Memang tidak akan banyak membantu mengatasi kesulitan Cianpwe, tapi kesempatan untuk melihat pertarungan tingkat tinggi seperti Cianpwe sulit didapat.
Harap Cianpwe suka memberi ijin supaya Wanpwe ikut menambah pengalaman!" "Begitupun baiklah," ujar Lok Heng-kun sekian lamanya setelah mempertimbangkan masak -masak.
"Kupandang muka gurumu, tiada alasan aku melarang kehadiranmu disini, tapi perlu kuperingatkan jangan kau membuat kesulitan bagi dirimu sendiri!" Koan San-gwat manggut-manggut dengan girang, sahutnya: "Wanpwe hanya menonton saja dari luar gelanggang!" Sebaliknya Lok Heng-kun menambahkan dengan sikap serius; : "Jangan kau bicara seenakmu, soal ini harus kau patuhi benar-benar, kau harus dapat menahan sabar yang luar biasa.
Soalnya tua bangka itu orang gila, melihat orang lantas menggigit, maka kau harus bisa mengendalikan diri supaya tidak memperdulikan dia yang hendak mencari kesulitan kepada kami!
" Koan San-gwat tertegun : "Jangan-jangan dia selalu mencari perkara kepada orang lain?" tanyanya heran.
"Kalau dia tahu kau ahli wails Tokko Bing, kutanggung dia akan mencari gara-gara kepada kau, pertikaiaanya dengan gurumu justru lebih dalam dan besar dibanding persoalan kami!" "Kenapa guru tidak pernah menyinggung soal itu?"?"." "Sudah tentu Tokko Bing tidak bilang, kalau tidak?"?".." bicara sampai disini seolah-olah Lok Heng-kun menyadari sesuatu,segera ia tutup mulut dan mengalihkan ke pembicaran lain: "Apapun yang terjadi, jangan kau hiraukan tingkah polanya.
Tua bangka itu punya suatu penyakit, asal kau tidak mencari gara-gara kepadanya maka tiada alasan dia turun tangan terhadapmu!" Koan San-gwat jadi uring-uringan, jengeknya takabur: "Kalau Wanpwe tidak kuasa menerima ejekan dan tantangannya bagaimana?" "Maka dia akan menjadi bayanganmu, setiap hari setiap saat melihat dirimu, begitu hebat gangguan yang dia lakukan sehingga kau merasa tiada satu hari kau dapat hidup tentram, kecuali kau dapat membunuh dia?".
tapi itu tidak mungkin terjadi!" "Kenapa?" tanya Koan San-gwat tidak habis mengerti, "apakah dia manusia yang tidak bisa dibunuh?" "Benar!
ilmu yang dia pelajari jauh berlainan dengan kepandaian yang kita pelajari, dengan kepandaian silat yang kita pelajari tidak akan mampu membunuhnya !" "Benar!
Wanpwe pernah menggunakan tenaga dalam untuk menggetar putus urat nadinya, tapi kelihatannya tidak ada pengaruhnya sedikit pun.
"Kau tidak perlu kuatir, karena kepandaian yang dipelajari itupun tidak bisa untuk membunuh kau, ilmunya ini hanya bisa dirimu sampai kau kewalahan dan menyerah kepadanya.
Maka waktu mencantumkan nama di atas Hong-sin-pang dulu, kita cokolkan dia di urutan paling atas sebagai tokoh aneh yang sering memusingkan kepala".." "Apakah Hong-sin-pang itu" Koan San-gwat bertanya.
Rada berobah rona wajah Lok-Heng-kun cepat ia menambahkan: "Jangan tanya hal ini, aku tidak bisa menerangkan, kini aku sudah bicara terlalu banyak, sejujurnya siapa pun jangan menyinggung soal Hong sin-pang lagi" Timbul berbagai pertanyaan dalam benak Koan San-gwat, terutama mengenai Hong-sin pang, yang menyangkut sebuah rahasia besar kaum persilatan terhadap gurunya, Peng-Kiokjin dan Hiat-lo-sat atau perempuan yang dihadapinya ini, demikian juga Pek-kut-sin-mo dan Coh san-sin yang belum muncul ini serta Ouw-hay-ih-siu pun sangkut paut yang teramat erat sekali.
Mendadak hatinya seperti memperoleh sesuatu ilham, tanpa merasa mulutnya bersenandung :"Bangau kuning terbang di atas sungai, di pinggir telaga para dewa (San-sin) berkumpul." Berubah air muka Lok Heng-kun, serunya: "Apa" Jadi Tokko Bing sudah bicara padamu bahwa dia adalah Ui-ho sansian?" Dengan haru penuh semangat, Koan San-gwat menegaskan: "Jadi Ui-ho-san-sian adalah Insu?" Lok Heng-kun melengak, baru sekarang dia sadar telah kelepasan omong, padahal Koan San-gwat tidak tahu soal ini, maka ia berdiri menjublek, tanyanya kemudian, "Beberapa kata tadi kau dengar dari mana?" "Itulah sepasang syair yang digantung dalam kamar tidur guru, selama ini wanpwe tidak tahu makna sebenarnya, setelah Cianpwe menyinggung soal Hong sin-pang baru wanpwe paham sedikit?" Kontan Lok Heng-kun menukas dengan gusar, "Sudah kukatakan jangan menyinggung Hong sin-pang lagi !" "Oh, ya, selanjutnya wanpwe tidak akan menyinngung lagi," sahut Koan San-gwat menunduk.
Sambil menghela napas Lok Heng-kun menambahkan, ketiga huruf itu punya sangkut paut yang teramat besar, karena kelalaianku tadi sehingga aku menyinggung rahasia ini, kalau sampai diketahui orang lain, kita akan ketimpa bencana besar, maka wanti-wanti aku berpesan sama kau".." Koan San-gwat memang keheranan tapi melihat orang serius ia mempertangguhkan janjinya, "Selanjutnya Wanpwe anggap saja tidak dengar ketiga huruf tadi." Lambat laun perasaan Lok Heng-kun tenang kembali, katanya: "Dari ketiga hurup itu bagaimana lantas terpikir olehmu tentang julukan gurumu?" "Dari julukan aneh tersimpul sesuatu pikiran dalam benakku, padahal kalian adalah sahabat kental Suhu sejak lama, namun guruku tidak pernah menyinggung hal ini." "Kurasa hal itu tidak punya sangkut pautnya dengan aku." "Akan tetapi dari julukan kalian sangkut pautnya amat besar.
Cianpwe bernama Hiat lo-sat, dan Cianpwe yang bernama Pek-kut-sin-mo dan Coh-san-sin, Wanpwe juga kenal seorang Cianpwe yang bernama Hwi-thin-ya-ce, Peng Kiokjin." "O, Peng Kiok-jin belum mati ?" "Belum, semula Peng-cianpwe bersama Wanpwe, karena sesuatu keperluan beberapa hari yang lalu dia berpisah." "Jangan urus dia, lanjutkan saja penjelasanmu." "Bahwa para Cianpwe tidak percaya bahwa guru sudah mati, maka aku ragu dalam persoalan ini pasti ada hubungan yang amat rahasia satu sama lain.
Dinilai dari julukan kalian ada Dewa, malaikat, iblis dan setan, ditambah yang dinamakan Hong sin-pang, agaknya?" Maaf Cianpwe, Wanpwe kelupaan" tapi terpaksa harus menyebut ketiga hurup itu." "Tidak menjadi soal, selanjutnya harus kau ingat betulbetul saja.
Sejauhmana kau tahu tentang ketiga huruf itu"." "Menurut pikiran Wanpwe, mungkin itu merupakan sebuah pertemuan besar, atau suatu organisasi rahasia, mungkin pula suatu perserikatan, Suhu dan kalian tercantum dalamdaftar anggota." Berubah air muka Lok Heng-kun, sekuatnya ia menahan gelora hatinya, katanya :"Darimana kau bisa berpikir bila gurumu juga ada ikatan dalam ketiga huruf itu?" "Wanpwe teringat sepasang syair di dalam kamar beliau, Ui-ho-san-sian empat huruf itu yang serasi, maka besar dugaan Wanpwe bila gurupun ada tercantum di dalam daftar itu!" "Engkau memang cermat dan teliti, maka yang kau ketahui cukup banyak.
Dengan setulus hati kuperingatkan kepada kau, persoalan ini cukup sampai di sini saja, jangan kau main selidik lebih lanjut." "Kenapa" Apakah".." tanya Koan San-gwat, heran dan tidak mengerti.
Tapi Lok Heng-kun segera menjawab dengan bengis : "Sekali lagi kau menyinggung hal itu, aku tidak akan memberi ampun padamu." Terpaksa Koan San-gwat tidak banyak bicara lagi.
Sayupsayup di kejauhan terdengar derap kaki kuda dan menggelindingnya roda sedang mendatangi, Lok Heng-kun menahan sabar, karanya ; "Adikku dan adik iparku sudah tiba, ingat jangan kau menyinggung persoalan itu lagi." Koan San-gwat mengiakan.
Tak lama kemudian dari kejauhan debu mengepul tinggi, dua ekor kuda kekar menarik sebuah kereta bercat indah berlari bagai terbang, yang pegang kendali adalah seorang Laki-Laki berwajah cakap, parasnya halus pakaiannya perlente.
Begitu kereta berhenti, kerai tersingkap dan muncullah wajah perempuan pertengahan umur seraya berteriak : "Cici!
Kau sudah terima surat ?" "Sudah!
Malah aku sudah tahu.
Sebelumnya Siau-hong sudah bentrok dengan tua bangka itu di atas sungai kuning." Terkejut perempuan pertengahan umur itu, sekilas matanya melirik ke arah Koan San-gwat dan Lau Sam-thay.
Lok Heng-kun lantas men jelaskan sambil tertawa; "Dia adalah ahli waris Tokko Bing, seorang yang lain adalah kenalannya!" "Ui ho "." seru perempuan pertengahan umur itu dengan tertegun.
"Ui- ho sudah berangkat ke Liong-han, tinggal Bing-tho ada di alam fana," demikian Lok Heng-kun melanjutkan.
Perempuan pertengahan umur kelihatan ragu-ragu, Koan San-gwat juga kikuk ingin menyapa tidak tahu bagaimana ia harus mengundang orang.
Adalah Lok Siau-hong yang melihat keadaan runyam ini dapat memperkenalkan: "Inilah pamanku Liu ju-yang, itu bibi bernama Lok Siang-kun." Lekas Koan San-gwat merangkap tangan seraya menjura, katanya: "Wanpwe Koan San-gwat harap ji-wi cianpwe terima hormatku!" Tersipu-sipu Lau Sam-thay ikut menjura hormat tanpa berani memperkenalkan namanya.
Lok Siang-kun manggut-manggut, Liu Ju-yang memuji: "Siheng gagah dan perkasa sungguh orang she Liu bersyukur bahwa sahabat lamaku mempunyai murid yang hebat macam kau!" Belum sempat Koan San-gwat merendah, keburu Lok Hengkun berkata: "Hayolah, jangan bicara di luar pintu, mari silahkan masuk." Liu Ju-yang manggut-manggut sambil menghampiri kereta, katanya: "Siang-kun, mari kugendong masuk!" Sambil mengabitkan kerai, Lok Siang-kun berseru: "Hus di hadapan wanpwe, apa-apaan kelakuan kami?" "Kenapa sungkan, murid Tokko Bing bukankah sebagai keponakan kita?" "Kau kira kulit mukaku setebal kulit kerbau?" jengek Lok Siang-kun, begitu kerai tersingkap, badannya melesat laksana kupu-kupu kembang tanpa menyentuh tanah badannya melesat ke depan hanya sekejap hilang masuk ke dalam rumah.
Koan San-gwat melihat jelas kedua kakinya sebatas dengkul ternyata sudah buntung, baru sekarang ia paham kenapa Liu Ju-yang yang hendak menggendong istrinya, tapi tak urung ia merasa takjub dan kagum akan ginkangnya yang betul-betul telah sempurna, katanya, "Ginkang Lok cianpwe benar-benar hebat dan mencapai tarap tinggi yang tiada lawannya lagi!" "Ilmu lain aku tidak berani bicara, soal ginkang mau percaya orang yang memiliki ginkang tanpa tandingan di seluruh jagat adalah seorang yang cacat kedua kakinya." "Setan buruk," Lok Heng-kun menimbrung, "Di belakang memakinya sebagai orang cacat lagi, kalau terdengar olehnya kan bakal dapat persen yang lumayan nanti.
Nama julukan yang jelek itu, sebab dia sendiri sudah membuktikan bahwa mesti cacat masih berguna." Lok Heng-kun tertawa, ujarnya: "Tekad dan keyakinan kalian suami istri memang harus dipuji, siapa mau percaya bila dulu kau bermuka bopeng julukan Coh-san-sin kurasa sudah harus diganti"." "Jangan!
Jangan diganti.
Seorang Kuncu tidak melupakan asalnya, Ayah ibu menganugerahi aku muka demikian, kalau sembarangan ganti berarti aku tidak berbakti pada orang tua, biarlah aku tetap menggunakan julukan lama untuk selalu peringatan bagi diriku!" sembari bicara ia bergelak tertawa.
Koan San-gwat keheranan.
Sambil menunjuk punggung orang Lok Heng-kun menjelaskan tertawa: "Kau tidak akan percaya waktu mudamukanya buruk sekali bekas penyakit kudis." "Memang sulit untuk Wanpwe percaya, apakah Liu-cianpwe sudah memperoleh obat mujarab untuk mengubah kulit mukanya?" tanya Koan San-gwat, sambil geleng kepala.
Lok Heng-kun menggeleng, sahutnya: "Menggunakan khasiat obat bukan terhitung aneh, secara kekerasan ia melatih semacam Hian-kan-gu sehingga kulit-kulit mukanya yang rusak bisa pulih dan berubah keadaannya seperti sekarang, dulu waktu mereka menikah, yang satu cacat yang lain buruk sejelek setan hingga menimbulkan bahan tertawaan orang banyak.
Ada orang menyumbang pigura perak dimana ada tertulis Cu-lian-pi-hap (perjodohan mutiara), kata-kata ini menusuk perasaan namun dengan harapan supaya mereka berlomba untuk meyakini hidup ini sambil menambal kekurangan dirinya masing-masing." Haru dan kagum Koan San-gwat dibuatnya, katanya: "Hasil yang dicapai kedua Cianpwe memang harus dipuji dan membuat orang kagum!
tapi orang yang memberikan Pigura Perak tu agak terlalu ?"." "Tulisan di atas pigura itu adalah hasil karya Ui-ho-sansian!" "Guruku!
jadi?".." Koan San-gwat berjingkrak kaget.
"Tak usah kuatir!
Sedikitpun mereka tidak merasa sirik terhadap gurumu, sebaliknya merasa sangat berterima kasih.