Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 42

Memuat...

Semakin lama kau mak in tidak berguna, di Siau se thian kau diusil orang, untuk ini alasan cukup setimpal, hati ini kau kau dipermainkan gadis cilik serunyam ini, benar benar memalukan, menurut hematku lebih baik kepalamu ditumbuk keatas batu gunung saja biar mampus!" Karuan It lun bing gwat berkaok kaok teriaknya "Ban li!

Jangan kau ngoceh belaka, soalnya Lohu tidak melukai gadis cilik ini, kalau tidak cukup sejurus saja sudah kutamatkan riwayatnya"." Setelah menenggak araknya Ban li bu in , berseru tertawa : "Menghadapi seorang nona cilik, tidak malu kau bicara demikian, memangnya kau ingin menggunakan Thay im ciang yang jahat.

Kini sudah sembilan belas jurus, masih sejurus lagi, bila kau tidak berhasil akan kulihat cara bagaimana kau akan tampil dihadapan orang banyak!" Mendengar seruan ini cepat It lun bing gwat menerobos keluar dan melompat mundur ujarnya menghela nafas: "Nona cilik!

Kau membuat Lohu celaka, sengaja kau menggunakan akal mempermainkan aku, Lohu sudah terdesak sehingga tidak nyangka hari ini jiwaku bakal melayang ditanganmu!" Lok Sian hong tercengang, serunya : "Aku tidak bermaksud membunuhmu." "Selama bertanding dengan orang, Lohu pantang dari dua puluh jurus sebaliknya aku harus bubuh diri saja, sekarang kita sudah mencapai jurus kesembilan belas masih sejurus belum tentu aku mampu meringkasnya kau" ai sudahlah, Lohu tidak ingin dikalahkan gadis cilik lebih baik kuturuti nasihat setan kurus menumbuk kan gunung saja!" Habis berkata ia putar tubuh terus menerjang kearah batu besar di belakangnya.

Kaget Lok Siau hong bukan kepalang, tak terduga olehnya jiwa orang tua ini demikian keras dan ketus, cepat ayun cambuk hendak menggulungnya kembali, di luar perhitungan gerakan si orang tua terama, "Blang" telak sekali kepalanya sudah menumbuk batu.

Sungguh aneh bin ajaib benturan keras itu ternyata tidak membuat kepalanya pecah malah badannya terpental balik dan sekali raih ia pegang ujung cambuk Lok Siou hong, sementara tangan yang lain menekan pundaknya, serunya sambil bergelak tawa: "Nona cilik, kali ini berhasil kutangkap kau, mari keatas makan daging panggang." Seperti bola yang tertendang badannya mencelat naik keatas batu besar yang tinggi itu meski membawa Lok Siau hong gerak geriknya masih sedemikian enteng dan gasiran, tapi baru saja ujung kakinya menginjak ujung batu, tiba tiba ia menjerit keras lekas ia lepaskan Lok Siau hong yang dikempitnya.

Dengan tenang dan cermat Koan San gwat mengikuti pertarungan mereka, ia tahu ilmu Silat kedua orang tua ini sudah mencapai tingkat tinggi, dan lagi dari mulut Ban li bu in tadi ia mendengar disebutnya Siau se thian, lebih meyak inkan pula dan dugaannya bahwa mereka adalah tokoh tokoh yang terdaftar diatas Hong sin pang dari sekian banyak anggota Liong hwa hwe yang serba misterius.

Lok Siau hong jelas bukan tandingan orang, cuma dalam pertarungan ini It hin bing gwat tidak mengerahkan tenaga dalamnya, ia tahu permainan cambuk Lok Siau hong pasti dapat melayani dengan baik maka ia tidak bersedia membantu orang.

Meski akhirnya Lok Siau hong teringkus, ia masih berlaku tenang karena ia tahu jiwa cewek itu tidak bakal terancam tapi dikala Lok Siau hong terbanting jatuh di atas batu besar, badannya terjerumus masuk jurang yang dalam, baru sekarang ia kaget, tepat ia melompat kedepan menangkap gagang cambuk serta menarik sekuatnya, untung jiwanya dapat di selamatkan.

Sambil memegangi sebelah tangan It hun bing gwat berdiri menjublek diatas batu, sebaliknya Koan San gwat gusar, bentaknya.

"Tua bang, kau tidak tahu malu terhadap gadis cilik kau bertindak secara keji." Dengan bingung It hun bing gwat turun dari aras batu, katanya dengan lesu : "Terserah apa yang hendak kau katakan!

kau ingin berbuat apa kepadaku!

Lakukan saja!" Ban li bu in kelihatan sangat heran, dengan suara penuh prihatin ia bertanya "Bing gwat, kenapa kau, jelas kau sudah berhasil, kenapa kau lepas dia pula ditengah jalan." It hun bing gwat menunduk murung tanpa bersuara, sebaliknya Lok Siau hong tidak menyadari betapa berbahaya dirinya tadi, dengan riang ia berseru tertawa: "Koan toako.

Aku menggunaka duri Ling coa diujung cambuk menusuknya"." Konta Ban li bu in berjingkrak sambil meletakan guci araknya terus melompat turun teriaknya gusar : "Walaupun sikap gendut terhadapmu kurang sopan, maksudnya tidak jahat terhadap kau kenapa kau gunakan akal licik, apa kau ingin membunuhnya?" Lok Siau hong melengak gusar, semprotnya "Siapa ingin membunuhnya." Ban li bu in menggerung serunya : "Bila gendut berkelahi dengan orang, batasnya dua puluh jurus bila melampaui batas, dia rela menempuh jalan kematian, sejurus saja sebetulnya kau tidak mampu melawan dia.

Tapi dia suka kelekar, maka sengaja dia memberi hati kepada kau, tepat pada jurus kedua puluh baru menundukkan kau, paling dia paksa kau makan daging panggang itu, sebaliknya kau pakai akal licik sehinga melampaui batasnya?" "Kan dia yang membuat undang undang busuk itu, ada sangkut paut apa dengan aku," demikian jengek Lok Siau hong, "Kau menuduh aku menggunakan akal licik, cara dia meringkus aku tadi apakah tidak menggunakan akal licik." Mulut Ban li bu in seperti disumbat, terdengar It hun bing gwat menghela napas, ujar nya: "Sudahlah Kurus!

terlanjur banyak bicara tak berguna, aku sendiri yang harus disalahkan kenapa guyon, akhirnya jiwa sendirilah yang harus kupertaruhkan!" "Bing gwat!" ujar Ban li bu in dengan haru dan sedih!

"Kematianmu sia sia aku ikut penasaran ?" "Takdir sudah menentukan begini, apa gunanya penasaran, bila Sian pang dihidupkan pula masa jayanya, tergantung kepada mu saja " ai.

Sungguh tidak punya nyana setelah kita rancang bersama sekian lama, dikala tujuan hampir tercapai, aku harus menerima nasibku yang malang ini".." Mendengar orang menyinggung, Siau pang, Koan San gwat menyeletuk: "Tadi kutanya apakah kalian tokoh tokoh yang terdaftar dalam Siang pang kalian pura pura tidak tahu, kenapa sekarang mengelu malah apa sebetulnya yang terjadi?" It lun bing gwat melirik kepadanya, ujar nya: "Bocah!

kau sudah tahu tidak perlu kau banyak tanya!" "Aku tidak tahu, aku cuma pernah dengar kedua nama itu, maka aku ingin bertanya supaya paham seluk beluknya," demikian sahut Koan San gwat.

"Tapi kami bisa menjelaskan kepada kau memang mulanya kami orang orang yang bercokol disana, karena suatu peristiwa nama kami sudah tercoret dalam daftar itu, sebelum nama kami direhabiliir ( dipulihkan ) tiada hak kamu mempersoalkan hal ini." Koan San gwat tercengang tanyanya sesaat kemudian: "Apakah kau betul betul membunuh diri?" "Apakah urusanku ini boleh dianggap kelakar belaka?" semprot It hun bing gwat.

Setelah berpikir Koan San gwat bertanya "Apakah tiada jalan untuk menambal kesalahan ini ?" "Meski ada, apa kau kira lohu sudi memerimanya." "Kalau begitu coba kau jelaskan." "Kalau lohu tidak ingin mati maka selama hidup ini lohu harus patuh terhadap setiap petunjuk dan perintah nona culik ini, coba kau piker apakah aku harus menjadi kacungnya ?" "Aku tidak perlu kau patuh dan tunduk padaku, urusan batal saja!" "Tidak bisa Lohu harus tunduk pada sumpah, hal ini tiada sangkut pautnya dengan kau "Kalau begitu jadi tiada jalan keluar untuk menolong jiwamu?" It lun bing gwat dan Ban ii bu in saling pandang dengan mendelu dan murung, sekian lama mereka bungkam seribu basa.

Maka berkata Lok Siau hong: "Kalau kau harus mampus kenapa menjublek saja?" Sahut It lun bing gwat dengan suara lirih, "Lohu sedang menunggu saat untuk melaksanakan suatu urusan demi kepentingan, inipun salah satu dari aturan yang menjadi sumpahku!

Bila orang mampu bertahan dua puluh jurus, Lohu tidak bisa mematuhi perintahnya selama hidup, maka aku harus mewak ili dia melakukan suatu pekerjaannya, baru aku bunuh diri !" "Kau memang aneh, untuk mati saja toh menggunakan cara yang berbelit belit" It hun bin gwat marah serunya.

"Kau kira urusan ini gampang dilaksanakan" Padahal dalam jagat ini jarang ada orang yang mampu bertahan dua puluh jurus melawan kepandaian silatku, kalau kau tidak becus Lohu mana bisa tipu?" "Jadi ilmu silatmu sudah mencapai taraf yang tiada tandingan di seluruh dunia ya!" "Tidak, tapi kalau gebrak benar benar dengan mengerahkan seluruh kekuatan yak in dalam dua puluh jurus Lohu dapat menang, kalau menang tak perlu diributkan kalau tentu jiwaku tak akan selamat.

Maka sengaja aku main main dengan sumpahku itu sungguh tidak nyana hari ini perahu terjungkal didalam selokan?" Tiba tiba tergerak hati Koan San gwat, cepat ia berbisik dipinggir telinga Lok Siau hong, Lok Siau hong tersenyum girang lalu manggut manggut, katanya kepada It lun bing gwat: "Katamu kau hendak melakukan sesuatu untukku, apakah urusan itu ada batasnya?" "Tidak ada batasnya, apapun akan ku laksanakan sekuat tenagaku, bila benar benar tidak mampu akan kutebus dengan kematian?" "Kurasa tidak perlu, urusan yang kuajukan ini sangat gampang, maka kau harus dengar baik baik." It lun bing gwat menunggu dengan sikap sungguh sungguh dan perihatin, Ban li bu in pun mendengar dengan tegang, maka sepatah demi sepatah Lok Siau hong berseru : "Aku minta kau menghargai jiwa ragamu sendiri, kalau tidak terpaksa kularang kau sembarangan mencari kematian?" It lun bing gwat, melongo sekian lama, lalu memburu maju dan berseru gugup: "Tidak boleh begitu, hal ini bertentangan dengan kehendak hatiku sendiri, aku tidak bisa menerima permintaanmu ini." "Jangan kau lupa, kau sendiri yang membuat aturan itu, tugasmu hanya menerima perintah dan tiada hak menolak atau membangkang, untuk selanjutnya, kau harus makan minum dan hidup seperti biasa sampai hari tua." It lun bing gwat terlongong, akhir nya berkata lesu : "Budak kecil kau memang lihay, terpaksa aku harus menghamba kepadamu selama hidup dan mendengar perintahmu?" "Apakah kusuruh kau melakukan apapun kau tidak boleh membangkang?" "Benar," sahut It lun bing gwat manggut manggut, "Ini berarti aku mengikat diriku dengan ludahku sendiri, selama hdup aku tidak akan bebas dari belenggu ini." "Baik!

Kalau begitu aku ingin kau menjelaskan seluk beluk Liong hwa hwe dan Hong sing pang itu." Berubah air muka It lun bing gwat, mulutnya ternganga tak bisa bicara.

"Perintah pertama sudah akan kau bangkang ya!" dengus Lo Siau hong kereng.

Post a Comment