Sampai di situ, orang menduga iblis penunggu istana main gila, maka ada yang berkata: "Semua yang memasuki istana, dia akan celaka... Lihatlah Suruke dan Cherku! Bukankah mereka terbinasa di. sana? Tentu si hantu membikin Cherku kalap, Cherku disuruh, membinasakan Suruke, kemudian Supu dibikin tak sadar dan diperintahkan membunuh Cherku..." "Ya, lihat itu kawanan penjahat Han, sudah sepuluh tabun mereka mengganas di gurun pasir, Orang kewalahan karenanya, tetapi sekali mereka memasuki istana rahasia itu, beginilah kesudahannya..."
"Dan orang bangsa kita, bukankah telah banyak yang mati di dalam istana itu?" kata lagi suara lainnya.
Di akhirnya ada yang memperingatkan suatu dongeng tua, begini: Seorang secara mendadak mendapati harta karun di padaag pasir, harta itu diangkut pulang, hanya aneh, unta yang menjadi binatang tunggangannya tidak dapat pulang, cuma mondar-mandir di situ-situ juga. Katenya, si penunggu tidak membiarkan orang mencuri harta itu, kaki unta "dipegangi". Setelah harta itu dikembalikan, baru orang itu dapat pulang. Inilah dongeng yang setiap orang Kazakh mengetahuinya.
Maka akhirnya seorang mengusulkan kepada ketuanya: "Baiklah semua harta itu dikembalikan, supaya mereka terhindar dari mara bahaya. Tapi orang berat ' .untuk mengembalikannya, mereka bersangsi.
Malam itu tidak ada kepatutannya.
Segera datang malam yang kedua. Kembali orang berkumpul di tegalan itu. Semua berkuatir "hantu" tadi malam nanti datang pula. Maka itu mereka lebih suka berkumpul bersama, hati mereka menjadi terlebih tenang. Karena tidak ada orang suka berdiam sendirian di tenda mereka, jumlah mereka menjadi jauh terlebih besar.
Mulai tengah malam, dari arah barat daya terdengar suara jeritan seperti malam pertama. Datangnya juga dari jurusan yang sama. Semua orang menjadi kaget, bulu roma mereka lantas pada bangun. Mereka tidak usah menanti lama akan melihat munculnya si "hantu" yang kemarin itu, yang bajunya putih dan berdarah. Dia datang bagaikan terbang, lantas dia terdiri di muka orang banyak. Dia pun segera mengasih dengar suaranya seperti kemarinnya: "Siapa sudah mencuri mustika dari istanaku? Lekas bayar pulang! Kalau tidak, satu demi satu, akan aku membuatnya mati tak wajar! Sudah seribu tahun aku tinggal di dalam istanaku itu, siapa juga tidak dapat memasukinya, tetapi kamu, kamu besar sekali nyali kamu!"
Sehabis berkata, si hantu memutar tubuhnya. Dengan perlahan ia mengangkat tangannya, untuk menunjuk satu pemuda, yang terpisah jauh juga darinya. Lantas ia kata nyaring: "Kau matilah!" Kata-kata itu disusul sama gerakan tubuhnya, yang diputar balik, terus dia berjalan pergi, maka di lain derik lenyaplah dia dari pandangan mata semua orang!
Menyusul itu terjadi hal aneh dan hebat atas diri si anak muda yang ditunjuk tadi. Dengan sendirinya pemuda itu menjadi lesu, sepatah kata juga dia tidak mengeluarkannya, lantas dia berubah kulit mukanya menjadi hitam, dan dia mati! Kecuali itu, tidak ada tanda lainnya lagi. Dia tidak terluka.
Tidak cukup kemarin malam membunuh seekor kuda, kali ini hantu itu membinasakan seorang muda segar bugar. Ialah salah satu anak muda yang pernah turut memasuki istana rahasia.
Orang semua menjadi takut dan bingung, semua terbenam dalam kekuatiran. Benar selewatnya tidak ada bahaya lagi, akan tetapi di lain malamnya-malam ketiga tidak ada seorang jua yang berani muncul di tegalan, semua menyekap diri-di dalam tenda, yang ditutup rapat-rapat Malam itu jadi sangat sunyi senyap.
Malam tenang-tenang saja sampai tiba jam haysie, seperti kemarin-kemarinnya. Dengan tiba-tiba terdengar pula jeritan yang menakuti itu, disusul sama kata-kata yang serupa, disusul sama seman terakhir: "Kau matilah!"
Habis ancaman itu kembali malam rnembuat.sunyi, hanya tidak lama, ketenangan terganggu tangisan sedih yang keluar .dari sebuah tenda. Itulah bukti bahwa si hantu telah datangi tenda itu, menyingkap tendanya dan membunuh mati seorang mudai
Orang menjadi takut, tetapi mereka tidak berdaya. Juga di waktu siang, ketakutan mereka tetap tidak berubah. Mereka lantas berdoa, memuji kepada nabi mereka memohon perlindungan. Lain jalan tidak ada.
Sia-sia belaka doa mereka, di malam keempat, kembali seorang muda binasa secara serupa. Maka itu, ketika tiba kurban yang ke empat, si ketua menjadi putus asa, terpaksa ia mengajak semua orang bangsanya mengangkut pulang harta karun ke istana rahasia, tidak ada orang yang berani menyembunyikan sekalipun sepotong kecil emas atau perak. Sepulangnya barulah hati mereka lega sedikit. Mereka mau percaya si hantu tidak bakal datang pula untuk mengganggu. Akan tetapi, peristiwa tidak gampang-gampang habis...
Untuk pulang dari istana rahasia, di malam pertama, mereka mesti bermalam di tengah gurun pasir. Malam itu si hantu muncul di antara mereka, bantu itu berkata: "Kamu baik sekali, semua harta telah kamu kembalikan padaku. - Aku memajikan Semak kamu makmur, kamu sendiri selamat tidak kurang suatu apa! Hanya itu anak perempuan, yang mengantarkan kamu ke istaa rahasia, dia hendak aku menghukumnya!" Habis berkata begitu, dia lantas lenyap.
Aman adalah si anak perempuan yang dimaksudkan itu, maka bukan main takutnya ia. Dengan ia, turut berkuatir juga Supu, maka besoknya malam bersama empat kawannya pemuda lain, dengan menyiapkan golok, Supu menjagai kekasihnya Itu.
Kapan sang tengah malam tiba, si hantu putih yang berlepotan darah itu muncul pula. Supu berlima mengitari Aman, akan tetapi belum sempat mereka berbuat apa-apa, lantas mereka merasakan punggung mereka sesemutan dan kaku, lantas mereka roboh tak sadarkan diri. Ketika mereka mendusin sesudah langit menjadi terang, Aman lenyap tidak keruan paran. Mereka menjadi kaget Si empat anak muda lantas naik kuda mereka, untuk kabur pulang. Supu pun menunggang kuda dan kabur, hanya dia mengambil arah kembali ke istana rahasia
*Wah, Supu, kau mau bikin apa?" orang bertenak-teriak menanya.
Sambil kabur terus, Supu menyahuti: "Aku hendak mati bersama Aman!...”
Orang; hendak mencegah tapi pemuda itu sudah kabur jauh.
Supu hancur hatinya. Ia pergi ke istana bukan untuk menolong kekasihnya, hanya benar-benar buat mati bersama
Magribnya di hari keempat, tibalah Supu di depan pintu emas dari istana rahasia. Dia benar-benar telah menjadi nekat. Tepat di depan pintu, dia berteriak-teriak: “Hai, hantu jahat dari istana rahasia! Kau telah membikin mati kepada Aman, maka kau bunuhlah aku sekaitan! Akulah yang bersama Aman mengantarkan orang-orang bangsaku datang, kemari untuk mengangkut harta karun! Aku Supu, aku tidak-takut mati!"
Supu telah menunjuk keberaniannya itu, akan tetapi sia-sia belaka ia berkaok-kaok di muka pintu emas dari istana itu, tidak ada orang yang menyahuti padanya, tidak ada orang yang melayani bicara. Ia penasaran, maka ia berseru pula:
"He, hantu jahat, apakah kau takut padaku? Haha! Aku justeru tidak takuti kau, tidak takut meski kau hantu jahat!” Ia lantas membulang-balingkan goloknya bagaikan orang kalap.
Selagi pemuda ini masih kalap, mendadak ia mendengar suara halus di sebelah belakangnya: "Supu, kau lagi bikin apa?” Ia terperanjat; dengan segera ia memutar tabuhnya. Maka ia melihat seorang wanita Han. Malam remang-remang, sinarnya si pulen malam tidak cukup kuat untuk membikin wajah orang nampak jelas.
"Kau mencaci kalang kabutan, siapakah yang kau maki?" tanya pula wanita itu.
Sapu mendengar nyata suara orang. Itulah suara yang ia kenal baik.
"Kau... kau toh tuan Lie?" tanyanya akhirnya. "Mengapa kau... kau kembali menjadi wanita?"
Nona itu memang Lie Bun Siu. Dia bersenyum
"Sebenarnya kau bikin apa di sini?" dia menanya tanpa menjawab.
"Lekas kau menyingkir!" kata Supu, yang jnga tidak menyahuti. "Istana rahasia ini ada hantunya yang jahat! Kalau sebentar dia keluar, dia dapat membikin celaka padamu..."
"Kenapa kau sendiri tidak takut?" balik tanya si nona. Supu menjadi sengit. "Setan jahat itu telah mencelakai Aman!" sahurnya. "Aku tidak ingin hidup pula!"
Bun Sui nampak kaget . "Bagaimana bisa ada bantu jahat di istana?” katanya-: "Kenapa din mencelakai Aman?" .
Supu lantas memberi penjelasan hal munculnya si hantu baju putih, yang mengganggu orang Kazakh hingga ada yang mati dan Aman diculik, karena mana ia datang menyusul, guna menyerahkan jiwanya juga.
Bun Siu berdiam untuk berpikir. Ia heran dan curiga.
"Ada tanda apa di tubuhnya kurban-kurban jiwa itu?" ia tanya kemudian. "Benar-benarkah tidak teriuka sama sekali?"
"Benar tidak ada tanda apa-apa," menyahut Supu. "Hanya….." tiba-tiba ia ingat suatu apa, "hanya kulit muka mereka menjadi hitam seperti dilabur lumpur..." Bun Siu berdiam, hatinya bekerja: "Aku tidak percaya ada hantu di dalam dunia ini... Mungkin seorang lihai tengah main sandiwara dengan menyamar menjadi iblis. Hanya, mengapa tidak ada tapak kakinya di atas pasir? Kenapa hanya dengan satu kali mengulur tangan dia dapat membinasakan orang?..."
"Tuan Lie," berkata Supu selagi orang berpikir, "kau baik sekali, kau membantu aku mendapatkan Aman, maka sayang peruntunganku tipis, sekarang Aman dibikin celaka hantu.-Aku datang kemari untuk mengantarkan jiwa, biar si hantu - jahat membinasakan aku sekalian. Tuan Lie, mari kita berpisah, agar kita bertemu pula nanti di lain penitisan..."
Bun Siu terharu dan bingung. Menurut penuturan Supu, "hantu” itu sangat lihai. Rasanya tidak sanggup ia melawan bantu itu. Ia bingung mengingat anak muda ini mengurbankan diri untuk Aman. Itulah cinta sejati. Itu membuatnya terbaru. Ia kata di dalam hatinya: "Kau bersedia mati untuk Aman, kenapa aku tidak bersedia mati juga untuk kau?..."
Maka ia lantas kata: "Mari aku temani kaul"
Supu terkejut Ia heran. Ia lantas mementang matanya lebar-lebar, sedang hadnya berpikir "Kenapa kau begini baik terhadap aku? Mustahilkah..." Ia tidak berani memikir terus, hanya segera ia berkata: "Lekas kau menyingkir dari sini! Lebih jauh lebih baiki" Tapi si nona tidak pergi. "Kau dengar aku," ia berkata. "Itulah bukannya hantu! Aku percaya dialah orang yang menyamarnya! Mari kita bekerja sama untuk menempur dia!" Supu menggeleng, kepala. "Kau belum pernah melihat hantu itu!" katanya. "Kau tidak tabu dia lihai sekali! Tuan Lie, aku sangat berterima kasih kepada kau.tetapi.. kau baiklah lekas pergi, lekas!"
Lie Bun Siu tertawa, walaupun tertawa dengan air naiki berduka. Ia menghunus pedangnya, sedang dengan tangan yang lain ia menolak pintu istana rahasia itu. "Kau pasang obor!" ia pun berkata. "Mari kita menolongi Aman!”
Hati Supu tergetar mendengar suara orang itu. Tiba-tiba ia mendapat harapan
"Apakah Aman belum mati?" dia bertanya, matanya mendelong.
"Aku percaya belumi" menjawab Bun Siu. Tiba-tiba pemuda Kazakh itu bergembira. "Baik" dia berseru. "Mari kita tolong! Aman!"
Dia lantas menyulut obor, bahkan dia mendahului masuk ke istana.
Demikian muda-mudi ini masuk ke dalam istana. Mereka jalan berliku-liku. Sudah sekian lama, mereka belum juga memperoleh hasil, Supu tidak takut, saban-saban ia berteriak- teriak memanggil-manggil: "Aman! Aman! Kau di mana?" Tapi tidak juga ia memperoleh jawaban.
"Kau teriak bahwa pasukan besar kita datang menolongi," Bun Siu menganjur. "Mungkin si hantu takut dan nanti menyingkirkan dirinya..."
Supu menurut, ia berteriak-teriak pula: "Aman! Aman! Jangan takut! Kami datang dalam jumlah besar untuk meoolongi kau!"
Masib tidak ada jawaban, maka mereka maju terus. Sekonyong-konyong terdengar jeritan di sebelah depan.
Itulah jeritan wanita. Mungkin sekali itulah Aman. Maka Supu
lantas lari. Di depan sebuah kamar, ia segera menolak daun pintu. Untuk kagetnya, ia melihat Aman di satu pojok, tangan dan kakinya dibelenggu. Dia kaget melihat Supu, dia menjerit, Supu juga menjerit saking terkejut, dan girangnya. Supu lompat maju, untuk mendekati. Dengan cepat ia meloloskan belengguan si nona.
"Mana dia si hantu jahat?" tanya dia selagi menolongi membebaskan.
"Dia bukannya hantu, hanya manusia," Aman menjawab. "Hanya di dalam gelap, aku tidak bisa melihat tegas wajahnya. Dia bertangan panas. Barusan dia ada di sini, begitu dia mendengar suara kau, lantas dia pergi menyingkir!" Supu bernapas lega. "Orang macam bagaimana dia itu?" ia menanya. "Kenapa dia menangkap dan menculik kau?"
"Entahlah," Aman menjawab. "Selama di tengah jalan dia telah menutup mataku. Di dalam istana ini, seluruh ruangan gelap sekali, dari itu belum pernah aku dapat melihat jelas mukanya."
Supu berpaling kepada Bun Siu, sinar matanya menunjuki sangat bersyukur. Sebab benar katanya si nona. Aman belum mati.,.