Halo!

Kuda Putih Menghimbau Angin Barat Chapter 29

Memuat...

Besoknya lohor, orang berkumpul pula di tegalan.

Setelah beristirahat dan dapat tidur satu malaman, Sangsfeer menjadi segar sekali. Ia telah memikirkan siasat berkelahinya: "Dia pandai silat, dari itu tidak dapat aku berkelahi renggang, sebaliknya, aku mesti merapatkan dia. Begitu bergerak aku mesti ringkus, untuk kita mengadu tenaga..."

Siasat ini benar-benar digunakan.

Lie Bun Siu berkelit ketika ia ditubruk, tangan kanannya dipakai menangkis berbareng menarik, sedang kaki kanannya membentur kaki orang. Dengan begitu, tidak ampun lagi, robohlah lawan itu

"Kau kurang berhati-hati!" ia kata tertawa. “Mari maju lagi!"

Sangszer berlompat bangun. Ia tetap sama siasatnya, yang ia telah pikir matang. Begitu berhadapan, ia menubruk dengan gesit

Bun Siu kembali menggunai Kimnaciu, ialah ilmu silat menangkap. Ia menangkap dan memutar, tangan kirinya menolak. Lagi sekali Sangszer roboh terguling, bahkan kali ini, tangannya keseleo sebab dia mencoba meronta. Karena merasa sakit, terpaksa ia mendekam terus.

"Kau bangun!" berkata Bun Siu tertawa. "Mari mencoba lagi!"

Nona ini mempelajari Kimnaciu yang terdiri dari tiga puluh enam jurus berikut pecahannya tiga puluh enam jurus lainnya, maka itu, mana bisa Sangszer melawannya? Maka juga, lagi- lagi pemuda Kazakh itu kena dirobohkan. Delapan kali dia diberikan ketika, akhirnya dia menggeleng kepala dan berkata: "Aku tidak sanggup melawan kau, pergi kau nikah Amani..." - la mengundurkan dai sambit tunduk.

Bun Siu tidak lantas rnenunta hadiahnya.

"Supu, mari!" ia kata pada si anak muda. "Mari kini bertanding!" Supu menggeleng kepada. "Aku tidak sanggup melawan kau," katanya. Ia tahu kekuatannya berimbang sama Sangszer, percuma ia melawan.

"Belum tentu," kata Bun Siu. "Mari kita coba dulu;" Supu melirik kepada Aman, ia melihat sinar mata si nona seperti menganjuri.

"Baik!" sahurnya seraya terus menyingsat pakaiannyn. Ia menggunai cara seperti Sangszer, begitu berhadapan, ia menubruk.

Bun Siu berkelahi seperti melawan Sangszer tadi, empat kali beruntun ia membuat lawannya mencium tanah, hanya ketika ke lima kalinya ia membikin orang roboh dan ia menekan punggung orang, ia berbisik: "Kau meronta, kau sambar punggungku, nanti kau menangi"

Supu heran, tetapi ia tidak sempat berpikir lama. Mendadak ia mengerahkan tenaganya, ia bangun, tangannya menyambar punggungnya lawan itu, maka di lain saat Bun Siu telah kena dirobohkan, ditekan pada tanah! Bun Siu tidak dapat berontak. Tapi Supu berpikir:

"Kemenangan ini bukannya kemenangan." la mengasih orang bangun seraya berkata: "Mari kita mencoba pula!"

Bun Siu menerima baik. Mereka kembali bergulat. "Ingat tipu-tipu tadi," kata Bun Siu, perlahan. "Jangan lupa!”

Di saat genting, kembali Bun Siu membiarkan ia dirobohkan. Saban-saban ia mengisiki akan lawan ingat tipunya itu. Semua itu terjadi hingga enam kali. Selama itu, tidak ada seorang jua yang mendengar kisikan itu, hingga orang cuma. heran, tidak ada yang bercuriga. Kelihatannya wajar Supu menjatuhkan lawannya itu. Hanya Supu sendiri yang heran bukan main. Terang ia kalah tetapi ia diajari tipu dan dibiarkan menang. Ia tidak dapat membade hati orang. Ia heran kenapa pemuda ini tidak mengharapi Aman yang demikian cantik manis.

Di akhirnya, habis dirobohkan, Bun Siu bangun berdiri dan berkata nyaring: "Sudah, tidak sanggup aku melawan kau, aku tidak mau memperebuti Aman!" Supu jujur, ia merasa tidak enak. "Kau mengalah," katanya.

"Jangan sungkan," kata Bun Siu. "Aku sudah kalah! Aku menyerah! Kalah dari kau, aku tidak malu!"

Si ketua pun heran, ia menjadi bingung juga. Siapa si pemenang terakhir? Supu kalah dari Sangszer, Sangszer terkalahkan Lie. Bun Siu, tetapi Supu menang dari pemuda Han ini? Bagaimana?

Beberapa orang menyatakan pikirannya: "Kalau begitu, biarlah Supu dan Sangzer mengulangi pertandingannya. Mereka itu sama-sama kalah dan sama-sama menang."

Pikiran ini dapat kesetujuan umum .dan lantas diterima baik. Bahkan pertandingan lantas diadakan seketika juga. Kali ini mereka itu sama-sama habis bertempur, jadi mereka sama letihnya.

Supu dan Sangszer menerima baik pertimbangan itu.

Pertandingan dimulai setelah kedua pihak sudah siap sedia dan pertandaan diberikan.

Selama itu Supu mencoba mengingat-ingat tujuh jurus ajarannya Lie Bun Siu, ia mengingat baik hanya tiga tipu, tetapi ini pun sudah cukup. Demikian, di saat ia terancam bahaya, ia menggunai tipu ajaran orang Han itu, karenanya, saban» saban ia menang di saat terakhir. Sangszer kewalahan, akhirnya dia menyerah kalah.

"Sesudah bergulat dua hari, Supu memperoleh kemenangan terakhir!" berkata si ketua dengan keputusannya. "Itulah bukti yang Allah telah mengampuni Supu, maka dapatlah dia menikah- sama Aman"

Muka Aman merah tetapi hatinya girang tidak terkira- kirakan.

Orang banyak pun bergirang. Itulah perjodohan yang hebat Supu hendak memberi hormat kepada Bun Siu, untuk menghaturkan terima kasih, tidak tahunya, ketika ia mencari pemuda itu, si pemuda sudah naik atas kuda putihnya dan pergi dengan diam-diam hingga dia tidak dapat disusul lagi!

Malam itu, dengan mengitari unggun, bangsa Kazakh membuat pesta.

Sangszer kalah tetapi dia terbukti gagah, ada empat nona manis lainnya yang mengerumuni, yang menghibur dan menyanyi untuknya. Mulanya ia berduka. Lama-lama ia terhibur juga. Akhirnya ia bingung, siapa yang ia mesti pilih di antara empat nona-nona itu. Mereka itu, kecuali cantik, masing-masing mempunyai kelebihannya sendiri, umpama yang satu halus budi pekertinya, yang lain' merdu nyanyiannya, yang lain lagi lemah gemulai tariannya...

"Apakah baik aku memilih yang lainnya saja?" demikian ia pikir. Lalu, dia pun mengingat, yang kitab sucinya mengizinkan ia menikah empat isteri...

Tengah pesta berlangsung itu. sekonyong-konyong ada terdengar tiga kail suara jeritan mengerikan seperti suara burung malam, datangnya dari arah barat. Semua orang terkejut, semua mata memandang ke barat itu.

Suara yang membangunkan bulu roma itu keluarnya dari satu orang yang luar biasa. Dia datang menyusuli suara anehnya itu, datangnya sambil berlari-lari keras, tubuhnya nampaknya putih. Lantas dia berhenti di jarak empat tombak dari orang banyak. Sekarang terlihat tegas dia mengenakan jubah putih yang berlepotan darah, seperti mukanya berdarah juga. Dia lebih tinggi dua kaki dari orang yang kebanyakan. Ketika dia mengangkat dan mengulur kedua tangannya, terlihat sepuluh jarinya panjang sekali dan sepuluh jari itu pun berdarah.

Semua orang mejengak, hati mereka berdebaran. Hanya sebentar, manusia luar biasa itu lantas mengasih dengar suaranya yang tajam "Siapa sudah curi mustika dari istanaku? Lekas bayar pulang! Kalau tidak, satu demi satu, aku akan membuatnya mati tak wajar! Sudah seribu tahun aku tinggal di dalam istanaku itu, siapa juga tidak berani memasukinya, tetapi kamu, kamu besar sekali nyali kamal"

Habis berkata, dengan perlahan dia memutar tubuhnya, dia menunjuk -kepada seekor kuda terpisah tiga tombak jauhnya, dia berkata: "Mampuslah kau!" Setelah itu mendadak dia memutar tubuhnya dan lari, sekejap saja, tubuhnya lenyap.

Semua -orang kaget dan tercengang. Manusia aneh itu muncul dan leayap secara mendadak dan kelakuannya juga aneh. Lantas menyusul lain keanehan. Ialah kuda yang dia tunjuk itu mendadak roboh dan mati, ketika orang merumuninya, binatang itu tidak terluka, tidak keluar darah dari mulut dan hidungnya, agaknya mati wajar.

"Hantu.. Hantu!" kate banyak orang. "Telah aku kata di Gobi ada setannya!"

"Sudah seribu tahun istana tua itu tidak didatangi manusia, pasti ada memedi yang menjaganya!"

"Katanya hantu tidak ada kakinya, mari kita lihat, dia ini ada tapaknya atau tidak..."

Beberapa orang membesarkan hati, dengan membawa obor mereka maju. Tidak tampak tapak kaki, ada juga liang kecil setiap jarak lima kaki. Tapak kaki manusia tidak sekecil itu. Juga jarak tepak kaki tidak dapat serenggang itu.

Post a Comment