Aku tidak pernah turun tangan lebih dulu tanpa sebab." Sambil tersenyum Koan San-gwat menghampiri Lau Samthay lalu menjinjing bangun, beruntun ia gunakan lima enam cara ilmu tutuk tidak berhasil membebaskan Hiat-to Lau Samthay.
"Aku menggunakan tutukan tunggal ciptaan ibuku, kau tidak mampu membebaskan tutukanku, kalau dia tidak memaki aku akan kubebaskan tutukan jalan darahnya.
Kalau tidak bisa lumpuh selamanya." Saking kewalahan Koan San-gwat manggut-manggut, ujarnya : "Baiklah, kutanggung dia tidak akan memaki kau lagi!" -oo0dw0oo- Jilid 7 Tukang perahu cengar-cengir, ujarnya : "Wah, malam ini agaknya aku ketiban rejeki nomplok, tulang-tulangku ini agaknya menjadi berharga, ada gadis ayu ingin mengelus-elus dan membayar kepadaku?"" "Sudah jangan cerewet," sentak Lok Siau-hong marah, "berapa yang kau minta?" Tukang perahu bergelak tertawa, serunya: "Jari-jarimu yang manis halus itu, andainya harus mampus juga tidak menyesal.
maka aku tidak menuntut bayaran, silahkan saja, kau boleh gratis!" Rasa gusar Lok Siau-hong mendadak sirna, cepat ia tersenyum manis, katanya : "Kalau begitu banyak terima kasih!" Nadanya lemah lembut, tapi ia turun tangan tidak kasihan: "wut!" cambuk panjang bergulung-gulung ke tengah udara membawa kisaran angin yang menderu, melesat ke pergelangan tangan orang dengan kecepatan yang susah diukur.
Berubah air muka tukang perahu, tersipu-sipu ia menarik tangannya, tapi sudah terlambat, ujung cambuk laksana ular hidup sudah membelit pergelangan tangannya, lekas tangannya digen rak dan tan k kesam ping mak sudnya hendak membebaskan tangannya dari lilitan cambuk itu.
Agaknya Lok Siau-hong sudah memperhitungkan reaksi lawan, memperingatkan dan tarikan orang, sekali lagi cambuknya disendal untuk memunahkan tenaga gentakan orang yang besar, sehingga ujung cambuknya tetap membelit pergelangan tangan orang.
Terdengar tukang perahu menjerit sekeras-kerasnya, tibatiba ia dorong telapak tangannya ke depan.
Selama ini Koan San-gwat mengawasi kejadian ini dengan waspada, cepat-cepat iapun dorong telapak tangannya menyambut hantaman lawan.
Koan San-gwat kira lwekang tukang perahu ini luar biasa, umpama Ia kerahkan seluruh tenaga juga belum tentu kuat menahan pukulan orang, maka begitu melancarkan pukulan tukang perahu rendah dan biasa saja, keruan badannya kepukul terbang ke udara meluncur ke tengah sungai yang airnya sedang bergolak itu.
Cambuk Lok Siau-hong yang membelit, tangan orang belum terlepas keruan terseret beberapa langkah hampir tersuruk masuk ke air.
Cepat Koan San-gwat memburu maju dan menarik pinggangnya serta lompat mundur.
Sementara itu, tukang perahu sudah lenyap, ditelan ombak yang bergolak.
Untunglah Koan San-gwat bertindak sehingga Lok Siau-hong tidak terseret jatuh ke dalam sungai.
Karena tanpa kendali perahu oleng dan berputar di tengah sungai, kuda yang tidak terikat berjingkrak kaget jatuh ke dalam sungai, kuda milikc Koan San-gwat dan Lau Sam-thay sementara kuda merah Lok Siau-hong masih tenang-tenang berdiri di sana.
Koan San-gwat tertawa tawar, "Usiaku toh lebih tua." Setelah perahu tenang, Koan San-gwat melepas pelukannya, Lok Siau-hong jadi malu jengah, katanya tersekat : "Terima kasih Koan".." Koan San-gwat tertawa tawar, katanya : "Usiaku lebih tua, kau boleh panggil aku Koan-toako saja." Lok Siau-hong kikuk, suaranya lirih: "Terima kasih Koantoako!" Koan San-gwat manggut-manggut, belum ia buka suara, mendadak dilihatnya air bergolak lalu muncullah kepala tukang perahu.
Ia naik salah seekor kuda, teriaknya: "Hai!
Nona cilik, pernah apa kau dengan Lok Heng kun ?" "Beliau ibuku, untuk apa kau tanya dia?" "Bagus!" teriak tukang perahu bengis, "akhirnya aku berhasil menemukan dia.
Kalian tinggal dimana?" Tanpa pikir Lok Siau-hong berseru lantang: "Kami tinggal di Si-yang-ceng, lima li di depan seberang sana." Tukang perahu itu berteriak beringas : "Lekas pulang beritahu kepadanya, besok siang setelah lohor aku akan datang mencarinya!" "Ouw-hay-ik-siu!" Lok Siau-hong berteriak lantang, "lebih baik lusa kau datang, bukan saja ibu, bibiku juga menunggu kedatanganmu, datanglah pada waktunya, kedua belah pihak bisa menyelesaikan persoalan lama sekaligus." Tukang perahu tertegun sejenak, lalu sahutnya: "Baiklah lusa tengah hari aku pasti datang, suruh mereka siap!
" habis berkata ia biarkan kuda itu hanyut terbawa air.
Koan San-gwat bingung, tanyanya: "Nona!
Kau kenal orang ini?" "Tidak!" tapi setelah dia menyebut nama ibuku lantas aku tahu siapa dia.
Menurut ibu, orang itu sangat jahat, musuh besar keluargaku, ibu, bibi, dan paman menanti kedatangannya!" Koan San-gwat ketarik tanyanya: "Ada permusuhan apa dengan keluarga kalian?" "Aku tidak tahu, ibu mengajar ilmu cambuk yang khusus mengalahkan dia." "Jurus yang nona lancarkan tadi?" Lok Siau-hong manggut-manggut dengan bangga.
"Ilmu silat orang tua itu sangat aneh dan agak sesat, urat nadinya sudah kugencet dengan seluruh tenagaku, tapi sedikitpun tidak terluka tapi kena pukulannya bisa saja?" " Lok Siau-hong tertawa: "Kalau sebelumnya dia tidak kena cambukku, tentu kau tidak akan merasa pukulannya biasa saja." Koan San-gwat melengak heran, tanyanya: "Apakah maksud ucapan nona?" Lok Siau-hong acungkan cambuk di tangannya, sedikit ia mengerahkan tenaga, ujung cambuk mendadak tegang berdiri seperti kepala ular muncullah dua jarum kecil warna hitam.
Sekali muncul, lantas masuk kembali, kalau tidak diperhalikan kau tidak akan menyadari kalau kau tertusuk jarum.
Beruntun Lok Siau-hong mendemontrasikan beberapa kali, setelah Koan san-gwat dan Lau Sam-thay melihat jelas baru dia tertawa dengan bangga, ujarnya.
"Menurut ibu, tua bangka itu punya ilmu sian-than-gun goan-hun-sip kang, tubuhnya dapat dirobah menjadi empuk dan lemas seperti benang kapuk, tenaga besar juga tidak akan bisa melukai dia.
Kuatir suatu ketika aku kepergok dia dan kecundang, maka ibu menciptakan ilmu cambuk ini kepadaku.
Dua puluh tahun yang lalu dia pernah kecundang oleh tusukan jarum ini, hari ini sekali lagi roboh di tanganku, sejauh ini dia belum tau duduk perkara yang sebenarnya." "Apakah jarum di dalam cambuk nona mengandung racun?" "Liag coa-pian-hoatku tidak mengandung racun.
Kalau beracun menjadi Tok-coa-pian-hoat dong." "Kalau mengandung racun, kenapa orang tidak mampu mengerahkan tenaga setelah kena tusukan jarummu?" "Jarum dalam cambuk ini panjangnya sato inci, begitu menusuk urat nadi menembus ke khi-hiat, sudah tentu seluruh pertahanannya bobol dan tenaga tak mampu dikerahkan lagi." "Khi-hiat masa berada di urat nadi pergelangan tangan ?" "Justru disitulah tempat keanebannya, kalau orang lain"." "Terhadap orang lain tusukan itu tak berguna," demikian Lau Sam-thay menyela.
Lok Siau-hong melirik sekejap, katanya, "kalau orang lain jiwanya sudah melayang, dan jalan darah penting siapa yang kuat ditusuk jarum, dalam keadaan yang tidak siap siaga lagi.
Maka ibu berpesan supaya menggunakan terhadap dia saja!" "Menilai pesan ibumu itu, jelas bahwa ibumu yang baik hati dan bijaksana," ujar Koan San-gwat tersenyum.
"Ya, aku sendiri tidak tahu kenapa ibu menggunakan julukan Hiat-lo-sat (kuntilanak berdarah), demikian pula bibiku julukannya Pek-kut sin-mo." Koan San-gwat melengak, seorang aneh pula, dengan pikirannya nama-nama Hiat-lo-sat, Pek-kut-sin-mo dan Ouwhayih-siu belum pernah dengar selama ini, bagaimana sepak terjang dan asal usul mereka" Ilmu silat mereka tinggi, kenapa menyembunyikan diri melarang putrinya terjun ke percaturan Kangouw" "Aku harus menyelidiki seluk beluk mereka hingga terang, siapa tahu di belakang ini ada tersembunyi suatu rahasia besar yang biasa menggemparkan Kangouw," hati berpikir tapi akhirnya ia bersikap tawar, tanyanya: "Kalau ibumu tidak pernah Kelana di Kangouw, untuk apa pula dia memiliki gelar?" "Entahlah!
ibu, bibi, dan paman memanggil julukan masingmasing tidak pernah memanggil nama aslinya ..
oh, ya, pamanku bergelar Coh-san-sin (malaikat gunung yang buruk) sebetulnya ia tidak kelihatan buruk malah cakap dan ganteng!" Koan San-gwat berpikir dalam hati, setelah termenung sekian saat mendadak teringat olehnya sebuah persoalan, tanyanya: "Aku masih belum tahu nama kebesaran ayah nona, tentu beliau seorang tokoh kosen yang menyembunyikan diri!" Seketika berubah air muka Lok Siau-hong, sahutnya.
"Aku tidak punya ayah!" "Setiap orang tentu punya ayah dan ibu .." "Justru aku tidak punya, begitulah kata ibu, aku pun harus percaya saja, setiap kali kutanya hal ini, selalu aku dihajar dan dimakinya, maka kalau ketemu ibuku jangan kau singgung soal ini." Dalam pada itu perahu mereka sudah laju ke depan dan terhanyut semakin jauh, untung Lau Sam-thay bisa mengendalikan perahu.