Sekali mabuk segala suka duka bakal amblas tak terasa!" "Cianpwe juga kesal hati?" tanya Koan San-gwat.
"Ya," sahut Liu Ju-yang pura-pura bersedih, "Aku sedang kangen akan mukaku yang buruk dulu!" Baru sekarang Koan San-gwat tahu orang sengaja bersenda gurau dengan riang gembira itulah, sayup sayup didengarnya beberapa kali suara tang ting, jelas dan nyata itu suara keleningan.
Mereka berhenti tertawa, dengan lirih Liu Ju-yang berkata : "In-pa-liok-ting!
Naga-naganya Mo-kun ketiga yang datang, bagaimana?" Dengan suara tegang Lok Heng-kun berkata : "Pasti tua bangka itulah yang mengundangnya kemari.
Peduli apa, yang jelas keadaan sekarang berbeda dengan kebiasaan dan tata tertib, kalau perlu kita layani saja menurut aturan yang ada." Belum lenyap suaranya, dari luar pendopo berjalan masuk dua orang, yang berjalan di depan adalah pemuda berperawakan tinggi kekar, raut mukanya cakap terselubung hawa dingin, sikapnya gagah dan wajar.
Ia mengenakan jubah panjang warna abu-abu.
Yang mengintil di belakangnya bukan lain adalah tukang perahu yang dinamakan Ouw-hay-ih-siu.
Begitu melihat pemuda itu, Lok Siang-kun bertiga tertegun, agaknya mereka tidak kenal pemuda ini, pemuda ini dengan pongahnya bersoja lalu menarik kursi dan duduk tanpa berbicara sekecap pun.
Ouw-hay-ih-siu juga memilih tetapi tempat duduknya di sebelah bawah pemuda itu.
Karuan Liu Ju-yang yang murka, serunya: "Pok Thian-cun, apa-apaan maksudmu ini" Perjanjian pribadi di antara kita, kenapa kau bawa orang luar kemari, berani kau membunyikan kelinting".." Pemuda itu segera menyeringai dingin, jengeknya sombong: "Masa aku terhitung pihak luar" Lo-Pok mengundangku kemari sebagai saksi, kalian sudah berkelahi selama puluhan tahun tanpa berkesudahan, soalnya karena tidak memilih seorang wasit.
Kukira pertikaian hari ini bakal bisa dibereskan, soal suara kelinting tadi, akulah yang suruh dia membunyikannya." Lok Heng-kun terkejut, tanyanya: "Saudara ini adalah" ?".?" "Bukankah asal-usulku sudah kujelaskan dalam suara kelinting tadi?" Mereka bertiga melengak lagi, tanya Liu Ju-yang ragu-ragu: "Suara kelinting enam kali adalah pertanda dari Thian-ki-kokun?" Pemuda itu tertawa ringan, ujarnya: "Ayah sudah wafat beberapa lamanya, kedudukan inikuperoleh secara tradisi".." "Apa?" teriak Liu Ju-yang berubah pucat, "Mo-kun sudah ajal?"" "Benar!" sahut pemuda itu manggut-manggut, hal itu terjadi enam tahun yang lalu, menurut perintah ayah, akulah yang diwarisi jabatan, soalnya kejadian terlalu mendadak, maka belum sempat memberitakan kepada sahabat di seluruh kolong langit.
Kalau kalian percaya".." "Tidak!
sikap dan wajah saudara memang mirip dengan Mo-kun, hal ini tidak perlu disangsikan lagi, cuma ingin kami tahu gelaran saudara?" "Aku Ki Hou adanya!" sahut pemuda itu dengan angkat dada.
Liu Ju-yang batuk-batuk kecil lalu berkata: "Ka".
si-heng, harap maaf akan kekurangajaran orang she Liu, saat ini terpaksa harus demikianlah kusebut namamu." "Benar!
Dalam keadaan sekarang di tempat ini pula, kenapa harus terikat akan segala peraturan lama.
Hei Lo-Pok, sekarang tibalah saatnya kalian membuat perhitungan, ada urusan yang perlu kau selesaikan?" Ouw-hay-ih-siu Pok Thian-cun melirik ke arah Koan Sangwat, lalu katanya : "Kalian sendiri yang tidak menepati janji, menyeret seorang luar ikut hadir dalam pertemuan ini!" Belum lagi pihak Liu Ju-yang menjawab.
Ki-Hou sudah tertawa keras, ujarnya: "Lo-Pok, kiranya matamu sudah kurang awas, orang yang kau anggap orang luar ini adalah murid Tokko Bing, Bing-tho-ling-cu II yang menggetarkan Kang-ouw!" Tak terasa tercekat hati Koan San-gwat, katanya heran, "Cara bagaimana saudara bisa mengenal diriku?" "Itulah urusan jabatan, sudah seharusnya aku mengenal kau." Dengan pandangan berapi-api Ouw-hay-ih-siu mendesis geram : "Kalau sebelumnya kutahu siapa kau adanya, waktu berada di sungai kuning tempo hari seharusnya kuberi hajaran setimpal kepadamu." Koan San-gwat tidak mau kalah garang.
Liu Ju-yang terbakar amarahnya, serunya gusar: "Bangsat anjing jangan ngelantur terlalu panjang." Pok Thian-cun angkat pundak, ujarnya: "Baiklah lohu tutupi saja borok ini, tapi Lohu tidak akan mundur menghadapi nona manis itu, inilah peraturan orang she Pok, perhitungan baru diselesaikan lebih dulu".
Haha"." agaknya hatinya semakin kesenangan, nada tawanya makin tinggi dan mengeras.
Lok Heng-kun dan Liu Ju-yang mengunjuk rasa gusar dan putus asa, apa boleh buat akhirnya Lok Heng-kun berkata kepada Ki Hou dengan nada memohon: "Sebagai putra Mokun dan kini memperoleh warisan jabatannya, tentu kongcu dengan pertikaian kami terhadap tua bangka ini"." "Ya pernah kudengar kulitnya saja!" sahut Ki Hou manggutmanggut.
Merah muka Lok Heng-kun, ujarnya: "Harap Kongcu memberi muka karena kami sesama kerabat sesama anggota bicara secara adil, harap suka batalkan tantangan kepada putriku yang masih kecil ini, urusan yang belum pernah dipahami olehnya." Ki Hou tertawa dingin, sahutnya: "Untuk hal ini aku yang rendah tidak akan turut campur, soalnya aku hadir sebagai saksi, kecuali memberi keputusan kalah dan menang, aku tidak bisa mencampuri urusan lain, memang kita sejajar dalam satu pang, Lo Pok setingkat lebih tinggi, masa aku pilih kasih kepada sesama kerabat satu tingkat ?" Lok Heng-kun menjadi murka, sindirnya: "Sungguh kita harus bangga punya pentolan kerabat dalam satu tingkat." "Hiat-lo-sat?" tiba-tiba suara Ki Hou berubah dingin kaku, "Tiga kali kau datang, laporan setiap sepuluh tahun sekali, kalau aku menggunakan kekuasaanku sebagai pentolan sesama kerabat, bila kejatuhan hukuman karena kesalahanmu ini, kalian pasti bertobat kepadaku, sekarang kau berani bertingkah kepadaku, apakah dalam pandangan kalian masih ada mendiang ayahku sebagai pentolan dalam satu kerabat?" Lok Heng-kun tertegun mematung, nyalinya muncul, karena ditekan dan diancam dengan lemas ia duduk kembali ke tempatnya.
Saat mana Ouw-hay-ih-siu menantang kepadaLok Siauhong seumpama domba yang tidak takut menghadapi harimau, sambil menenteng cambuknya Lok Siau-hong hendak menerjang keluar, lekas Lok Heng-kun menarik serta berkata dengan tertekan: "Nak, salahmu sendiri kau banyak urusan, semoga kau nanti dapat pengajaran." Lok Siau-hong keheranan katanya: "Ma, jangan kuatir, akan kuhajar habis-habisan tua bangka keparat ini ?" Kiranya secara diam-diam Koan San-gwat dan Lok Siauhong sudah berjanji, begitu bertemu dengan Ouw-hay-ih-siu mereka akan turun tangan lebih dulu untuk melabraknya, soalnya Ouw-hay-ih-siu tak pernah membunuh orang, tentu tiada ancaman bahaya terhadap jiwa sendiri.
Kalau urusan lama dibikin geger semakin besar, mungkin dalam peristiwa besar ini ia dapat mengorek sedikit rahasia yang diharapharapkan.