Hoa Hui mengambil buntalan orang, yang dijadikan alat membikin punggung bungkuk, ia membuka ikatannya dan membelarakkan, maka disitu terlihat sepotong jubah putih yang berlepotan darah, yang dilihatnya mendatangkan rasa ngeri
"Ohl" Supu berseru sedang sedari tadi dia berdiam saja. "Kiranya kaulah yang menyamar menjadi si hantu jahat"
Terhadap Hoa Hui, Ma Kee Cun bersikap sangat menghormat, akan tetapi mengawasi Supu, ia beroman sangat garang.
"Benar aku!" jawabnya, jumawa. "Dengan menyamar sebagai si bungkuk, aku berdiam di gurun pasir selama belasan tahun, selama itu aku sangat menderita; maka itu apa kau kira aku suka membiarkan harta karun di dalam istana rahasia diangkut kamu?"
Supu pun gusar. "Dengan menggunai ilmu siluman kau telah membinasakan tidak sedikit orang bangsaku!" katanya bengis. "Kenapa kau juga menculik Aman?"
Kee Cun tetap berlaku jumawa.
"Aku mempunyai harta besar begini, bagaimana aku bisa tidak mendapatkan isteri yang cantik sebagai kawan?" dia balik tanya. Dia lantas berpaling kepada Hoa Hui, gurunya, untuk berkata terus: "Suhu, harta di istana rahasia ini, semua ada kepunyaanmu, aku melainkan ingin minta dibagi satu bagian saja dalam sepuluh, jumlah itu sudah dapat memuaskan batiku. Nanti aku membinasakan dulu ini bocah Kazakh, lantas kita berempat mengangkut harta ini pulang ke Tionggoan..."
"Tidak.. tidak dapat kau membunuh dia!" Bun Siu menyelak.
Ma Kee Cun menghela napas. "Baiklah," katanya. "Aku tahu kau memang menyayangi bocah Kazakh ini. Bersama dia kau menggembala kambing dan bernyanyi, semua aku telah melihatnya! Jikalau bukannya kau sangat menyayangi dia, aku juga, tidak nanti menculik Aman. Baiklah, aku tidak akan membunuh dia. Kau dapat Supu, aku mendapat Aman, dan suhu mendapatkan harta besar! Jadi kita bertiga telah mendapatkan masing-masing bagiannya..."
“Kee Yaya..." berkata Bun Siu menghela napas: "Eh, salah, aku harus memanggil paman padamu! Paman, suatu benda bukan kepunyaanmu, kau ingin memiliki itu untuk selama- lamanya, itulah tak dapat.."
Selagi orang berbicara, Supu mengawasi si nona..la pun lantas mengingat banyak hal... Tapi Hoa Hui gusar. "Anak Siul" katanya keras, "orang ini berdosa besar, apakah kau masih mau meminta keampunan baginya? Kau tahu, semua kepandaiannya akulah yang mengajari, aku mengajak dia datang ke gurun pasir ini mencari istana rahasia, justeru kita mulai mendapat endusan, dia lantas timbul keserakahannya terhadap harta karun, dia menurunkan tangan jahat membokong aku dengan tiga batang jarum beracun, maka selama beberapa tahun, entah berapa hebat penderitaanku, coba aku tidak ditolong kau, tidak nanti aku hidup sampai sekarang ini." Bun Siu memandang Ma Kee Cun.
"Paman, inilah salahmu!" katanya.
"Nona Lie," kata Supu tiba-tiba, "dia pandai menggunai ilmu siluman, awasi"
"Dia bukan menggunai ilmu siluman," si nona bilang. "Dia hanya menggunai senjata rahasia yang berupa jarum berbisa yang halus, yang mengenai tenggorokan, maka kurban- kurbannya tidak memperlihatkan tanda luka apa-apa. Bahwa dia menjadi bertubuh tinggi, itu juga disebabkan kakinya ditambah sama jejangkungan dan jubahnya panjang dan gerombongan hingga kaki palsunya itu tak nampak"
Supu mengangguk. "Kau benar juga," bilangnya.
"Kau telah membokong aku dengan jarum," berkata Hoa Hui, dingin, kepada muridnya itu, "meski kau tahu bahwa aku tidak bakal hidup lama, kau tetap jeri kepadaku, kau takut aku mencarimu, dari itu kau menyamar menjadi si bungkuk. Hm! Coba habis berbuat jahat itu kau menyesal, lantas kau pulang ke Tionggoan, pasti aku tidak bakal dapat mencarimu, tetapi kau berat meninggalkan harta karun di sini! Coba kau tidak datang kemari, habis perkara, tetapi kau loba, tamak hatimu, maka itu, mana bisa kau lolos dari pengawasanku? Haha! Kau dapat menakut-nakuti bangsa Kazakh kau membuatnya mereka itu mengantar pulang harta karun ini, akalmu itu bagus sekali! Kau telah membinasakan Tan Tat Hian, juga tindakanmu itu baik! Hanya sayang kau tidak mengetahui, selama itu, gurumu senantiasa mengutil di belakangmu tanpa kau mengetahui!”
Ma Kee Cun tunduk, ia masgul sekali, ia menutup mulut Ketika itu Supu mendadak berlompat maju, goloknya ia cekal keras.
"Kenapa kau membunuh ayahku?" ia tanya, bengis. "Kenapa kau membinasakan Cherku?”
Belum lagi Ma Kee Cun menjawab, maka orang yang ditotok hingga tidak berdaya itu tertawa berkakak dan berseru: "Akulah yang membunuh! Akulah yang membunuh! Haha! Haha!"
"Kau siapa?" tanya Supu. "Kau siapa?" Bun Siu pun menanya, berbareng.
"Akulah si edan!" menjawab orang itu. "Orang membunuh guruku, maka aku membunuh orang! Eh, Hoa Hui, bukankah guruku terbinasakan kau?"
"Benar!" menjawab Hoa Hui, dingin. "Kau jadinya bukan edan!"
Mendadak tangan kanannya terayun, tiga batang jarumnya menyamber.
Orang yang mengaku edan itu lagi tertawa, sekejap juga, terhentilah tertawanya itu, jiwanya terbang melayang. Karena ia tertawa, wajahnya terus masih tertawa... ' "
Bun Siu kaget dan heran. Ia tidak menyangka gurunya bertindak demikian bengis.
"Dia... dia siapakah?" ia tanya. Hoa Hui agaknya berpikir, ia tidak lantas dapat menjawab.
Tapi Ma Kee Cun mendadak campur bicara. "Si edan ini muridnya The Kiu In!" katanya.
Hoa Hui mengangguk "Benar, dialah murid The Kiu In," ia bilang. Ia mengawasi kurbannya itu, yang wajahnya tetap tertawa, lantas ia membayangkan wajahnya The Kiu In yang disebutkan muridnya itu. "Ketika itu jago tua she The merayakan hari ulang tahunnya, banyak tetamunya yang hadir, aku ialah satu di antaranya. Tengah pesta berlangsung, si edan ini muncul secara tiba-tiba dan dia membawa banyak sekali batu permata dengan apa dia menghadiahkan gurunya itu. Dia mengatakan tidak jelas, dia cuma menyebut-nyebut Istana Rahasia Kobu... Malam itu juga aku menyatroni kamar tidur The Kiu In. Aku ingin mencari tahu tentang istana rahasia itu. The Kiu In mendusin, dia mempergoki aku, sambil tertawa dingin, dia kata padaku: “Tok cie Cin Thianlam, kau juga mengarah harta karun? Aku menganggap turun tangan terlebih dulu paling baik, maka tanpa membilang suatu apa, aku serang ia dengan jarum rahasiaku. Lantas aku mengatur akal, ialah goloknya si edan ini aku tancap di dada The Kiu In, sedang si edan aku culik Aku mau membikin orang percaya si edan membunuh gurunya. Aku menculik si edan, aku membawanya ke tempat yang sunyi. Di sana aku mengorek keterangan dari mulutnya. Aku mesti menggunai segala macam akal. Sampai tiga bulan barulah aku berhasil. Si edan membilang! aku bahwa ia mendapat peta istana. rahasia secara kebetulan saja, karena ketarik hatinya, dia berangkat ke wilayah Hweekiang ini. Dia berhasil mendapatkan istana rahasia berikut harta karunnya yang berjumlah besar luar biasa. Lantas dia mengingat gurunya, maka dia berniat pulang dengan membawa oleh-olehnya itu. Meski begitu, dia terganggu rahasianya istana ini, dia tidak bisa keluar, dia terputar-putar, kelaparan dan berdahaga. Selanjurnya dia tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya dia dapat keluar dan pulang ke Tionggoan. Setelah memperoleh keterangannya itu, aku bawa dia datang kemari. Aku pun mengajak Ma Kee Cun bersama. Di luar sangkaan ku, pada suatu malam, Ma Kee Cun membokong aku hingga aku terluka parah. Hanya ketika itu, sambil mengerahkan tenaga dalamku, untuk mempertahankan diri, aku dapat bersikap seperti tak terluka. Kee Cun ketakutan, dia kabur. Justeru itu si edan juga kabur dengan membawa peta istana itu. Ah, aku tidak sangka murid yang aku paling percaya, yang aku pandang sebagai anak sendiri, telah mendurhaka terhadapku... Tidak lama kemudian maka di dalam kalangan kangouw tersiarlah berita halnya aku membokong The Kiu In. Mungkin si edan yang telah membuka rahasia itu. Kemudian lagi, setahu bagaimana duduknya, peta itu telah terjatuh ke dalam tangannya Pekma Lie Sam... Karena aku terluka parah dan aku takut keluarga dan murid- muridnya The Kiu In nanti mencari aku untuk menuntut balas, aku tidak berani pulang ke Tionggoan. Pula, aku pun tidak berhasil mencari pula jalanan ke istana rahasia ini... Selanjutnya aku mesti tersiksa karena luka di punggungku, sampai itu hari aku bertemu kau, Bun Siu, dan kau menolong aku mengeluarkan jarum itu... Aku tidak menduga, selang banyak bulan, aku mendapatkan orang-orang Kazakh mengangkut harta karun dari istana ini Lalu, aku pun menyaksikan sepak terjang si orang tua bungkuk unta... Haha! Aku telah melihat dia mencelakai orang dengan jarum rahasianya, maka aku lantas ingat dia siapa. Jikalau tidak, tidak nanti aku mendapat tahu bahwa dialah Ma Kee Cun, murid yang aku sayang."
Sembari mengatakan yang paling belakang ini, Hoa Hui memandang tajam-tajam muridnya itu, kemudian ia memandang si edan, mayat yang tertawa. Katanya di dalam haunya: "Kau sudah mati, perlu apa kau tertawa terus?" Habis itu, ia melanjuti pula keterangannya: "Aku tidak tahu kapan kumatnya si edan ini dan bahwa dia telah bersembunyi di dalam ini istana. Mungkin dia hendak mencari balas untuk gurunya sebab dia membenci aku, yang memfitnah padanya. Begitu, dengan meneladi caraku, dia membunuh si orang Kazakh yang bernama Suruke, begitu juga yang bernama Cherku itu. Dengan perbuatannya itu, meniru aku, si edan ini berlaku Jenaka... Karena harta karun ini, telah banyak jiwa yang melayang, dan sekarang- haha!-semua adalah milikku!- Aku Tok cie Cin Thianlam Hoa Hui si Jeriji Satu Menggetarkan Langit Selatan! Tapi ini si Kee Cun yang berhati serigala berjantung anjing, dia mengharap satu bagian dari harta ini, dia benar-benar lagi bermimpi! Ha-hai Haha! Mesti aku mengasih rasa padanya, supaya dia mati perlahan-lahan... Haha! Haha!"
Tepat tengah tertawa itu, tiba-tiba mata Hoa Hui seperti kabur, di depannya itu ia seperti melihat The Kiu In yang ia binasakan, mata Kiu In mengancam padanya. Mendadak ia berseru-seru: "Setan! Setan! Kau toh The Kiu In?"
Hoa Hui bukan melihat Kiu Su, ia hanya melihat mukanya Kee Cun. Muka Kee Cun masih belum bersih betul bekas penyamarannya. Matanya seperti kabur, ia menjadi salah melihat. Ia pun sedang jeri sebab mengingat Kiu In. Maka menjeritlah ia tanpa merasa...
"Aku bukannya The Kiu In!" Kee Cun pun berkata, dingin suaranya. "The Kiu In berdiri di belakangmu!"
Hoa Hui kaget, segera ia memutar tubuhnya.
"Mana? Mana?" tanyanya. Justeru orang berbalik, Kee Cun membacok ke punggung gurunya itu.
Hoa Hui menjerit keras, sambil memutar pula, kedua tangannya melayang!
"Buk!" demikian satu suara nyaring. Serangan itu mengenai dada si murid.
Bun Siu kaget sekaji, hendak ia menolong, tetapi sudah kasep.
Guru dan murid itu pun rubuh berbareng. Ia lantas memeriksa gurunya, Guru itu sudah lantas berhenti bernapas. Ketika ia melihat Kee Loojin, orang tua palsu ini masih dapat membuka matanya dan berkata dengan sukar. "Bun Siu, sebenarnya aku hendak menyerang dengan jarum rahasia, sayang ada kau berdiri di dekatnya, aku kualir jarumku nyasar melukai kau-" Bun Siu lantas menangis. "Paman Ma, keliru segala perbuatanmu..." katanya, "tetapi kau baik sekali terhadap aku..." Kee Cun menyeringai, lantas kepalanya teklok. Maka pergilah arwahnya.
Bun Siu berduka bukan main.
"Harta ini bukan kepunyaanmu, buat apa kau memperebutinya?..." katanya perlahan.
Oood~wooO
Lewat beberapa hari, Supu dan Aman telah pulang kepada bangsanya. Ia menuturkan segala apa, tetapi ketika ia membilang di dalam Istana Rahasia Kobu tidak ada setannya, tidak ada seorang juga yang mau percaya. Karena ini selanjutnya harta karun itu tetap terpendam di dalam istana yang hilang itu.
Oood~wooO
Sementara itu di padang pasir yang menuju ke kota Giokhunkwan, di sana nampak seorang penunggang kuda yang dari barat berjalan ke timur. Ialah seorang nona cantik, yang di pinggangnya tergantung pedang. Kudanya kuda berbulu pulih, kuda itu besar dan bagus.
"Jalanan istana rahasia berliku-liku tetapi hati manusia melebihkan itu," demikian si nona ngelamun. "Siapa sangka Kee Yaya yang bungkuk itu baru berusia tiga puluh lebih? Siapa menduga, guru dan murid yang dulu bagaikan ayah dan anak, akhirnya menjadi seperti musuh, hingga setelah menderita, mereka sama-sama terbinasa di dalam istana rahasia? Toh Paman Ma memperlakukan aku baik sekali... Suhu seorang buruk, dia juga baik sekari terhadap aku... Dan Supu demikian baik hati, sayang dia cuma mengingat Aman satu orang"
Si kuda putih tidak tahu apa yang nonanya pikirkan, dia bertindak terus menuju ke wilayah Tionggoan, untuk berjalan pulang, ia tidak gentar untuk perjalanan yang jauh dan sukar...
TAMAT