Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 92

Memuat...

"Ha-ha-ha, kami merasa terhormat dan gembira sekali menerima kunjungan Liu Taijin. Seperti Tai-jin lihat, keadaan di sini baik-baik saja, semua pekerjaan berjalan dengan lancar dan kami selalu berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan pemerintahan yang baik," antara lain Cang Tai-jin berkata dengan menyeringai, sikapnya merendah dan menjilat.

Wajah yang dingin dari Liu Taijin tidak berubah, akan tetapi matanya menatap tajam wajah tuan rumah, lalu terdengar dia berkata, "Akan tetapi bagaimana dengan pelaksanaan pengumpulan tenaga kerja untuk melancarkan jalannya pembangunan terusan, Cang Tai-jin?"

"Ah, hal itu juga terjadi dengan lancar dan baik-baik saja. Bukankah kami telah mengirim ribuan orang pekerja dari daerah kami ini ke tempat pembangunan terusan? Kami sudah membantu banyak. "

"Lalu apa artinya berita yang kami terima tentang pemaksaan tenaga kerja, penekanan dan uang tebusan bagi mereka yang mampu membayar agar terbebas dari tenaga paksaan?" Kini sepasang mata pembesar tinggi kurus dari kota raja itu menatap wajah tuan rumah penuh selidik. Sejenak wajah Si Pembesar Gendut itu berubah agak pucat, akan tetapi dia lalu membungkuk-bungkuk dan menyeringai lebar, lalu berkata lebih lirih.

"Aih, Liu Taijin yang mulia, tidak perlu mempercayai kabar angin seperti itu! Tidak pernah terjadi hal demikian. Memang ada beberapa orang yang kami hukum, akan tetapi mereka itu memang membandel dan memberontakt menghasut penduduk agar tidak membantu pemerintah. Padahal, karmiselalu menyerahkan uang bagi mereka yang menjadi sukarelawan membangun terusan, sesuai dengan perintah atasan kami di kota raja."

"Hemmmmm. mudah-mudahan saja benar apa yang

engkau katakan itu, Cang Taijin," kata Liu Taijin, sikapnya tetap dingin seperti juga wajahnya.

"Aih, Liu Taijin tentu lebih percaya kepada laporan saya daripada lapor an orang-orang yang tidak suka kepada saya bukan? Kami percaya atas kebijaksanaan Liu Taijin agar kelak melaporkan ke kota raja bahwa semua tugas sudah kami laksanakan dengan sebaiknya. Untuk kebaikan hati Liu Taijin ini, kami tentu tidak akan melupakannya. Liu Taijin, sekarang juga kami telah menyediakan bekal untuk Taijin dalam perjalanan pulang, disertai pula dua orang teman seperjalanan yang masih gadis dan merupakan kembang dari seluruh gadis penghibur di daerah kami. Silakan Taijin melihat dan berkenalan dengan mereka!' Berkata demikian, Cang Taijin lalu memberi isyarat kepada seorang pengawalnya. Pengawal ini cepat keluar dari rumah makan dan tidak lama kemudian dia pun kembali mengantar dua orang gadis yang berusia antara lima belas dan delapan belas tahun, berwajah cantik berkulit putih mulus. Selain dua orang gadis itu, ada empat orang pengawal menggotong sebuah peti yang kelihatan berat.

Cang Taijin menyuruh dua orang gadis itu duduk di atas bangku di kanan kiri Liu Taijin. Sebagai dua orang gadis hiburan yang terlatih baik, walaupun mereka masih gadis, dua orang itu dapat menyuguhkan arak dan menyumpitkan daging dengan gaya yang manis memikat. Kemudian, Cang Taijin menyuruh Pengawal membuka tutup peti dan nampaklah barang-barang yang amat berharga di dalam peti itu, bongkahan-bongkahan emas dan perak, juga gulungan sutera dan perhiasan yang serba mahal, hanya sebentar saja peti itu dibuka, lalu ditutup kembali.

Liu Taijin mengelus jenggotnya, tersenyum dingin biarpun diapit dua orang gadis yang hangat. "Hemmm, apa artinya pemberian ini, Cang Taijin? Apa yang telah kulakukan maka engkau memberi hadiah sebanyak ini?"

Cang Taijin menyeringai. "Aih, Taijin yang mulia. Sumbangan ini tidak ada harganya kalau dibanding dengan jasa Taijin membuat laporan yang baik ke kota raja tentang pekerjaan saya. Biarlah kelak saya berkesempatan untuk dapat menghaturkan sumbangan yang lebih banyak."

Liu Taijin mengangguk-angguk para gadis penghibur melanjutkan tarian dan nyanyian mereka, pesta pora dilanjutkan. Karena merasa tidak enak kalau terlalu lama duduk di ruangan samping akhirnya sebelum dua orang pejabat tinggi itu mengakhiri pesta mereka, Giok Cu memanggil pelayan untuk membayar harga makannya.

"Biarlah saya yang membayarnya sekalian, Nona, tentu saja kalau Nona tidak berkeberatan, sebagai tanda perkelan kita. Hei, pelayan, hitunglah semua harga hidangan kami berdua!" kata Hong San.

Giok Cu tersenyum. "Hemm, agaknya engkau meniru pembesar gendut itu!" Hong San juga tertawa, akan tetapi dia membayar harga makanan dan minuman kedua meja itu kepada pelayan, kemudian, seperti dengan sendirinya dan sewajarnya, mereka keluar dari tempat itu bersama. Setelah tiba di luar rumah makan, Hong San berkata lirih.

"Nona Bu, aku ingin menghadang kereta pembesar kurus itu di luar kota dan menyerangnya. Bagaimana pikiranmu?" Giok Cu terkejut dan memandang kepada pemuda itu dengan heran. "Sungguh aneh sekali! Aku pun mempunyai niat demikian! Bagaimana jalan pikiran kita dapat sama?"

Hong San tersenyum gembira. "Ini namanya bahwa kita memang berjodoh untuk menjadi sahabat baik dan bekerjasama!"

Giok Cu merasa betapa jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas rnendengar ucapan itu, akan tetapi karena sikap pemuda itu sopan, ia pun segera mengalihkan percakapan. "Ingin aku mengetahui, untuk apa engkau menghadang dan menyerangnya?"

Hong San adalah putera kandung di murid Cui-beng Sai- kong, seorang datuk besar dunia hitam, namun dia Cerdik bukan main dan dia tahu bahwa kepada seorang wanita seperti Giok Cu yang agaknya seorang pendekar wanita dia harus mampu menggunakan kedok seorang budiman. "Nona, peti hadiah itu berisi emas, perak dan barang berharga. Tidak pantas dan sayang sekali kalau barang berharga itu jatuh ke tangan pembesar pemakan sogokan seperti dia! Itu tentulah harta hasil korupsi, hasil pemerasan para pembesar itu dari rakyat. Maka, aku akan merampas peti itu Nona."

Giok Cu mengangguk-angguk. "Akan tetapi aku hendak menghadangnya untuk membebaskan dua orang gadis yang di hadiahkan tadi."

Post a Comment