Halo!

Patung Emas Kaki Tunggal Chapter 26

Memuat...

ilmu silat pembunuh itu sangat tinggi, belum tentu Lu-ciangbun kuat melawannya, hanya Ling-cu saja yang ada harapan".apalagi secara tidak langsung majikan menjadi korban karena kau juga"." "Apa maksudmu?" tanya Koan San-gwat mengerut alis.

"Pembunuh itu".

waktu Unta terbang membunuh majikan, dia pernah berkata, bahwa lencana Unta terbang tidak boleh pulang dengan tangan hampa, kau menuntut kembali barang rampasan itu, karena dia sudah memberi muka kepada kau, maka dia harus menebusnya pula dengan jiwa majikan kami." "Jahanam, orang keparat macam apa sebenarnya Unta terbang itu, tidak berani mencari perkara dengan aku, tapi melakukan kejahatan yang hina dan memalukan"." Peng-toanio tersenyum, katanya, "Bukan lagi di Tay-sankoan nanti, aku bersumpah untuk menghancur-leburkan orang laknat ini." "Kukira tidak semudah seperti ucapanmu," olok Peng-toanio tertawa.

Koan San-gwat meliriknya cepat Peng-toanio menambahkan, "Ucapanku mendorong kau untuk berlaku lebih waspada kalau Unta Terbang sudah berani menantang kau secara terang-terangan, tentu dia punya persiapan yang dapat diandalkan, tidak berani aku mengatakan Kongcu bakal kalah, tapi untuk menang, kukira bukan soal yang sepele!" Koan San-gwat termenung sejenak lalu berkata kepada Sun Cit, "Kau boleh istirahat!

Sebulan lagi aku akan bekerja sekuat kemampuanku, supaya Loh-he-siang-ing meram di alam baka!" Berulang-ulang Sun Cit menyembah mengucapkan terima kasih, lalu mengundurkan diri dengan hati lega.

Adalah Lau Sam-thay jadi kebingungan, katanya, "Ling-cu, apakah kita melanjutkan ke Im-san?" Koan San-gwat melotot sahutnya, "Sudah tentu ke sana.

ini kan dua persoalan yang berlainan." Maka dengan tergagap Lau Sam-thay memberi tahu, "Tidak aku mendapat sebuah berita, katanya Im Siok-kun sudah mengumpulkan seluruh jago-jago kelas tinggi, seperti menghadapi musuh besar berbondong-bondong mereka turun gunung, malah kelihatannya menyongsong kedatangan kita"." "Apa tujuan mereka?" jengek Koan San-gwat.

"Duduk perkara yang jelas aku tidak tahu, yang terang mereka meluruk kemari karena adanya nona Thio di sini!" Segera Thio Ceng Ceng menimbrung, "Yang mereka cari adalah ayahku, ada sangkut paut apa dengan diriku?" "Tidak tahu!

Tapi mereka mengerahkan seluruh kekuatannya, jelas tujuannya tentu tidak mengandung maksud baik"." "Hm!" dengus Koan san-gwat, "banyak benar kejadiankejadian aneh, sekarang mereka sudah sampai dimana?" Lau Sam-thay menghitung-hitung lalu menjawab, "Mereka terdiri dari kaum perempuan, menunggang joli jalannya rada lambat, mungkin besok malam baru bisa sampai di sini." "Apa" Anggota Im-san-pay terdiri dari kaum perempuan?" seru Koan San-gwat heran, "belum pernah kudengar adanya golongan mereka ini, dulu guru mengembara ke seluruh jagat bertanding (bertandang) pada semua aliran besar kecil kok tidak pernah menyinggung adanya mereka".

" .

"Im San-pay kira-kira sepuluh tahun yang lalu baru dihimpun dan didirikan, waktu itu Tokko-cianpwe keburu mengasingkan diri, sebetulnya golongan mereka tidak termasuk se Pay atau pang.

seluruh anak murid Im San-pay, tapi belum pernah mengadakan kontak dengan kaum persilatan umumnya, maka jarang orang tahu seluk beluk mereka.

Soalnya pos yang kubangun di kota itu merupakan pemberhentian para kelana yang sering membawa pergi berita, maka sering kudengar hal-hal yang jarang dikatakan orang lain.

Im Siok-kun ada kalanya datang minta beberapa petunjuk kepadaku"." "Sudahlah, kitapun tidak perlu tidur, lebih baik malam ini melanjutkan perjalanan, mari kita papak mereka di tengah jalan, ingin aku tahu apa urusan mereka meluruk kemari." Lau Sam-thay kelihatannya rada rikuh dan serba salah, katanya, "Apakah Ling-cu boleh tidak bentrok dengan mereka, umpama ada salah, mengingat perkenalanku dengan ImTiang-hau mungkin aku bisa melerainya, kalau terjadi keributan, sulit aku melawan mereka"." "Lau-heng tidak usah kuatir,aku bukan orang yang suka mencari perkara, asal mereka tidak mencari urusan dengan aku.

tidak akan membuat keributan, apalagi apa sih artinya melawan kaum hawa"." Belum habis kata-katanya, tiba-tiba daun pintunya ditendang terbuka, seorang gadis berdiri di ambang pintu tangannya menyekal gagang pedang, dengan muka bersungut ia membentak, "Laki-laki busuk!

berani memandang rendah kaum wanita.

Keluar, biar nonamu yang menghajar mulut kurang ajarmu itu!" Lau Sam-thay tersipu-sipu maju seraya berkata, "Nona ini sungguh tepat kedatanganmu, kita baru saja"." "Lau Sam-thay!" perempuan itu mengayunkan pedangnya, "Jangan bersilat lidah dengan aku, tempo hari pernah kutanya orang she Thio itu, katamu kau tidak tahu tapi sekarang membawa puteri orang she Thio hendak mencari perkara ke Im-san.

Ketahuilah, memang sengaja aku menyuruh orang memberi kabar bohong, sebetulnya sejak tadi kami sudah tiba"." -oo0dw0oo- Jilid 6 LAU SAM THAY kebingungan terlongong kebingungan, entah apa yang harus dilakukan.

Thio Ceng Ceng tampil ke depan: "Kalian mencari ayahku untuk keperluan apa?" "Jangan pura-pura pikun, perkara Thio Hun Cu si bangkotan tua ini, masa kau tidak tahu?" jengek perempuan itu.

Sekali buka mulut orang memaki ayahnya, sudah tentu Thio Ceng Ceng gusar, sebat sekali tiba-tiba ia merangsak ke depan, jari telunjuknya menutuk ke pundak kiri orang, tapi tidak kalah sebatnya perempuan itu memutar pedangnya balas menusuk ke ulu hatinya.

Selama setahun mendapat gemblengan Soat-lo Thay-thay, ilmu silat Thio Ceng Ceng bukan main lihaynya, cepat ia membalikkan pergelangan tangannya, dari tutukan jarinya ditekuk untuk menyenggol batang pedang lawan, Tang, pedang lawan disampok ke samping, sebat sekali tangannya sudah menyelonong maju pula mengarah jalan darah di tubuh musuh.

Agaknya kepandaian perempuan itupun cukup tinggi, dalam keadaan terdesak sigap sekali ia menurunkan pundak, lalu dengan suara gusar ia menyemprot : "Perempuan laknat kalau kau punya kepandaian, mari ikut aku!" berbareng kedua kakinya menutul tanah, badannya melejit terbang lewat jendela.

Tidak kalah gesitnya Thio Ceng Ceng mengejar keluar.

Koan Sang-gwat, Peng-toanio cepat memburu keluar.

Lau Sam-thay tidak mau ketinggalan, gerak geriknya jauh lebih lambat.

Waktu tiba di sebuah lapangan, tampak Thio Ceng Ceng bertiga sudah dikelilingi beberapa perempuan yang mengenakan seragam hitam, menyoren pedang, empat perempuan di antaranya yang berusia agak lanjut berdiri paling depan berhadapan langsung dengan mereka.

Melihat urusan menjadi besar, cepat Lau Sam-thay memburu datang sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya, teriaknya: "Jangan!

Kalian salah paham, ada perkara apa lebih baik dibicarakan dulu ?".." Pihak Koan San-gwat diam-diam, salah satu dari perempuan seragam hitam yang berusia agak lanjut berseru : "Tiang-hoa!

Siapakah orang ini ?" Perempuan yang sudah bergebrak dengan Thio Ceng Ceng tadi adalah gadis yang dipanggil Tiang-hoa oleh Lau Sam-thay tadi, segera ia melirik dengan perasaan hina ke arah Lau Samthay, sahutnya tertawa : "Dia bernama Cit-singto Lau Samthay, ular tanah yang berkuasa di dalam kota Liang-ciu!" Merah muka Lau Sam-thay, dengan gusar ia berkata : "Nona Im?"..

Meski aku orang she Lau bukan tokoh yang kenamaan, tapi aku bukan macam orang yang kau sebutkan tadi?"" Im Tiang-hoa memalingkan kepala tidak pedulikan dia lagi, adalah perempuan pertengahan umur itu segera menjengek dengan hina: "Minggir!

Keparat kau, di sini tidak ada hak kau bicara." Bukan saja menghina nada ucapannyapun sangat takabur, betapa pun Lau Sam-thay berlaku sabar akhirnya naik pitam, "sreng!" segera ia melolos Cit Sing-to dari punggungnya, sambil membolang-balingkan senjata, ia berteriak : "Apa kedudukanmu di dalam Bu-khek-kiam-pau kalian?" Perempuan pertengahan umur itu angkat kepala tidak perduli lagi padanya, Im Tiang-hoa segera menanggapi: "Lau Sam-thay, sungguh memalukan, kau mengagulkan diri sebagai pentolan tikus di jalan raya besar, masa kau tidak kenal ibuku!" Mimpipun tidak Lau Sam-thay menduga bahwa perempuan tua ini adalah Ciangbunjin Bu-khek-pay Im Siok-kun, meski pengalaman sangat luas, soalnya ia sendiri belum pernah melihat Im Siok-kun, maka sekian saat ia menjublek di tempatnya, sedapat mungkin ia menahan perasaan gusarnya dengan tertawa dibuat-buat segera ia bersoja dan berkata : "Ternyata Im-ciangbunjin adanya, meski Cayhe seorang Siaucit yang tidak ternama, tapi aku tidak punya kesalahan apa-apa dengan kalian, putrimu nona Tiang-hoa dua kali pernah mampir ke rumahku, dengan hormat kulayani dia.

Apakah pantas Ciangbunjin sekarang bersikap kasar kepadaku?" "Cara bagaimana aku harus bersikap terhadap kau?" jengek Im Siok-kun menegak alis.

Suaranya nyaring tajam, tanpa terasa Lau Sam-thay bergidik tanpa kedinginan.

Katanya tergagap: "Paling tidak Ciangbunjin harus bersikap rendah ?"" "Aku belum pernah kelana di Bulim, segala aturan Kangouw aku tidak tahu.

Jika aku berlaku salah terhadap Lau-toaenghiong, entah bagaimana aku mohon maafku.." Nadanya lebih congkak dan pongah, umpama Lau Samthay dibuat dari lempung juga tidak tahan dihina begitu rupa, maka sambil mengajukan Cit-sing-to ia berteriak: " Bu-khekkiampay kalian bukan aliran yang ternama, aku orang she Lau memanggilmu Ciangbunjin sudah termasuk menghormatimu, kau tidak tahu kebaikan, terpaksa aku orang she-Lau minta pengajaran!" "Lau-heng".

tiba-tiba Koan San-gwat menyela sambil tertawa enteng, "Tadi kau membujuk aku supaya jangan mengumbar adat kenapa sekarang kau marah-marah?" Agaknya marah Lau Sam-thay sudah memuncak, dengan bengis ia berteriak: "Meski ilmu silatku tidak becus, jelek jelek aku seorang laki-laki, masa harus dihina kaum kaum lemah?" Im Siok-kun menarik muka, katanya dengan suara tertekan: "Jimoy" keparat ini berani mengagulkan diri sebagai laki-laki sejati, coba kau iris sedikit badannya!" Seorang perempuan yang berdiri di sampingnya segera mengiakan dan tampil ke depan, gerak-geriknya secerat angin, begitu melejlt pedang lantas terayun memapas kaki Lau Sam-thay.

Cit-sing-to di tangan Lau-Sam-thay agaknya memang kepandaian tulen, golok tunggal itu menyampok ke bawah "Trang!" berhasil menangkis tebasan pedang lawan, tapi tidak urung tergentak mundur dua tindak.

Karena serangan pertamanya gagal, ia mendengus hidung, badannya mendesak maju mendekat.

Post a Comment