Siong Ki mencabut pedangnya dan tampaklah sebatang pedang yang tua dan tumpul, namun mengandung sinar yang dingin redup seperti sinar bintang
Itulah Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) yang ampuh, milik Bu Giok Cu yang dititipkannya kepada murid itu untuk dipakai mencari Si Hong Lan yang le nyap diculik Kwa Bi Lan
Bagaimanapun juga, Lie Koan Tek adalah seorang pendekar yang gagah perkasa
Dia tidak ingin mengingkari perbuatannya sendiri
Memang dia ikut menyerbu He k-houw-pang
Dia kini harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya itu
Juga dia ditantang, sebagai seorang pendekar, te ntu saja pantang mundur kalau ditantang
Baiklah, orang muda
Aku tidak akan lari dari tanggung-jawab!
katanya dan diapun sudah melolos sabuk rantai bajanya dan bersiap
Siong Ki, jangan.........!!
Coa Liu Hwa mencoba untuk mencegah
Bibi sudah mengkhianati Hek-houw-pang, harap jangan ikut campur!
kata pemuda itu dengan suara ketus
Orang muda, engkau te rlalu menghina isteriku!
Lie Koan Tek berseru marah
Kalau engkau hendak menyerangku, majulah!
Siong Ki segera menggerakkan pedangnya menyerang dan begitu dia menyerang, Lie Koan Tek te rkejut karena serangan itu selain cepat bagaikan kilat menyambar, juga mendatangkan hawa yang amat kuat
Dia memutar sabuk rantai bajanya menangkis sambil mengerahkan tenaga pula
Tranggg!!!
Pertemuan antara pedang tumpul dan rantai baja itu sedemikian kuatnya sehingga menggetarkan tubuh Liu Hwa yang menonton dengan cemas, dan ia melihat betapa suaminya te rhuyung ke belakang, sedangkan pemuda itu tetap te gak
Ini saja sudah menunjukkan bahwa dalam hal tenaga sin-kang, pemuda itu le bih kuat! Juga Lie Koan Tek memaklumi hal ini, maka dia bersikap hati-hati
Siong Ki merasa mendapat angin
Dia tersenyum mengejek,
Lie Koan Tek, kalau dulu engkau tidak membunuh orang-orang He k-houw-pang, sekarangpun, melihat muka bibi Liu Hwa, aku tidak akan membunuhmu, hanya akan memberi hajaran kepadamu sebagai hukuman!
Setelah berkata demikian dia menyerang dengan dahsyat dan bertubi-tubi
Pedangnya lenyap menjadi gulungan sinar yang berkilauan
Lie Koan Tek juga menggerakkan rantai baja itu untuk membentuk bente ng perlawanan yang kokoh, karena dia maklum bahwa mengnadapi pedang yang ampuh dan ilmu pedang hebat itu, dia akan cepat roboh kalau membalas
Melihat suaminya terdesak dan te rancam, Liu Hwa tidak mungkin dapat berdiam diri saja
Iapun mencabut pedangnya menerjang ke depan sambil berte riak,
Siong Ki, engkau tidak boleh menghina suamiku!
Siong Ki memutar pedangnya menangkis dan mengejek,
Bagus, sekarang pengkhianatanmu sudah lengkap, bibi Liu Hwa, dan biarlah aku mewakili arwah suamimu untuk memberi pelajaran kepadamu pula!
Pedangnya bergerak cepat secara luar biasa sekali dan terdengar Liu Hwa berseru kesakitan lalu te rhuyung ke belakang karena pangkal le ngan kanannya te rluka oleh ujung pedang lawan
Melihat isterinya te rluka, Lie Koan Tek lalu memutar rantai bajanya menyerang dengan dahsyat sehingga terpaksa Siong Ki menangkis sambil mundur dan tersenyum mengejek
Biarlah hari ini orang-orang yang berdosa menerima hukumannya!
katanya dan kembali pedangnya bergerak luar bias a sekali, membuat Lie Koan Tek menjadi bingung dan biarpun dia sudah memutar rantai bajanya dengan cepat, tetap saja pundaknya te rkena ujung pedang lawan dan dia te rhuyung dan pundak kirinya berdarah
Siong Ki tertawa
Ha-ha-ha, kalian rasakan sekarang! Lie Koan Tek dan engkau bibi Liu kalau kalian mau mengakui kesalahan kalian di hadapanku, aku akan mengampuni kalian dan membebaskan kalian
Akan te tapi kalau kalian tidak mengakui kesalahan, te rpaksa aku akan memberi hajaran lebih keras lagi.
Suami isteri itu saling pandang
Bagi oran g yang menghargai kegagahan seperti mereka, merendahkan diri dan kehormatan merupakan pantangan
Hampir berbareng mereka berseru,
Kami tidak sudi!
Wajah Siong Ki menjadi merah saking marahnya
Hemm, orang-orang tak bermalu masih mempertahankan kehormatan
Kalau begitu, biar kuberi pelajaran yang lebih pahit lagi
Siapkan senjata kalian!
Suami isteri itu telah berdiri berdampingan dengan senjata di tangan, siap untuk melawan sampai mati
Hyaaaaatttt........!
Tubuh Siong Ki menerjang dahsyat dan pedangnya menyambar bagaikan kilat
Tranggg.......!!
Siong Ki terkejut setengah mati ketika pedangnya berte mu dengan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kehijauan mengandung hawa dingin
Ketika dia meloncat ke belakang karena merasa tangannya te rgetar hebat dan memandang, te rnyata yang menangkis pedangnya tadi adalah Cin Cin!
Kau.......?
Akan tetapi Cin Cin tidak memberi kesempatan lagi kepada Siong Ki untuk bicara, karena ia segera menyerang dengan dahsyat bukan main, sehingga terpaksa Siong Ki harus memutar pedangnya untuk melindungi dirinya
Serangan yang dilakukan Cin Cin amat hebatnya dan setiap kali mereka beradu pedang, Siong Ki merasa betapa seluruh lengannya tergetar hebat
Dia melompat agak jauh ke belakang
Aku.....aku tidak ingin berkelahi denganmu, aku hanya akan memberi pelajaran.....
Kembali Siong Ki tidak dapat melanjutkan katakatanya karena begitu tangan kiri Cin Cin bergerak, belasan batang jarum yang bersinar menyambar ke arah tubuh pemuda itu
Siong Ki te rkejut dan cepat melompat jauh ke kiri
Kalau Cin Cin maju membela ibunya dan dia dikeroyok tiga, sudah pasti dia akan terancam bahaya
Melawan Cin Cin seorangpun belum tentu dia menang, maka mengingat bahwa dia telah melukai Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa, yang te ntu akan membuat Cin Cin marah sekali, dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri! Cin Cin tidak mengejarnya, hanya berdiri mematung, memandang ke arah perginya pemuda itu membelakangi suami isteri itu dengan sikap acuh
Coa Liu Hwa dan suaminya saling pandang, kemudian Liu Hwa yang kini timbul pula harapan dan dugaannya bahwa gadis itu adalah pute rinya, segera menghampiri dan menegur dengan suara gemetar
Kau.....kau.....Kam Cin
Cin Cin.....?
Mendengar suara ibunya memanggilnya, Cin Cin merasa jantungnya seperti diremas
Betapa inginnya menubruk dan merangkul ibunya yang selama ini amat dirindukannya, akan tetapi di situ ada Lie Koan Tek dan ia masih merasa penasaran
De ngan perlahan ia memutar tubuh menghadapi ibunya, mukanya menjadi pucat akan tetapi sikapnya masih dingin dan ia hanya menatap wajah ibunya, tanpa menjawab dan tanpa memperlihatkan gejolak perasaannya
Liu Hwa yang kini tidak ragu lagi bahwa gadis ini adalah pute rinya yang hilang, berkata lagi, suaranya bercampur is ak,
.
..Cin Cin......lupakah engkau kepadaku
Lupakah.........engkau pada.......ibumu.....
Aku ibumu......
Bukan! Engkau bukan ibuku!
Cin Cin berseru dengan suara lantang seperti berte riak, karena suaranya itu memang langsung keluar dari perasaan hatinya
Cin Cin! Engkau pasti Cin Cin anakku! Aku ibumu, anakku.....
Liu Hwa berkata dengan air mata bercucuran, namun ia masih belum berani mendekat, karena sebelum gadis itu mengaku bahwa ia benar Cin Cin, tentu s aja ia belum yakin benar
Hemm, kalau benar engkau ini ibuku, kenapa engkau membiarkan anakmu hidup te rlantar sendiri sampai belasan tahun, sedangkan engkau sendiri bersenang-senang dan enak-enakan menikah lagi dengan seorang laki-laki lain
Mana ada seorang ibu seperti itu
Melupakan suami yang te was melupakan anak yang hilang, sebaliknya bersenang-senang sendiri?
Liu Hwa yang mendengar ucapan penuh penyesalan itu, merasa betapa dadanya seperti ditusuk-tusuk, ia hanya dapat membelalakkan mata memandang kepada anaknya dengan air mata bercucuran
Melihat ini, Lie Koan Tek maju dan berkata dengan suara tegas
Nona, engkau tidak berhak bicara seperti itu kepada isteriku!
Kini Cin Cin menoleh kepadanya dan te rsenyum mengejek
Bagus! Engkau merasa dirimu besar karena engkau te rkenal sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai dan bersikap gagah
Huh, menurut pendengaranku tadi, engkau ikut menyerbu Hekhouw-pang dan ikut membasmi He k-houw-pang, kemudian engkau membunuh ketua He k-houwpang dan melarikan is terinya, lalu memaksa isteri ketua Hek-houw-pang menjadi isterimu! Dan sekarang engkau masih gagah-gagahan berlagak membelanya
Pendekar macam apa engkau ini?
Cin Cin......ahhh.......Cin Cin.......jangan berkata demikian.....
Liu Hwa menje rit, terkulai dan pingsan dalam rangkulan suaminya yang cepat meloncat mendekatinya
Lie Koan Tek memondong tubuh yang pingsan itu, meenoleh kepada Cin Cin dan bertanya,
Beginikah sikap seorang anak yang baik, membalas budi seorang ibu kandung dengan sikap sekejam ini
Kalau ia sampai mati, maka engkaulah pembunuh ibu sendiri!
Setelah berkata demikian, Koan Tek membawa isterinya ke bawah sebatang pohon di mana tumbuh rumput tebal dan merebahkan tubuh Liu Hwa di atas rumput, lalu menotok beberapa jalan darah dan mengelus te ngkuknya
Liu Hwa kini bernapas le mbut dan te ratur, agaknya ia tertidur
Ketika Lie Koan Tek melihat gadis itu mengikutinya dan kini duduk di atas akar pohon sambil memandang isterinya dengan bingung, diapun bertanya dengan suara kaku
Kenapa engkau mendekat
Apakah engkau masih penas aran dan hendak membunuh aku dan isteriku
Silakan kalau begitu.
Akan te tapi, melihat ibunya roboh pingsan agaknya semua kemarahannya le nyap atau setidaknya mereda dari hati Cin Cin
Ingin ia menubruk dan menangisi ibunya, akan tetapi panasnya hati membuat ia masih menahan perasaannya dan ia memandang kepada Lie Koan Tek
Me ngingat namamu yang besar sebagai pendekar Siauw-lim-pai, demi kehormatan Siauwlim-pai, ceritakanlah apa yang te lah terjadi dan mengapa pula ibuku sampai dapat menjadi isterimu!
Koan Tek maklum bahwa semua harus diceritakan kepada gadis ini untuk mengobati hati itu yang agaknya terluka hebat
Sambil duduk di atas rumput, berhadapan dengan gadis bertangan kiri buntung itu, Koan Tek menceritakan keadaan dirinya
Nona, engkau te ntu sudah mendengar akan malapetaka yang menimpa Siauw-lim-pai belasan tahun yang lalu, bukan