Halo!

Mutiara Hitam Chapter 130

Memuat...

"Suheng, tak sudi aku mendengar ocehanmu yang tidak karuan ini"

"Huh, anak bodoh. Kau tidak percaya? Bukankah Ibu yang menyuruh kau datang ke sini mencariku? Bantuanmu amat kubutuhkan. Kau lihatlah lima orang wanita itu, dan para tamu itu, sebagian besar adalah sekutu kami."

"Sekutu apa?"

Kwi Lan mulai tidak sabar.

"Sekutu untuk menjatuhkan Kaisar, bekerja sama dengan bangsa Hsi-hsia yang sudah siap bergerak.."

"Ahhh.."

Bukan main kagetnya hati Kwi Lan. Hal ini sama sekali tak pernah disangkanya. Jadi gurunya yang gila, juga suhengnya yang berotak miring ini, mempunyai rencana yang demikian gila? Ia cerdik maka kini ia menahan kemarahannya dan berbisik.

"Suheng aku belum diberi tahu Bibi Sian tentang rencana ini. Apakah rencana itu dan bagaimana?"

Ia pura-pura bersungguh-sungguh. Suma Kiat tersenyum, menengok ke sekelilingnya.

"Ketahuilah, Ibu membawa aku ke sini. Ini adalah gedung Pangeran Kiang dan engkau tahu, Isteri Pangeran Kiang bernama Suma Ceng menurut Ibu, dia adalah Bibiku, adik mendiang Ayahku yang masih putera Pangeran bernama Suma Boan."

Sampai di sini Suma Kiat membusungkan dadanya.

"Aku cucu Pangeran. Karenanya aku berhak menjadi kaisar. Dan engkau menjadi puteri, ha-ha-ha, kalau aku menjadi kaisar, kelak engkau menjadi permaisuri, dan menjadi ibu suri.. ha-ha-ha"

"Hushh.. Suheng, bicaralah yang benar. Bagaimana rencana itu? Apa yang telah terjadi?"

"Heh-heh, banyak yang terjadi, Adikku sayang. Bangsa Hsi-hsia telah mengadakan hubungan rahasia dengan banyak pembesar di sini, dan yang hadir di taman itu sebagian besar adalah pembesar-pembesar yang telah sepakat untuk mengadakan persekutuan. Kau lihat hwesio yang duduk di sudut tadi? Dia adalah Cheng Kong Hosiang, dia yang mewakili bangsa Hsi-hsia. Dan Ibu menunjuk aku untuk memimpin pergolakan dari dalam apabila saatnya tiba."

"Hemm, kau kira begitu mudah? Di sini banyak terdapat orang gagah yang tentu akan menentang pengkhianatan ini, Suheng. Kenapa Bibi Sian melakukan hal berbahaya ini?"

"Siapa bilang tidak mudah? Kerajaan Sung amat lemah, kaisarnya seperti perempuan. Dan menurut kabar yang baru kuperoleh, bangsa Khitan juga siap membantu bangsa Hsi-hsia.."

"Bohong.."

Kwi Lan sendiri menjadi kaget mendengar suaranya yang spontan dan mengandung kemarahan itu. Tanpa disadarinya, ia kini telah menjadi pembela bangsa Khitan. Teringat ini, dan melihat pandang mata Suma Kiat penuh selidik, ia cepat menyambung.

"Aku mendengar bangsa Khitan bersahabat dengan Kerajaan Sung. Tak mungkin mereka sudi bersekutu dengan bangsa Hsi-hsia yang biadab, yang menyerang dan menghancurkan Beng-kauw secara menggelap, yang dipimpin oleh hwesio-hwesio gila, manusia-manusia biadab berkedok pendeta"

"Aihh.. kiranya pengetahuanmu cukup luas, Sumoi. Agaknya selama dalam perantauan ini engkau sudah menjumpai banyak pengalaman. Akan tetapi kau tentu belum tahu apa yang baru saja kudengar. Bouw Lek Couwsu pimpinan bangsa Hsi-hsia kini mendapat jalan untuk memaksa pemerintah Kerajaan Khitan untuk bekerja sama dengan bangsa Hsi-hsia."

"Hemm, aku tidak percaya. Bangsa Hsi-hsia hanyalah bangsa biadab yang kecil jumlahnya, sedangkan Khitan adalah negara besar.."

"Ha-ha-ha, mereka terpaksa harus memenuhi permintaan bangsa Hsi-hsia setelah Pangeran Mahkota mereka terjatuh ke dalam tangan Bouw Lek Couw."

"Apa..?"

Kwi Lan menekan perasaannya sehingga kekagetan hebat tidak terlalu menonjol pada wajahnya. Suma Kiat tertawa puas.

"Benar? Pangeran Mahkota yang bernama Talibu, Pangeran Khitan itu kini menjadi tawanan Bouw Lek Couwsu dan dia itulah yang akan menjamin bahwa Kerajaan Khitan pasti akan suka membantu."

Kwi Lan tersenyum dingin untuk menutupi hatinya yang panas. Ia sudah mendengar dari Siang Ki bahwa Ratu Khitan yang menurut gurunya adalah ibu kandungnya itu memang mempunyai seorang putera angkat bernama Pangeran Talibu yang tampan dan gagah perkasa. Biarpun ia mengandung perasaan iri dan tidak senang kepada anak angkat ibunya itu, namun kini mendengar betapa putera mahkota itu ditawan Bouw Lek Couwsu, ia terkejut sekali. Urusan ini ternyata bukan urusan kecil dan sama sekali bukan urusan main-main. Kalau yang dikatakan pemuda gila ini benar, ia harus berusaha sedapat mungkin menolong putera angkat ibunya"

Maka dengan cerdik ia lalu tertawa, tertawa dingin yang sepenuhnya menonjolkan sikap tidak percaya.

"Ah, Suheng. Setelah lama merantau, engkau masih tetap seperti kanak-kanak, mudah saja diakali orang. Sudah jelas kau dibohongi orang, akan tetapi kau menerima dan menelannya begitu saja tanpa mau memeriksa lagi. Siapa mau percaya Pangeran Mahkota Khitan ditawan orang-orang Hsi-hsia?"

Kwi Lan sengaja mengeluarkan suara ketawa nyaring yang dia tahu menyakitkan hati pemuda ini. Dahulu kalau bertengkar, ia selalu tertawa seperti ini. Merah wajah Suma Kiat.

"Sumoi, kaulah yang bodoh dan tolol. Kau masih tidak percaya kepada aku, calon Kaisar. Pangeran Talibu benar telah ditawan oleh Bouw Lek Couwsu yang bermarkas di sebelah barat Lok-yang, di lembah Sungai Kuning di kaki Gunung Fu-niyu-san.."

Tiba-tiba Suma Kiat menghentikan kata-katanya dan memandang ke kanan kiri dengan sikap kaget, seakan-akan ia baru ingat bahwa ia telah membuka rahasia besar yang tidak seharusnya ia katakan kepada siapapun juga.

"eh, Sumoi.., jangan bilang kepada siapapun juga.."

Akan tetapi pada saat itu, perhatian mereka tertarik oleh suara ribut-ribut di luar ruangan itu, di taman. Mereka bergegas keluar, terutama Suma Kiat, mendahului sumoinya melompat keluar dan menghampiri para tamu yang tampak ribut. Di tengah taman itu berdiri seorang pengemis muda yang jangkung tampan, memakai sebuah topi lebar yang butut, akan tetapi dihias bunga memegang sebatang tongkat, berdiri dengan tegak, berhadapan dengan dua orang wanita enci adik she Chi. Dua orang gadis inilah yang ribut-ribut dan memaki-maki.

"Jembel busuk, Jembel kelaparan. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan, ya? Kami bukanlah gadis-gadis macam iblis tadi yang boleh kau permainkan.."

Bentak gadis muda she Chi, sedangkan encinya sudah meraba gagang pedangnya.

Pengemis muda itu bukan lain adalah Yu Siang Ki. Dia tadi melihat munculnya Kwi Lan dan sudah ia duga bahwa gadis itu tentu menimbulkan keributan sesuai dengan wataknya. Ketika ia melihat Kwi Lan mempermainkan lima orang wanita cantik yang duduk semeja dengan Suma Kiat, diam-diam ia tertawa. Memang lima orang wanita itu patut diberi sedikit hajaran. Dia sudah mendengar siapa adanya lima orang wanita itu. Akan tetetapi ketika ia melihat Kwi Lan pergi ke dalam gedung bersama Suma Kiat yang disebut suheng oleh Kwi Lan, timbullah kekhawatirannya dan hatinya menjadi jengkel sekali. Jengkel melihat kenyataan bahwa temannya yang dianggap adik angkat, wanita yang pernah merebut cinta kasihnya itu ternyata adik seperguruan pemuda bangsawan memuakkan ini. Jengkel pula karena Kwi Lan tidak mempedulikannya, bahkan kini masih bersama pemuda itu.

Ia khawatir sekali. Pada saat itulah ia mendengar betapa lima orang wanita yang merasa terhina oleh Kwi Lan, mengeluarkan kata-kata memaki-maki Kwi Lan secara kasar sekali. Yu Siang Ki tentu tidak begitu mudah mencari keributan, apalagi mengingat bahwa di situ adalah tempat tinggal Kiang-kongcu murid Suling Emas. Akan tetapi karena ia merasa khawatir akan keadaan Kwi Lan yang masuk ke dalam gedung bersama pemuda sombong tadi, kini melihat adanya kesempatan untuk menarik perhatian Kwi Lan keluar dari gedung. Tanpa ragu lagi ia lalu bangkit berdiri dari tempat duduknya setelah berbisik kepada para pengemis lainnya.

"Jangan heran akan sikapku.."

Sambil memandang lima orang gadis itu, ia membentak, suaranya nyaring.

"Kuharap kalian berlima tahu diri dan tidak membuka mulut sembarangan mengeluarkan kata-kata kotor menghina Kam-lihiap. Tidak sadarkah bahwa tadi Kam-lihiap telah mengampuni jiwa anjing kalian?"

Ucapan ini sungguh hebat dan pedas. Biarpun mereka berlima itu wanita, namun tokoh-tokoh kota raja tahu belaka bahwa ilmu kepandaian mereka tidak boleh dipandang rendah. Apalagi tiga orang murid kepala Ang-lian Bu-koan yang amat berpengaruh karena perguruan mereka. Dan kini seorang pengemis muda yang tidak terkenal berani mengeluarkan ucapan yang demikian pedas. Juga lima orang itu terkejut, wajah mereka berubah merah dan tak dapat ditahan lagi kemarahan orang termuda dari Chi Ci-moi yang bernama Chi Bwee, meloncat bangun menghadapi Yu Siang Ki dan memaki-makinya seperti tadi. Siang Ki tersenyum mendengar maki-makian ini, kemudian menambah panasnya api yang ia kobarkan.

"Kam Kwi Lan bukanlah iblis betina, melainkan seorang wanita gagah perkasa, seorang pendekar, tidak seperti kalian ini lima ekor tikus betina yang genit.."

Post a Comment