Tapi Lau Sam-thay tidak tinggal diam, Cit-sing-to di tangannya berputar laksana kitiran menghalau seriap serangan lawan.
Beruntun perempuan itu menyerang empat lima jurus dengan pedangnya, semua tertangkis atau kesampok miring oleh golok Lau Sam-thay, maka terdengar Im Siok-kun berseru lantang: "Jimoy, kalau keparat ini bisa bertahan sepuluh jurus selanjutnya, jangan kau jadi orang she Im." Mendengar peringatan tersebut, perempuan itu pergencar serangannya, ia berlaku nekat, dengan kekerasan ia berusaha menjebol pertahanan sinar golok yang rapat, sekali tempo pedangnya menahan rangsakan golok lawan, sementara kedua jari tangannya laksana pisau menusuk ke lutut Lau Sam-thay.
Kontan Lau Sam-thay rasakan lututnya lemas, tanpa kuasa ia jatuh bertekuk lutut, perempuan itu menjengek dingin lalu melejit mundur kembali ke samping Im Siok-kun.
Terdengar gelak tawa Im Siok-kun yang bangga.
"Lau-lo-enghiong, kau adalah laki-laki sejati, kenapa kau bertekuk lutut?" Malu dan gusar gejolak darah di dada Lau Sam-thay, cepat ia ayunkan golok sendiri hendak menggorok leher, namun baru goloknya terangkat, tiba-tiba tangannya kesemutan disambar gelombang tenaga, tahu-tahu goloknya sudah terampas orang, disusul baju punggungnya ditarik orang didengarnya dua kali suara tepukan keras, kontan ia dapat bergerak lagi seperti semula.
Waktu ia berpaling, orang yang menolong dirinya adalah perempuan tua yang selalu mengiringi perjalanan Koan San-gwat.
Dia hanya tahu orang dipanggil Peng-toanio, tapi tidak tahu bahwa orangpun pandai silat.
Setelah mengembalikan Citsingto kepadanya, dengan muka sungguh-sungguh berkatalah Peng-toanio: "Kalau kepandaian sendiri memang tidak becus kenapa harus mati, orang yang gampang menggorok leher karena malu apakah boleh disebut laki-laki sejati"!" Lau Sam-thay menjadi malu sekali, setelah terima goloknya ia menunduk kepala tanpa bersuara.
Sementara Peng-toanio membalik tubuh dan menjengek ke arah perempuan pertengahan umur ini: "Kaum persilatan boleh dibunuh tidak boleh dihina, kalau kau membuntungi kedua kakinya, nenek tua seperti aku ini tidak akan banyak cingcong, tapi kau menghina dan mempermainkan dia, aku nenek tua ikut merasa terhina!
Siau we!
sebutkan namamu!!" Melihat Peng-toanio dapat membebaskan ilmu tutukan tunggal perguruannya dengan itu dan perempuan itu merasa kaget, ia berdiri menenggang penuh kecurigaan, hingga lupa menjawab, lekas Im Siok-kun menjengek dengan suara berat: "Jimoy!
orang sedang bertanya kepada kau!
Apa kau tidak dengar?" Perempuan itu tersentak sadar sahutnya lantang: "Musid Bu-khek-bun Im Tiat-kun!" Peng Kiok-jin terloroh-loroh, ujarnya : "Sudah sekian tahun nenek tua ini tidak berkecimpung di Kangouw, badut dan panca longok berani malang melintang, maka kaupun harus berlutut seperti dia!" Mendengar ancaman yang lantang ini seketika Im Tiat-kun melongo, tapi Peng Kiok-jin tidak memberi kesempatan ia berpikir, se enteng asap tiba-tiba tubuhnya meluruk ke depan, jari tangannya tertekuk terus menjentik meluncurkan sejalur angin keras.
Belum lagi Im Tiat-kun sempat bersiap dan melawan, tiba"tiba terasa lututnya lantas tak bertenaga, badannya sudah bergoyang hampir berlutut, berobah air muka Im Siok-kun, lekas sebelah tangannya mendorong ke samping.
Pukulan telapak tangannya bukan menyerang Pek Kiok-jin yang menyergap tiba, tapi mendorong Im Tiat-kun sambil berteriak: "Murid Bu-khek-pay adalah perempuan perkasa yang rela mati menjadi mayat daripada dihina!" Melihat Im Tiat-kun mampus dengan tujuh lobang inderanya mengalirkan darah, Peng kiok-jin menjadi gusar: "Terhadap saudara Sepupu sedemikian kejam "." "Memang ini sudah menjadi perundang-undangan keluarga kita!" kata Im Siok-kun ketus.
"Tak perlu kau bersedih bagi kita, meski dia mampus di tanganku, tapi kami harus mencari perhitungan kepada kau".." "Kau sendiri yang bunuh kerabatmu, tapi orang lain yang harus bertanggung jawab hidup semua ini, baru sekarang aku nenek tahu ada peraturannya si kentut busuk ini, tapi cara bagaimana kau hendak mencari perhitungan denganku?" "Gampang saja!
Hutang darah bayar darah, hutang jiwa harus bayar jiwa!" Im Siok-kun mengulapkan tangan, dua perempuan lain yang berada di samping Im Siok-kun segera melolos pedang hendak turun tangan, cepat Thio Ceng Ceng tampil ke depan, serunya: "Tunggu sebentar, mari kita bicara dulu." "Mengobrol apa lagi?" teriak Peng Kiok-jin gusar, "Kalau mereka mampu, silahkan bawa nenek tua ini untuk menebus jiwanya.
Ka lau tidak aku akan bikin mereka berlutut minta ampun kepadaku, ingin kulihat apakah Bu khek-pay kalian ada orang yang suka berlutut dan mandah dihina." "Toanio" bujuk Thio Ceng Ceng, "kuharap kau bersabar sebentar, mereka mengatakan ayahku berbuat apa, aku harus tanya duduk persoalannya." Terpaksa Peng Kiok-jin mengalah mundur ke samping.
Baru sekarang Thio Ceng Ceng berkesempatan bicara kepada dua perempuan itu.
"Kuharap kalian suka menunggu sebentar, setelah aku bicara dengan Ciang-bunjin kalian, belum terlambat kita teruskan pertarungan ini." Kedua perempuan itu berpaling ke arah Im Siok-kun, agaknya menanti perintah lanjut, maka Im siok-kun berseru gusar: "Tiada yang perlu dijelaskan lagi!
Kalau kau adalah putri Thio hun-cu, maka kaulah orang kita cari, perbuatan bapakmu yang bangkotan itu terpaksa kau yang menerima hukumannya!" Gusar dan gugup Thio Ceng Ceng dibuatnya, teriaknya: "Sebetulnya apa yang dilakukan ayahku?" "Kau kan putrinya masa tidak tahu?" "Setahun yang lalu aku sudah berpisah dengan ayahku, sampai sekarang belum pernah berjumpa kembali.
"." "Apa benar ucapanmu" tanya Im Siok-kun tidak percaya.
"Buat apa aku membual" Waktu Koan-toako terkena racun, akulah yang membawanya mencari obat, selama ini belum pernah berpisah sedikit pun, kau tidak percaya, silahkan kau tanya dia!" Im Siok-kun berpaling ke arah Koan San-gwat, katanya: "Kau adalah Bing-to Ling-cu, ucapanmu boleh dipercaya, kau berani tanggung bahwa ucapannya benar?" "Aku yang rendah berani mempertaruhkan batok kepalaku ini, bahwa ucapan tetua Thio memang benar, selama setahun ini dia selalu ikut aku, belum pernah jumpa dengan paman Thio." "Aneh!" seru Im Siok-kun tertegun, "dua hari yang lalu ada orang melihat Thio-Hun-cu berada di Ciu-cwan bersama seorang gadis, maka kami menyusul kemari." Koan San-gwat melengak, katanya: "Dua hari yang lalu kami masih ada di Ciu-cwan, kami juga mencari paman Thio, kenapa kami tidak melihatnya" Apakah orangmu itu tidak salah lihat?" "Tidak mungkin salah, Thio Hun-cu sekarang menjadi incaran orang banyak, orang tidak dapat dikelabui olehnya." "Ya, memang kemungkinan, tapi gadis itu sudah pasti bukan nona Thio!" Im Siok-kun merenung sebentar lalu berkata pula dengan gusar: "Seumpama benar mereka sudah lama tidak hidup bersama, tapi hari ini kami sudah menemukan putrinya, kita harus menuntut pertanggungan jawab ayahnya kepada anaknya, kau adalah putri Thio Hun-cu maka kau harus berani menanggung akibat ini." "Sebenarnya apakah yang telah dilakukan ayahku" Begitu benci kalian terhadap beliau!" Kata Im Siok-kun gemas: "Kalau diceritakan, kau sebagai putrinya mungkin bangga akan perbuatan ayahmu, sejak Thio Hun-cu lolos dari Loh hun-kok setahun yang lalu, karena dia paham cara memunahkan racun Ui-ho-ciu-oe-sa itu semua hadirin menaruh hormat dan segan kepadanya".
?"" "Sebagai tabib yang memperdalam ilmu pengobatan, adalah tanggung jawab beliau menolong sesama manusia!" ujar Thio Ceng Ceng tertawa.
Im Siok-kun menyeringai dingin, sambungnya: "Kau dengarkan saja nanti kan tahu betapa bagus perbuatannya.
Sejak peristiwa di Loh-hun-kok itu mendadak dia menghilang.
Kira-kira sebulan yang lalu, mendadak muncul.
Dia bertandang ke markas berbagai golongan dan aliran besar kecil.
Karena perbuatan suhunya dulu sudah tentu semua pihak suka bersahabat dengan dia.
Siapa tahu manusia berhati binatang itu, ternyata melakukan perbuatan hina dina yang memalukan." "Kau bohong!" maki Thio Ceng Ceng, "Ayahku bukan macam itu!" "Apa yang dilakukan ayahmu, kini seluruh manusia di kolong langit pasti ingin merajangnya untuk melampiaskan kedongkolan hatinya.
Di Siau-Lim-sie ia mencuri buku rahasia Ih-kin-keng karya Tatmo Cousu, dengan keji meracun Ciangbunjin Siau-lim-pay Thong Sian Taysu hingga bisu dan tuli, badannya lumpuh lagi.
Di Bu-tong ia melarikan buku pelajaran pedang dan meracuni Bu-tong Ciangbun Thian-ki Totiang hingga mati.
Soalnya partai dan golongan lain, aku sendiri belum mendapat kabar yang pasti, entah perbuatan laknat apa lagi yang sudah dilakukan, tapi mereka mengejar Thio Hun-cu begitu ketat, tentu terjadi perkara besar".." Thio Ceng Ceng terpukul hatinya, sambil menutupi mukanya ia berteriak: "Kau bohong!
Mana mungkin ayah melakukan perbuatan semacam itu".." "Kenapa kau tak mau meluruk ke Siau-lim-si untuk mencari bukti?" "Sudah tentu aku akan ke sana!" "Nanti dulu!" Koan San-gwat menimbrung pembicaraan dengan sungguh-sungguh, "Aku bergaul cukup lama dengan paman Thio.
Aku tahu watak dan perangainya, ia tidak mungkin melakukan perbuatan yang hina dan memalukan itu, apalagi persoalan ini banyak lobang kelemahannya.
Seperti apa yang kau katakan, kukira golongan atau aliran yang mengalami nasib jelek tidak mungkin sebanyak itu, cukup dua golongan saja pasti akan menyiarkan berita jelek itu, golongan yang lain cepat akan berlaku waspada, mana mungkin bisa satu persatu kena ditipunya mentah-mentah?" "Justru di sinilah kelihaiannya Thio Hun-cu," Im Siok-kun menyeringai, "Dia bekerja dari timur ke barat, secara beruntun dan teratur, berita yang tersebar di luar kalah cepat dengan gerak-geriknya.
Di kala golongan di sebelah barat memperoleh berita, dia sudah datang dan bekerja beberapa lamanya "..
" Koan San-gwat geleng -geleng kepala: "Kenapa sepanjang jalan kita kemari, sedikit pun tak tahu menahu persoalan ini?" "Perbuatan jahat yang dilakukan Thio Hun-cu kebanyakan menyangkut rahasia berbagai golongan besar kecil atau beberapa tokoh atau orang-orang penting itu, tiada yang berani membeber borok yang memalukan ini, sudah tentu kalian tidak bisa mendengar berita penting ini." Dengan tenang dan dingin bertanyalah Koan san-gwat: "Lalu pihak Bu khek-kiam-pay kalian mengalami musibah apa?" Sesaat Im Siok-kun bimbang, akhirnya Ia berkata sambil kertak giginya: "Apa yang menimpa golongan kita jauh lebih memalukan dari golongan lain!" "Apakah buku pelajaran Bu khek-kiam-pay kalian dicurinya?" Koan San-gwat menegas.
"Bu khek-kiam-hoat terbagi dua jilid, jilid kedua adalah pelajaran umum bagi seluruh anggota Bu-khek-kiam-pay kami, jilid pertama berisi delapan gerak pelajaran ilmu pedang, khusus diajarkan untuk Ciangbunjin, siapapun tidak mungkin bisa mempelajarinya, sudah tentu jilid pertama ini dia tidak berhasil membawanya lari." "Lalu apa kerugian kalian?" Wajah Im Siok-kun beringas, serunya berapia-api: "Tujuannya yang terakhir adalah Im-san kami, aku belum pernah ketemu dengan dia, cuma kudengar namanya cukup tenar sebagai pendekar kelana, maka dengan tangan terbuka kusambut kedatangannya.
Siapa tahu"." bicara sampai di sini ia tidak kuasa meneruskan saking gusarnya.