Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 31

Memuat...

Bun Siu juga memandang si anak muda, ketika ia berkata: "Supu! Bukankah kau bilang bukannya kau yang membunuh ayahnya Aman? Sekarang aku percaya kau! Si pembunuh mungkinlah.ini.manusia jahat yang menyamar menjadi hantu!”

Supu berjingkrak. Ia seperti telah disadarkan.

"Tidak salah! Tidak salah!" serunya. "Mungkin dia jugalah yang membunuh ayahku! Mari kita cari dia!”

Begitu lekas mengetahui si hantu jahat hanya manusia belaka, keberaniannya pemuda Kazakh ini bangkit pula. Tapi, cuma sejenak, ia lantas ingat suatu hal lainnya.

"Tuan Lie, dapatkah kita melawan dia?” ia menanya. Ia baru ingat bahwa penjahat itu lihai sekali.

Bun Siu pun berpikir, ia bersangsi, terus ia menggeleng kepala. "Dalam sepuluh, sembilan kita susah menang," sahutnya terus terang. "Supu, baiklah kau bersama Aman lekas pulang, lantas kau mengajak rombongan bangsamu datang kemari, kau pasti bakal dapat membekuk dia."

"Rasanya sulit," berkata Supu, juga Aman. "Mereka,itu takut bantu, mana bisa mereka diajak datang kemari?" Bun Siu berpikir pula.

"Aku ada akal, entahlah kau, kau berani atau tidak." katanya.

"Bilanglah, apa aku mesti kerjakan, nanti aku kerjakan!" kata si anak muda.

Bun Siu berduka. Ia kata di dalam hatinya: "Kalau aku menyuruh kau jangan mencintai Aman hanya aku, dapatkah kau mendengar kata-kataku?" Tapi ia tidak mengatakan demikian. Dengan perlahan ia kata: "Mari kita berdua berpura- pura bertengkar dan bertempur, kita pergi ke itu kamar di mana ayahmu dan Cherku telah terbinasa. Mungkin si orang jahat muncul. Kalau benar, kita serang dia secara mendadak" Supu setuju.

"Bagusi" katanya. "Mari kita mulai!"

"Dia lihai sekali, kau mesti waspada," Bun Siu pesan. Supu mengangkat kepalanya, sikapnya gagah.

Bun Siu lantas tertawa dingin.

"Kau bernyali besar! lihat golok!" dia berseru, lantas dia menyerang.

Supu kaget, dia lompat berkelit "Tuan Lie...” serunya. Atau ia mendusta. Maka ia membalas membacok sambil menegur. “Kau berani kurang ajar? Kau berani menyerang aku? Lihat, aku bunuh mampus padamu” la lantas mengangkat goloknya.

Aman sudah lantas mengerti peranannya. Ia mengangkat obor tinggi-tinggi ia berteriak-teriak: "Jangan berkelahi! Jangan berkelahi! Eh, kenapa tidak keruan-keruan kamu berkelahi?"

Cegahan itu tidak diambil mumat, keduanya lantas saling bacok. Golok dan golok bentrok, berbunyi nyaring tidak hentinya. Dari kamar itu mereka berkisar ke arah kamar di mana Cherku dan Suruke terbinasa. Supu di depan, Bun Siu di belakang. Supu terdesak, dia lari, Bun Siu merangsak, mengejar.

Meskipun mereka bersandiwara, kedua muda-mudi ini kurang tenteram hatinya. Bukankah mereka lagi bersandiwara untuk menghadapi ancaman bencana?

Tengah mereka "bertarung" itu, mendadak terdengar suara apa-apa yang nyaring di tembok, terus terasa menyambarnya angin dingin Hebat tiupan angin itu, obor di tangannya Aman padam seketika.

Supu dapat menjalankan peranannya baik sekait Ia menjerit "Aduh!" dan tubuhnya terus roboh terguling

Di lain pihak Bun Sie terkejut. Di dalam kamar yang gelap itu, ia merasa ada tangan yang dingin mengenakan lengannya, tangan mana mau merampas senjata di tangannya itu. Ia memang sudah siap sedia, maka sambil mencoba mengelit tangannya, kaki kirinya terangkat, menendang ke perut orang. Sebat gerakannya, tepat tendangannya, yang mengenai sasarannya hingga terdengar Suara keras. Tapi penyerang gelap itu keras cekalannya, dia tidak mau melepaskan tangan orang tidak perduli dia telah tertendang.

Bun Siu mengayun tangan kirinya ke muka musuh.

Musuh itu berkelit sambil mendak, dengan tangan larinya, ia membalas menyerang.

Dengan begitu, mereka lantas bertempur. Supu tidak lantas bangun, ia hanya berguling menghampirkan untuk menyambar kaki musuh itu. Tapi ia salah memekik

"Salah" berseru Bun Siu lekas. "Inilah kakiku! Aman, nyalakan api!"

Justeru ia membuka suara, pundaknya Bun Siu kena ditinju. Ia merasakan sakit hingga ia menjerit. Atas itu, musuh bekerja terus. Ia memegang keras lengan kanan si nona untuk mencoba merampas golok orang.

Di dalam keadaan yang berbahaya kembali terdengar siuran angin, tanda dari datangnya seorang lain, lantas terdengar bentakan; "Jangan bergerak!"

Suara bentakan itu belum berhenti, atau menyusul yang lain: "Jangan bergerak!"

Agaknya dua orang itu kaget, sebab berbareng terdengar suara mereka: "Siapa kau?"

Inilah suara saling tanya. Tapi mereka tidak menjawab satu pada lain sebaliknya, sebagai gantinya, terdengar suara beradunya senjata.

Bun Siu terkejut dan heran. Dengan mendadak ia menghajar dada orang. Telak tinjunya ini, hanya orang itu berdiam saja, dia tidak berkelit, dia tidak berteriak kesakitan.

Karena orang berdiam saja dan tangannya yang dicekal pun bebas, Bun Siu lantas menyalakan api, maka sekarang ia bisa melihat dengan nyata keadaan di dalam kamar itu. Tentu sekali, ia menjadi bertambah heran.

Dua orang yang lagi berkelahi itu ialah Kee Loojin serta Hoa Hui, yang satu penolongnya, yang lain gurunya: dua-duanya orang yang ia buat pikiran, yang ia hendak cari.

"Suhu!" ia lantas berteriak. "Kakek Kee! Tahan! Tahan!

Semua orang sendiri!" Teriakan itu membikin dua orang itu heran, keduanya sama-sama lompat mundur.

Bun Siu sendiri segera mengawasi orang yang mau merampas goloknya, yang masih berdiri diam saja Sebab dia kurban totokan pada jalan darahnya. Ia tidak dapat mengenali orang, yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, mukanya berewokan, rambutnya awut-awutan, dan mukanya itu juga tersilangkan tapak golok.

"Suhu! Kakek Kee!" kemudian si nona berkata. "Syukur kamu datang menolongi aku, jikalau tidak, aku bisa mati di tangannya ini manusia yang menyamar menjadi hantu!"

Orang itu tidak dapat berkutik tetapi ia bisa membuka mulutnya. Dia tertawa dingin dan berkata: "Yang menyamar menjadi hantu bukannya aku hanya Ma Kee Cunl" Dan tangannya menunjuk Mendengar disebutnya nama "Ma Kee Cun" itu, dua-dua Hoa Hui dan Kee Loojin terperanjat, mereka seperti merasakan tubuh mereka ditusuk jarum panas, keduanya sama-sama berlompat mundur. Wajahnya Kee Loojin nampak bengis tetapi bergelisah, dan wajah Hoa Hui gusar sekali. Kemudian Kee Loojin nampak menjadi kurangan bengisnya, tertukar dengan roman jeri.

Hoa Hui mengawasi orang tua she Kee itu, dan atas ke bawah dan sebaliknya.

Kee Loojin bertindak mundur lebih jauh. sinar matanya berjelalatan. Ia agaknya berniat mencari jalan untuk lari kabur.

Sekonyong-konyong Hoa Hui berseru; "Kee Cun, diam!"

Kee Loojin berdiam, ia mengangkat goloknya, sikapnya mengancam. Ia mengawasi Hoa Hui.

"Bagus, bagus!" katanya. "Kau benar belum mati!" Suaranya perlahan. Hoa Hui juga mengawasi tajam sekali, tak sekejap jua ia mengedip.

Kee Loojin tidak mundur lagi, ia terus menatap, rubuhnya lantas bergemetaran.

"Suhu!" tiba-tiba ia berseru, lalu dia menjatuhkan diri, berlutut di depan si orang she Hoa.

Lie Bun Siu heran bukan kepalang.

"Kenapa Kee Yaya pun memanggil guru kepada guruku?" ia tanya dalam hatinya. "Dia jauh terlebih tua daripada suhu..." Hoa Hui tertawa dingin "Hm! kau masih ingat aku sebagai guru?" katanya tajam. "Ketika dulu kau menggunai jarum beracun menyerang aku, kau toh tidak ingat gurumu, bukan?"

Kee Loojin mengangguk berulang-ulang.

"Ya, muridmu bersalah, muridmu bersalah" katanya. "Muridmu harus mati." Lie Bun Siu baru sadar. "Ah, kiranya tiga batang jarum di punggung suhu dilepaskan oleh Kee Loojin“ pikirnya.

Selagi yatim piatu, dan usianya demikian kecil, ia dirawat si kakek itu hingga sepuluh tahun, tentu sekali ia ingat budi kebaikan itu, maka sekarang, melihat sikap demikian galak dari gurunya kepada si kakek penolongnya itu, ia merasa berkasihan.

"Suhu," ia berkata, "Kee Loojin telah membokong kau, perbuatannya itu sangat tidak selayaknya, akan tetapi aku minta sukalah kau memberi ampun kepadanya. Selama sepuluh tahun Kee Yaya telah merawat aku baik-baik."

Hoa Hui tertawa dingin.

"Hm, apa itu Kee Yaya?" katanya, bengis. "Dia she Ma, namanya Kee Cunl Apakah kau kira dia benar-benar bungkuk unta?" Tanpa hening lagi, ia membentak pada Kee Loojin: "Lekas singkirkan semua penyamaranmu" Kee Loojin berbangkit dengan perlahan-lahan, terus ia membuka bajunya, hingga di punggungnya tertampak tergemblok sebuah buntalan besar. Ia turunkan buntalan itu. Kemudian ia menyusut mukanya dengan tangan bajunya, maka di lain detik, tampak mukanya yang putih dan tampan, la sekarang terlihat tegas sebagai seorang umur tiga puluh lebih, romannya gagah.

Lie Bu Siu sangat heran. "Kee Yaya, kiranya.." katanya tertahan, "kiranya kau masih begini muda?.,."

Kee Loojin menyeringai. "Aku bernama Ma Kee Cun," bilangnya. "Bukankah selama sepuluh tahun aku telah merawati kau tanpa kecelaan?" Bun Siu mengangguk. "Kau memperlakukan aku baik sekali," sahutnya. "Selanjutnya baiklah aku memanggil kau paman Ma."

Post a Comment