Sejak tadi Han Beng sudah mempertimbangkan hal itu dan tanpa ragu lagi dia mengangguk. "Baiklah, Tai-jin. Tugas itu saya terima, akan tetapi saya tidak mau terikat sebagai seorang pekerja pemerintah, melainkan hanya membantu demi kepentingan rakyat jelata."
"Bagus, kami mengerti pendirian pen¬dekar seperti engkau, Tai-hiap. Nah, kami akan melanjutkan perjalanan dan tak lama lagi setelah mendapatkan keterangan-keterangan darimu, baru kami akan turun tangan menindak Cang Tai-jin. Penindakan itu kami tangguhkan karena kami ingin mendengar dulu hasil penyelidikanmu tentang pemberontak itu, apakah dia terlibat ataukah tidak. Kalau hendak menghubungi kami, dapat engkau berhubungan dengan pedagang obat Kui Siong yang membuka kedai obat di kota Siong-an. Dia adalah seorang petugas kami yang kami percaya."
Han Beng mengangguk-angguk ketika pejabat itu hendak memberikan uang emas sebagai bekal dia melakukan tugas itu, Han Beng dengan halus menolak. Hal ini membuat Liu Tai- jin menjadi semakin kagum dan mereka pun berpisah. Pejabat itu naik kereta dikawal oleh seratus orang perajurit meninggalkan tempat itu, sedangkan Han Beng juga cepat pergi kembali ke tempat dimana dia tadi menolong rombongan Liu Taijin.
ooOOoo
Giok Cu melakukan perjalanan perlahan-lahan meninggalkan sarang perkumpulan Pouw-beng-pang itu. Banyak hal yang membuat ia termenung. Pertama ia teringat kepada Can Hong San. Seorang pemuda yang hebat, pikirnya. Ilmu silatnya lihai bukan main, juga amat cerdik seperti telah dilihatnya ketika melawan tokoh-tokoh Pouw-beng-pang. Sayang bahwa pemuda seperti itu kini terlibat dalam kelompok yang agaknya hendak memberontak terhadap pemerintah, pikirnya, la merasa menyesal mengapa ia tidak dapat mencegah pemuda itu melibatkan diri. Akan tetapi hal itu bukan urusannya, pikirnya. Betapapun juga, ada perasaan kecewa dan menyesal melihat pemuda itu kini bersekutu dengan pemberontak, la sudah nulai tertarik kepada pemuda yang tampan dan gagah perkasa itu.
Kemudian, peristiwa pertempuran dalam hutan itu terbayang kembali dan teringatlah ia kepada lawan yang tangguh itu. Seorang pemuda tinggi besar yang amat gagah perkasa! Betapa lihainya pemuda itu, yang mampu menahan pengeroyokan ia dan Hong San! Jelaslah bahwa pemuda tinggi besar yang melindungi pembesar Liu itu adalah seorang yang benar-benar sakti! Bahkan Can Hong San sendiri kewalahan menghadapinya. Padahal, pemuda tinggi besar itu hanya mempergunakan senjata sabuk saja, bahkan kemudian diganti sebatang ranting kayu sebagai tongkat. Ilmu tongkat yang amat aneh akan tetapi juga lihai bukan main. Sayang bahwa pemuda segagah itu hanya menjadi antek seorang pembesar korup yang makan sogok; seperti Liu Tai-jin! Hal ini mengingatkan ia akan dua orang gadis yang oleh Cang Tai-jin diberikan sebagai suapan kepada Liu Tai-jin dan hati Giok Cu menjadi panas sekali. Kalau tidak ada pemuda tinggi besar itu, tentu ia sudah berhasil membebaskan dua orang gadis itu. Sekarang entah bagaimana nasib dua orang gadis remaja yang bernasib malang itu. Hemmm, kalau ia bertemu lagi dengan pemuda tinggi besar yang meng gagalkan pertolongannya kepada dua orang gadis itu, tentu akan ditantang¬nya berkelahi sampai dia berhasil merobohkannya! Kemudian ia teringat bahwa Orang-orang Hui menyebutnya Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)! Sayang, pikirnya dengan hati menyesal. Mengapa ketika berada di perkumpulan Houw-beng-pang tadi ia tidak mencari keterangan lebih jelas tentang Huang-ho Sin-liong itu?
Tiba-tiba gadis perkasa itu menahan langkah kakinya dan memiringkan sedikit kepalanya karena ia mengerahkan pendengarannya. Ada tertangkap oleh telinganya yang amat peka itu suara kaki banyak orang berlari ke arahnya dari belakang. Ia tidak menyangka buruk, akan tetapi sebagai seorang gadis ahli silat yang berkelana di dunia kang-ouw seorang diri, ia harus selalu berhati-hati. Melihat betapa ia berada di tempat terbuka, tempat yang berbahaya bagi seseorang kalau menghadapi pengeroyokan, dan melihat betapa tak jauh di depan ada sebuah hutan kecil yang penuh dengan pohon besar, ia pun lalu berloncatan lari ke depan, memasuki hutan kecil lalu menanti di situ karena bukan maksudnya untuk melarikan diri. Ia hanya ingin berhati-hati. Kalau sampai bahaya dan ia dikeroyok banyak orang jauh lebih baik kalau ia berada di antara pohon-pohon daripada kalau ia berada tempat terbuka, di mana para pengeroyok akan lebih leluasa.
Tak lama kemudian nampaklah serombongan orang, belasan orang yang berlari cepat melalui tempat terbuka tadi. memandang heran ketika melihat bahwa mereka itu bukan lain adalah Can Hong San yang diikuti oleh para pimpin Pouw- beng-pang dan sekutu mereka! Semua berjumlah tiga belas orang. Can Hong San, Kim-bwe-eng Gan Lok ketua perkumpulan itu, Kim-kauw-pang Pouw Tiong wakilnya, tiga orang Kim-bwe Sam-houw, Yalami Cin, dan enam orang lainnya. Dan melihat cara mereka berlari, jelas bahwa mereka semua memiliki tingkat kepandaian silat yang tinggi. Karena melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang baru saja ditinggalkann dalam suasana yang bersahabat, tidak ada kecurigaan dalam hati Giok Cu dan ia pun cepat bangkit dan berdiri memandang mereka.
"Nona, Bu, tunggu dulu. !" terdengar Can Hong San
berseru dan tiga belas orang itu segera berlarian menghampirinya. Mendengar ucapan itu dan melihat sikap mereka, diam-diam Giok Cu merasa heran. Kiranya mereka itu agaknya memang sengaja mengejarnya!
"Ada keperluan apakah kalian menyusulku?" tanyanya dengan sikap tenang, namun penuh waspada karena ia mulai merasa curiga.
"Nona Bu Giok Cu, kami sengaja mengejarmu karena sekali lagi kami mengharap agar engkau suka membantu perjuangan kami. Nona, kami membutuhkan bantuanmu dan demi kepentingan rakyat jelata, kuharap engkau suka menerima uluran tanganku dan membantu kami, bekerja sama dengan kami, Nona." Pemuda itu tersenyum manis dan pandang matanya penuh gairah.
Giok Cu mengerutkan alisnya. Ia bukanlah gadis yang masih hijau. Sama sekali tidak. Biarpun ia masih muda, namun ia adalah bekas murid Ban-tok Mo-li! Selama lima tahun ia digembleng oleh datuk sesat itu dan ia hidup dikalangan golongan hitam sehingga tentu saja ia sudah terbiasa oleh sikap pura-pura dan palsu dan mudah saja ia mengenal sikap pura-pura ini. Maka, melihat senyum dan pandang mata Hong San, diam-diam ia terkejut dan muak. Kiranya pemuda ini memiliki niat yang cabul terhadap dirinya! Hal itu mudah saja dapat ia ketahui melalui pandangan mata dan senyum itu.
"Hemmm, Saudara Can Hong San, sungguh engkau aneh sekali. Bukankah disana tadi sudah kukatakan dengan jelas bahwa aku tidak mau terlibat dengan urusan kalian? Aku mempunyai tugas pribadi yang penting, dan aku tidak mau bekerja sama dengan kalian. Jelaskah? Gadis berwajah cantik jelita yang miliki watak lincah itu, tersenyum mengejek sambil menatap tajam wajah Hong San.
"Aih, Nona yang baik. Kenapa engkau berkeras menolak? Ketahuilah, kalau engkau menolak, terpaksa kami menahan engkau pergi meninggalkan tempat ini!"
Sepasang mata bintang itu terbelalak, namun sinarnya seperti mencorong karena ia mulaimarah. "Alasannya?" tanyanya singkat.
"Kami mencurigai bahwa tugas pribadimu itu bukan lain adalah tugasmu bagai mata-mata pemerintah! Siapa tahu engkau ini diam-diam merupakan kaki tangan para pembesar, seperti pemuda tinggi besar yang melindungi Liu laijin itu."
Tiba-tiba Giok Cu tertawa, suara tawanya lirih dan sopan, namun ia tertawa bebas, tidak malu-malu dan tertahan seperti kebiasaan para gadis. Hal ini adalah karena ia pernah hidup seperti liar bersama guru pertamanya, yaitu Ban-tok Mo-li. Setelah tertawa, ia pun ".berkata dengan suara lantang. "Bagus, bagus! Sungguh alasan yang dicari-cari. Katakan saja, Can Hong San, bahwa engkau hendak menjual lagak didepan orang-orang ini, dan katakan saja engkau menantang aku! Hemmm, jangan kaukira aku takut menghadapi pedang, suling, dan capingmu itu! Majulah!" Giok Cu sudah meloncat ke belakang dan mencabut pedangnya. Melihat pedang gadis itu, semua orang hampir mentertawakannya. Sebatang pedang tumpul! Pedang yang kuno, buruk dan tumpul, bagaimana pedang macam itu dapat diandalkan sebagai senjata? Untuk mengiris mentimun pun agaknya tidak akan tembus!
Para pimpinan Pouw-beng-pang sudah siap untuk mengeroyok dan melihat ini, kembali Giok Cu tertawa mengejeki "Heh-heh, kiranya yang bernama Can Hong San hanyalah banyak lagak dan seorang pengecut besar, beraninya mengandalkan keroyokan. Cih, kalian ini belasan orang laki-laki pengecut tak tah malu!"
Tiga belas orang itu saling pandang dan muka mereka berubah merah. Bagaimanapun juga, mereka adalah orang- orang yang terkenal dengan ilmu kepandaian mereka yang tinggi, terkenal sebagai jagoan-jagoan. Tentu saja amat memalukan kalau sekarang mereka mengeroyok seorang gadis muda! Yang merasa paling malu adalah Hong San. Dia biasanya menyombongkan dan mengandalkan ilmu-ilmunya, tentu saja ucapan yang amat menghina itu dirasakannya sebagai suatu tamparan keras pada mukanya. Mukanya yang tampan itu berubah, penuh kerut merut sehingga nampak buas dan kejam, matanya menjadi kemerahan pula, dengan lenyaplah senyumnya, hidungnya yang besar itu kembang kempis seperti hidung kuda, sinar matanya mencorong aneh dan tiba-tiba dia menangis! Tentu saja semua yang memandang dengan heran. Seperti seorang anak-anak yang ngambek, Hong San melangkah maju menghampiri Giok Cu dan berkata merengek. "Kau .......... kau menghinaku. uhu-hu, kau
menghinaku. !"
Giok Cu terkejut dan terheran, lalu tersenyum mengejek. "Engkau memang pantas dihina, engkau orang gila!"
Dan tiba-tiba saja pemuda itu tertawa bergelak! Sikap ini tentu saja membuat semua orang merasa seram. Ha-ha-ha, Nona Bu Giok Cu, kami mengajakmu baik-baik, engkau menolak malah menghina. Hemmm, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan dan kalau engkau kalah olehku, berarti engkau menjadi tawananku dan engkau harus taat kepadaku, tunduk dan mentaati semua perintahku. Mengerti?"
"Can Hong San, kiranya engkau bukan saja pengecut besar, akan tetapi juga gila dan amat jahat. Engkau srigala berbulu domba, sungguh berbahaya sekali dan sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi manusia iblis macam engkau. Majulah dan tidak perlu banyak cerewet lagi!" Pada dasarnya, Giok Cu memang seorang gadis yang lincah dan pandai bicara, maka Hong San merasa kewalahan untuk saling serang melalui kata-kata. Akan tetapi dia melihat pedang tumpul di tangan gadis itu dan dia lalu menyimpan pedang dan sulingnya.
"Hemmm, Manis, lihat. Menghadapi pedang tumpul itu, aku tidak akan mengunakan senjata!"
Melihat ini, Giok Cu juga menyimpan kembali pedangnya. "Tak perlu berlagak, kaki tanganku juga cukup kuat untuk menghajarmu tanpa senjata!"
Giranglah hati Hong San bahwa dia berhasil memancing sehingga gadis itu mau berkelahi tanpa senjata. Dia tidak ingin melukai gadis ini, dan kalau mungkin dia akan menundukkannya tanpa melukai. Sayang kalau sampai kulit yang halus mulus itu lecet apalagi terluka berdarah. Dia sudah membayangkan bahwa malam ini tentu gadis itu akan berada dalam rangkulannya. Betapapun lihainya gadis itu, menghadapi mereka yang tiga belas orang banyaknya, mustahil ia akan mampu melepaskan diri! Begitu Giok Cu berhenti bicara, tanpa banyak cakap lagi tiba-tiba Hong San sudah menerjang dengan tubrukan seperti seekor harimau menubruk seekor domba. Kedua tangannya mencengkeram dari kanan kiri ketika tubuhnya meloncat dan menerkam ke arah Giok Cu.
Melihat cara penyerangan macam itu, Giok Cu tersenyum mengejek. Dikiranya ia gadis macam apa dapat diserang secara kasar seperti itu? Dengan sigap ia menggeser tubuh ke kiri, lalu dari arah kanan tubuh lawan yang masih meloncat itu, mengirim pukulan bertubi dengan kedua tangan, yang kiri menghantam pelipis yang kanan menghantam lambung, kakinya menyusul gerakan itu dengan tendangan kilat!
Tentu saja Hong San terkejut bukan main. Dia telah keliru menilai lawan dan kini dia sendirilah yang menjadi sibuk bukan main. Tubuhnya masih di udara dan lawan telah mengirim serangan kilat bertubi. Dia sibuk mengelak menangkis, akan tetapi karena tubuhnya masih di udara, ketika tangannya menangkis tendangan, tubuhnya terpental jauh hampir saja dia terbanting kaiau dia tidak cepat berjungkir balik sampai lima kali! Dia tidak terluka, akan tetapi terkejut setengah mati, dan dia pun marah. Tahulah dia sekarang bahwa Giok Cu adalah seorang gadis yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sambil mengeluarkan suara menggereng nyaring dia sudah meloncat ke depan Giok Cu. Gerengan ini bukan sekedar yang dikeluarkan karena marah, melainkan suatu ilmu yang diwarisi dari ayahnya, yaitu yang disebut Sai-cu Ho-kang (Suara Auman Singa). Pengaruh dari gerengan ini hebat sekali sehingga sekali seekor singa menggereng, calon korbannya sudah menjadi lumpuh dan tidak mampu lari lagi!
Akan tetapi, sebagai seorang murid dari tokoh sakti Hek-bin Hwesio, tentu saja Giok Cu tidak terpengaruh oleh gerengan yang mengandung kekuatan khi-kang itu. Ia mengerahkan sin- kangnya dan hanya memandang dengan senyum simpul, seperti seorang dewasa melihat tingkah brengsek seorang anak-anak yang nakal.