Sesaat Koan San-gwat menjublek di tempatnya dengan muka merah padam, Im Siok-kun meluruk kehadapannya, jengeknya: "Orang she Koan, sejak hari ini Bu khek-kiam-pay kami tidak akan berjajar dengan kau?"" Koan San-gwat melengak, ujarnya: "Aku tidak bermusuhan dengan kalian, barusan jiwamu sudah kutolong, kenapa air susu kau balas dengan air tuba?" "Memang!
Tapi kaupun menolong jiwanya pula, aku masih ada jurus pedang lihai yang belum kulancarKan, aku berani pastikan, ilmu pedangku itu akan menembus tenggorokannya.
Kau menolong jiwanya, sekarang aku tidak bisa membalas dendam kepada kau, biarlah pertarungan ini kita bereskan lain kesempatan." Dengan bingung Koan San-gwat membujuk : "Seumpama kau tadi gugur, Yang berbuat kejahatan adalah ayahnya, ada sangkut paut apa dengan dia" Untuk membalas dendam kau harus mencari sasaran yang tepat!" "Orang she Thio itu sudah merusak putriku, maka akupun harus merusak putrinya, itu baru setimpal.
Bicara terus terang, aku lebih suka membebaskan Thio Hun-cu, tapi putrinya itu harus menerima ganjaran yang setimpal." "Kecuali kau sudah gila," seru Koan San-gwat naik pitam, "Orang gila baru punya angan-angan yang gila pula!" Im Siok-kun tidak menghiraukan dia lagi, ia pimpin seluruh anak buahnya tinggal pergi tanpa banyak omong lagi.
Koan San-gwat termenung-menung sekian lamanya, setelah Lau Sam-thav menarik bajunyas baru ia sadar.
Dengan lesu ia meninggalkan tempat itu.
Tatkala itu cuaca sudah terang berderang.
Ufuk timur sudah dihiasi cahaya kuning emas.
Hawa pagi nan sejuk dan nyaman, semangat Koan San-gwat pulih kembali, ia menarik napas panjang.
Malam ini masa amat panjang.
"-ooo000ooo?" Seorang diri Koan san-gwat menelusuri pinggir sungai kuning, sementara Lau Sam-thay mencari perahu untuk menyeberang.
Seorang diri ia menengadah mengamati bintang kerlap kerlip yang masih bercokol di cakrawala, pelanpelan kudanya naik ke atas tanggul.
Keadaan yang sunyi dan pemandangan gelap sebelum fajar ini membuat perasaannya hambar dan haru, sejak ia mengembara empat tahun yang lalu, lebih banyak waktu dihabiskan dengan merawat luka-luka yang dideritanya.
Tapi begitu ia terjun ke dunia persilatan, tentu menimbulkan kegemparan yang teramat besar ?".sehingga ia lebih dapat meresapi betapa besar arti kehidupan ini.
Lambat laun bangkit jiwa kesatrianya, menghadapi bulan sabit, desah air sungai, serta hembusan angin pagi nan sepoisepoi ini ingin rasanya melampiaskan kekesalan hati dengan menggembor sekeras-kerasnya.
Begitu mengerahkan hawa murni ke pusarnya, sekali mulut terpentang, suara keras menjulang tinggi menembus angkasa laksana jeritan naga, berkumandang di alam semesta di pagi hari dan cerah itu.
Tanggul di bawah kakinya terasa bergetar oleh kedahsyatan gemborannya.
Demikian juga kuda tunggangannya berjingkrak berdiri, hampir saja ia terlempar dari punggung kudanya, syukur ia cukup cekatan, tali kekang ditarik, sehingga badannya terkendali.
Tepat pada saat itu juga, kupingnya yang tajam mendengar jerit kesakitan Lau Sam-thay di kejauhan sana, disusul derap langkah kuda yang mendatangi dengan kencang.
Koan San-gwat kaget, ia mengira Lau Sam-thay mengalami sesuatu.
Sejak dibikin malu pihak Bu-khek-kiam-pay malam itu, dia mengintil dirinya, alasannya cukup tepat, takut para kerabat Im-san mencari perkara padanya, ia tahu dirinya bukan tandingan mereka, apalagi perkara terjadi gara-gara dirinya dengan Thio Ceng Ceng, Koan San-gwat langsung menolak permintaan orang.
Apalagi sepanjang jalan ia selalu memberi pelayanan yang baik pada dirinya, sehingga ia terhindar dari banyak kesulitan, lambat laun Koan San-gwat merasa tidak bisa kehilangan pembantu yang sangat diperlukan ini, maka begitu mendengar jeritannya, segera ia keprak kudanya menyusul ke sana.
Belum berapa jauh, dilihatnya seekor kuda tanpa penunggang sedang mencongklang pesat ke arah sini, kuda itu adalah tunggangan Lau Sam-thay, melihat binatang itu tidak ditunggangi majikannya, Koan San-gwat semakin kuatir, lekas ia cegat dan tarik kuda itu lalu dibawa lari pula ke depan.
Beberapa kejap kemudian, jauh di depan sana dilihatnya Lau Sam-thay sedang memukul dan menubruk serabutan melawan seorang gadis yang bercokol di atas kuda.
Gadis itu menggunakan pakaian serba merah, tangannya memegang pecut panjang, berulang-ulang ia melecutkan pecutannya ke arah Lau Sam-thay.
Berkali-kali Lau Sam-thay urut tangannya mencengkeram ujung pecut lawan, tapi selalu gagal, malah kepala dan mukanya dipecut beberapa kali, badan babak belur, bajunya sudah sobek-sobek berdarah.
Sudah tentu Koan San-gwat tidak berpeluk tangan, cepat ia keprak kudanya memburu kesana, bentaknya, "Berhenti!" Bentakannya keras menggeledek menggelegar, gadis itu segera menghentikan aksinya!
Lau Sam-thay lantas berteriak: "Liang-cu!
Jangan kau turut campur, biar aku adu jiwa dengan budak busuk ini?"." Belum habis bicara tahu-tahu mukanya kepecut lagi, terdengar gadis itu membentak: "Coba kau maki sekali lagi, kubikin hancur mulutmu." Agaknya pecutan terakhir ini jauh lebih berat, muka Lau Sam-thay bertambah jalur berdarah, sudah tentu marahnya bukan kepalang, hardiknya kalap: "Tuan besarmu justru ingin maki kau, kalau berani coba kau bunuh aku saja, perempuan busuk ?"".!
Berubah air muka gadis itu, teriaknya melengking : "Kau memang harus dihajar !" Pecut sudah terayun dan hendak menghajar lagi, sementara Koan San-gwat sudah tiba mencegat di antara mereka, begitu melihat kedatangan Koan San-gwat, gadis itu batalkan serangannya, teriaknya: "Kau minggir, akan kuhajar dia supaya tidak memaki orang lagi!" Kata Koan San-gwat dengan kalem : "Memaki orang memang salah, tapi kau sudah menghajarnya begitu rupa, apa tidak terlalu?" Gadis itu mendelik serunya : "Kusuruh kau minggir dengar tidak" Kalau kau tidak mau minggir, kau pun akan kuhajar sekalian." Lau Sam-thay berjngkrak gusar, teriaknya sambil bertolak pinggang : "Perempuan busuk, kalau kau mampu memecut Ling-cu, baru aku tunduk kepadamu!" Gadis itu menjengek hidung, tiba-tiba pecutnya terayun melingkar-lingkar terus menukik hendak membelit leher Koan San-gwat.
Koan San-gwat bersikap tenang sambil mengulum senyum, tanpa berkelit ia mengulur tangannya mencengkeram ujung pecut si gadis ini, yang dia gunakan adalah hun-kong poh-in, membagi silat menerkam bayangan.
Ia menyangka dengan gerak tangan yang amat lihay itu, pecut lawan dapat dipegang.
Tak kira baru saja jarinya menggenggam ujung pecut orang, gadis itu menggentak pergelangan tangannya, ujung pecutnya itu seperti ular sakti yang licin memberesot lolos dari telapak tangannya.
Hanya satu gebrak, kedua pihak menjadi tercengang, rasa heran dan kaget gadis itu jauh lebih besar dari Koan Sangwat, terdengar hidungnya mendengus lirih, lalu katanya: "Hai, siapa namamu ?" Belum sempat Koan San-gwat membuka mulut, Lau Samthay sudah menjawab: "Perempuan busuk, Bing-to-ling-cu yang namanya menggetarkan seluruh kolong langit masa tidak pernah dengar" buat apa kau kenali kangouw." "Siapa bilang aku orang Kangouw?" sentak gadis itu sambil melotot.
Agaknya luka-luka Lau Sam-thay masih sakit, dengan marah ia memaki pula: "Perempuan busuk, dandananmu menunjukkan kau adalan anggota rombongan akrobatik, berani kau tidak mengaku!?" Lau Sam-thay hendak memaki dan menghinanya, tak kira gadis itu melotot heran, tanyanya: "Apa yang dinamakan akrobatik!?" Lau Sam-thay menelan air liur, sungguh hatinya gemas, entah pura-pura atau tidak tahu atau memang bodoh, sesaat baru ia menjawab: "Kalau kau sudah tahu istilah Kangouw, masa tidak tahu artinya?" "Aku memang tidak tahu," sahut gadis itu tertawa, "Orang Kangouw, nama ini kudengar dari ibuku, menurut kata ibu orang kangouw tiada yang baik.
Apakah kalian pun orang Kangouw?" Lau Sam-thay uring-uringan, makinya: "Justru ibumu yang bukan orang baik, berdasarkan apa dia berani mengatakan orang Kangouw tiada yang baik!" Gadis itu menarik muka, pecut terayun lalu menghajar pula ke arah Lau Sam-thay, teriaknya gusar, "Berani kau memaki ibuku" Sudah bosan hidup ya!?" Sambil menghardik Koan San-gwat mengayun telapak tangannya memotong pecut lawan di samping menolong Lau Sam-thay, tujuannya merampas pecut orang.
Akan tetapi permainan pecut gadis itu sangat lincah dan licin sekali, badannya meliuk dan bergoyang di punggung kuda.
Di samping menghindari pukulan Koan San-gwat, geraKan tangannya tetap tidak berubah, pecutnya masih melingkar ke atas Lau Sam-thay.
"Plak" tanpa diberi kesempatan, pinggang Lau Sam-thay kena sabet, serangan ini melecut sambil menutuk jalan darah, kontan ia tergulung serta terseret ke tanah tidak bergerak lagi, jalan darah di bawah ketiaknya tertutuk.
Koan San-gwat marah dibuatnya, segera ia melompat turun, "Kau turun, akan kuberi hajaran kepadamu." Sambil mendelik gadis itu berkata lantang: "Bukan aku takut kepadamu tapi aku ingat pesan ibu, tanpa sebab dilarang bentrok dengan orang lain.
Kalau kau berani memakiku segera akan kulabrak kau." Koan San-gwat melengak, ia rasa gadis ini aneh, katanya tertawa : "Jadi kawanku ini memakimu terlebih dulu baru kau hajar?" "Sudah tentu!