Akan tetapi, Lok-yang Su-liong adalah tokohtokoh sesat, maka seperti para tokoh sesat lainnya, watak mereka sombong
Mereka sudah te rbiasa memaksakan kehendak dengan kekerasan, dan apabila orang tidak melawan mereka, mereka anggap bahwa orang itu takut terhadap mereka! Kini, melihat betapa gadis lengan buntung itu diam saja, melirikpun tidak, mereka mempunyai dua macam dugaan
Pertama, gadis itu bukan pendekar wanita yang telah mengusir Bi Tok Siocia, dan ke dua, kalau benar ia pendekar wanita itu, tentu merasa jerih untuk berlagak di kota Lokyang dan takut terhadap mereka! Sementara itu, Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa diam-diam merasa mendongkol sekali melihat sikap empat orang itu
Mereka belum yakin bahwa gadis itu adalah orang yang mereka cari, akan tetapi melihat gadis itu diam saja dan empat orang itu mengeluarkan ejekan-ejekan, tentu s aja mereka berpihak kepada si gadis le ngan buntung
Bahkan Liu Hwa merasa amat penasaran
Gadis itu tadi menunduk saja, seperti tenggelam dalam lamunan penuh duka, maka tidak pernah memperhatikan keadaan sekelilingnya
Tentu gadis itu belum melihatnya
Kalau gadis itu memang benar anaknya, te ntu akan mengenalnya
Bagai seorang wanita yang sudah menjadi ibu seperti dirinya, waktu enambelas tahun tidak akan mendatangkan banyak perubahan, berbeda dengan perbedaan antara seorang kanak-kanak berusia lima tahun yang kini menjadi seorang gadis berusia dua puluh satu tahun! Ia tentu tidak banyak berubah dan Cin Cin pasti akan mengenalnya
Eh, twako! Jangan-jangan pendekar wanita buntung itu juga gagu atau tuli, ha-ha-ha!
seorang di antara empat jagoan itu mengeluarkan ucapan yang nyaring dan penuh ejekan, jelas ditujukan kepada gadis buntung itu karena mereka berempat memandang ke arah gadis itu sambil tertawa-tawa
Andaikata gadis itu bukan pute rinya sekalipun, sikap empat orang ini cukup membuat hati Coa Liu Hwa menjadi panas dan marah
Sebelum dicegah suaminya yang ia tahu amat sabar dan tenang, dari te mpat duduknya iapun berkata dengan nada suara lantang
Bubur ayam di rumah makan ini enak dan air te hnya juga sedap, hanya sayang sekali ada empat ekor lalat besar yang bau busuk dan suaranya memualkan perutku! Dan ada empat ekor cacing mengaku naga, sungguh menje mukan sekali!
Lie Koan Tek terkejut akan tetapi tidak mampu mencegah isterinya yang sudah bicara dengan suara dan nada keras itu
Juga Cin Cin terkejut, bukan saja oleh kata-kata itu, melainkan terutama sekali ole h suara itu
Ia masih mengenal suara itu dan iapun melirik
Hampir saja ia melonjak dari te mpat duduknya ketika ia mengerling dan melihat wanita yang duduk di luar itu
Akan tetapi, melihat wanita itu duduk dengan seorang pria berusia enampuluhan tahun yang tinggi bes ar berewok dan amat gagah perkasa, iapun menahan diri dan purapura tidak mengenal
Ibunya! Jelas ia tidak ragu lagi
Wanita itu adalah ibunya dan pria yang duduk di sebelahnya itu siapa lagi kalau bukan pendekar Siauw-lim-pai yang bernama Lie Koan Tek, yang kini menjadi suami ibunya.! Perasaan haru dan gembira dalam hati Cin Cin segera tertutup oleh rasa sesal dan cemburu
Semenjak dusun Ta-bun-cung di mana perkumpulan He k- houw-pang diserbu penjahat sehingga ayahnya, Kam Seng Hin, ketua Hekhouw-pang te was, ibunya entah pergi ke mana
Kemudian, ia sendiri menderita kehidupan yang amat pahit dan hampir saja celaka di tangan Cia Ma! Kalau tidak bertemu dengan Tung-hai Mo-li, mungkin ia kini telah dipaksa menjadi pelacur! Ia hidup menderita, dan ibunya! Ibunya yang kematian suami itu bahkan telah menggandeng seorang pria baru, suami baru! Ia menderita sengsara dan ibunya malah bersenang-senang
Kemarahan ini yang membuat Cin Cin diam saja, pura-pura tidak mengenal ibunya sendiri
Padahal sebelum pertemuan ini, ia amat merindukan ibunya
Empat orang jagoan itu serentak bangkit dari te mpat duduk mereka dan memutar tubuh memandang ke arah wanita yang berani mengeluarkan kata-kata seperti itu terhadap mereka
Dan mereka melihat wanita yang setengah tua, sudah mendekati limapuluh tahun namun masih cantik dan gagah, duduk memandang kepada mereka dengan senyum mengejek, sedangkan di dekat wanita itu duduk seorang lakilaki gagah perkasa yang na mpak tenang dan masih makan bubur ayamnya
Sebaliknya, wanita itu memandang kepada mereka dengan bibir te rsenyum mengejek mata menantang! Coa Liu Hwa merasa kecewa sekali karena tadi ia memperhatikan ke arah gadis buntung dan melihat betapa gadis itu mengerling kepadanya
Akan tetapi, gadis itu te nang saja dan agaknya sama sekali tidak mengenalnya! Kalau begitu, gadis bukan Cin Cin, bukan puterinya! I ngin ia menangis rasanya, begitu kecewa dan penasaran
Maka rasa penas aran ini ia tumpahkan kepada empat orang itu, tidak perduli betapa suaminya mencegahnya dengan pandang mata
Heii, kalian empat orang sialan! Mau apa engkau melotot dan memandang kepadaku
Apakah kalian menantang?
Tentu saja Lie Koan Tek te rkejut bukan main
Bias anya, is terinya agak pendiam dan tidak suka mencari perkara
Dia dapat menduga tentu isterinya bersikap seperti itu untuk memancing perhatian gadis buntung itu
Diapun melihat betapa gadis itu bersikap acuh saja
Padahal kalau benar gadis itu pute ri isterinya, te ntu kini telah mengenal ibu kandungnya
Si jangkung kurus yang menjadi orang pertama dari Lok-yang Su-Liong, tak dapat menahan kemarahannya yang berkobar sejak pertama kali Liu Hwa bicara tadi
Heii, nyonya! Apakah engkau menghina kami Lok-yang Sui-liong
Siapakah engkau berani bersikap begini kurang ajar kepada kami?
Liu Hwa juga bangkit berdiri dan bertolak pinggang, sikap yang sungguh aneh dan asing bagi Lie Koan Tek, akan tetapi diapun dapat menduga bahwa perubahan sikap isterinya ini semata-mata ingin menarik perhatian gadis itu
Hemm, kalian berjuluk demikian besar, Empat ekor Naga Lok-yang, akan te tapi sikap kalian menghina orang seperti cacing-cacing tanah saja! Seolah-olah di dunia ini tidak ada orang berani kepada kalian
Aku seorang murid He k-houw-pang sama sekali tidak takut!
Biarpun ia bicara kepada empat orang itu, ketika mengatakan bahwa ia murid He k-houw-pang, ia melirik ke arah gadis buntung itu, akan te tapi gadis itupun masih tetap duduk dengan tenang
Perempuan sombong!
Seorang di antara Lokyang Su-liong membentak
Dia berusia empatpuluh tahun, bertubuh pendek gendut dan merupakan orang te rmuda di antara mereka, juga wataknya mata keranjang
Kalau saja engkau duapuluh tahun lebih muda, te ntu akan kuhukum dengan menemaniku selama beberapa malam, ha-ha-ha!
Tiga orang kawann ya juga tertawa-tawa
Kini Lie Koan Tek bangkit berdiri dan memandang ke arah empat orang itu
Sudah lama aku mendengar nama Lok-yang Su-liong sebagai penjahat-penjahat kecil di kota Lok-yang yang suka berbuat jahat
Kiranya, kalian selain jahat juga pengecut dan beraninya hanya menghina wanitawanita saja, walaupun isteriku ini kalau kubiarkan te ntu akan dapat membunuh kalian dengan mudahnya!
Empat orang itu kini meninggalkan meja mereka dan dengan sikap mengancam mereka menghampiri suami is teri itu
Si tinggi kurus menudingkan te lunjuknya kepada Liu Hwa dan menghardik kepada Lie Koan Tek,
Isterimu ini yang le bih dahulu menghina kami! Tidak tahukah kalian bahwa kami Lok-yang Sui-liong adalah pimpinan semua tokoh kangouw di daerah ini
Isterimu yang bersikap tidak patut!
Kalian sendiri menghina seorang gadis dan masih berani menuduh aku yang menghina orang?
bentak Liu Hwa penuh semangat
Kini ia melihat betapa gadis buntung itu memutar tubuh memperhatikan mereka, akan tetapi ketika pandang matanya berte mu dengan pandang mata gadis yang disangka pute rinya itu, gadis itu mengalihkan pandang matanya.!
Kalau isteriku telah bersikap kasar, harap dimaafkan, akan te tapi kami harap agar su-wi berempat juga tidak mengganggu orang lain lagi.
Hemm, lagakmu seperti seorang pendekar! Siapa sih engkau?
bentak si tinggi kurus kepada Lie Koan Tek
Sejak dahulu sampai sekarang namaku Lie Koan Tek
Aku bukan pendekar, akan te tapi kalau ada orang bertindak sewenang-wenang, sudah menjadi kewajibanku untuk mene ntangnya.
Pada saat itu pemilik rumah makan datang te rgopoh-gopoh dan memberi hormat kepada empat orang itu dengan tubuh dite kuk hampir patah
Cuwi-eng-hiong (Orang gagah sekalian) mohon ampun dan tidak berkelahi di sini, agar tempat kami tidak menjadi rusak dan porak-poranda.
Si tinggi kurus mendengus
Baginya ju ga tidak enak berkelahi di situ, karena penuh dengan meja kursi, membuat dia dan tiga orang saudaranya tidak leluasa bergerak
Huh, jangan khawatir
Sediakan saja masakan is timewa untuk kami berempat pesta nanti setelah kami memberi hajaran kepada orang ini.
Kemudian dia menghadapi Lie Koan Tek lagi dan berkata,
Namamu Lie Koan Tek
Pernah aku mendengar nama Lie Koan Tek tokoh Siauw-lim-pai
Engkaukah orangnya?
Aku memang murid Siauw-lim-pai bernama Lie Koan Tek,
kata pendekar itu dengan sikap tenang
Bagus! Sudah lama ju ga kami mendengar nama Lie Koan Tek sebagai seorang yang gatal tangan dan suka usil mencampuri urusan orang lain
Mari kita keluar kalau memang engkau berani melawan kami!
tantang si tinggi kurus dengan cerdik karena dia sengaja menantang dengan sebutan kami, berarti mereka berempat yang menantang, bukan dia seorang
Empat orang itu hendak melangkah keluar, akan te tapi pada saat itu te rdengar bentakan halus
Siapa di antara empat Lok-yang Su-liong yang tadi menyebut-nyebut tentang tangan buntung?
Yang bicara itu adalah Cin Cin dan semua orang menengok dan memandang kepadanya
Gadis itu masih duduk dan memegang sepasang sumpit bambunya, agaknya sudah selesai makan dan tadi menggunakan sepasang sumpit di tangan kanan untuk makan kacang
Aku yang mengatakan!
kata orang muda yang perutnya gendut
Aku juga
Habis kau mau apa?
kata pula orang ke tiga yang matanya sipit hampir terpejam
Mulutmu busuk!
bentak gadis itu dan sekali tangan kanannya bergerak, sepasang sumpit itu meluncur bagaikan anak panah
De mikian cepatnya luncuran sumpit itu sehingga biarpun kedua orang itu berusaha mengelak, tetap saja masing-masing jadi korban sumpit yang menembus dari pipi sebelah ke pipi yang lain! Sumpit itu seperti ditusukkan dari pipi, menembus rongga mulut dan keluar dari pipi yang lain! Tentu saja kedua orang itu terkejut, kesakitan dan mengeluarkan suara aneh karena mereka tidak mampu menggerakkan mulut yang sudah ditusuk sumpit
Hendak dicabut, takut kalau te rlalu nyeri, didiamkan saja juga sakit.! Orang pertama yang tinggi kurus cepat maju dan dua kali tangannya bergerak, dia sudah mencabut sepasang sumpit itu dari pipi dua orang adik seperguruannya
Dua orang yang te rluka itu menggunakan kedua tangan menutupi pipi yang berlubang dan mengucurkan darah
Si tinggi kurus dan orang ke dua yang pipinya te rdapat tanda luka codet, sudah mencabut pedang masing-masing
Akan tetapi sebelum mereka meloncat untuk menyerang gadis buntung itu, Lie Koan Tek dan is terinya sudah mencabut senjata mereka pula
Lie Koan Tek melolos rantai baja yang dijadikan sabuk, sedangkan isterinya mencabut pedang
Melihat sepasang suami iste ri itu menghadang di depan mereka, si tinggi kurus dan si codet maju menyerang
Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa menyambut dengan senjata mereka dan terjadilah perkelahian di ruangan makan itu
Namun, te rnyata dua orang jagoan itu sama sekali bukan lawan Lie Koan Tek dan Coa Liu Hwa yang semenjak menjadi isteri pendekar Siauw-lim-pai itu telah mendapatkan kemajuan pesat dalam ilmu silat
Belum juga sepuluh jurus, rantai baja di tangan Lie Koan Tek telah merobohkan lawan, dengan tulang kaki patah dan tak mampu bangkit kembali
Beberapa jurus kemudian, isterinya juga dapat membuat lawan te rpelanting dengan luka bacokan pada pundak kirinya
Empat orang Lok- yang Su-liong itu tanpa banyak cakap lagi lalu melarikan diri, keluar dari rumah makan sambil terhuyung dan saling bantu, te rutama sekali si tinggi kurus yang patah tulang kakinya, te rpaksa harus diseret dan te rpincangpincang
Lie Koan Tek menghampiri pemilik rumah makan
Berapa kerugianmu akibat perkelahian tadi , akan kuganti.