Setiap orang yang berani kurang ajar kepadaku, akan kubuntungi tangan kirinya agar engkau tidak merasa kesepian lagi.
Setelah berkata demikian, Cin Cin mengantungi kembali benda itu, yang te rnyata adalah tangan yang sudah kering menghitam
Tangan kirinya! Kini ia makan minum dengan wajah berseri sehingga nampak semakin cantik
Agaknya peris tiwa tadi membuat Cin Cin lupa akan keadaan tangan kirinya yang buntung, seperti seorang yang tadinya merasa sengsara karena kehilangan suatu benda yang amat disayangnya, kini menjadi terhibur melihat banyak orang kehilangan seperti dirinya
Dua orang setengah tua yang tadi juga makan di situ, masih duduk te rtegun menghadapi meja mereka
Mereka telah menyaksikan peristiwa hebat.! Karena tegang sekali, mereka tadi seperti te rpukau tak mampu meninggalkan meja mereka, seperti dipaksa untuk menjadi penonton
Juga pengurus rumah makan dan tujuh orang pelayannya
Mereka tadi juga berkelompok dan menyaksikan dengan je las apa yang te lah terjadi
Ada pula beberapa orang yang berada di depan rumah makan menjadi penonton, yaitu beberapa orang yang tadinya hendak makan dan tidak jadi masuk melihat keributan di dalam, dan beberapa orang lagi yang kebetulan le wat dan te rtarik oleh keributan itu
Setelah empat orang pemuda itu pergi membawa tangan buntung mereka, para penonton itu berbisik-bisik membicarakan peristiwa hebat itu
Mereka semua merasa heran, kagum dan juga khawatir
Tentu ada ekornya peris tiwa hebat itu dan mereka semua enggan meninggalkan te mpat itu, ingin sekali melihat apa yang akan te rjadi selanjutnya sebagai akibat dari perkelahian tadi
Cin Cin yang tidak perduli dan te nang seperti tak pernah te rjadi sesuatu, telah selesai makan dan ia menengok, lalu memberi isyarat memanggil pelayan
Segera pengurus rumah makan sendiri yang datang dite mani seorang pelayan
Pengurus rumah makan itu te rbongkok-bongkok dengan sikap hormat dan takut-takut
Berapa yang harus kubayar?
tanya Cin Cin sambil lalu, tidak memperdulikan sikap kedua orang itu yang terlalu menghormat
Pengurus rumah makan itu tersenyum dan membungkuk-bungkuk, menggerakkan tangan menolak
Tidak usah, nona
Tidak perlu nona membayar..
Cin Cin mengerutkan alisnya
Aku sudah makan dan minum, dan harus kubayar
Apa kau kira aku tidak mempunyai uang dan tidak mampu membayar?
Pengurus rumah makan itu te rkejut dan wajahnya yang tadinya merah itu berubah pucat dan ia cepat menggerakkan tangan menyangkal
Tidak...tidak sama sekali, nona
Saya yakin bahwa nona mampu membayar, akan te tapi......Kami senang sekali nona sudi makan minum di sini
Kami merasa terhormat dan tidak usah nona membayar harga makanan yang tidak berapa banyak itu.
Sepasang mata itu berkilat
Aku tidak pernah mengemis makanan
Hayo katakan berapa aku harus membayar, atau aku dapat menjadi marah!
Ge metar kedua lutut pengurus rumah makan itu dan cepat-cepat dia menyebutkan jumlah yang menjadi harga makanan
Sambil te rsenyum Cin Cin mengeluarkan uang sejumlah itu dan membayarnya
Ketika ia he ndak keluar dari tempat itu, menyambar buntalan hijaunya dan menjinjingnya dengan memasukkan le ngan kiri yang buntung ke dalam ikatan buntalan yang longgar
Akan te tapi, baru saja ia melangkah dua tindak, tiba-tiba ia berhenti karena dari luar muncul seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun diikuti empat orang pemuda yang ia buntungi tangan kirinya tadi
Lengan buntung para pemuda itu kini te lah dibalut dan biarpun wajah mereka masih pucat, namun agaknya mereka telah diobati dan tidak terlalu menderita lagi
Cin Cin mengangkat muka memandang laki-laki itu
Ia segera mengenalnya
Pria itu adalah seorang sute (adik seperguruan) dari mendiang ayahnya
Ayahnya, mendiang Kam Seng Hin, dahulu adalah ketua He k-houw-pang, dibantu banyak saudara seperguruan
Ketika terjadi penyerbuan musuh yang menewaskan banyak murid He k-houw-pang agaknya Thio Pa ini tidak ikut te was
Biar usianya sudah kurang le bih limapuluh tahun, namun Cin Cin masih mengenal wajahnya
Ketika ia pergi enambelas tahun yang lalu, wajah Thio Pa ini sudah seperti itu, hanya yang agak berubah warna rambutnya saja
Dahulu hitam dan kini bercampur uban
Akan tetapi melihat Thio Pa memandang kepadanya dengan alis berkerut dan wajah bengis, mata bersinar-sinar dan sedikitpun tidak nampak mengenalnya, Cin Cin juga tidak memperlihatkan tanda bahwa ia mengenal orang itu
Ingin ia melihat bagaimana sikap Thio Pa, seorang yang dahulu ia kenal sebagai seorang yang gagah dan jujur
I nikah gadis kejam itu?
te rdengar dia bertanya kepada empat orang pemuda tadi, tanpa menoleh karena pandang matanya mengamati Cin Cin penuh perhatian, seolah merasa heran sekali bagaimana seorang gadis seperti ini mampu membuntungi tangan empat orang pemuda anggota Hek-houw-pang tadi
Benar, suhu.! Inilah iblis betina itu!
serempak empat orang pemuda itu berseru
Thio Pa melangkah maju menghampiri Cin Cin yang berdiri dengan sikap te nang
Mereka kini berhadapan dalam jarak dua meter
Nona, engkau masih begini muda, akan te tapi mengapa begitu kejam
Engkau membuntungi tangan kiri empat orang muri dku, membuat mereka cacat seumur hidup
Kenapa engkau melakukan kekejaman itu, nona?
Cin Cin tersenyum mengejek, kiranya empat orang pemuda itu murid paman Thio Pa, pikirnya
Tentu mereka telah memutar balikkan kenyataan dalam laporan mereka kepada guru mereka
Me ngapa
He mm, mengapa tidak kau tanya sendiri saja kepada empat orang muridmu yang baik ini
Tidak kubuntungi le her mereka saja sudah te rlalu untung bagi mereka
Empat orang muridmu ini agaknya tidak pernah kau ajar, mereka amat kurang ajar dan menggangguku!
Thio Pa menoleh kepada empat orang muridnya dengan alis berkerut dan suaranya terdengar galak ketika dia bertanya,
Benarkah itu
Kalian telah mengganggunya?
Tidak benar, suhu!
kata si hidung bengkok
Teecu berempat hanya ingin belajar kenal, tapi ia marah-marah dan menyerang kami!
Tiga orang saudaranya membenarkan ucapan si hidung bengkok itu
I a malah menghina Hek-houw-pang, suhu!
kata murid ke dua
Suhu, ia tentu tokoh sesat yang ingin membalas kepada He k-houw-pang dan sengaja mengacau di sini!
kata yang lain
Sudahlah.
kata Cin Cin
Kukatakan bahwa mereka patut dihajar
Aku sudah membuntungi tangan mereka sebagai hajaran, habis engkau mau apa?
ia sengaja menantang untuk melihat apa yang akan dilakukan Thio Pa
Nona, kami dari Hek-houw-pang selamanya tidak pernah melakukan kejahatan
Kami bahkan selalu menentang kejahatan! Kalau empat orang murid kami ini ingin berkenalan dengan nona, hal ini sudahlah wajar karena mereka adalah orangorang muda dan nona adalah seorang wajah baru di sini
Andaikata nona tidak senang diajak berkenalan, nona bole h menolak, akan tetapi kenapa begitu kejam membuntungi tangan mereka?
Hem, guru kencing berdiri, murid kencing berlari! Engkau te ntu saja membela muridmuridmu yang jahat dan tidak sopan
Sudahlah, kalau engkau hendak membela murid-muridmu dan ingin dibuntungi tangan kirimu, majulah!
Namun Thio Pa masih menahan diri
Nona, waktu ini ketua kami sedang mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang banyak sahabat di dunia persilatan
Kami tidak ingin membuat keributan
Kami hanya ingin mengetahui apa yang te rjadi dan kalau memang kami bersalah, kami siap untuk mengakui kesalahan
Karena itu kami mengharap nona juga bersikap jujur dan bertanggung jawab
Nona mengatakan bahwa murid-murid kami yang bersalah, akan tetapi mana bukti dan saksinya
Yang ada, nona telah membuntungi tangan mereka, itu merupakan bukti kekejaman nona.
Kami yang menjadi saksinya!
tiba-tiba te rdengar seruan dua orang tamu restoran yang sejak tadi duduk di meja mereka
Kini mereka bangkit berdiri
Mendengar ini, Thio Pa cepat menghampiri mereka
Siapakah ji-wi (anda berdua) dan bagaimana jiwi berani menjadi saksi?
Kami adalah pedagang yang kebetulan makan di sini dan kami tadi melihat semua apa yang te lah te rjadi
Sebelum nona ini masuk, di sana sudah duduk empat orang pemuda itu yang minumminum arak sampai setengah mabok
Lalu nona itu masuk, memesan makanan
Akan tetapi, empat orang pemuda itu mulai menggoda dan mengganggunya dengan kata-kata yang tidak sopan dan kurang ajar
Ketika gadis itu menegur, empat orang pemuda itu lalu menghampiri mejanya dan semakin kurang ajar
Kami melihat betapa empat orang pemuda itu ditampar oleh nona itu
Mereka menjadi semakin marah, masingmasing mencabut pisau dan mengepung nona itu, lalu menyerang
Nona itu membela diri dan akibatnya, empat orang pemuda itu buntung tangannya.
Mendengar ini, Thio Pa mengerutkan alisnya dan memutar tubuh memandang kepada empat orang muridnya
Benarkah apa yang dikatakan tamu ini?
Bohong, suhu! Mereka itu bohong! Mungkin mereka adalah sekutu iblis betina itu.
Empat orang pemuda itu dengan tegas menyangkal
Thio Pa kini menengok ke arah sekelompok pengurus dan pelayan rumah makan, lalu menggapai ke arah mereka
Biarpun takut-takut, seorang pengurus dan tujuh orang pelayan itu menghampiri
Apakah kalian semua tadi melihat apa yang telah terjadi di sini?
tanya Thio Pa
Delapan orang itu mengangguk dan si pengutus rumah makan mewakili anak buahnya menjawab
Kami semua melihat dengan jelas, Thio-enghiong orang gagah Thio.
Bagus! Nah, kalau begitu ceritakan, benarkah apa yang dikatakan dua orang pedagang tamu tadi
Jangan takut kepada siapapun, akan te tapi bersikaplah jujur dan tidak berpihak.
De ngan suara yang te gas pengurus rumah makan yang juga merasa tidak senang dengan sikap empat orang pemuda tadi, menjawab
Semua yang diceritakan tadi benar, Thio enghiong
Kami sendiripun tadi merasa heran mengapa ada murid He k-houw-pang yang bersikap seperti itu
Mereka mengganggu dan mereka yang menyerang nona ini, nona ini hanya membela diri.
Sepasang mata Thio Pa terbalalak dan mukanya berubah merah sekali