Halo!

Naga Beracun Chapter 109

Memuat...

Atau mungkin juga gagu.

Aduh sayang sekali kalau begitu

Cantik-cantik gagu dan tuli.

Aih, gagu dan tuli juga tidak apa-apa, malah asyik tidak usah banyak bicara.

Mereka mengganggu te rus dan sama sekali tidak diperdulikan gadis itu sampai makanan yang dipesan gadis itu tiba

Pelayan menaruh semua pesanan ke atas meja dan mempersilakan gadis itu makan dengan sikap sopan seperti biasa, karena semua pelayan di situ diharuskan bersikap sopan kepada semua langganan dengan ancaman dipecat kalau berlaku tidak patut

Gadis itu mengangguk, dan tanpa memperdulikan empat orang pemuda yang te rus menggodanya dengan pandang mata dan katakata, ia mengeluarkan kedua le ngannya dari balik jubah untuk mulai makan

Empat orang pemuda itu te rbelalak ketika melihat betapa lengan kiri gadis cantik itu buntung sebatas pergelangan

Lengan kiri itu tidak mempunyai tangan dan ujung le ngan itu dibalut kain putih yang bersih, nampak tersembul sedikit dari le ngan baju!

Wah, tangannya buntung!

Aduh sayang........begitu cantik manis tangan kirinya buntung!

Wah, kalau ia tuli, gagu dan buntung, cacatnya te rlalu banyak!

Aihhh, ia tetap cantik manis, dan dengan satu tanganpun ia akan dapat membelaiku!

Gadis itu memang buntung tangan kirinya, ia adalah Kam Cin atau Cin Cin, gadis murid Tunghai Mo-li Bhok Sui Lan

Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis ini mendapat tugas dari gurunya untuk mencari dan membunuh Cian Bu Ong

Ia memang telah dapat menemukan musuh besar gurunya itu, namun ia gagal membunuh Cian Bu Ong, bahkan ia dikalahkan

Ketika Thian Ki mencampuri, ia menyerang Thian Ki dan mencengkeram pundak Thian Ki dengan tangan kirinya

Ternyata cengkeraraman ini bahkan membuat tangan kirinya keracunan hebat dan Thian Ki lalu membabat putus tangannya itu

Rasa nyeri di le ngannya tidaklah sehebat rasa nyeri di hatinya

Ia dikalahkan Cian Bu Ong, dikalahkan Thian Ki bahkan kehilangan tangan kiri yang menjadi buntung

Sakit sekali rasa hatinya dan ia merasa malu untuk pulang menemui gurunya, malu untuk menceritakan kekalahannya

Tidak, ia tidak akan merengek kepada gurunya

Dia harus membuat persiapan sendiri, untuk menuntut balas, sekali ini bukan hanya untuk menuntut dendam gurunya, melainkan dirinya sendiri pula

Ia akan menantang Cian Bu Ong sebagai wakil gurunya, dan akan menantang Thian Ki untuk diri sendiri

Demikianlah, dengan le ngan buntung dan hati terluka, gadis itu pergi ke dusun Ta-bun-cung, bukan hanya untuk bersembahyang di depan kuburan ayahnya, a kan tetapi juga untuk mendengar tentang ibunya, untuk berkunjung kepada semua warga Hek-houw-pang dan terutama sekali untuk pergi mencari keterangan tentang paman gurunya, Lai Kun

Ia masih.mempunyai perhitungan besar dengan paman gurunya yang pernah menipunya dan menjualnya kepada rumah pelacuran di kota Ji-goan itu! Inilah sebabnya mengapa pada sore hari ini Cin Cin muncul di tanah kuburan dusun Ta-bun-cung, kemudian makan di rumah makan itu sebelum berkunjung ke Hek-houw-pang

Ia merasa kagum dan te rheran-heran melihat dusunnya yang dulu sepi itu kini menjadi sebuah kota yang ramai

Tadi ketika menghadapi empat orang pemuda yang menggodanya, ia tidak perduli dan diam saja

Akan te tapi, kini mereka menyinggung te ntang buntungnya tangan kirinya! Mereka telah menyentuh kehormatan dirinya! Cin Cin meletakkan sumpitnya dan menoleh ke arah kiri, ke arah meja dimana empat orang pemuda itu masih tertawa-tawa memandang dan menggodanya

Melihat gadis cantik itu menoleh dan memandang kepada mereka, empat orang itu semakin gembira dan memberi tanda dengan kedipan mata ke arah Cin Cin, lagak mereka kurang ajar sekali

Kalian jahanam-jahanam kecil! Pergilah dan jangan menggangguku atau te rpaksa aku akan menghajar kalian!

kata Cin Cin dengan suara dingin dan sikap tenang, namun sepasang matanya mencorong

Dimaki dengan suara keras oleh gadis buntung itu, tentu saja empat orang pemuda itu menjadi marah

Dua orang tamu dan juga para pelayan mendengar betapa mereka dimaki, dan hal ini sungguh merendahkan nama mereka

Si hidung bengkok yang agaknya menjadi pimpinan mereka, segera bangkit berdiri dan menyeringai

Heh-heh, nona buntung tapi manis

Jangan bicara sembarangan

Kami adalah para anggota He k-houw-pang yang te rkenal di seluruh penjuru dunia

Kami bahkan musuh para jahanam yang jahat!

Pemuda ke dua yang berkumis tipis menyeringai pula

Nona manis, kami hanya ingin bersahabat denganmu

Mari kita bersenang-senang, nona

Kami akan menyuguhkan makanan enak dan engkau akan minta apa saja, tentu kami penuhi asal engkau bersikap manis kepada kami, ha-haha! Tiga orang te mannya juga te rtawa karena mereka semua sudah setengah mabok

Mendengar bahwa mereka anak buah Hek-houwpang, Cin Cin menjadi semakin marah

Empat orang bajingan kecil macam kalian ini mengaku anggota He k-houw-pang

Kalian tidak pantas menjadi murid Hek-houw-pang, pantasnya menjadi anggota gerombolan penjahat kecil! Pergilah sebelum habis kesabaranku!

Empat orang itupun menjadi marah karena malu

Mendengar makian yang dilontarkan gadis itu kepada mereka

Mereka segera bangkit dan menghampiri meja Cin Cin, mengurung meja itu dengan mulut menyeringai dan bau arak

Si hidung bengkok berkata sambil mendekatkan mukanya pada wajah gadis itu

Engkau berani menghina kami murid-murid He k-houw-pang! Kalau engkau tidak minta maaf dan memberi ciuman kepada kami masing-masing satu kali, engkau tidak bole h pergi dari tempat ini!

Jahanam, sudah kuperingatkan kalian!

Cin Cin membentak dan tanpa bangkit berdiri, tangannya yang kanan bergerak dan tu buhnya dicondongkan ke arah mereka

Cepat sekali tangan itu bergerak empat kali dan terdengar suara tamparan keras yang membuat empat orang itu te rpelanting dengan pipi membengkak merah! Tentu saja mereka menjadi semakin marah dan penas aran

Mereka adalah jagoan-jagoan Hekhouw- pang, dan begitu mudahnya mereka kena ditampar sampai te rpelanting

Mereka berempat adalah anggota-anggota baru dari He k-houw-pang, maka tidak saling mengenal dengan Cin Cin, apalagi karena Cin Cin baru berusia lima tahun ketika meninggalkan dusun itu

Dengan marah sekali mereka mencabut sebatang pis au belati yang selalu te rselip di pinggang mereka

Melihat ini, pengurus rumah makan segera menghampiri dan memberi hormat

Harap saudara sekalian jangan membikin ribut di rumah makan kami dan suka memaafkan nona ini

Atau kalau hendak berkelahi, harap keluar dari sini......

Apa kau bilang

Engkau hendak mencampuri dan membela perempuan jahat ini

Ia tentu seorang penjahat yang sengaja hendak mengacau di sini

Kami harus menangkapnya dan menyeretnya ke Hek-houw-pang untuk diperiksa oleh pimpinan kami!

bentak si hidung bengkok

Kemudian dia memandang kepada Cin Cin dan membentak marah

Bocah sombong, cepat engkau menyerah untuk kami tangkap sebelum kami te rpaksa mempergunakan senjata dan melukaimu!

Kita buntungi saja tangan kanannya agar ia tidak suka menampari orang lagi!

kata orang ke dua, disambut geraman setuju oleh yang lain

Mereka mendesak maju dengan sikap mengancam dan muka beringas

Pengurus rumah makan menjadi ketakutan dan diapun mundur, berkelompok dengan pelayan yang memandang dengan hati tegang dan takut kalau-kalau gadis tamu itu akan kehilang tangan yang tinggal satu itu

Cin Cin bangkit berdiri

Nampak tubuh yang langsing dan kini baru pertama kalinya mulutnya te rsenyum, senyum sinis sekali

Bangkit semangatnya yang tadinya hampir padam karena kegagalannya membalas dendam, bahkan ia kehilangan kirinya dan kini bangkit kegembiraannya hendak memberi hajaran kepada empat orang tak tahu diri ini

Bagus, kalau kalian ingin merasakan bagaimana kalau kehilangan sebelah tangan, majulah!

Ditantang demikian, empat orang itu marah dan merekapun menyerang dengan pisau mereka

Nampak empat sinar berkilauan ketika empat orang pemuda itu menggerakkan pisau

Mereka seperti hendak berebut dulu untuk membuntungi tangan kanan gadis yang telah menghina mereka di te mpat umum

Bayangan Cin Cin berkelebatan di antara sambaran empat batang pisau dan tiba-tiba saja ia berhasil merampas sebatang pisau, kemudian dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, pisaunya menyambar-nyambar tanpa dapat ditangkis atau dielakkan empat orang pemuda itu

Mereka berteriak keras satu demi satu dan te rhuyung ke belakang, tangan kanan memegangi le ngan kiri yang telah buntung pada pergelangan tangan itu! Darah bercucuran dan empat buah tangan menggeletak di atas lantai! Empat orang itu mengaduh-aduh dan mereka yang melihat peristiwa itu merasa ngeri

Ternyata dalam waktu yang amat singkat, gadis itu telah membuntungi tangan kiri empat orang pemuda itu

Nah, tidak cepat pergi

Apakah kalian minta dibuntungi le her kalian?

bentak Cin Cin sambil melempar pisau rampasannya ke atas meja dan menancap sampai ke gagangnya di meja bekas meja mereka itu

Empat orang pemuda itu kini menjadi ketakutan dan kesakitan

Baru sekarang mereka menyadari bahwa mereka berhadapan dengan gadis buntung yang memiliki ilmu kepandaian he bat bukan main

Mereka telah kehilangan tangan kiri dan tentu saja mereka menjadi berduka dan marah sekali

Mereka lalu lari keluar untuk melapor kepada pimpinan mereka agar membalaskan dendam mereka kepada gadis itu

Cin Cin berseru.

Heei, jangan lupa bawa tangan kalian yang kotor ini!

Ia menendang empat kali dan empat buah tangan itu melayang keluar ke arah empat orang pemuda yang berlari keluar

Bahkan dua tangan di antaranya te pat mengenai kepala dua orang pemuda

Mereka cepat memungut empat buah tangan itu, tidak tahu tangan siapa yang mereka pungut, lalu melarikan diri tanpa berani menoleh lagi

Heei, pelayan! Bersihkan lantai itu!

kata Cin Cin kepada para pelayan dan ketika para pelayan membersihkan lantai dari darah, gadis itupun melanjutkan makan minum dengan sikap te nang, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di tempat itu

Ia bahkan mengeluarkan sebuah benda kering menghitam dari saku jubahnya, memandang benda itu dan te rsenyum mengangguk-angguk

Jangan khawatir, akan banyak te manmu

Post a Comment