"Jembel busuk mau mampus"
Bentak Chi Leng, enci Chi Bwee yang sudah mencabut pedang dan dengan gerakan kilat pedangnya menyambar dengan sebuah tusukan ke dada Siang Ki.
"Wuuuuttt.."
Tusukan itu mengenai angin karena tubuh Siang Ki doyong ke belakang. Pemuda ini tanpa merobah kedudukan kakinya telah mampu mengelak dengan amat mudahnya. Ia tertawa mengejek.
"Gadis galak dan canggung macam engkau ini berani menghina Kam-lihiap? Sungguh menjemukan"
"Enci, mari kita bunuh jembel ini"
Chi Bwee juga sudah mencabut pedangnya dan membacok. Namun kembali bacokannya mengenai angin.
"Hayo, kalian yang tiga orang lagi tidak ikut maju? Maju dan keroyoklah, perempuan-perempuan macam kalian mana ada kepandaian?"
Siang Ki mengejek terus. Marahlah tiga orang murid kepala Ang-lian Bu-koan. Mereka pun dapat menduga bahwa dari gerakan pemuda jembel ini, dua orang enci adik Chi sama sekali bukan tandingannya. Mereka mencabut pedang dan bergeraklah lima orang gadis ini menyerang kalang-kabut. Biarpun dibandingkan dengan Siang Ki, tingkat ilmu silat mereka masih jauh, namun karena mereka maju bersama dan mengeroyok dengan nafsu membunuh, Siang Ki tidak berani memandang rendah. Tangan kirinya menyambar topinya, sambil bergerak dengan lincah ia mengayun topi dan tangan kanan.
"Siuut-siuut-bret-bret.."
Terdengar lima orang itu menjerit kaget dan di lain saat rambut mereka yang digelung rapi itu sudah terlepas semua ikatannya, cerai-berai dan awut-awutan karena pita rambutnya telah putus oleh renggutan jari tangan Yu Siang Ki.
Mereka hanya merasa betapa pandang mata mereka gelap karena muka mereka tiba-tiba tertutup topi lebar yang baunya apek oleh keringat, kemudian merasa rambut mereka terlepas ikatannya. Ketika mereka memandang, pita-pita rambut mereka telah berada di tangan Siang Ki yang tertawa-tawa. Bukan main kaget dan marah hati mereka. Kaget karena tidak mengira bahwa jembel muda ini benar-benar luar biasa lihainya dan marah karena peristiwa yang terjadi di depan banyak tokoh kang-ouw itu merupakan penghinaan bagi mereka. Kemarahan inilah yang membuat mereka lupa diri, lupa akan pesan guru-guru mereka bahwa menghadapi seorang yang jauh lebih lihai, tiada gunanya berlaku nekat karena takkan dapat menang.
Dengan gerakan ganas mereka sudah menyerbu lagi mengeroyok Siang Ki. Pemuda ini menjadi girang karena usahanya memancing Kwi Lan keluar berhasil. Ia sudah melihat gadis itu muncul keluar di belakang Suma-kongcu, maka hatinya menjadi lega dan ia berniat mengakhiri perkelahian dan meninggalkan tempat itu. Akan tetapi pada saat itu, Suma Kiat sudah datang berlari seperti terbang cepatnya. Pemuda ini marah sekali. Ia tidak mengenal Si Pemuda Jembel, sebaliknya ia sudah beramah-tamah dan menerima janji-janji senyum dan kerling manis lima orang wanita cantik itu, tentu saja tanpa pikir-pikir panjang lagi ia sudah memihak lima orang wanita itu. Gerakannya aneh dan luar biasa sekali cepatnya, tahu-tahu ia sudah terjun ke dalam pertandingan dan mengirim pukulan hebat ke arah Yu Siang Ki.
"Suheng.. jangan.."
Kwi Lan melompat dan mengejar kakak seperguruannya.
Akan tetapi Suma Kiat tidak mempedulikannya dan sudah menghantam ke arah dada Yu Siang Ki. Ketua pengemis yang muda ini sedang sibuk mengelak dan menangkis keroyokan lima batang pedang dengan kebutan topinya, ketika secara mendadak ada angin menyambar keras sekali dari arah depan. Belum tiba pukulannya, anginnya sudah datang menghantam dengan hawa amat panas. Kagetlah ia mengenal pukulan ampuh ini. Cepat ia menangkis dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan yang memegang topi juga digerakkan menampar atau mengebut ke arah tiga batang pedang yang menyambar ke arahnya.
"Wuuuuttt.. plakkk.."
Karena Yu Siang Ki membagi tenaga sin-kangnya untuk mengebut pedang dan menangkis, maka tangkisannya itu tidak dilakukan dengan sepenuh tenaganya. Ia tidak menduga bahwa pemuda bangsawan itu dapat melakukan pukulan yang demikian ganas dan kuat, maka ketika kedua lengan bertemu Yu Siang Ki merasa betapa serangkum hawa panas menembus sampai ke dadanya dan ia terhuyung-huyung dengan wajah pucat. Suma Kiat tertawa mengejek dan sudah menyambar lagi ke depan, mengirim pukulan lebih ganas kepada Siang Ki yang sedang terhuyung-huyung ke belakang.
"Suheng.. mundur kau.."
Suma Kiat melihat sinar hijau berkelebat dan tahulah ia bahwa Siang-bhok-kiam di tangan sumoinya telah mengancam pundaknya. Namun ia tidak percaya bahwa sumoinya akan berani atau mau melukainya, maka ia tidak ambil peduli dan melanjutkan pukulannya ke arah Siang Ki.
"Brettt.., Aduhhh"
Heeee, Sumoi, gilakah engkau? Berani kau melukai aku?"
Bentak Suma Kiat. Pundak kirinya mengucurkan darah karena tepi pundak telah tertusuk pedang merobek baju dan kulit dagingnya. Ia menutupi luka di pundak kiri dengan tangan kanan, memandang sumoinya dengan mata terbelalak heran. Sungguh di luar dugaannya bahwa sumoinya benar-benar berani melukai pundaknya, dan hal ini dilakukan hanya untuk membela seorang.. pengemis. Dengan pedang di tangan dan muka merah saking marahnya, Kwi Lan menjawab dan menentang pandang mata suhengnya.
"Suheng, Perempuan-perempuan itu telah menghinaku dan Yu Pangcu ini telah membelaku karena di antara kami ada tali persahabatan yang erat. Akan tetapi engkau malah membela perempuan-perempuan tak tahu malu ini dan hendak mencelakainya. Aku sudah minta kau mundur, tapi kau memaksa maju sehingga terluka pedangku. Pendeknya, siapapun juga tidak boleh mencelakakannya"
Sikap Kwi Lan garang sekali, pedangnya melintang di depan dada.
"Ha-ha-ha, sungguh lucu. Sumoi jadi kau sekarang telah menjadi Inang pengasuh jembel cilik ini? Menjadi pelindung pengemis kelaparan ini?"
Siang Ki telah menyambar tongkatnya yang tadi ia sandarkan di meja. Gerakannya cepat sekali dan kini ia sudah berdiri di depan Kwi Lan, memandang Suma Kiat dengan pandang mata penuh wibawa, suaranya nyaring ketika berkata.
"Sungguh omongan yang tidak patut keluar dari mulut seorang gagah. Lebih tidak patut lagi keluar dari mulut Suheng dari Kam-lihiap. Aku Yu Siang Ki tidak pernah minta dilindungi Kam-lihiap dan jangan kira bahwa aku takut menghadapi engkau, Suma-kongcu."
Suma Kiat marah sekali, akan tetapi melihat sumoinya masih berdiri dengan pedang di tangan, ia ragu-ragu untuk bergerak maju. Ia sudah cukup mengenal watak sumoinya yang ganas dan diam-diam ia pun maklum bahwa sekali sumoinya marah dan melawannya, belum tentu ia mampu mengalahkan sumoinya itu. Dan kini jelas tampak sikap sumoinya itu membela Si Pengemis ini. Pada saat yang menegangkan itu, di mana kedua pihak agaknya siap untuk bertanding dan selagi semua tamu memandang penuh perhatian dan ketegangan, tiba-tiba terdengar suara yang halus namun nyaring berwibawa.
"Hemm, apakah yang terjadi di sini?"
Semua orang menengok dan dari dalam gedung itu muncul seorang pemuda tinggi tegap yang berpakaian putih dan di punggungnya tampak sebuah yang-kim yang bentuknya seperti kepala naga. Pemuda ini bukan lain adalah Kiang Liong. Dan di samping pemuda itu berjalan seorang gadis cantik jelita berpakaian indah dan gadis ini adalah Puteri Mimi.
Bagaimanakah Kiang Liong bisa muncul pada saat itu dan mengapa pula bersama Puteri Mimi? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita mengikuti perjalanan Kiang Liong agar jalannya cerita menjadi lancar. Seperti telah kita ketahui, pemuda murid Suling Emas ini telah berhasil diobati dan diselamatkan oleh Song Goat yang cantik manis. Setelah tubuh Kiang Liong di "rebus"