"Benar, benar!" orang banyak berseru-seru. "Pemuda kita yang paling gagah mesti menikah dengan pemudi kita paling cantik!"
Semua mata lantas dialihkan kepada Supu dan Sangszer, ada juga kepada beberapa pemuda lainnya.
Aman, dengan wajah merah, juga memandang kepada setiap anak muda. Setiap pemuda, yang sinar matanya bentrok, hatinya berdenyutan, otaknya bekerja, dia kata dalam hatinya: "Siapa dapat menjadi suami nona begini cantik, ia sungguh beruntung!"
Sementara itu, Aman tidak memandang Supu, ia menyingkir dari sinar matanya si pemuda.
"Maka itu sekarang aku ingin diadakan pertandingan guna memilih pasangannya Aman," berkata pula si ketua kemudian. "Untuk itu orang harus dapat turut ambil bagian di dalam empat macam pertandingan. Tiga yang pertama ialah pacuan kuda, mengadu panah dan rebutan kambing. Untuk merebut kambing lima ekor, orang mesti tinggal lima Inilah calon terakhir, yang akan mengadu tenaga dan kepandaian satu dengan lain. Siapa yang menang dialah orang yang paling kosen."
"Dan dialah yang mendapatkan nona kita paling cantik!" orang banyak menyambungi.
Si ketua mengangguk. Ia berkata pula: "Sekarang sudah jauh malam! Siapa sudah mempunyai isteri, siapa sudah mempunyai kekasih, kamu boleh terus pelesiran! Siapa mau turut pertandingan, pergilah masuk tidur, untuk beristirahat untuk bersiap sedia! Kita akan mulai besok pagi! Nanti kita lihat, siapakah yang dipilih Junjungan kita!"
Bangsa Kazakh beragama Islam, maka itu mereka percaya, mati dan hidup mereka ada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, Junjungannya.
Besoknya pagi di padang rumput telah berkumpul seratus lebih pemuda, semua dengan kudanya masing-masing, kuda pilihan. Cuma Supu yang berduduk dengan masgul. Ia kata di dalam hatinya: "Aman membenci aku, percuma aku mengalahkan orang, dia tidak bakal menikah padaku...” Tidak lama terdengarlah suara terompet. Semua anak muda, dengan menuntun kuda mereka, lantas berdiri berbaris. Supu tetap berduduk saja, ia ragu-ragu. Mendadak kupingnya mendengar teguran: "Kenapa kau tidak turut bertanding?" Ia terperanjat. Itulah suaranya Aman. Ia menoleh. Ia masih mau menduga nona itu bicara dengan lain orang. Tapi di situ cuma ada ia sendiri. Ia lantas melihat mata Aman ditujukan tajam kepadanya. Mendadak ia menjadi girang sekali.
"Oh, Aman, kiranya kau dapat memaafkan aku?..." katanya. Nona itu menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu..." sahutnya. Ia berhenti sejenak, lalu ia menanya: "Kau... kenapa kau tidak turut bertanding?"
Supu tidak menyahut, hanya dia berjingkrak bangun, terus dia menuntun kudanya dan pergi berbaris.
Segera juga terdengar pula suara terompet, setelah tiga kali, maka seratus lebih penunggang kuda itu sudah mulai membalap, dari barat mereka kabur ke timur.
Matanya Aman tidak pernah berpisah dari kuda bulu dawuk dari Supu. Setindak derra setindak, kuda itu melewati yang lain-lainnya. Tiba di timur, batas ujung, orang lari kembali dengan memutar. Ketika orang akhirnya tiba di barat, di batas penghabisan, kuda Supu ialah yang kedelapan. Kuda nomor satu, yang bulunya putih, penunggangnya mengenakan topeng dari sapu tangan, hingga nampak sepasang matanya saja yang bercahaya.
Si ketua segera mengumumkan, yang dapat bertanding terus ialah yang kudanya terhitung sampai nomor lima puluh. Sekarang orang mulai dengan adu panah. Untuk itu di tengah padang rumput itu ditancap papan sebagai tameng atau sasaran. Sambil menunggang kuda, pemuda-pemuda itu. memanah bergantian. Setiap kali sasaran terkena tepat, orang semua bertepuk tangan bertampik sorak.
Setelah penghitungan ternyata, di dalam sepuluh kali panah, Supu dapat mengenai delapan kali. Yang sepuluh kati memanah tanpa lolos ialah si penunggang kuda bertopeng.
"Eh, siapakah dia?” demikian orang saling bertanya. "Kudanya lari paling keras, ilmu panahnya pun paling mahir!”
Si ketua sudah lantas mengumumkan siapa dalam sepuluh kali dapat memanah enam, dia berhak turut dalam pertandingan yang ketiga. Acaranya ialah merebut kambing.
Lalu ternyata, dari lima puluh calon, tiga puluh berhak bertanding lebih jauh.
Rebutan kambing adalah olah raga kepelesiran paling digemari bangsa Kazakh. Cara merebutnya ialah seekor kambing dilepas di tengah kalangan, lantas sambil menunggang kuda orang merebutnya, siapa yang akhirnya mendapatkan itu, dialah yang menang,, dia berhak memiliki kambing itu serta diakui juga sebagai orang kosen. Untuk ini orang mesti pandai menunggang kuda, bermata celi, bertenaga besar dan sebal Itulah perebutan di antara puluhan lawan.
Kali ini digunakan lima ekor kambing. Nampaknya perlombaan menjadi terlebih riang. Tentu sekali, yang diperebuti bukan kambing lagi hanya Aman. Maka juga perasaan setiap peserta menjadi tegang luar biasa. Pula setiap sanak atau keluarga atau sahabatnya si pemuda bersorak menganjurkan anak atau sanaknya itu. Maka ramailah gemuruh sorak-sorai. Siapa telah mendapatkannya, kambing itu masih dapat dirampas lain orang. Maka siapa berhasil, dia mesti bisa kabur naik ke atas bukit ialah tempat terakhir di mana orang tidak dapat merampasnya lebih jauh.
Kemudian ternyata, di antara lima calon yang berhasil itu, ada Supu, ada Sangszer, ada si penunggang kuda bertopeng itu.
Sampai di sini orang mulai dengan acara terakhir: Mengadu kepandaian berkelahi. Menurut undian, Sangszer dapat lawan seorang pemuda yang dijuluki si "banteng gede”. Lawannya Supu ialah seorang pemuda tinggi sekali dan kurus, hingga dia biasanya jalan dengan punggung melengkung agar tidak terlalu menyolok kalau dia jalan beramai-ramai. Dia dipanggil si "unta”. Meski lawannya Sangszer ada satu banteng tetapi ia sangat gesit dan cerdik, belum lama, dengan satu gaetan kaki, ia dapat membikin lawan itu roboh, lalu ditindih hingga tidak berdaya.
Si unta sebaliknya sulit untuk dijatuhkan Supu. Beberapa kali dia kena dirobohkan, saban-saban dia dapat meronta dan bangun pula, hingga dia mendatangkan ramai tempik sorak. Tadinya orang menyangka Supu bakal menang, kemudian lalu menduga si unta yang ulat ini.
Supu bermandikan peluh, kaki dan tangannya berkurang kecekatannya, napasnya pun memburu. Lawannya sebaliknya nampak lebih segar hanya dia pun tidak bisa merebut kemenangan. Maka mereka jadi bertarung seru sekali.
Saking letih, kemudian Supu kena dibanting jatuh, tubuhnya terus ditindih. Ia berontak, sia-sia saja. Banyak orang lantas berkaok-kaok: “Si unta menang! Si unta menang!*' Supu bergelisah bukan main. Tiba-tiba sinar matanya bentrok sama sinar matanya seorang lain. Itulah sinar mata yang bergelisah, yang seperti sangat memperhatikan padanya. Mendadak ia mendapat tenaga baru, ketika ia berontak, ia dapat menggulingkan si unta, hingga sekarang ialah yang berbalik menindih lawannya.
Dengan tangan kirinya ia menekuk tangan kanan si unta, lehernya dia itu ia tekan. Maka habislah tenaga si jangkung kurus itu!
Di antara sorakan riuh sekali, Supu dinyatakan menang, la bangun berdiri dengan napas menggotong. Justeru itu Sangszer berkata padanya: "Supu, kau beristirahatlah! Aku akan melayani dulu ini saudara!” Dia berbicara tanpa memberi ketika lawannya beristirahat dulu. Habis berkata, dia menghampirkan si calon yang nomor lima, yang belum ada tandingannya. Dia berkata dengan tangannya: "Saudara, mari aku melayani kau bertanding. Sekarang kau tentu dapat meloloskan topengmu..."
"Tak dapatkah tanpa diloloskan?" menjawab si lawan.
Supu mendengar suara orang, hatinya bertekat Semenjak tadi ia menduga kepada si pemuda yang menyebut dirinya Lie Pekma, sekarang ia mendapat kepastian. Hanya, karenanya, ia menjadi berpikir: "Sudah terang Sangszer dan aku bukan tandingannya. Dia selalu berada di antara kita, kiranya dia pun mengarah Aman..."
Pemuda itu memang Lie Bun Siu.
Sangszer tertawa dan berkata: "Untukku sendiri, tidak ada halangannya aku tidak melihat wajahmu, tapi kita tinggal bertiga. kalau aku dan Supu kalah, mungkinkah Aman menikah suami yang tidak ada mukanya?"
"Baiklah “ menjawab Bun Siu. yang lantas menarik sapu tangannya. "Lie Pekma!" Sangszer berseru kaget Orang banyak pun heran.
"Lie Pekma! Lie Pelana!" mereka berseru-seru. "Dialah orang Han!"
"Tidak! Gadis cantik kita tidak dapat menikah sama orang Han!" ada lagi yang berteriak-teriak.
Yang hebat adalah yang berteriak: "Orang Han menjadi penjahat! Orang Han telah merampok dan membunuh orang bangsa kita!" Mereka kurban-kurban keganasannya rombongan Hok Goan Liong.
"Orang gagah she Lie mi bukan orang jahat!" ada juga yang mengasih dengar suara lain.
"Dialah yang menolong kita di istana rahasia!"
"Dialah penolong bangsa kita! Dia lain dari orang-orang Han yang jahat!"
Maka ramailah suara-suara yang bertentangan itu.
"Baiklah kita mendengar ketua kita!" akhirnya ada yang berteriak.
Si ketua berbangkit, tiga kali ia menepuk tangan.
"Saudara-saudara, tenang!" ia berkata, nyaring. "Saudara Lie ini bukannya orang jahat! Tanpa dia, kita semua tentu telah habis terbinasa di dalam istana rahasia! Maka itu benar, dialah penolong kita! Pula harus diketahui, di antara orang Han juga ada banyak yang baik, dan saudara Lie ini orang baik itu!" Ia berhenti sejenak, lalu ia meneruskan: "Sekarang mari kita bicara dari hal pertandingan ini. Inilah pertandingan yang mengenakan jodohnya Aman. Di dalam ini hal, kita mengharap petunjuk Allah Junjungan kita, ingin kita mendapat tahu Tuhan berkenan memberi ampun atau tidak kepada Supu. Jikalau Supu diberkahi, dia tentulah yang menang dan dia bakal menikah sama Aman. Kita ada penganut-penganut dari agama Islam, kita tidak dapat menikah sama orang dari lain agama."