Begitulah Lau Sam-thay menjadi petunjuk jalan, tak lama kemudian mereka sudah tiba di depan penginapan Kip-ing, Karena Cit-sing-to Lau Sam-thay merupakan tokoh yang mempunyai nama dan kedudukan di daerah Liang-cu, maka banyak orang-orang yang datang berkerumun di sepanjang jalan menyambut kedatangan mereka.
Koan San-gwat bertiga turun dari atas kuda terus dipersilahkan masuk, dilihatnya banyak tamu sedang berbenah barang-barangnya siap meninggalkan penginapan itu.
Koan San-gwat melengak, tanyanya, "Lau-Leng!
Kenapakah mereka itu?" "Ling-cu adalah tamu agung yang sulit datang kemari, asal Ling-cu sudi menginap semalam saja di penginapan kami ini, maka penginapan kami tidak akan memberi pelayanan kepada tamu-tamu yang lain!
Sebagai tanda hormat kami kepada Ling-cu!" Koan San-gwat rikuh, katanya, "Kedatanganku ini sudah cukup merepotkan, mana boleh mengganggu orang lain dan merugikan usaha Lau-heng?" "Hidup kami tidak tergantung oleh penginapan ini saja, tempat ini hanya untuk mencari persahahatan dengan kaum persilatan, banyak di antara mereka tidak kutarik ongkos.
Bukankah Ling-cu malam ini hendak menghadapi unta terbang itu disini, dari pada konyol lebih baik mereka disingkirkan saja.
Soalnya si unta terbang ini baru pertama kali terjun ke dunia persilatan, tapi sepak terjangnya terhadap Siang-ing piaukiok dapatlah dibuktikan bahwa adalah seorang yang culas dan kejam, kalau mereka tinggal disini bukankah menambah kesulitan saja!?" Karena alasan yang cukup, Koan San-gwat tidak enak banyak bicara lagi.
Di samping menyiapkan hidangan, Lau Sam-thay menyediakan tiga kamar mewah untuk mereka istirahat.
Untuk perjamuan Lau Sam-thay menyiapkan tiga meja.
Lau Samthay sendiri yang melayani dan menyiapkan semua perjamuan itu.
Tidak ketingggalan Peng-toanio dan Thio Ceng Ceng hadir makan minum itu.
Selama itu Lau Sam-thay belum tahu asal usul dan kedudukan Peng-toanio dan Thio Ceng Ceng, belum lagi ia sempat bertanya, tiba-tiba Koan San-gwat menjengek dingin, dengan muka masam, serunya lantang ke arah jendela, "Kawan di luar itu, silahkan masuk untuk bicara, kenapa berdiri di luar mencuri dengar pembicaraan orang?" Terdengar tawa dingin di luar jendela, ke depan daun jendela tiba-tiba menjeplak, sesosok bayangan orang hitam berkerudung melompat masuk, kontan Sun Cit menjerit keras, "Unta terbang"." Mendengar pendatang ini adalah unta terbang, sikap Koan San-gwat berubah tenang dan dingin, katanya tawar, "Sudah kuduga kau pasti datang, cuma tidak kusangka datangmu sedemikian cepat." Suara orang berkedok sangat menghina, katanya, "Koan San-gwat!
Sebetulnya beberapa hari lagi baru aku akan mencari kau tapi dari kau berani menghancurkan Unta terbang"." Koan San-gwat menukasnya dengan suara bengis, "Selama Bing Tho Ling Cu masih hidup, siapapun kularang menggunakan lambang unta sebagai lambang kebesarannya." Orang berkedok tertawa dingin, katanya, "Kentut!
Justru aku tidak senang melihat Bing tho-ling cu yang sok menang di Kang-ouw maka sengaja kupilih unta sebagai lembang kebesaranku, apakah kau masih ingat peringatan yang kuukir di atas lencanaku" Unta tiba orangnya datang, lencana terbang jiwapun melayang." Koan San-gwat berteriak menambah gusarnya, "Baik!
ingin aku melihat buktinya, berani kau bicara besar dan pongah!" "Nanti dulu!
Aku ingin berunding dengan kau, tapi lambang kebesaran Bing-tho-ling-cu, yaitu Tok-kak-cinjin (patung emas kaki-tunggal) serta unta putihmu sekarang tidak kau bawa, kalau aku dapat mengalahkan kau rasanya kurang dapat dibanggakan!" Koan San-gwat berpikir sejenak lalu berkata, "Patung emas dan unta putih ditinggalkan di suatu tempat, untuk membawanya kemari pulang pergi memerlukan dua tiga hari lamanya"." "Tidak perlu!" tukas si orang berkedok sambil menggoyangkan tangan, "Aku tahu, kedua pusakamu berada di puncak Thian-san utara, maka sudah kuutus orangku untuk membawanya kemari.
Satu bulan kemudian, kami bertemu di Thay-san-koan, unta lawan unta, manusia lawan manusia!
Marilah kita berduel untuk memegang kebesaran nama masing-masing." Disamping melengak berkobar semangat Koan San-gwat, serunya, "Baiklah.
Tapi persoalan dengan Siang-ing Piaukiok, aku berjanji dalam waktu tiga hari merampas balik barangTiraikasih barang mereka sekarang kau memberi pertanggungan jawabmu." Orang berkedok bergelak tawa, ujarnya, "Sebetulnya aku punya sedikit perselisihan dengan anak murid Ciong-lam-pay, baiklah kupandang mukamu, sementara aku kesampingkan urusan ini, uang perak ini tetap dalam bentuk semula belum tersentuh, kini kutinggalkan di luar pekarangan.
Anggaplah aku memberi muka dan kemurahan atas nama Bing-tho-ling." Setelah bicara badannya barkelebat menghilang, waktu Koan San-gwat memburu ke depan jendela, bayangannya sudah tidak kelihatan.
Tampak di pekarangan sana menggeletak dua susun peti besar, di sebelahnya berdiri seorang pelayan membawa nampan sayur mayur yang masih mengepulkan asap, ternyata Hiat-tonya tertutuk hingga berdiri kaku.
Segera Koan San-gwat melompat keluar, sekali tepuk ia hendak bebaskan tutukan pelayan itu, kontan pelayan itu menjerit keras, bukan saja tidak bebas tutukannya malah orangnya roboh terkapar.
Peng-toanio ikut memburu keluar, melihat keadaan ini berubah air mukanya saat mana Koan San-gwat sudah berjongkok dan hendak meneruskan pertolongannya.
Maka cepat ia mencegah, "Jangan!
Itulah Cit-tok-jiu-hoat!" Koan San-gwat melengak, tanyanya tidak mengerti, "Apakah Cit-tok-jiu-hoat ini?" Peng-toanio tidak sempat memberi penjelasan, cepat ia menoleh ke arah Thio Ceng Ceng, katanya, "Nona!
Peng-sipcoansan buatan ayahmu masih ada?" Dari dalam bajunya Thio Ceng Ceng mengeluarkan sebuah botol kecil menuang sebutir pil diserahkan kepadanya.
Begitu menerima pil langsung Peng-toanio jejalkan ke mulut si pelayan, lalu ia ulur tangan mengurut dan menepuk ke arah yang berlawanan, tidak lama kemudian pelayan itu sudah mulai bergerak.
Baru sekarang Peng-toanio sempat menarik napas lega.
Katanya kepada Lau Sam-thay, "Dia harus istirahat setengah bulan baru bisa sehat seperti sedia kala, dalam setengah bulan jangan ia diberi makan udang atau ikan laut dan makanan yang amis"." Lau Sam-thay mengiakan sambil mengucapkan terima kasih, segera ia menyuruh pembantunya menggotong masuk pelayan itu.
Lalu ia persilahkan Koan San-gwat bertiga meneruskan makan minum.
Sementara Sun Cit sedang repot menghitung dan memeriksa barang-barangnya.
Setelah duduk Koan San-gwat bertanya, "Cit-tok-jiu-hoat itu sungguh amat lihay!" "Kejadian ini merobah terkaanku semula," ujar Peng-toanio tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan.
"Terkaan apa maksudmu?" tanya Koan San-gwat.
"Terkaan mengenai Unta terbang itu, semula kukira Unta terbang ini adalah "." "Khong Ling-ling maksudmu?" tanya Koan San-gwat.
"Jadi kaupun memikir kesitu?" "Tokoh-tokoh kosen dalam Bulim sekarang tidak terlalu banyak jumlahnya apalagi keji dan telengas, kecuali perempuan laknat itu kiranya tidak ada orang lain, tapi setelah melihat Unta terbang tadi dugaanku kuhapus sendiri.
Unta terbang tentu orang lain, jelas-jelas ilmu silat orang ini teramat tinggi, mungkin jauh di atas kepandaian Khong Lingling sendiri." Peng-toanio manggut-manggut, katanya, "Benar!
Orang ini bisa menggunakan Cit-tok- jiu-hoat, kalau dia benar anak murid orang itu, mungkin dia bakal menjadi musuhmu yang paling tangguh!" "Toanio!" ujar Koan San-gwat dengan penuh curiga, "sebetulnya apakah yang kau maksud?" Berubah air muka Peng-toanio, tanyanya dengan suara berubah, "Sekarang jawab pertanyaanku secara terus terang, sebetulnya Tokko Bing benar sudah meninggal?" "Guru memang sudah ajal, kenapa Toanio ajukan pertanyaan ini?" "Koancu!
Terhadapmu boleh dikata aku membantu sekuat tenaga dengan seluruh jiwa ragaku, usiaku sudah lanjut, harus berkecimpung dengan kau di Bulim, kenapa kau tidak suka bicara terus terang kepadaku?" "Toanio," ujar Koan San-gwat dengan gelisah dan hampa, "Ucapanmu tidak berani aku menerimanya." Peng-toanio kelihatan gusar, "kalau Tokko Bing benar benar sudah ajal, Cit-tok-jiu hoat itu tidak mungkin muncul di kalangan Kangouw!" Koan San-gwat rada sangsi sebentar lalu berkata perlahanlahan, "Guruku memang belum meninggal, tapi keadaannya hampir sama dengan orang mati!" "Apakah jadi ilmu silatnya sudah punah semua?" bergegas Peng-toanio bertanya.
"Bukan begitu!