Cuma Lau Sam thay yang mengunjuk rasa kuatir, katanya: "Apaka tujuan Ling cu tidak akan berbahaya?" Koan San gwat berkata" Ki Houw mengingkari janjinya, tentu urusannya ini ada sangkut pautnya dengan perkara yang kubayangkan teka teki ini sudah lama tersekap dalam sanubariku, maka aku harus berdaya upaya untuk menbongkar rahasia, dan sekarang tibalah saatnya. . . . .
kalau Lau heng merasa tidak leluasa boleh tidak usah ikut soalnya memang Lau heng tiada hubungannya, dengan persoalan ini"." "Kenapa Lingcu bicara demikian!" seru Lau Sam thay sambil menggoyangkan tangan.
"Aku orang she Lau hanya kaum keroco di kalangan Kang ouw, namun sejak ikut Ling cu kini akan menyelidiki suatu, rahasia besar kaum Bulim, terhitung hidup ini tidak sia sia, meski harus berkorban jiwa aku orang she Lau tidak perlu menyesal, cuma aku kuatirkan keselamatan Ling cu sendiri." "Tiada sesuatu yang perlu dikuatirkan bagi diriku." "Belum tentu, dalam pandangan kaum Bulim sedang terancam malapetaka yang masih terpendam dan bakal meletus dalam waktu tidak lama lagi, keselamatan kaum persilatan hanya tergantung pada usaha Ling cu seorang untuk mengatasinya, kalau tidak sulit lah dibayangkan apa yang bakal terjadi kelak." "Betapa tinggi penilaian Lau heng terhadap diriku, hakikatnya memang aku sudah terlibat dalam pusaran yang rumit ini, seumpama hendak menyingkir juga tidak mungkin lagi, bukan aku saja nona Lok dan Lau heng sendiri pun sudah tidak bisa berpeluk tangan.
Kalianpun pernah bertemu dengan Ki Houw kalian pun sudah tahu sedikit seluk beluk mengenai persoalan ini ?" Lau Sam thay tidak bicara lagi, sebalik Lok Siau hong membelalakan matanya serunya: "Koan toako ditempat tujuan kita apakah dapat betemu dengan bibi?" "Aku tidak berani pastikan." sahut Koan San gwat setelah termenung sebentar, "Tapi aku percaya sedikit banyak kita bakal memperperoleh bahan bahan sebagai pemikiran kita selanjutnya"." "Tiba tiba Lu Bu wi menyeletuk tanya dengan heran : "Soal rahasia apa yang sedang kalian perbincangkan?" "Sekarang belum pasti dapat aku jelaskan Ciangbunjin perlu memastikan mau ikut tidak menempuh bahaya sudah pasti dapat terhindar "Losiu mencari hidup seorang diri, jiwaku sih tak perlu dipikirkan cuma dengan tenaga ku yang tidak becus ini, aku kuatir bukan saja tidak membantu Ling cu malah jadi beban belaka!" "Cianghunjin jangan merendah, sulit dikatakan sekarang, mungkin banyak urusan yang nanti harus mohon bantuan, dan lagi entah beberapa banyak anggota dari perguruan kalian?" Lu Bu wi berpikir sebentar lalu katanya: "Enam diantara sembilan saudara seperguruan kami sudah ajal tinggal tiga orang lagi dimarkas, para murid dari generasi kedua kira kira masih tiga puluhan orang yang tersebar luas dimana mana, dengan sebuah tanda rahasia, Losiu dapat mengumpulkan mereka untuk mendengar perintah seluruhnya!" "Tidak prlu banyak harap Ciagbunjin mengundang tiga Enghiong yang berada dimarkas itu serta, lima, enam murid yang terdekat saja.
Tugas ini lebih baik diserahkan kepada Sun Cit sebagai kurir atau penghubung, suruh mereka menyalin rupa.
Tidak usah bertemu muka secara langsung dengan kami, asal memperhatikan tanda rahasia penghubung dari perguruan kalian, harus ketat pula mengikuti jejak kita disaat tenaga mereka benar benar diperlukan, biarlah nanti Ciangbunjin sendiri yang memberi tugas yang perlu dilakukannya." Lu Bu wi tidak tahu persiapan apa yang sedang dilakukan oleh Koan San gwat namun ia menurut perintah saja, sahutnya: "Khong ling ling membunuh beberapa saudara perguruan kita, kini berkesempatan ikut Ling cu untuk menuntut balas, tugas mulia yang memang sangat kita harapkan!" lalu ia memberikan aba aba kepada Sun Cit, serta menyuruh membereskan jenasah para saudara seperguruannya dan dikirim kembali ke Ciong lam pay untnk dikebumikan." Setelah segalanya diatur dengan rapi, Koan San gwat mencemplak kepunggung unta saktinya, katanya: "Mari berangkat!
Mungkin perjalananan kita masih bakal menimbulkan gelombang besar yang mendapat seluruh kaum persilatan, mungkin pula seperti mega yang mengembang di angkasa, terhembus lenyap tanpa bekas oleh angin lalu!
Tapi apapun yang akan terjadi, inilah jalan satu satunya yang harus kita tempuh!" -o0dw0o- Jilid 9 HILANG SUARANYA IA LANTAS keprak tunggangannya dan berlari cepat dikeremangan malam menuju kearah depan sana, maka terdengarlah derap kaki kuda yang ramai dibelakangnya mengejar dengan cepat.
Lu Bu wi seketika keprak kudanya mengejar dibelakangnya.
Derab kuda dan langkah unta yang tegap dan berat itu seolah olah menjadi perpaduan musik yang gagah mengiringi mereka maju kemedan laga.
Kira kira setengah bulan kemudian, mereka berempat sudah tiba disungai Pe long kang yang terletak di perbatasan Su cwan dan Kam siok, setelah menyebrang sungai mereka memasuki wilayah Su cwan yang terkenal sulit dan penuh bahaya.
Setelah tiba di daerah sulit perasaan Koan San gwat malah lebih longgar, mereka menginap disebuah rumah penginapan kecil, setiap hari kerjanya cuma makan minum dan pelesir dipinggir sungai besar, melihat pemandangan, sedikit waktu bertemu muka dengan Lu Bu wi, waktunya sebagian besar berada d luar.
Beberapa hari sudah berselang Lok Siau dan Lau Sam thay tidak sadar kalau Lau Sam thay tidak berani banyak bicara, Lok Siau hong sudah tidak tahan lagi, maka pada suatu pagi dikala Koan San gwat sudah siap berangkat, cepat ia memburu serta bertanya : "Koan toako, kau hendak kemana lagi?" "Hari ini aku akan tamasya ke Mo thian ling (bukit pencakar langit) konon puncak gunung itu sangat tinggi menembus awan, pemandangan disana lain dari pada yang lain!" "Koan toako," ujar Lok Siau hong kedatangan kita kesini bukan untuk bertamasya bukan?" "Aku tahu, hidup ini sangat terbatas, mumpung ada waktu baiklah menikmati tempat tempat indah yang menyenangkan, kelak mungkin tiada kesempatan lagi!" Lok Siau hong melengak, tanyanya: "Koan toako apa maksudmu?" "Tiada maksud apa apa, mungkin kau terlalu iseng karena senggang, baiklah hari ini kau boleh ikut!" Lok Siau hong paham dimulut kedengarannya Koan San gwat bicara enteng, tapi urusan tentu tidak sepele, serta mendengar Koan San gwat hendak mengajak kesuatu tempat, karuan ia berjingkrak kegirangan.
Mereka menunggang unta dan kuda yang dibedal kencang, tidak lama kemudian sudah menempuh perjalanan pegunungan yang berliku liku menjurus kearah puncak gunung, Mo thian ling termasuk dalam wilayah Bing san, susun bersusun sepanjang ribuan li ke barat memasuki wilayah Ceng hay ketimur menjorok kepropinsi Ouw pak, merupkan pegunungan terpanjang.
Waktu hampir tiba dipuncak bukit, hembusan angin pegunungan sedemikian kerasnya awan menggembung dibawab kaki, seolah olah karena susah berpisah dengan dunia fana ini pohon siong dan Pek menjulang dan berdiri kekar, tumbuh subur dimana mana tersebar luas, burung bangau berterbangan, kera berloncatan dipucuk pohon, ternyata pemandangan di sini memang mempersonakan.
Selama hidup belum pernah Lok Sian hong melihat pemandangan seperti yang disaksikan sekarang, tak tertahan ia tuding sana tnnjuk sini seperti menari saja ia diatas punggung tunggangannya.
"Hati hati, jalananan disini tumbuh lumut dan licin sekali, kendalikan kudamu baik baik, jangan sampai terpeleset, kalau sampai jatuh kau bisa lenyap tanpa bekas!" "Jangan kuatir, meski kudaku tak sehebat untamu, dia merupakan tunggangan yang lumayan juga, jalan pegunungan begini tidak bakal mempersukar dia"." Tengah bicara tiba tiba kaki depan tunggangannya mendadak tertekuk kedepan entah tersandung apa, hampir saja ia terjengkang ke depan, untung gerak geriknya cekatan gesit sekali ia melesat kedepan, untunglah unya tunggangan Koan San gwat lekas menyusul tiba, leher panjangnya terulur menahan tubuh k da itu sehingga tidak tergelincir jatuh kebawah gunung.
Begitu menginjak tanah Lok Siau hong lantas mengayun cambuknya memecut pantat kudanya seraya memaki "Celaka, baru saja memuji kau, secepat itu pula kau bikin aku sakit" cepat menyampok cambuknya.
Terdengar Koan San gwat berseru: "Jangan kau ribut dan main pukul ditempat ini, kalau dia kesak itan dan mergumbar adatnya, sekali loncat tamatlah riwayatnya!" Lok Siau hong memonyongkan mulutnya katanya bersungut: "Tamat ya sudah, paling aku turun gunung jalan kaki." "Enak berkata, dua hari lagi kita harus melanjutkan pejalanan, masa kau hendak menjadi buntut mengejar jalan kaki." "Jadi harus berangkat lagi?" tanya Siau hong tertegun.
"Sudah tentu, kan belum sampat ketempat tujuan, aku sedang menanti bala bantuan dari pihak Ciong lam pay!" "Tidak heran setiap hati kau bicara dengan Lu bu wi toako, sungguh aku kurang paham untuk apa kau memerlukan sedemikian banyak orang, kalau berkelahi masa mereka bantuan kau?" "Aku tidak perlu bantuan mereka untuk berkelahi, yang jelas ada tugas lain yang lebih penting perlu bantuan mereka untuk mengerjakan!" Lok Siau hong hendak bicara lagi tapi Khoan San gwat menggeleng kepala, katanya: "Kau bukan anak kecil lagi, tapi sifatmu masih suka merengek masa nona besar masih suka merengek!" demikiin goda Koan San gwat.
Merah muka Lok Siau hong, selanjutnya ia banyak berdiam diri.
Sementara itu Koan San gwatpun sudah turun dari tunggangannya matanya menjelajah sekelilingnya akhinya ia menghela napas serta berkata mangut manggut: "Tempat ini sungguh segar dan menyenangkan, semoga kelak akupun dapat memperoleh tanah subur nan sunyi begini, selama hidup terpisah dari keramaian dunia"." "Apakah baiknya tempat ini, "sela lok Siau hong, "Kecuali mega pohon dan gunung serta burung dan binatang liar, kalau seng gang dan iseng untuk mencari orang ajak bicarapun tiada, kadang kala bermain man sih boleh, kalau selama hidup tinggal di tempat yang sepi begini, kalau tidak mati kebal sudah untung!" "Nanti setelah usia mu dewasa kau akan tahu menikmati kehidupan bersih dan sunyi paling nikmat, akan datang saatnya kaupun bisa menyenangi tempat semacam ini!" Mata Lok Siau hong berkedip kedip mendadak ia tertawa cekikikan, ujarnya "Koan Toako katamu tempat ini tiada jejak manusia?" "Ya, pohon siong dan burung bangau yang diselimuti awan putih mengembang, seolah tempat kediaman para dewata saja tempat ini." Mata Lok Siau hong berputar katanya: "Dewa yang kau maksud tentu adalah Lu Tong pin dan Thi koay dari dongeng delapan dewa menyebrangi lautan itu bukan!" "Kenapa kau bicara begitu?" tanya Koan San gwat melengak.
Lok siau hong berjingkrak sambil bertepuk tangan sahutnya "Karena Lu Tong pin paling suka minum arak, sedang Li Thi koay paling suka gegares (suka makan) sayup sayup sepeti terendus olehku bau arak dan daging panggang!" Lekas Koan San gwat angkat kepala mengendus endus ia membenarkan ucapan orang katanya keheranan.
"Puncak gunung sedemikian tingginya ada siapa makan minum ditempat ini?" "Sudah tentu para dewata!
Manusia umum nya suka kehiduapan dewata yang sunyi dan suci, Sebaliknya para dewa menyukai arak dan daging buatan manusia, dapat disimpulkan bahwa konatradiksi di dunia fana ini memang terlalu banyak !" Tergerak hati Kon San gwat dengan sikap serius ia berkata: "Jangan kelakar, mari kira tinjau kesana!" Lok Siau hong berloncatan cepat, ia berlari mendahului kedepan, terpakai Koan San gwat menguntit dibelakangnya, mereka menerjang kabut tebal dan langsung mamanjat lebih atas, tak lama kemudian bau arak dan panggang daging semak in keras, tak lama kemudian dia lantas batu besar yang menonjol keluar di kejauhan sana tampak bayangan dua orang sedang duduk berhadapan.
Seorang sedang angkat guci arak menenggak dengan lahapnya, seorang yang lain sedang gegares daging panggang dengan nikmatnya.