lekas bawa air panas kemari, suruh pelayanmu memanggil tabib kemari!" Tersipu-sipu pemilik warung makan membawakan beberapa baskom air panas serta berkata tersendat-sendat, " Tuan-tuan apakah yang terjadi, di daerah sini tiada tabib yang pintar, terpaksa harus panggil dari kota!" Laki-laki itu uring-uringan, bentaknya, "Sewa kereta dan panggil dia kemari, kalau kita bisa masuk kota memangnya kita sudi berhenti di sini, keadaan kita seperti ini masuk kota hanya menjatuhkan pamor Siang-ing Piaukiok saja." Keadaan menjadi ramai oleh suara heran dan bisik-bisik, agaknya nama Siang-ing Piaukiok cukup tenar, bahwa kuping mereka teriris semua adalah jamak kalau membuat orang lain heran.
Namun siapa yang berani bertanya kepada mereka" Tergerak hati Koan San-gwat, segera ulurkan tangannya ke arah Peng-toanio, maksudnya minta buntalan obat luka-luka yang mereka bawa dari Kun-lun-san, jumlahnya tidak banyak, sebetulnya mereka membekal obat untuk keperluan sendiri, maka Peng-toanio ragu-ragu untuk memberinya.
Tapi tanpa pikir segera Thii Ceng Ceng membuka buntalan itu dan mengangsurkan obat yang diminta, terpaksa Pengtoanio diam saja.
Begitu menerima obat itu, bergegas Koan San-gwat berdiri terus mendekati laki-laki itu serta bersoja, katanya, "Saudara ini, aku yang rendah kebetulan membawa obat luka mujarab dari peninggalan leluhurku, kalau saudara sudi mari silahkan pakai saja obat ini"." Melihat orang berpakaian pelajar, sudah tentu laki-laki itu tidak mengenal bahwa yang dihadapi adalah Bing-tho-ling-cu yang kenamaan itu, maka sikapnya rada dingin dan menyangsikan kasiar obatnya itu, namun orang membantu dengan tulus tidak enak menampik kebaikan orang, maka ia berkata, "Terima kasih, Siangkong!" Segera Koan San-gwat membuka buntalan obatnya lalu mengobati luka-luka di kupingnya, kasiat obatnya ternyata luar biasa, kontan laki-laki itu merasa luka-lukanya tidak sakit dan terasa nyaman, malah darahpun berhenti mengalir, tanpa terasa mulutnya menyeringai lebar mengalir dan memuji, "Obat Siangkong sunggub mujarab, masih ada beberapa saudaraku yang terluka, harap Siangkong suka memberi pertolongan juga pada mereka, nanti akan kami beri imbalan yang cukup berarti." Koan San-gwat tersenyum lebar, katanya, empat penjuru lautan adalah saudara, kenapa saudara berlaku sungkan!!" satu persatu ia bubuhi obat pada luka-luka mereka.
Melihat tindak tanduk Koan San-gwat yang gagah dan berwajah cakap lagi keruan pemimpin itu segera mengunjuk hormat serta berkata, "Harap tanya nama besar Singkong yang mulia, Supaya kelak kita bisa membalas kebaikan ini.
Aku She Sun bernama Cit, gelaranku Hek-ing (elang hitam), sebagai pimpinan Siang-ing piaukiok.
Jalan-jalan raya antara Kam-siok menuju ke Siamsay bila Siangkong punya keperluan silahkan sebut namaku, tentu para kawan Bulim banyak yang suka memberi bantuan." Koan San-gwat tersenyum, sahutnya, "Saudara Sun Cit kenamaan di daerah Siam-say dan Kam-siok, sungguh beruntung aku yang rendah bisa berkenalan "." Sun Cit tertawa getir, katanya, "Ah, Siang kong menggoda saja, karena kehilangan kuping kiri ini, kebesaran Hek-ing boleh dikata sudah runtuh sama sekali "." "Apakah yang telah terjadi?" "Kalau dibicarakan memang memalukan, sudah dua puluh tahun Siang-ing piaukiok mondar mandir di jalan raya ini, belum pernah gagal, namun hari ini kita terjungkal secara total.
Kereta barang dirampas, dua orang piau-thau tertabas kutung kepalanya, empat orang kami dibuntungi sebelah kupingnya, kalau diceritakan sulit dipercaya, pihak lawan hanya seorang saja, dia menunggang unta, tapi dengan mudah ia gondol kereta yang memuat dua laksa tail perak." Berubah air muka Koan San-gwat, serunya, "Apa" Perampok itu menunggang unta" Unta macam apa?" Sun Cit mendengus, sahutnya, "Binatang seperti itu memang jarang terlihat, seluruh tubuhnya berbulu mulus tanpa terlibat rambutnya yang berwarna lain, tapi berat uang perak sebanyak dua laksa tail itu, namun ia dapat membawanya lari bagai terbang." "Jadi unta sakti itu"." teriak Koan San-gwat tak tertahan.
Sun Cit melirik sekali, tanyanya, "Unta sakti yang mana maksud Siangkong?" "Aku pernah dengar unta yang ditunggangi Bing-tho-ling-cu adalah seekor unta sakti dan pintar sekali"." "Salah!" tukas Sun Cit, "Unta Bing-tho-ling-cu berbulu putih, tapi tunggangan Hwi-lo-tho (Unta terbang) itu adalah seekor unta hitam, tapi kekuatan larinya agaknya masih kalah dibanding dengan Bing-tho!" "O, sungguh tidak nyana di atas dunia ini, masih ada unta lain yang dapat menandingi unta sakti berbulu putih itu." Sun Cit mengunjuk rasa curiga, ia merasa ucapan Koan San-gwat seperti kelepasan omong, tapi Koan San-gwat segera memperbaiki sikapnya, ujarnya, "Aku pernah dengar, katanya unta sakti milik Bing-tho-ling-cu itu adalah seekor binatang cerdik pandai berbulu putih mulus, sungguh tidak kita masih ada unta hitam yang setanding dengan dia".
Sunheng tadi mengatakan orang itu bergelar Hwi-lo-tho?" "Begitulah!
Kecuali ketiga huruf itu, keparat itu tidak pernah mengeluarkan sepatah kata juga." "Orang macam apakah dia.?" Tidak tahu.
Seluruh badan orang itu di kerudung pakaian hitam, gerak geriknya laksana angin, ilmu silatnya tinggi, sekali turun tangan ia bunuh dua pembantuku, tahu-tahu kita merasa angin berkesiur ternyata kuping kirinya sudah putus dari tempatnya dengan mendelong terpaksa kami awasi saja dia menggondol pergi barang kawalan kita ke atas untanya terus menghilang, dia laki atau perempuan kitapun tidak tahu!" "Bagaimana perawakannya" Tinggi, rendah, gemuk atau kurus tentunya bisa diketahui bukan?" "Tidak tinggi juga tidak rendah, sedang, saja, tidak gemuk dau tidak kurus tiada sesuatu yang menarik perhatian kita!" Berubah air muka Koan San-gwat katanya, "Dua laksa tail perak bukan jumlah kecil, bagaimana saudara memberi pertanggungan jawab?" Sun Cit menghela napas, katanya, "Kehilangan harta masih mampu diganti, jiwa beberapa kawan itu yang mati penasaran, bukan saja nama baik perusahaan kami jatuh, nama besar Ciong-lam-pay pun ikut tersapu bersih!" "Ada hubungan apa antara Siang-ing Piaukiok dengan Ciong-lam-pay?" "Majikan kami Doh-he-siang-ing adalah murid Ciong-lampay." Koan San-gwat manggut-manggut, katanya, "Orang yang menamakan dirinya unta terbang itu mungkin bukan sembarangan begal atau rampok picisan di kalangan Kangouw.
Atau mungkin memang sengaja hendak mencari perkara terhadap Ciangbunjin." "Akupun berpikir demikian.
Eh, Siangkong seperti orang sekolah, tapi agaknya cukup tahu seluk beluk dunia persilatan!" Koan San-gwat hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan ini tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Kejadian ini kedengarannya sangat ganjil dan sulit dipercaya, setelah Saudara Sun bertemu dengan majikan, mungkin kaupun sulit memberi penjelasan kepadanya!" Sun Cit cemberut, ujarnya, "Ya, unta terbang itu memang meninggalkan tanda mata tapi dengan bukti-bukti yang ringan ini, sulit memberi uraian, tetapi betapa pun dua jiwa dan empat belas kuping menjadi kenyataan, tidak percayapun majikan harus menerima kenyataan ini." Koan San-gwat yang tertarik, tanyanya, "Jadi orang itu masih meninggalkan bukti lain, apakah saudara Sun bisa memperlihatkan kepadaku?" Sun Cit rada sangsi sebentar, tapi karena rikuh akhirnya ia mengeluarkan sekeping tembaga sebesar telapak tangan.
Di atas tembaga tipis itu terukir seekor unta hitam yang bersayap, di bawah ada tertulis "Hwi-tho-ling" (lencana unta terbang).
Dan di baliknya ada tertulis pula hurup yang berbunyi, "Unta terbang tiba orangnya datang, Lencana terbang jiwapun melayang." Tanpa merasa ragu wajah Koan San-gwat menunjukkan amarah hatinya, jari-jarinya lantas meremas, sontak tembaga itu diremas hancur menjadi bubuk dan berhamburan dari selasela jarinya.
Mencelos hati Sun Cit, sesaat ia kesima dan mematung tidak tahu apa yang harus dia perbuat.
Pertama ia tidak menduga pemuda pelajar yang lemah lembut ini memiliki tenaga besar, kedua tembaga itu diremas hancur lalu bagaimana ia harus memberi pertanggungan jawab bila kembali nanti.
Dengan suara berat berkatalah Koan San-gwat, "Dalam tiga hari, kutanggung barang-barangmu yang hilang akan kuminta kembali!" "Siangkong.
kau"." Sun Cit tergagap tak kuasa mencetuskan kata-katanya.
"Sehari aku masih hidup, tidak kubiarkan orang lain berani menggunakan unta sebagai lambang kebesarannya!" Sun Cit adalah kawakan Kangouw, melihat tindak tanduk orang, dalam hati ia sudah meraba-raba cuma ia tidak berani mengutarakan.
Terangkat alis Koan San-gwat, katanya dengan bengis, "Jadi kau tidak percaya aku dapat merampas kembali barangbarangmu itu?" "Cayhe tidak punya pikiran begini, cuma dapatkah kami tahu nama Siangkong yang mulia".supaya Cayhe dapat memberi pertanggungan jawab!" Dengan sikap tawar Koan San-gwat merogoh keluar sekeping tembaga diserahkan, katanya, "Cukup kau serahkan milikku ini kepadanya!" Begitu Sun Cit menerima tembaga dan melihat gambarnya, seketika tangannya gemetar.
Karena dia kenal bahwa lencana tembaga itu adalah Bing-Tho-ling-cu yang sangat tenar di seluruh kolong langit, tanpa ditanya ia sudah tahu bahwa pemuda di hadapannya ini adalah Bing-Tho-ling-cu.
Melihat orang takut dan keheranan, Koan San-gwat tertawa geli, katanya, "Boleh kau beritahu majikanmu, bahwa Koan San-gwat masih belum mati." Kini Sun cit sangat hormat dan merendah sahutnya sambil berdiri tegak meluruskan ke dua tangan, "Baiklah, Ling-cu!" Suasana dalam dan luar warung makan itu menjadi hening, semua orang memandang heran kagum kepada pemuda yang lemah lembut ini.
Memang mereka belum pernah melihat atau berjumpa dengan tokoh yang hebat ini, tapi nama kebesaran Bing tho ling-cu laksana geledek berkumandang di kuping mereka.
Mereka sudah sering mendengar berbagai kisah kepahlawanan pemuda ini.
Siapa akan nyana tokoh yang diagungkan seperti dalam dongeng itu kini berdiri di hadapan mereka.
Sikap Koan San-gwat tetap lemah lembut katanya, "Di tempat mana terjadinya peristiwa itu?" "Dua puluh li di depan sana daerah tandus yang dinamakan Eng-ciu-kang!" "Gelarmu Hek-ing, setiba di Eng-ciu-kang (bukit elang murung), seolah-olah memang sudah ditakdirkan kau bakal terjungkal di sana!" "Ling-cu menggoda saja, harap tanya malam ini Ling-cu menetap dimana" Sebentar Siau-jin akan mengutus orang untuk memberi laporan, sementara Siau-jin akan memberi penjelasan kepada Ling-cu." "Tidak usahlah!
Aku belum mendapat tempat tetap!" "Silahkan Ling-cu singgah di penginapan Kip-ing di dalam kota, pemilik penginapan yang bernama Lau sam-thay juga seorang persilatan, berhubungan sangat akrab dengan majikan kami, tentu beliaupun sangat senang kedatangan Ling-cu." "Begitupun baik," ujar Koan San-gwat sesudah berpikir sebentar, "Sebetulnya tiada keinginanku untuk mendapat pelayanan, justru diapun seorang persilatan, seandainya di dalam penginapannya nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tidak nanti menimbulkan keributan yang berarti.
Menurut dugaanku unta terbang itu pasti akan mencari perkara kepadaku nanti." Mendapat persetujuan Koan San-gwat, kelihatannya Sun Cit sangat gembira, tersipu-sipu ia mengutus bawahannya memberitahukan kepada Lau Sam-thay lalu menyiapkan tiga ekor kuda untuk Koan San-gwat.
Di waktu naik ke atas kuda sambil tersenyum lebar Peng-toanio berkata kepada Koan San-gwat, "Sepak terjangmu jauh berlainan dengan gurumu.
Gurumu selalu secara mendadak dan tidak terduga-duga laksana ular naga yang kelihatan buntutnya tidak kelihatan kepalanya, jarang bergaul dengan khalayak ramai.
Orang" orang rendah macam kita ini jangan harap berkenalan dengan beliau!" "Pandangan guruku memang teramat tinggi sepak terjangnya, juga misterius, sehingga menimbulkan salah paham para sahabat Kang-ouw.
Beliaupun merasa sangat menyesal akan kejadian ini, berulang-ulang beliau berpesan kepadaku untuk merubah tindak tanduknya dulu, lebih banyak bergaul dengan para sahabat Kangouw." Peng-toanio tertawa, katanya, "Mencari sahabat harus cari orang-orang yang bernilai.
Orang macam apa elang hitam Sun Cit, Cit-sing-to Lau Sam-thay itu" Bila kau keluarkan maklumat, para Ciangbunjin berbagai aliran pasti datang ingin berkenalan dengan kau"." Koan San-gwat geleng kepala, "Aku lebih suka bergaul dengan orang-orang rendah macam mereka ini, hanya orangorang seper-ti seperti mereka mau bersahabat secara tulus dan bakti, mereka tidak akan berani main tipu daya atau mengatur jebakan mencelakai diriku, paling dalam saat-saat yang diperlukan, mereka tentu dapat dikerahkan untuk melaksanakan tugas-tugas tanpa pamrih, sekarang yang belum kumiliki adalah para sahabat seperti mereka ini!" Peng-toanio melongo dan tertegun, agak lama kemudian baru ia berkata, "Belum pernah aku berpikir begitu, agaknya kau lebih bajik dari gurumu." Tergerak hati Koan San-gwat, tanyanya, "Toanio, hubungan dengan guruku apakah anda sangat intim?" "Intim sih tidak, cuma pernah bertemu beberapa kali!" Melihat air muka orang waktu bicara seperti tertekan perasaannya, diam-diam tergerak sanubarinya Koan San-gwat, tapi segera ia menyangkal pula akan rabaan hatinya, karena gurunya adalah seorang sebatangkara, hidupnya selalu dalam suasana hening dan sepi, tidak mungkin ia terikat dalam persoalan asmara.
Waktu mereka tiba di ambang pintu kota, Lau Sam-thay sudah menunggu jauh-jauh sudah menjura, serunya, "Cayhe tidak tahu kedatangan Ling-cu, harap dimaafkan sambutan yang terlambat ini.
Hari ini, betapa besar hati kami mendapat kunjungan Ling-cu ke penginapan kami, sehingga menambah ramai dan semarak"." "Lau-heng!" ujar Koan San-gwat tertawa sambil membalas hormat, "meski kita baru pertama kali ini bertemu tapi LauTiraikasih heng berderma bakti kepada sesamanya sudah lama aku dengar, sebagai orang persilatan, tidak perlu banyak adat istiadat, apalagi kedatangan kami ini bakal membikin repot kau saja." Melihat sikap Koan San-gwat terbuka dan supel lagi, Lau Sam-thay menjadi getol, ingin rasanya ia mengorek jantung sendiri untuk membalas kebaikan orang, dengan seri tawa cepat-cepat ia berkata, "Ling-cu terlalu menjunjung kami!
Jangan kata nama besar Ling-cu sudah menggetarkan empat lautan, aku yang rendah masa ada harganya berkenalan, pula persoalan sahabatku ini, seumpama harus mengorbankan harta benda juga tidak jadi soal.
Ling-cu mari silahkan!".