Dengan sikap tenang, Hong San sudah siap menghadapi lawan ke dua yang dia tahu tentu lebih kuat itu. Akan tetapi, sebelum Kim-bwe-eng Gan Lok menghampiri lawan yang berdiri di tengah ruangan, tiba-tiba muncul tiga orang diambang pintu dan seorang di antara mereka berseru, "Tidak perlu Gan Pan (Ketua Gan) sendiri yang turun tangan. Biarkan kami memberi hajaran kepada bocah sombong yang masih berhutang pukulan kepada kami!"
"Baik, Kim-bwe Sam-houw, kalau kalian hendak mewakili aku menghajar bocah kurang ajar ini, silakan!" kata Sang Ketua yang duduk kembali.
Hong San menengok dan melihat tiga orang berpakaian kuning yang pernah ditemuinya di rumah makan Ho-tin, tersenyum. "Wah, kiranya tiga ekor lalat dari rumah makan telah terbang pula sini?"
Mendengar ini, terdengar suara ledakan-ledakan cambuk dan tiga orang telah mencabut senjata cambuk mereka dan mereka kini menghadapi Hong San. Mereka adalah Kim-bwe Sam-houw Siong-an, tiga orang jagoan yang biasa menjadi anak buah sewaan dari Can Taijin. Seorang di antara mereka, yang termuda dan bernama Loa Pin berusia tiga puluh lima tahun, sudah membentak marah.
"Orang muda yang sombong! Di rumah makan engkau telah menghina kami dan sekarang engkau berani membuat kacau sini? Engkau sungguh sudah bosan hidup!" katanya dengan suara lantang. Hemmm, perlu dibuktikan dulu siapa yang sombong dan siapa yang menghina orang. Di rumah makan, kalian sudah memperlihatkan tingkah sombong dan kurang ajar terhadap Nona Bu yang duduk di sana itu! Dan sekarang mendengar nama julukanmu, kembali kalian bersikap sombong terhadap Ketua Gan. Kalian berani menggunakan julukan Kim-bwe- houw (Harimau Ekor Emas). Nah, siapa yang sombong sekarang? Akan tetapi tidak mengapalah. Kalau kalian hendak bertiga mengeroyok aku, aku pun tidak gentar sama sekali!"
Semua orang terkejut, kecuali Giok Cu tentu saja. Semua orang tahu siapa adanya Kim-bwe Sam-houw dari Siong-ini. Mereka adalah tiga jagoan yang lihai, yang menjadi orang- orang kepercayaan Cang Tai-jin kepala daerah Siog-an. Tiga orang jagoan inilah yang menjadi utusan Cang Tai-jin kalau mengadakan hubungan dengan persekutuan mereka. Kim- bwe Sam-houw diutus oleh Cang Tai-jin untuk mencari keterangan kesitu ketika tadi mendengar bahwa usaha mereka untuk merampok Liu Taijin itu mengalami kegagalan. Diam- diam Cang Tai-jin mengadakan hubungan kerjasama dengan gerombolan pemberontak, biarpun pembesar itu sama sekali bukan seorang yang berjiwa patriot atau menderita karena melihat kehidupan rakyat yang sengsara tertindas oleh pemerintah yang mengerahkan tenaga rakyat untuk menjadi pekerja pembuat Terusan Besar. Sama sekali tidak, bahkan sebaliknya malah. Dia yang mendapat tugas untuk mengumpulkan tenaga, bahkan memeras rakyat. Biaya yang datang dari kotaraja masuk ke dalam gudang uangnya sendiri, sedangkan dengan kekuasanya, dia memaksa rakyat untuk menjadi pekerja paksa tanpa dibayar! Tidak, kala dia bersekutu dengan perkumpulan yang menamakan diri pejuang yang disebut Pauw-beng-pang (Perkumpulan Penjaga rakyat) itu, adalah karena dia melihat keuntungan-keuntungan di sana. Dia pun diam-diam menjadi sekutu perkumpulan itu. Kalau perkumpulan itu berhasil kelak sehingga dapat merebut kekuasaan, dia tentu akan kebagian kedudukan tinggi sebagai sekutu! Andaikata gagal pun, dia sudah mendapat keuntungan karena lain kedudukannya sekarang tidak akan diganggu, juga dia masih memperoleh bagian kalau terjadi perampokan harta para pembesar dan hartawan seperti mereka rencanakan bersama tadi. Dia menyogok Liu Taijin dengan maksud agar mendapatkan laporan baik ke atasan di kota raja, dan diam- diam dia menghubungi Pouw-beng-pang agar harta itu dirampok dan tentu dia pun akan memperoleh bagian.
Diam-diam Giok Cu mengerutkan alisnya dan merasa heran melihat munculnya tiga orang dari Siong-an ini. Dari sikap mereka ketika berada di rumah makan, yaitu selagi mereka marah-marah dan hendak menyerang Hong San, mereka seperti mati kutu dan tidak berani ribut-ribut karena ruangan restoran akan dipergunakan oleh Cang Tai-jin, ia sudah menduga bahwa tiga orang jagoan takut atau setidaknya segan kepada pembesar-pembesar itu. Akan tetapi bagaimana sekarang tahu-tahu mereka memiliki hubungan baik dengan para pemberontak yang memusuhi para pembesar? Apakah tiga orang jagoan memang merupakan mata-mata pihak pemberontak untuk menyelidiki keadaan para pembesar di kota-kota? Akan tetapi ia pun diam saja dan hanya menonton. Kini ia pun sudah dapat melihat betapa lihainya Can Hong San dan diam-diam, merasa kagum. Pemuda itu selain me miliki kepandaian tinggi, juga amat tabah dan berani. Di dalam sarang gerombolan yang demikian kuatnya, di mana tidak saja terdapat banyak orang pandai, akan tetapi juga memiliki anak buah yang amat banyak. Kalau mereka itu mengerahkan orang-orangnya melakukan pengeroyokan, sungguh amat berbahaya bagi keselamatan Hong San. Akan tetapi, Hong San kelihatan tenang saja, bahkan gembira seolah-olah dia sudah merasa yakin akan hasil baik akibat ulahnya itu. Kini pemuda itu berhadapan dengan Kim-bwe Sam-houw, dan Giok Cu diam-diam ingin sekali melihat bagaimana kelanjutan ulah pemuda itu. Sekali ini, setelah tadi menyaksikan kelihaian Hong San, diam-diam ia memperhitungkan bahwa walaupun tiga orang itu juga merupakan lawan berat, namun jelas bahwa pemuda itu akan mampu membela diri dengan baik dan bukan tidak mungkin akan dapat mengalahkan tiga orang lainnya itu pula. ooOOoo
Semua orang merasa terkejut dan juga penasaran mendengar pemuda itu menantang Kim-bwe Sam-houw untuk maju mengeroyoknya, walaupun mereka itu banyak yang merasa kagum kepada Hong San. Semua orang tahu bahwa tingkat kepandaian Kim-bwe Sam-houw itu masing-masing tidak jauh bedanya dengan tingkat kepandaian wakil ketua yang tadi kalah. Kalau mereka maju bersama, arti merupakan lawan yang tiga lebih berat daripada Kim-kauw-pang Pouw In Tiong!
Kim-bwe Sam-houw juga merupa orang-orang yang angkuh dan tinggi hati terlalu menghargai diri sendiri terlampau tinggi hati sehingga biasanya mereka memandang rendah kepada orang lain. Karena merasa diri sudah jarang ada yang dapat melawan itu, mereka pun ham pir tidak pernah maju bersama. Seorang saja dari mereka sudah jarang menemukan tanding. Akan tetapi, tadi ketika mereka datang, mereka sempat melihat betapa wakil ketua Pouw-beng-pang kalah oleh pemuda itu. Maka, tentu mereka pun merasa gentar kalau harus maju seorang demi seorang. Kini, mendengar pemuda itu menantang mereka untuk maju bersama mengeroyok tentu saja mereka menjadi girang. Mereka tidak perlu merasa kehilangan muka sekarang kalau maju bersama, karena mereka ditantang!
"Bagus! Orang muda yang sombong memang agaknya sudah nasibmu untuk mampus di tangan kami. Kami menerima tantanganmu untuk maju bersama'" Sambil berkata demikian, Thio Kwan, orang tertua dari mereka sudah menggerakkan cambuknya ke atas kepala, diikuti pula oleh dua orang temannya.
"Tar-tarrr-tarrrrr. !" Suara cambuk meledak-ledak di
udara dan nampak asap mengepul! Tiga orang yang berpakaian serba kuning itu sudah berpencar mengepung Hong San dari tiga penjuru, cambuk mereka meledak-ledak di atas, seperti tiga ekor singa yang siap menubruk domba yang berada di dalam kepungan mereka. Agaknya mereka seperti mengambil ancang-ancang untuk berlumba, siapa yang lebih dulu merobohkan lawan.
Hong San bersikap tenang namun penuh kewaspadaan. Dia berdiri tegak, sama sekali tidak tegang dan bahkan melemaskan seluruh tubuhnya, namun setiap lembar syarafnya siap menghadapi serangan dari mana pun datangnya. Pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri seolah-olah tak terasa lagi oleh kedua tangannya, seolah-olah kedua senjata itu telah menjadi bagian dari tangan. Tenaga sakti berputar-putar dalam pusarnya, siap dikirim ke mana saja bagian tubuh membutuhkan.
Tiba-tiba ada sinar emas menyambar dari arah kiri, menyambar bagaikan kilat dari angkasa, mengarah kepala Hong San. Pemuda yang sudah siap siaga memiringkan tubuhnya dan cambuknya menyambar tanpa suara itu memecut lewat. Akan tetapi segera disusul menyambarnya cambuk dari kanan dan dari depan. Namun, dengan gerakan yang amat gesit, Hong San dapat mengelak dari sambaran dua batang cambuk itu. Sebelum dia sempat berbuat sesuatu untuk membalas, cambuk pertama sudah menyambar lagi dan kini, tiga batang cambuk itu sambung-menyambung, menyerang bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada Hong San untuk membalas sama sekali! Hong San mempergunakan kesigapannya, dengan dasar gin- kang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, tubuhnya lenyap menjadi bayangan yang berkelebatan di antara tiga gulungan sinar cambuk. Diam-diam dia terkejut juga. Kiranya setelah bekerja sama, tiga batang cambuk ini amat berbahaya, kalau dilanjutkan begini, dia selalu akan diserang dan tidak ada kesempatan lagi untuk membalas. Namun, Hong San adalah seorang yang amat cerdik. Sebentar saja dia sudah mendapat akal bagaimana agar dia dapat terlepas dari kepungan sinar cambuk itu. Dia melihat bahwa cambuk-cambuk itu hanya menyerang secara bergiliran dan dia tahu mengapa demikian. Kalau tiga batang cambuk yang panjang itu menyerang secara berbarengan ada bahayanya ujung cambuk-cambuk itu akan saling bertemu, bahkan saling belit sehingga akan merugikan mereka sendiri. Jelaslah bahwa kalau yang satu menyerang, yang dua lainnya hanya bersiap untuk menyusulkan serangan berikutnya andaikata serangan pertama itu dapat dielakkan oleh lawan. Dan ke mana pun Hong San mengelak, selalu dalam pengawasan dua orang yang lain agar dapat menyusulkan serangan berikutnya yang tepat.
Mula-mula Hong San mencoba untuk menggunakan pedangnya menangkis serangan dengan maksud membabat putus cambuk lawan. Akan tetapi, usahanya bukan saja gagal karena cambuk itu terbuat dari bahan yang kuat dan lembek tidak mungkin dibabat putus, bahkan hampir saja pedangnya terampas karena ujung cambuk, bagaikan ekor ular, telah membelit pedang itu dan baru setelah sulingnya digerakkan menghantam kearah cambuk, pedangnya dapat terbebas. Melihat betapa jalan satu-satunya hanyalah bahwa dia harus balas menyerang seketika, Hong San lalu mengubah siasatnya.
Begitu ada cambuk dari depan menyambar, Hong San bukan hanya mengelak melainkan meloncat dengan kecepatan kilat, tubuhnya mencelat ke atas dengan gerak tipu jurus ilmu silat Koai liong-kun (Silat Naga Siluman), tubuh yang mencelat ke atas itu tahu-tahu membalik dan menyerang kearah Loa Pin yang berdiri di sebelah kirinya. Loa Pin terkejut karena pada saat itu, yang mendapat giliran menyerang sesudah Thio wan adalah Cio Ban Hok yang berada di kanan. Disangkanya bahwa tadi pemuda itu meloncat ke atas untuk mengelak, akan tetapi siapa kira tiba-tiba suah menyerang kepadanya. Pada saat itu , cambuk di tangan Cio Ban Hok memang sudah meledak dan menyerang, akan tetapi ujung cambuk itu dapat tertangkis pedang Hong San, sedangkan sulingnya tetap menyerang dengan hebatnya ke arah kepala Loa Pin. Loa Pin tidak sempat menggerakkan senjatanya yang panjang, maka dia cepat pelempar tubuhnya ke samping untuk Menghindarkan serangan suling.
"Plakkkkk!" tetap saja suling itu sempat menghantam pangkal lengan kirinya dan dia pun roboh terbanting, lalu bergulingan dan ketika dia meloncat bangkit, dia merasa lengan kirinya nyeri bukan main dan sukar digerakkan!
Hong San juga sudah turun, dan pada saat itu, kembali cambuk dari Thio Kwan sudah menyambar ke arah kepalanya dengan amat cepat dan kuatnya. Seperti siasat yang berhasil tadi, Hong San menggunakan suling di tangan kirinya untuk menangkis, akan tetapi pada saat sulingnya dilibat ujung cambuk, sudah membalik dan secepat kilat menyerang Cio Ban Hok dengan pedangnya. Pedang menyambar ke arah leher dengan tusukan yang dahsyat. Cio Ban Hok kejut, dia yang sedang menanti saat untuk menyambung serangan Thio Kwan tiba-tiba berhadapan dengan tusukan pedang yang mengarah tenggorokannya. Cepat dia menggeser tubuh ke samping dan pergelangan tangannya sudah siap menggerakkan cambuk. Sementara dia belum mampu menyerang karena lawan terlampau dekat. Saat itu, kaki Hong San menendang ke arah perutnya Cio Ban Hok berusaha mengelak lagi, namun tetap saja pahanya terkena tendangan yang cukup keras.
"Bukkk!" Tubuhnya terpelanting dia cepat bergulingan agar tidak disusul serangan lawan yang amat tangguh itu setelah bergulingan lima meter lebih, baru dia meloncat bangun dengan muka berubah merah. Akan tetapi, dia dan juga Loa Pin sudah bersiap-siap lagi dan atas isyarat Thio Kwan, mereka mundur agak jauh, tetap mengepung dan tiba-tiba cambuk mereka meledak-ledak dan kini mereka menyerang berbareng kearah Hong San yang berada di tengah-tengah.
Hong San memutar pedangnya melindungi tubuhnya. Beberapa kali tiga batang cambuk yang menjadi keras oleh saluran tenaga sakti itu bertemu pedang dan membalik. Namun dengan menyerangan jarak jauh seperti ini, Hong San kembali menjadi tertekan karena dia tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk membalas serangan lawan. Pedang dan sulingnya tidak dapat mencapai tubuh lawan, sebaliknya tiga orang pengeroyoknya dapat menghujankan serangan dengan cambuk mereka yang panjang.
Kim-bwe Sam-houw juga merasa pe¬nasaran bukan main. Tadi, dua orang diantara mereka telah merasakan hajaran dan masih terasa nyeri oleh Cio Ban Hok dan Loa Pin, dan sampai sekarang, cambuk mereka belum juga mampu mengenai tubuh lawan. Apalagi melukainya, merobek baju pun tidak pernah dapat. Bahkan setelah mengurung dengan jarak jauh seperti itu, mereka tetap saja belum berhasil karena semua serangan ujung cambuk itu membalik begitu bertemu dengan pedang dan suling. Melihat ini tentu saja mereka bertiga menjadi makin marah dan penasaran.
Sejak tadi Giok Cu mengikuti jalannya pertandingan dan diam-diam ia merasa semakin kagum kepada Hong San. Pemuda itu memang hebat, pikirnya. Melihat cara pemuda itu mempergunakan sepasang senjatanya, dan caranya menghadapi pengeroyokan tadi sehingga berhasil mempergunakan siasat dan menghajar dua orang pengeroyok, menunjukkan bahwa pemuda itu selain memiliki ilmu silat yang tinggi, juga memiliki kecerdikan. Seorang lawan yang tangguh. Akan tetapi, penglihatannya yang tajam juga menemukan gaya silat golongan hitam dalam gerak silat Hong San, maka ia pun bersikap waspada, la baru saja mengenal Hong San, dan ia belum yakin benar bahwa pemuda itu seorang pemuda yang berjiwa pendekar, la menonton pertandingan itu juga untuk mengukur sampai di mana kepandaian Hong San dan ia mendapat kenyataan bahwa ia sendiri pun tidak akan mudah begitu saja dapat mengalahkan pemuda yang bercaping lebar itu. Yang mengagumkan, dia bertanding dengan caping bergantung di punggung dan biarpun beberapa kali caping yang melindungi punggung itu tersentuh ujung cambuk, namun tidak rusak. Tahulah ia bahwa caping itu pun bukan caping biasa, nielainkan merupakan perisai yang cukup kokoh!
Kembali Thio Kwan memberi isyarat kepada dua orang temannya dan mereka agaknya hendak mengubah siasat penyerangan. Kini mereka, dalam jarak masih tetap agak jauh, mulai berlari mengitari Hong San. Pemuda ini maklum bahwa kalau dia ikut berputar-putar, maka dia akan menderita kerugian. Kalau dia harus mengikuti dan mengimbangi mereka, dia akan dapat diserang kepeningan. Maka, melihat mereka itu lari-lari dan mengitari dirinya, dia berdiri tegak dengan kokoh, tidak bergerak, hanya kedua matanya dan dua telinganya saja dicurahkan utuk menghadapi segala kemungkinan.
Tiba-tiba tiga orang itu berhenti lari dan sekali tangan mereka bergerak tiga batang cambuk itu telah meluncur ke arah Hong San dan sekali ini sama sekali tidak mengeluarkan suara ledakan! Bagaikan tiga ekor ular panjang tiga batang cambuk itu menyambar. Hong San terkejut. Jelas bahwa cambuk-cambuk itu tidak menyerang dengan kekerasan dan kalau dia berani menangkis tentu pedang dan sulingnya dapat rampas dengan belitan yang sukar dilepaskan lagi. Dan cambuk itu datang dari tiga jurusan, dari atas, tengah bawah, sama sekali tidak memberi jalan keluar baginya. Melihat betapa tiga batang cambuk itu semua menyambar lembut ke arah pinggangnya, tahulah dia bahwa tiga orang pengeroyoknya itu hendak menangkapnya dengan libatan cambuk mereka pada pinggangnya, dan tentu ia ingin membelenggu pula kedua lengannya. Kalau dia mencoba mengelak, tentu satu di antara mereka tetap akan berhasil melibat pinggangnya dan yang lain mungkin melibat lengan- lengannya. Dia dapat akal. Diangkatnya kedua lengan pada saat ujung tiga batang cambuk itu menyambar dekat. Benar saja, ujung tiga batang sabuk itu menyambar pinggangnya, bagaikan tiga ekor ular yang panjang! Hong San yang amat cerdik itu memperlihatkan wajah terkejut. Tiga orang pengeroyoknya lalu cepat menarik cambuk masing-masing sehingga ujung cambuk-cambuk itu seperti diikat dengan kuat di pinggang Hong San.
Melihat pemuda itu memperlihatkan wajah kaget dan cemas, Thio Kwan pemimpin Kim-bwe Sam-houw yang merasa bahwa sekali ini mereka telah berhasil menguasai lawan, tertawa. "Ha ha ha, ah sombong. Engkau telah berada dalam kekuasaan kami! Engkau tak dapat melepaskan diri dan kalau kami menghendaki, cambuk kami akan dapat menyayat pinggangmu sampai putus!"
Hong San juga dapat memperhitutungkan bahwa ucapan itu bukan gertakan kosong belaka. Kalau mereka bertiga itu melepas lilitan cambuk sambil menarik dengan tenaga sin- kang yang dipadukan maka ujung cambuk-cambuk itu akan merupakan pedang tajam yang menyayat pinggangnya dan belum tentu dia akan mampu mempertahankan diri. Dia akan tewas, atau setidaknya, tentu akan menderita luka parah andaikata sin-kang kekebalannya mampu melindungi pinggangnya. Akan tetapi, siasatnya telah matang dan dia pun tertawa pula.
"Ha-ha-ha, kalian kira aku tidak akan mampu melepaskan diri?" Berkata demikian merupakan akal agar tiga orang mencurahkan perhatian dan mengerahkan segala daya untuk mencegah dia me lepaskan diri, dan belum akan timbul niat untuk membunuhnya dengan menyayat pinggangnya! Sekali kedua kakinya mengerahkan tenaga, tubuhnya lalu meloncat ke atas. Loncatan itu tentu akan dapat membawa tubuhnya tinggi sekali kalau saja tiga orang pengeroyoknya tidak cepat menarik cambuk mereka sehingga loncatan itu tertahan di udara dan saat inilah yang ditunggu oleh Hong San. Dia sudah menyimpan sulingnya dan me'ngambil capingnya yang tadinya tergantung di punggung. Kini, tangan kirinya meluncurkan caping itu ke bawah, caping itu berpusing cepat sekali dan meluncur ke arah Thio Kwan yang berada di depan Hong San. Benda berpusing itu mengeluarkan suara mendengung nyaring, menyambar ke arah leher Thio Kwan. Tentu saja dia terkejut bukan main dan ketika dia merendahkan dirinya, benda berpusing itu melewati atas kepalanya dan melayang ke arah orang kedua, yaitu Cio Ban Hok! Dia pun merendahkan tubuh dan benda itu terus melayang kearah Loa Pin yang juga dapat mengelak, akan tetapi benda itu terus melayang berputar-putar sambil berpusing cepat.
Pada saat itu, Hong San sudah menggerakkan pedangnya, mengerahkan tenaganya membabat ke arah tiga batang cambuk yang membelit pinggangnya selagi tubuhnya mulai turun ke bawah.
"Brettttt. !" Tiga batang cambuk itu putus! Karena tadi
cambuk-cambuk itu meregang, dan pemegangnya sedang terkejut dan menaruh perhatian terhadap caping terbang yang berputaran menyerang mereka, maka Hong San dapat membikin putus cambuk-cambuk itu dengan babatan pedang.
Setelah pedang itu membabat putus cambuk, barulah Kim- bwe Sam-houw terkejut dan sadar bahwa mereka telah lengah. Sementara itu, caping yang mulai lemah terbangnya itu ditangkap kembali oleh tangan Hong San dan telah ddikalungkan lagi talinya di lehernya. Kim bwe Sam-houw marah bukan main mereka kembali menyerang, akan tetapi karena cambuk mereka sudah buntung setengahnya lebih, cambuk itu tinggal pendek saja dan terpaksa mereka menyerang dari jarak dekat. Ini tentu saja menyenangkan hati Hong San, karena setelah senjata mereka itu menjadi pendek, dia mendapatkan banyak kesempatan untuk membalas dengan pedang dan sulingnya.
Giok Cu memandang kagum. Pemuda itu memang hebat dan cerdik bukan main. Ia maklum bahwa setelah cambuk- cambuk itu menjadi pendek, tiga orang berpakaian kuning itu bukanlah tandingan yang terlalu berat lagi bagi Hong San. pendapat ini ternyata benar karena tak lama kemudian, tiga orang pengeroyok itu telah berpelantingan. Seorang terkena totokan suling pada dadanya, seorang tergores pedang pada pahanya dan seorang lagi terkena tendangan pada perutnya. Mereka tidak terluka parah, namun jelas bahwa mereka sudah kalah. Dengan muka pucat Kim-bwe Sam-houw terpaksa mundur.
Kini terpaksa ketua Pouw-beng-pang sendiri, yaitu Kim- bwe-eng Gan Lok bangkit dan maju menghadapi Hong San. Diam-diam ketua ini maklum bahwa Hong San memang
seorang pemuda yang lihai. Melihat cara pemuda ini mengalah wakil ketuanya, juga mengalahkan Kim bwe Sam-houw, dia tahu bahwa tingkat kepandaian pemuda ini memang tinggi dan bukan tak boleh jadi dia sendiri tidak akan mampu mengalahkannya. Tingkat kepandaiannya sendiri hanya sedikit di atas tingkat Kim-kauw-pang Pouw Tiong, dan kalau dia harus menghadapi pengeroyokan Kim-bwe Sam-houw, tidak akan sanggup menang! Akan tetapi dia adalah seorang ketua, maka tidak boleh dia memperlihatkan rasa takut. Juga memalukan sekali kalau dia hanya mengerahkan anak buah untuk mengeroyok pemuda ini. Di samping itu, pada waktu itu dia membutuhkan banyak orang-orang pandai untuk membantu gerakannya, dan pemuda ini adalah seorang pandai sekali. Setelah berhadapan dengan Hong San, dia lalu berkata dengan suara yang nyaring berwibawa, akan tetapi tidak mengandung kemarahan seperti tadi.