Halo!

Mutiara Hitam Chapter 139

Memuat...

Pukulan Suma Kiat datangnya terlalu tiba-tiba dan terlalu cepat sehingga dia yang tidak menyangka-nyangka tidak sempat menangkis, bahkan mengelak pun terlambat. Masih untung bahwa pukulan yang menghantam ulu hatinya itu menjadi meleset karena Kiang Liong melempar diri ke belakang, namun tetap saja dada kanannya terkena pukulan. Hanya karena sin-kang pemuda ini sudah mendekati tingkat tertinggi saja yang menyelamatkan nyawanya. Isi dadanya seperti dibakar, napasnya sesak dan sambil mengguling-gulingkan tubuhnya ia menahan napas mengerahkan sin-kang yang ia desakkan dari pusar ke dada. Ia tahu bahwa ia terluka, sungguhpun tidak berat dan berbahaya. Ia menahan kemarahannya dan terus bergulingan, karena ia tahu kalau kemarahan menguasai hati dan menyesak di dada, lukanya akan menjadi berbahaya.

"Heh-heh, kau mencari celaka sendiri, Kiang Liong"

Terdengar suara Suma Kiat mengejek dan angin pukulan yang keras secara bertubi-tubi menyambar ke arah Kiang Liong, menutup jalan keluar dari empat jurusan. Kiang Liong yang sedang bergulingan itu berhasil menyambar kaki sebuah kursi dan cepat ia melempar kursi itu ke atas sambil menyusul dengan lompatan yang disebut gaya Kim-eng-hoan-sin (Garuda Emas Membalikkan Tubuh), cepat sekali menyusul di belakang bayangan kursi yang dilontarkannya.

"Kraakkk.. bruukk"

Kursi yang terbuat dari kayu yang tebal dan berat itu hancur berkeping-keping karena terhimpit hawa pukulan Suma Kiat yang menyambar dari kanan kiri.

"Aihhh.."

Suma Kiat terkejut, tidak mengira bahwa lawannya yang sudah hampir kalah itu dapat menyelamatkan diri dengan pertolongan sebuah kursi. Namun ia tidak dapat terlalu lama berheran, karena Kiang Liong kini sudah menyambar ke depan dan menggunakan kedua tangannya, yang kanan menimpa dari atas, yang kiri mendorong dari bawah. Inilah pukulan tangan kosong yang diambil dari gerakan Ilmu Silat Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Mengacau Lautan), sebuah ilmu silat Suling Emas yang luar biasa ampuhnya. Tangan kanan menimpa dengan kekuatan berdasarkan tenaga gwa-kang (tenaga keras/luar) sedangkan tangan kiri mendorong dari bawah dengan tenaga lwee-kang (tenaga dalam).

Suma Kiat memang telah mempelajari pelbagai ilmu silat yang aneh-aneh, namun dalam hal tenaga dalam dan pengalaman, ia masih ketinggalan jauh oleh Kiang Liong. Ia terkejut dan menggunakan kedua tangannya untuk menahan dan menangkis dua pukulan itu. Inilah kesalahannya. Tangan kanan Kiang Liong tiba lebih dulu dan melihat sambarannya. Suma Kiat juga menangkis dengan tenaga gwa-kang, akan tetapi setengah detik berikutnya, pukulan tangan kiri Kiang Liong yang ditangkisnya itu ternyata menggunakan tenaga yang berlawanan, yakni tenaga dalam. Suma Kiat terkejut, namun terlambat. Lengannya seperti ditempel, lekat dan tahu-tahu tangan Kiang Liong sudah menangkap pergelangan tangannya dan sekali Kiang Liong membuat gerakan, menyendal, tubuh Suma Kiat terlempar ke atas menabrak langit-langit kemudian terbanting jatuh ke atas lantai.

Suma Kiat mengeluh, kepalanya yang terbentur pada langit-langit membuatnya pening. Ketika ia membuka mata, lantai terasa berputaran. Ia meramkan matanya lagi, mengaduh, merintih dan menarik napas dalam-dalam. Ia sudah pasrah karena kalau saat itu lawannya menyusul dengan serangan baru, ia tentu takkan dapat mengelak atau menangkis. Ia menanti maut. Namun pukulan itu tidak kunjung tiba. Ketika ia membuka matanya perlahan-lahan, ia melihat Kiang Liong masih berdiri tegak, bertolak pinggang, kedua kaki terpentang lebar, sikapnya menyeramkan dan menakutkan hati Suma Kiat. Tiba-tiba Suma Kiat menangis. Menangis sesenggukan, terisak-isak dan bergulingan di atas lantai, seperti seorang anak, kecil menangis rewel.

"Uhuuk-hu-huuukk.. Piauw-heng, kau benar kejam sekali.. u-hu-huuk.. kalau memang kau tega kepada adik misan, kau bunuhlah aku sekarang juga.. u-huhuuukk.."

Kiang Liong mengerutkan keningnya. Ia teringat akan ucapan ayah bundanya tentang Kam Sian Eng, ibu pemuda ini. Menurut penuturan ibunya, mungkin sekali Kam Sian Eng itu seorang wanita yang selain aneh, juga tidak waras otaknnya. Dan bukan aneh kalau puteranya ini juga agak miring, tidak waras. Ataukah berpura-pura? Ia menghela napas dan duduk di atas sebuah kursi.

"Sudahlah, tidak perlu banyak tingkah. Bangkit dan lekas kau ceritakan semua rahasia itu."

Katanya dengan hati sebal. Suma Kiat menghapus air matanya, kemudian meringis kesakitan. Untung bahwa Kiang Liong tadi tidak bermaksud mencelakakannya, dan hanya menggunakan kekuatan sin-kang untuk melontarkannya. Rasa nyeri yang dideritanya kini hanya akibat terbanting, hanya merupakan luka lecet dan benjol belaka. Dengan terpincang-pincang buatan Suma Kiat menghampiri kakak misannya, menggerakan pinggul sehingga pedangnya terputar agak dekat ke pinggang.

"Piauw-heng, kau benar-benar terlalu kejam. Apakah kesalahanku maka kau memukulku begini rupa? Memang aku bunuh Cheng Kong Hosiang, hwesio jahat dan beracun mulutnya itu. Coba saja kau pikir, Piauw-heng. Siapa yang tidak menjadi marah. Dia berani membujuk-bujuk aku untuk bersekongkol dengannya. Katanya.. kelak kalau bangsa Hsi-hsia menyerbu ke kota raja, aku supaya membantu gerakan itu. Nah, apa ini tidak menjengkelkan? Aku tidak tahu apa-apa tentang pemberontakan, tentang persekongkolan gelap. Aku hanya suka kepada.. eh, sahabat-sahabatmu yang cantik itu. Apalagi enci adik Chi itu. Kaubagi mereka untukku, ya, Piauw-heng?"

Kiang Liong mendongkol bukan main. Ia tahu bahwa adik misannya ini membohong. Ia sudah mendongkol oleh sikap Kaisar yang tidak berniat membasmi ancaman bangsa Hsi-hsia, kini setelah ada harapan memperoleh keterangan tentang ditawannya Pangeran Mahkota Khitan, Suma Kiat mempermainkannya. Kalau tidak ingat ibunya, ingin ia sekali pukul merobohkan adik misan yang tidak patut ini.

"Suma Kiat"

Bentaknya marah.

"Tak perlu kau berpura-pura lagi. Aku bukan anak kecil yang dapat kau bodohi dengan sandiwaramu. Hayo katakan, di mana adanya Pangeran Mahkota Khitan yang ditawan oleh Bouw Lek Couwsu, di mana markas orang-orang Hsi-hsia, kalau tidak mengaku.. hemm.. engkau tentu akan kuhajar"

Kiang Liong melangkah maju, mengamangkan tinjunya, mengancam.

"Eh.. eh.. ohh.. Piauw-heng kau bunuhlah saja aku.."

Kembali Suma Kiat menangis menggerung-gerung. Kiang Liong menjadi gemas dan makin marah.

Celaka, pikirnya, kalau anak edan ini makin keras menangis, tentu akan terdengar oleh ibunya. Lebih baik kutotok dia agar tidak dapat banyak tingkah. Ia melangkah maju dan.. sinar putih yang menyilaukan mata menyambarnya ketika tahu-tahu Suma Kiat sudah mencabut pedang dan menyerangnya secepat kilat. Kiang Liong terkejut bukan main. Serangan pedang ini amat cepat dan dilakukan dari jarak dekat secara tak tersangka-sangka. Untuk mencabut senjata pensilnya sudah tidak keburu lagi, maka tiada lain jalan bagi Kiang Liong kecuali mengerahkan tenaga gin-kang dan tubuhnya mencelat ke belakang. Akan tetapi sinar pedang putih itu terus menyambar diikuti bunyi dengus Suma Kiat yang agaknya mentertawakan.

"Crak-crak.."

Sebuah meja besar pecah menjadi beberapa potong kena sambar sinar pedang Suma Kiat ketika tubuh Kiang Liong menyelinap ke belakang meja. Beberapa detik ini sudah cukup bagi Kiang Liong. Ketika pedang Suma Kiat bertemu dengan meja yang mewakili dirinya, ia sudah mencabut sepasang pensilnya dan kini ia meloncat melampaui meja sambil menyerang. Suma Kiat tidak gentar melihat bahwa kakak misannya hanya memegang sepasang senjata pensil yang hanya satu kaki lebih panjangnya itu. Ia tertawa dan pedangnya diputar cepat, membentuk gulungan sinar putih

"Cring-cring.. trang-trang-trang.."

Berkali-kali pedang yang bersinar putih itu bertemu denpan sepasang pensil dikedua tangan Kiang Liong. Barulah Suma Kiat menjadi terkejut ketika tangan kanannya terasa hampir lumpuh setiap kali pedangnya bertemu dengan kedua pensil kakak misannya. Ia jauh kalah kuat tenaganya dan ia menjadi bingung karena dua pensil itu mengandung tenaga yang berlawanan dan lebih membingungkan lagi, berubah-ubah. Kalau dalam bentrokan pertama pensil kiri mengandung tenaga kasar, dalam bentrokan ke dua mengandung tenaga lemas, dan demikian sebaliknya dengan pensil kanan. Orang yang sudah dapat mengatur tenaga berubah-ubah seperti itu, benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh.

Betapa pun Suma Kiat mengeluarkan semua ilmu pedangnya yang aneh, tetap saja ia terkurung dan terhimpit oleh sinar sepasang pensil. Ia terdesak mundur dan hanya mampu memutar pedang melindungi tubuhnya. Andaikata Suma Kiat bukan adik misan Kiang Liong melainkan seorang musuh yang boleh dibunuh, tentu saja ia sudah roboh binasa karena dengan kelebihan ilmunya, dengan mudah Kiang Liong dapat membunuh Suma Kiat. Akan tetapi Kiang Liong tidak ingin membunuhnya, hanya ingin merobohkan dan menaklukkannya, maka hal ini memakan waktu agak lama dan tidaklah mudah, sama dengan orang hendak menangkap hidup-hidup seekor harimau ganas. Kiang Liong sedang menanti kesempatan untuk menotok adik misannya. Tiba-tiba terdengar suara lengking nyaring menyeramkan. Mendengar ini Kiang Liong terkejut, akan tetapi Suma Kiat dengan suara girang berseru.

"Ibu, tolonglah"

Angin yang keras menyambar masuk dari jendela dan.. lampu dinding dalam kamar itu seketika menjadi padam. Kiang Liong kaget, tidak melanjutkan serangannya dan meloncat mundur. Akan tetapi dari depan, pedang Suma Kiat menerjangnya dengan hebat. Kagetlah Kiang Liong dan ia menangkis. Pertemuan pedang dengan pensil di tangannya menciptakan bunga api yang tampak jelas di dalam kamar gelap ini.

Kembali Suma Kiat menyerangnya. Kiang Liong menangkis kembali hanya mengandalkan ketajaman pendengarannya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa lawannya jauh lebih tajam pandangan matanya di dalam gelap daripada dia. Suma Kiat semenjak kecil hidup di dalam istana bawah tanah, sudah biasa dengan kegelapan. Matanya amat tajam di dalam gelap, inilah sebabnya mengapa setelah kamar menjadi gelap ia dapat menyerang bertubi-tubi sehingga mengejutkan Kiang Liong. Karena tidak ingin "salah tangan"

Dalam gelap itu sehingga ia membunuh atau mendatangkan luka berat pada adik misannya, pada saat pedang Suma Kiat menyambar dari depan, ia cepat "menangkap"

Pedang itu dengan "epasang pensilnya dengan cara menjepit pedang itu dengan dua pensil yang disilangkan. Suma Kiat terengah-engah berusaha menarik kembali pedangnya, namun sia-sia belaka. Pedang itu seperti lekat pada sepasang pensil.

"Suma Kiat, lepaskan pedangmu"

Dengan suara tegas Kiang Liong berkata.

Akan tetapi tiba-tiba ia terkejut bukan main. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu ada hawa pukulan menyambar ke arah tengkuknya. Ia menjadi serba susah. Melepaskan jepitan pedang Suma Kiat berarti memberi kesempatan kepada adik misan yang gila itu untuk menyerangnya lagi. Tidak melepaskannya, ia terancam pukulan hebat yang kini sudah tiba. Kiang Liong mengerahkan tenaga, memutar sepasang pensil dan terdengar suara seruan kaget Suma Kiat karena pedangnya sudah terampas, secara paksa direnggut lepas dari tangannya oleh tenaga putaran yang hebat. Pada saat itu, Kiang Liong terpaksa menerima tamparan dari belakang yang mengenai pundaknya karena ia sudah miringkan tubuh dan mengerahkan sin-kang ke arah pundak. Ia percaya bahwa tenaga sin-kangnya dapat melindungi pundak yang terpukul oleh lawan yang tidak kelihatan.

"Plakk.."

Pukulan yang merupakan tamparan telapak tangan halus itu tidak keras, akan tetapi ternyata tubuh Kiang Liong terguling roboh, sepasang pensil yang masih menjepit pedang Suma Kiat terlepas dari kedua tangan, jatuh berkerontangan di atas lantai kamar. Suma Kiat menyalakan lampu dinding, menyeringai kepada wanita berkerudung hitam sambil berkata.

"Untung kau datang, Ibu."

"Goblok, Menghadapi senjata sepasang pensil jangan mau bertempur dekat"

Gumam wanita itu yang bukan lain adalah Kam Sian Eng. Melihat wanita ini, Kiang Liong dapat menduga siapa adanya dan ia merasa serem juga. Di dalam hati ia mentertawai ucapan wanita itu.

Memang kata-katanya mengandung kebenaran, yaitu bahwa keampuhan senjata pit adalah untuk pertempuran jarak dekat, akan tetapi mengingat akan tingkat Suma Kiat, tetap saja ia akan dapat mengalahkan adik misan itu biarpun menggunakan siasat pertempuran jarak jauh. Akan tetapi ia tidak dapat berpikir lebih panjang lagi karena rasa nyeri di pundaknya membuat ia terpaksa mengerahkan tenaga melawannya. Baru saja ia memejamkan mata mengatur pernapasan, tiba-tiba belakang lehernya ditotok. Kagum juga hatinya karena wanita itu dapat menotoknya tanpa ia ketahui sama sekali, tanda bahwa gerakannya amat ringan. Ia kini tidak dapat bergerak pula menjadi lemas karena yang tertotok adalah jalan darah yang berpusat di punggung. Maka ia hanya dapat rebah telentang sambil memandang ibu dan putera yang gila itu.

"Bagus, Ibu. Kita bawa Kiang Liong kepada Couwsu, tentu dia akan girang sekali. Kiang Liong ini menggagalkan pertemuan dan persekutuan bahkan membahayakan kedudukan para pembantu di kota raja."

Sian Eng mengangguk. Sepasang sinar mata yang amat tajam menembus kerudung hitam, membuat Kiang Liong tertegun dan ngeri. Mata itu bukan mata orang biasa. Mata itu kehilangan perasaan, kehilangan ketenangan dan kesadaran. Mata orang yang sudah gila atau mata iblis.

Post a Comment