Koan San gwat mendekat maju, setelah jarak dekat dengan jelas ia sudah melihat kedua orang itu berusia lanjut pakaiannya biasa seolah olah mereka adalah tukang tebang kayu atau pemburu diatas gunung ini, maka perasaan dan waa was tadi menjadi kendor.
Lok Siou hong sangat terkejut sambil ia berkata kiranya tua bangka".
suaranya keras cepat Koan San gwat menggoyangkan tangan kepadanya maksudnya supaya bicraa perlahan supaya tidak didengar oleh mereka dan menimbulkan perkara, karena dandanan kedua orang ini, Koan San gwat menduga mereka pasti bukan orang sembarangan, bila terjadi pertengkaran, watak Lok siau hong berangasan itu tentu urusan bakal berpanjang.
Tak nyana Lok Siou hong tidak pedulikan isaratnya, dengan suara lantang ia berteriak lagi kukira dewata, ternyata dua kakek rencana hampir mampus, sungguh menyebalkan!
Koan San gwat kurang senang, baru saja ia menegor keberandalannya kedua orang tua diatas batu itu sudah bersuara: Engli heng, ternyata ada manusia yang kita anggap bangsa dewata.
Orang yang bicara ini bermuka gemuk, seorang tua lain masih menenggak araknya, dengan sikap acuh tak acuh bermalas malasan ia menjawab: "Seumpama kita anggap diri sebagai dewa kan tidak berkelebihan!" Tergerak hari Koan San gwat, Lok Siau hong menjebirkan bibir dan mencemoh , "Masa dewa seperti tampang kalian ini?" Simuka gendut membanting tulans ditangannya, seraya berpaling dia tertawa, katanya : "Nona cilik, coba katakan seperti apa sebetulnya dewa itu?" Pertanyaan ini menyegal mulut Lok Siau hong, memang ia tidak bisa menggambarkan seperti apakah sebenarnya bentuk dewa itu.
Sikurus menurunkan guci araknya tertawa gelak gelak, sarunya "Aku Tong pin menengok arak sampai mabuk di Gak yang lau, padahal dia seorang gelandangan yang rudin, Thi koay sian adalah peminta sedekah nasi yang gelandangan sepintas pandang jauh lebih celaka dari kami berdua, masa kita berdua tidak menyerupai dewa malah." Berdetak jantung Koan San gwat, Lok Siau hong malah bertepak senang, serunya, "Mendengar percakapan kalian, jadi kalian adalah dewa asli?" Sambil membersihkan kedua tangannya yang berlepotan minyak kebaju depan dadanya si gendut tertawa ujarnya: "Kita hidup harus menikmati kesenangan, jiwa adalah yang paling berharga dalam dunia ini, dengan hidup senang dan bebas baru boleh dinamakan dewa" Tergarak pula hati Koan San gwat, cepat ia bertanya: "Siapakah gelarmu dewa kalian?" "Sudah menjadi dewa masa perlu gelar lagi, nama sudah cukup dan lebih diagungkan!" si kurus cepat menjawab.
"Kalau begitu mohon nama dewa kalian?" Koan San gwat menambahkan.
Si muka gendut terbahak bahak sahutnya: "Aku bernama It lun bing gwat, dia bernama Ban li bu in" Dengan tenang dan penuh keyak inan Koan San gwat berkata : "Kiranya kalian tokoh yang tercantum dalam daftar Sian pang ?" Kelihatan kedua orang melengak, tapi tidak memperlihatkan reaksi yang berarti akhirnya sikurus bergelak tertawa, ujarnya : "Siang pang (golongan dewa) atau Kui pang (golongan setan) apa segala!
Kami tidak paham!" Ucapan Kan San gwat memang sengaja hendak memancing belaka, dari sikap mereka terlihat delapan puluh persen ia yak in dugaannya tidak meleset, tapi lahirnya ia tetap tertawa tawa katanya: "Karena ku dengar kalian menamakan diri sebagai Sian sian (dewa sakti) menyebut nama yang begituan lagi, maka kuurutkan nama kalian kedalam golongan dewa itulah." "Kalau begitu kau salah terka" ujar si muka gemuk, "Secara serampangan kita menarik sebuah nama untuk apusi kau.
Hai, bocah, kau bernama apa?" Koan San gwat berpikir pula lalu berkata "Banli koan san bu im (berlaksa li sepanjang gunung gunung tiada awan), It lun bing gwat tok bing (bulan sabit memancarkan cahaya tunggal)" Si muka gendut tersentak kaget air muka nya berubah hampir saja ia hendak berteriak, keburu simuka kurus melorot kepadanya, cepat si muka gendut sadar dan mengubah kata: "Bagus!
It lun gwat tok bing, ucapanmu sungguh agung mengandung arti yang sesungguhnya, agaknya kau bocah ini pernah bangku sekolah, marilah silakan naik ikut merasakan daging panggang!" sembari berkata tangannya segera meraih kedepan mencomot segempal daging panggang terus dilempar dari jarak jauh, lekas Koan San gwat angkat tangan menyambuti terasa lemparan siorang tua cukup kuat sampai telapk tangannya tergetar sak it, hatinya jadi lebih mantap, Diwaktu ia menjelaskan makna namanya dia menyinggung nama Tokko Bing gurunya sengaja ia sisipkan nama gurunya ini didalam penjelasan itu, lantas tampak sigemuk terkejut dari mulutnya yang bergerak itu jelas ia hendak berseru: "Tok," namun karena delikan mata sikurus cepat ia mengubah seruannya, dari sini ia lebih yak in bahwa kedua ini pasti hubungan yang erat dengan Liong hoa hwe, Hong sin pang, Siau se thian dan lain lain yang selalu menjadi pemikirannya.
Akan tetapi sikap orang sangat rahasia betapapun ia harus mencari akal untuk mengorek keterangan mereka, maka sekian lama ia menjublek di tempatnya.
Kelihatannya Lok Siau hong ketarik oleh tingkah lucu kedua orang ini, apalagi setelah perjalanan jauh sejak pagi perutnya memang mulai lapar, dan daging pangang itu merangsang hidungnya lagi, maka air liurnya selalu ditelannya kembali, teriaknya: "Ai, orang tua kenapa kau begitu kikir, ada daging panggang kenapa tidak bagi bagi kepadaku.
Tingkah si gendut yang bernma It lun bing gwat itu lebih jenaka, katanya cengar cengir: "Nona cilik, kau ingin makan daging panggang tapi ada syaratnya yaitu kau harus menjawab dua pertanyaanku dulu!" Lok Siau hong jengkel, jengeknya "Kedua pertanyaan itu sangat gampang, aku cuma ingin menjajak kecerdikanmu!" Penjelasan ini menarik Lok siau hong yang masih kekanak kanakan, tanyanya cepat "soal apa yang kau tanyakan?" sambil menuding hidung sendiri it lun bing gwat berkata : "Pertama, kau harus menjelaskan kenapa aku dipanggil it lun bing gwat!" Lok Siau hong cekikikan sahutnya: "Wah gampang sekali kulihat mukamu yang gendut banyak dagingnya itu bukan, bukankah seperti bentuk rembulan yang bundar?" It lun bing gwat tercengang, sebaliknya yang bernama Ban li bu in terloroh loroh, serunya.
"Gendut julukan mu memang cocok keadaanmu, sekali tebak tepat kena sasaran." It lun bing gwat berpikir sebentar lalu berkata pula "Pertanyaan kedua harus menebak secara jitu pula, daging apa yang kupanggang ini." Waktu Lok Siau hong pandang daging ditangan Koan San gwat, bentuknya selonjor paha ayam.
Diam diam ia membatin "Bila daging ayam sekali pandang pasti ketahuan, masa aku menebak" tapi dari bentuknya ini pasti sebangsa daging burung ".
burung yang boleh dimakan sangat banyak, pasti besar kecilnya paha panggang itu dapat diperkirakan bentuk burung itu pasti cukup besar, sesast ia bingung dan sulit ambil kepastian, ia diam berpikir sekian lamanya.
Sebaliknya It lun bing gwat gelisah malah kuatir tidak tertebak sengaja ia menambahkan, daging ini setiap sast dapat didapatkan diatas gunung ini, coba kau memikirkan dari sumber yang dekat saja.
Lok Siou hong masih memeras otak, karena burung digunung bermacam macam, untuk menunjuk salah satu memang sulit, terpaksa It lun bing gwat memberi tambahan pula "Mahluk itu bisa terbang menjulang tinggi di atas awan!" Cepat Lok Siou hong berteriak daging burung elang.!
It lun bing gwat jadi lesu dan murung, katanya kesal: "Betapa gagah nama julukanku masa gegares daging binatang yang menyebalkan itu!" "Kalau begitu sulit ditebak," sahut Lok Siou hong sambil merengut, "Apa mungkin daging bangau?" "Siapa bilang daging bangau," teriak it lun bing gwat sambil menepuk paha.
"Tebakanmu jitu, mari silahkan mencicipi sekerat daging ini!" lalu ia mencomot sekerat daging lalu dilemparkan kepada Lok Siau hong.
Meski Lok Siou hong mengulur tangan menerima tapi secepat itu pula ia lempar ketanah hatinya mual karena tadi ia melihat sang bangau bertengger di pucuk pohon, sikapnya yang bebas dan tentram seperti seorang dewa yang mengasingkan di mana terpikir olehnya dagingnya bakal dipanggang dan digares oleh manusia.
Bergegas Ii lun bing gwat melopat turun dari atas batu besar menjemput daging panggang itu seraya menggerutu: "Nona cilik tidak tahu kebaikan secara baik hati kuberikan panggang daging bangau ini kepada kau, agaknya kau tidak sudi menikmati kehidupan yang serba bebas menyenangkan ini, dibuang buang begini saja sungguh sayang!" dengan lapar ia masukan daging panggang kedalam mulutnya lalu dikunyah seperti orang kelaparan air liur membasahi pakaiannya.
Lok Siau hong semak in mual, serunya gusar: "Mengagulkan diri sebagai dewa, sedikitpun tidak punya rasa pengasih, sungguh menyebalkan!" "Anak perempuan kenapa bicara begitu kasar," ujar It lun bing gwat, "kau tidak percaya betapa enak dan lezat daging panggang ini, tuh diatas masih ada, mari kau keatas, nanti kau cicipi sendiri!" sambil berkata ia ulur tangan hendak menarik lengannya, kontan Lok Siau hong menghardik keras, cambuk ditangannya melecut kepunggung orang, It lun bing gwat masih tersenyum simpul, membalik pergelangan ia mencengkram gagang cambuk orang.
Takkira permainan Ling coa piang hoat Lok Siau hong memang sangat hebat, sedikit pergelangan memelintir, gerak cambuknya berubah menggulung balik mengetuk punggung tangan orang karena perubahannya cepat serangan jitu lagi "plak" telak sekali punggung tangannya kena dilecut sekali.
Agaknya It lun bin gwat tidak mengira bila permainan cambuk cewek ini sangat menakjubkan, maka tangan tidak terasa sak it tapi merasa malu, bentaknya gusar: "Nona cilik!
Kenapa kau tidak tahu aturan." Lok Siau hong pun berjingkrak gusar, teriaknya: "Tua bangka menyebalkan, siapa yang tidak tahu aturan, siapa yang main tangan lebih dahulu?" "Dengan baik hati Lohu ingin mengajak kau mencicipi daging panggang" "Aku tidak sudi makan panggang bangau mu!" hati Lok Siau hong tidak kalah gasarnya.
It lun bing gwat gusar menggerung "Selama hidup belum pernah keinginan Lohu ditolak orang secara mentah, kau harus makan sekerat dagingku ini!" sembari berkata jarinya berkembang hendak meraih lengan, lekas Lok Siau hong mengayun cambuknya seperti daun daun pohon berguguran melecut dari berbagai arah keatas kepala dan muka orang.
Adanya pelajaran pertama It Iun bing gwat kali ini berlaku lebih hati hati, meski perawakannya tambun namun gerak geriknya amar gesit dan lincah, kelit kiri menghindar kekanan selalu dapat berputar putar diantara sambaran bayangan cambuk.
Meski Lok Siau hong tidak berhasil menyerang sasarannya, namun permainan cambuk nya yang hebat itu dapat merintangi rangsakan lawan beginilah pergi datang mereka saling menyerang dengan serunya sampai puluhan jurus.
S i kurus Ban li bu in masih ungkang ungkang di atas batu sambil menghirup araknya, terdengar ia menggoda : "Gendut!