam maka selamanya kau akan tenggelam dan tidak akan mampu menitis kembali." "Kepala gandul!" damprat Ban li berjingkrak gusar, "Urusan kami tidak usah kau turut campur kau mau menyingkir tidak?" "Ai, nasehat baikku sudah habis kuucapkan kalau kalian tetap tidak mau dengar Lolappun tidak bisa apa apa demi menanam kebaikan dengan sahabat lama baiklah Lolap mengantar perjalanan kalian selintas," Habis berkata ia membalik tubuh terus melangkah lebar kedalam hutan, jubah kasar nya yang longgar dan kedodoran melambai tertiup angin, bersamaan dengan itu seluruh seketika memancarkan cahaya kuning mas, sehingga hutan lebar yang gelap pekat itu menjadi terang benderang seperti di siang hari bolong, tampak sepajang jalan masuk kini tulang belulang manusia berserakan dimana mana.
Ban li memandang kepada It lun dengan berubah mukanya, serunya kejut: "Tidak nyana kepala gundul ini sempurna melatih Kong bing hoat su." Koan San gwat kaget dan heran, tanya nya: "Siapakah Hweaio tua ini, begitu hebat lwekangnya?" "Dia bernama Co hay ci hang (mengarungi lautan derita) soal yang lain tidak usah kau banyak tanya lagi." Koan San gwat memang tidak banyak tanya lagi, unta dikeprak lekas lekas mengejar kearah sipadri tua yang lain lainpun membuntut dibelakangnya.
Hutan lebat ini ternyata tidak dalam, tak lama kemudan mereka sudah menembus keluar, cuma dikala berada dihutan tadi, mereka merasa hawa dingin menjalar keseluruh tubuh, bila mereka telah tiba di ujung hutan padri tua tadipun sudah tidak kelihatan bayangannya.
Dengan keheranan Ban li berkata: "Untung kepala gundul itu menunjuk jalan, kalau tidak mana kita bisa selamat lewat Hek sa mo lim ini, sungguh tidak nyana Thian ki si iblis tua itu makin lama semakin lihai!" "Iblis tua" Maksudmu Thian ki mo kun seorang iblis tua?" tanya Koan San gwat heran.
"Bukankah kau pernah ketemu dia?" balik tanya Ban li heran.
"Tidak salah, tetapi Thian ki mo kun yang kutemui adalah seorang pemuda, nama nya Ki Houw !" Berubah air muka It lun dan Ban li lama mereka terbungkam, Koan San gwat tidak tahu kenapa mereka membisu diri, tapi didepan sudah dilihatnya sebarisan bangunan rumah yang tegak menjulang ditaburi kabut tebal, ia segan banyak tanya, unta dikeprak lalu membedal menuju kearah itu.
Waktu mereka tiba didepan deretan rumah itu mereka dihadang sebuah pigura besar tiggi, diatas pigura terukir empat huruf "Thian ki piat hu" yang berwarna kuning emas menyala.
Dikedua pinggirannya terdapat dua deret syair panjang, Koan San gwat mendengus mengejek membaca kedua bait syair yang takabur dan ugal ugalan maknanya.
Tepat pada saat itu pintu gapura terbuka dari dalam pintu beruntun keluar sebarisan anak anak kecil seragam hijau, usianya diantara dua tiga belasan, laki dan perempuan terbagi rata, seorang bocah yang memimpin segera bertanya dengan sikap pongah "Kalian setan gentayangan dari mana berani masuk kemari?" Walau usia bocah ini masih kecil, tapi cara bicara terlalu kurangajar, kalau Koan San gwat tidak ambil peduli, Lok Siau hong naik pitam, kontan ia ayun cambuknya dan melecut keras mengenai pipi bocah laki laki itu.