Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 36

Memuat...

Maka serangannya yang partama kali tadi hanyalah pancingan belaka untuk menjagai di mana sebenarnya sebab musabab dari keanehan itu.

Dengan bekal ilmu silat dan bakatnya, akhirnya ia menemukan letak keanehan itu.

Ternyata Pok Thian cun memang memiliki semacam ilmu aneh yang luar biasa, badan nya secara reflek timbul suatu tenaga terpendam yang melawan tekanan atau pukulan dari luar semakin besar tekanan atau tenaga itu, semakin besar pula daya perlawanannya kekuatan perlawanan ini tidak kentara dan sulit diketahui orang luar , maka setelah dia kena pukulan kedua kekuatan itu saling bentrok dan sirna tanpa bekas, maka selintas pandang seolah olah sedikitpun ia tidak terpengaruh oleh pukulan yang keras itu.

Otaknya bekerja kilat, akhirnya terpikir olehnya suatu teori dalam ilmu silat yang berbunyi : "Bagi seorang cerdik cendikia, dia harus dapat merobah tenaga perlawanan itu menjadi tenaga bantuan untuk mendorong"." menurut teori, pada waktu melancarkan pukulan kedua, tenaga yang dikerahkan bukan tenaga dorongan tapi tenaga sedot yang hebat.

Kali ini Pok Thian cun tidak sadar, maka ia melawan tetap menggunakan caranya yang terdahulu.

Daya perlawanan terhadap tekanan luar kini malah memperkeras daya sedot yang kuat itu sehingga tanpa kuasa badanya tersuruk maju, untung latihannya cukup sempurna, maka reaksinya pun cepat, lekas ia merubah tenaga perlawanannya, namun demikian ia sudah terlambat dan kecundang.

Lok Heng kun dapat meraba seluk beluk ini, dengan gumamnya ia memberi peringatan kepada Koan San gwat, bahwa cara itu sekali berhasil tidak akan berguna untuk kedua kalinya.

Keruan Pok Thian cun naik pitam, seru nya bengis sambil berpaling: "Lok Heng kun, tak usah kau memberi peringatan kalau bocah keparat ini mampu membanting aku lagi, aku menyerah dengan suka rela." Koan Sana gwat terseyun sahutnya: "Untuk membantingmu sekali lagi tedak sulit usia dan kedudukanku cukup tua dan tinggi, setelah kalah sejurus pantas kau tak malu dan mengaku kalah saja!" "Benar!" Liu Ju yang ikut menimbrung, "Pok Thian cun, kau seangkatan dengan Tokko Bing, gurunya, kalah yang sudah sepantasnya mengaku kalah!" "Tidak!" sahut Ki Houw menggeleng.

"Terhitung juri apa kau ini" Kenapa kau bantu tua bangka ini memungkiri kekalahannya!" demikian maki Koan San gwat gusar, Ki Houw menarik muka, sikapnya ketus ujarnya: "Dalam hal apa aku berlaku kurang adil?" Kata Koan San gwat menuding Pok Thiam cun: : "Dia sudah terbanting jatuh, apakah tidak terhitung kalah?" Ki Houw manggut manggut, sahutnya ?"Sudah tentu, tapi kau tadipun kena tutukan Cun yang ci, satu sama lain saling impas, malah kau rada mengambil sedikit keuntungan!" Koan San gwat melengak dibuatnya tanyanya "Bagaimana setelah kena tutukan Cun yang ci tadi?" "Silahkan kau tanya kepada mereka taci adik, nanti kau tahu bagaimana akibatnya!?" demikian jengek pok Thian cun sambil menuding Lok Heng kun berdua.

Gejulak amarah membuat selebar muka Lok Heng kun dan Lok Siang kun merah padam namun mereka malu membuka mulut.

Mendengar nama tutukan itu serta melihat sikap Lok Heng kun berdua ditambah perasaan hatinya, lambat laun Koan San gwat dapat meraba sasaranya, maka sambil tertawa ia bertanya: "Berapa lama Cun yang ci mu itu akan menunjukan kasiatnya?" Pertanyaan ini merubah air muka pok Thian cun, Liu Ju yang dan Lok Heng kun berduapun sama mengunjuk rasa heran dan curiga.

Kaca Lok Heng kun kepada adiknya "Aneh, mungkin lwekang bangsat tua ini sudah loyo dan tak berguna lagi?" "Bohong!" teriak Pok Thian cun, "Apakah kalian berani mencoba sekali lagi, kutanggung kalian bakal menikmati pula sorga dunia?" "Bangsat keparat!

Lok Siang kun yang berangasan segera mengumpat, "Tidak malu kau membuka mulut demikian, ingin rasanya kubeset kulit mu secara hidup hidup!" kedua tangannya menekan kursi, badannya segera melayang kedepan, ditengah udara lengan bajunya dikebutkan kedepan menggulung muka Pok Thian cun, lekas Pok Thian cun menekuk leher berkelit, tapi gerak gerik Lok Siang kun tidak berhenti sampai disitu saja, lengan bajunya lagi lagi dikebaskan keluar.

Sebelum rangsakkan hebat ini mengenai sasarannya tiba tiba ditengah udara berkelebat pula sesosok bayangan, tangannya miring ke bawah, cras.

lengan baju Lok Siang kun ditabasnya sobek separo.

Karena kehilangm keseimbangan badan, terpaksa badan Lok Siang kun meluncur kesamping duduk ditanah.

Karuan Lok Heng kun dan Liu Ju yang terkejut, serempak mereka menubruk maju hendak membantu.

Bayangan yang menabas kutung lengan baju itu ternyara Ki Houw adanya, kontan ia membentak bengis : "Apakah kalian sudah bosan hidup, berani bertingkah dihadapan Pun coh!" Suaranya keras bagai geledek mengguntur Lok Heng kun berdua jadi kuncap nyalinya cepat mereka berdua menghentikan aksinya dan berdiri tegak, sejenak kemudian dengan rasa was was baru Liu Ju yang angkat bicara: "Siheng sebagai juri kenapa kaupun turun tangan mencampuri urusan ini?" "Kau harus tanya istrimu yang cacad itu." Liu ju yang terbungkam, sambil menahan gusar terpaksa ia payang istrinya kembali ketempat duduknya.

Dibawah pandangan Ki Houw yang dingin dan tajam terpaksa Lok Heng kun mundur ketempat duduknya.

Maka berkatalah Ki Houw sambil berpaling kepada Koan San gwat: "Lo pok, agaknya memang kau sudah kalah." "Aku tidak percaya?" teriak Pok Thian cun.

"Harap juri suka menanti sebentar lagi." "Tidak usah menunggu tutukanmu tadi memang terasa juga, tapi sekarang sedikitpun tidak menimbulkan gejala apa apa." Dengan nanar Pok Thian cu mengamati Koan San gwat, dilihatnya sikap orang masih gagah penuh semangat, gairahnya melimpah limpah, sedikitpun tidak menujukan perubahan apa apa, terpaksa ia tutup mulut.

Tergerak hati Ki Houw ia manggut kearah Koan San gwat seraya berkata: Saudara memang luar biasa, entah dapatkah kami mengjukan sebuah pertanyaan?" "Saudara sebagai juri sudah tentu punya hak mengajukan pertanyaan?" "Tidak" kata Ki Houw menggeleng.

Juri hanya memutuskan kalah dan menang, mencegah orang main keroyok, soal mengajukan pertanyaan, belum tentu dia punya hak main selidik terhadap seseorang, maka saudara boleh menolak pertanyaan yang kuajukan!" "Aku tidak merasa simpatik terhadap kau, namun sebagai juri agaknya kau dapat bertindak secara adil, maka bolehkah aku menjawab pertanyaanmu." Berubah air muka Ki Houw, tapi ia menahan sabar, katanya: "Tutukan Cun yang ci Lo pok tidak pernah gagal, dengan apa saudara menghindar dari tutukan jarinya?" Koan Sangwt berpikir sebentar lalu menjawab: "Sebelum menjawab pertanyaan, inginku tahu lebih dulu sifat sifat dari Cun yang ci itu!" "Masa kau tidak merasakan" tanya Pok Thian cun sebal.

"Perasaan sih ada cuma waktunya terlalu pendek, seolah olah punggung kena sinar msatahari pagi, panas hangat seperti ada ulat merambat didalam badan." "Selanjutnya bagaimana?" tanya Pok Thian cua pula.

Selanjutnya sepeti tidur dalam impian, musim semi, maka kuusulkan lebih baik nama tutukan itu diginti dengan Cun bang ci saja.

Saking murka Pok Thian cun hendak mengumpat caci, tapi kuncup oleh pandangan tajam mata Ki Houw.

Itulah semacam ilmu sesat yang jahat dan memalukan Liu Ju yang meninbrung coba menjelaskan "Goh San sin," tukas Ki Houw dengan mendelik, sebagai seorang kerabat Mo pang tidak pantas kau menimbulkan ilmunya seburuKitu!" Terpaksa Liu Ju yang tutup mulut Koan San gwat tahu mereka takut sama Ki Houw segera berkata: "Kini ku rada paham, Cun yang ci itu mungkin semacam ilmu yang dapat membangkitkan nafsu yang berkobar kobar sehingga manusia hilang kesadarannya." "Tepat sekali.

Itulah ilmu tunggal Lo pok yang tiada duanya," ujar Ki Houw tertawa lebar.

Koan San gwat mencemoh dengan hina "Tak heran ku tidak terpengaruh oleh kesesatan ku.

Karena beberapa Waktu yang alu aku pernah diracun oleh manusia licik dan diobati sebutir pil Ping sip cian bing san dari seorang tabib kenamaan, kasiat obat itu dapat memunahkan segala racun, dapat pula membersihkan hati menghilangkan hawa nafsu" "Kiranya begitu, sekarang aku paham!" ujar Ki Houw manggut mangut lalu berpaling kearah Pok Thian cun dan berkata dengan kereng: "Lo pok sekarang kau terima kalah tidak?" Pok Thian cun tunduk tak bersuara.

Ki Houw berkata pula, "menurut adat kebiaSannmu setelah kalah harus segera menggelinding pergi, untuk apa kau tinggal disini?" Baru saja Lok Heng kun hendak membuka suara, Ki Houw sudah mengepalkan tangan katanya "Sudah jangan banyak kata lagi!

Aku tahu maksud kalian, pertikaian kalian dengan Lo pok memang sulit dibereskan.

Maka biar aku yang menugar, tiga bulan yang akan datang, kalian datang lapor kemarkas besar di sana nanti kalian bisa menyelesaikan urusan ini, baru selanjutnya membicarakan urusan lain." "Terima kasih Mo kun!" ujar Lok heng kum lirih.

Sebaliknya Lok Siang kun diam saja "Tidak perlu sungkan sesama kerabat dalam satu Pang.

sudah sepantasnya aku sedikit memberi kelonggaran kepada kalian." Lalu ia mengulap tangan, pok Thian cun segara mau ngeloyor pergi.

Ki Houw menjura kepada Koan San gwat serta berkata: "Selamat bertemu, Selamat bertemu!

Naga naganya kita harus berkenalan lebih intim." Koan San gwat membalas hormat, katanya: "Tuan tadi cuma mengunjuk sejurus kepandaian, tapi sudah kelihatan membekal kepandain yang hebat, aku orang ske Koan jadi gatal dan ingin mohon pengajaran." Lok Heng kun dan Liu ju yang berdua jadi gelisah, berulang mereka memberi isyarat dengan kedipan mata Tapi Koan San gwat anggap tidak melihat, Ki Houw bersikap kalem ujarnya "Kasempatan masih banyak, kenapa mesti hari ini!" Sebaliknya Koan San gwat mendesak katanya, "Aku memikul banyak tugas berat, mati hidup sulit diduga, kuharap saudara bisa menentukan waktunya." Ki Houw tersenyum ujarnya: "Bukankah kira sudah mengajukan waktu, kuharap tiba pada waktunya, saudara tidak ingkar janji dan tiba di Tay San koan tepat pada waktunya." Koan San gwat terkejut, teriaknya "O, jadi kau adalah unta terbang." Seiring gelak tawa Ki Houw bcrkelebet mengejar dibelakang Pok Thian cun dan sebentar saja menghilang, di udara berkumandang suara jawabannya.

"Aku memang Hwi te ling cu!" Semua orang dalam pendopo sekian lama nya menjublek tak bersuara dan tidak bergerak akhirnya Koan San gwat yang membuka kesunyian.

"Tak terduga unta terbang kita adalah dia." "Koan siapa," ujar Lok Heng kun dengan wajah kaku "Ada persoalan aku mohon bantuanmu." "Cianpwe ada pesan silakan karakan saja!" "Aku hanya punya anak tunggal Siau hong, biasanya terlalu kuumbar jadi sifatnya suka aleman dan bugal untuk selanjutnya kuharap Siau hiap luka memberi petunjuk dan bimbingan, supaya dia tidak menjurus kejalan sesat?" ?"Kenapa Cianpwe berkata demikian"." "Bukankah Siauhiap saksikan sendiri, tiga bulan ini kami harus melaporkan diri sekali pergi entah mati atau hidup sulit diduga apakah bisa kembali lagi, sukar di ramal kami harap adanya hubungan kental kami denga gurumu, kau pandang patriku".." Hembusan angin musim ronrok yang deras menghamburkan daun pohon yang beterbangan, sinar surya redup menyinari Tay san koan, benteng pertempuran kuno yang sunyi sepi.

Bertengger diatas kuda, cahaya matahari menarik panjang bayangan badannya kesebelah samping.

Hatinya sedang gundah dan, gelisah, waktu yang telah dijanjikan oleh Unta Terbang.

Hari yang sudah dinanti nantikan sekian lamanya untuk mendapat jawaban berbagai pertanyaan yang selalu mencekan dalam sanubarinya.

Post a Comment