"Benar! Kau melihat dia?"
"Dia lari ke sana, Suhu!"
Yo Han menunjuk ke arah selatan.
"Kau di sini, aku akan mengejarnya! Dialah orang ke tiga itu!"
Berkata demikian, Sin Hong berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam. Yo Han berdiri termangu-mangu. Ternyata dugaannya benar. Dua pihak itu diadu domba oleh murid Ngo-heng Bu-koan sendiri. Dia tidak tahu apa sebabnya dan dia merasa menyesal mengapa dia tidak memiliki kepandaian sehingga tidak mampu ikut pula mengejar. Akan tetapi, menanti di situ seorang diri saja juga amat tidak enak, maka dia pun lalu melangkah meninggalkan tempat persembunyiannya, menuju ke selatan, ke arah larinya Phoa Hok Ci yang dikejar suhunya.
Karena malam itu gelap, langit hanya dipenuhi bintang-bintang yang mengeluarkan cahaya remang-remang, dan dia sama sekali tidak mengenal jalan. Yo Han harus berjalan dengan hati-hati agar jangan sampai terjeblos ke dalam jurang. Dia meraba-raba, akan tetapi terus menuju ke selatan. Sementara itu, Sin Hong juga menghadapi kesukaran untuk dapat menangkap orang yang dikejarnya. Kegelapan malam dan asingnya tempat itu baginya membuat dia jauh kalah cepat bergerak dibandingkan Phoa Hok Ci walaupun kalau mereka berdua berlomba lari cepat, tentu Sin Hong akan menang. Bahkan setelah memasuki sebuah hutan yang keadaannya lebih gelap lagi, dia kehilangan jejak murid Ngo-heng Bu-koan itu. Akan tetapi tiba-tiba dia melihat dinding putih agak jauh di depan.
Agaknya ada bangunan di depan dan kebetulan bangunan itu berada di tempat terbuka sehingga dindingnya dapat nampak keputihan di bawah sinar ribuan bintang di langit. Sin Hong cepat menuju ke dinding putih itu dan tak lama kemudian tibalah dia di depan sebuah kuil! Sebuah kuil tua di tengah hutan. Siapa tahu orang yang dikejarnya bersembunyi di kuil itu, pikirnya dan dengan tenang namun hati-hati sekali Sin Hong menghampiri kuil dan masuk ke pekarangan kuil itu. Sebelum dia masuk ke ruangan depan, dia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Sunyi saja di tempat itu, akan tetapi tiba-tiba dia berhenti dan pendengarannya yang amat tajam itu dapat menangkap gerakan lirih di sebelah dalam kuil tua. Kemudian, ketika dia menunduk sambil mendengarkan, matanya dapat melihat pula beberapa batang kayu kering berserakan.
Ini hanya dapat terjadi, kalau ada orang di dalam kuil itu yang mengumpulkan kayu kering membawanya ke dalam kuil karena di tempat dia berdiri, yaitu di pekarangan depan kuil itu, tidak ada pohon sehingga ranting kayu itu tentu dibawa orang ke situ. Dia semakin waspada. Ada orang di dalam kuil, pikirnya, atau kalau suara tadi bukan gerakan orang melainkan tikus atau binatang setidaknya kuil itu pernah didatangi orang dan orang itu mengumpulkan kayu kering untuk membuat api unggun! Sin Hong melangkah masuk ruangan depan dan hidungnya berkembang kempis. Penciumannya juga amat tajam dan dia mencium bau hangus, bau api unggun yang baru saja dipadamkan. Mungkin kalau cuaca tidak begitu gelap, akan dapat nampak asapnya. Dia semakin waspada dan tiba-tiba saja dia melempar tubuh ke samping.
Untung dia bergerak cepat karena dari depan dan belakangnya ada pedang dan tombak, yang menyambar amat ganas dan cepatnya. Kalau dia tidak melempar tubuh ke samping, satu di antara dua buah senjata itu pasti akan mengenai tubuhnya. Dia menjatuhkan diri dan bergulingan, lalu melompat bangun. Ketika dia bergulungan tadi, dia sengaja berguling ke luar sehingga kini dia berdiri di pekarangan kembali. Dan dari ruangan depan yang gelap itu berloncatan dua orang. Yang seorang memegang sebatang pedang dan dia itu bukan lain adalah Phoa Hok Ci! Adapun orang yang memegang tombak adalah seorang kakek yang berusia enam puluh tahun, berambut riap-riapan panjang, mukanya seperti seekor singa, pakaiannya seperti jubah pertapa yang tebal dan matanya mencorong.
"Heh-heh-heh, inikah pendekar muda sombong yang mengancammu itu, Hok Ci?"
"Benar, Suhu, dia berbahaya sekali, dan dia bukan hanya mengancam aku, akan tetapi juga Suhu dan rencana kita akan gagal sama sekali kalau dia dibiarkan hidup lebih lama lagi."
"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Serahkan saja dia kepadaku, akan kuhabiskan dia sekarang juga!"
Kakek bermuka singa itu tertawa sambil menancapkan tombaknya di dinding.
"Kau pasang saja lampu penerangan agar lebih mudah aku membunuh dia!"
Agaknya kakek itu tinggi hati sekali dan dia sudah dapat memastikan bahwa dia akan mampu membunuh pemuda yang mengejar muridnya itu. Bahkan dia demikian sombongnya untuk menyimpan tombaknya dan menghadapi Sin Hong dengan tangan kosong! Akan tetapi begitu dia menyerang dengan kedua lengan dipentang dan tangan yang berbentuk cakar itu menerkam dari kanan kiri,
Maklumlah Sin Hong bahwa orang ini sombong bukan hanya lagak belaka, melainkan karena memang dia amat lihai! Kakek bermuka singa ini memang bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang pertapa yang memiliki kesaktian dan berjuluk Hoan Sai-kong, dan baru beberapa tahun dia meninggalkan tempat pertapaannya di Pegunungan Thai-san di mana selama puluhan tahun dia bertapa dan mematangkan ilmu-ilmunya. Dia turun gunung dan hidup sebagai seorang pertapa yang mengharapkan makanan dari sedekah para dermawan. Akan tetapi, agaknya puluhan tahun bertapa itu sama sekali tidak mengubah dasar wataknya, dan ternyata setelah berada di dunia ramai, sebentar saja dia kembali telah menjadi hamba nafsu-nafsunya seperti sebelum dia bertapa. Di waktu muda dahulu Hoan Sai-kong terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang amat kejam.
Phoa Hok CI secara kebetulan saja bertemu dengan Hoan Sai-kong tiga tahun yang lalu. Dia melihat betapa saktinya kakek ini, maka segera didekatinya dan dengan royal dia memberi pakaian dan makan minum kepada kakek itu, bahkan melihat betapa kakek itu tidak pantang bermain dengan wanita, Phoa Hok Ci mencarikan gadis panggilan untuk menyenangkan hatinya. Hoan Saikong merasa senang dan dia mau menerima Phoa Hok Ci sebagai muridnya, asal Phoa Hok Ci mencukupi semua kebutuhannya. Kemudian, setelah pergaulan mereka sebagai guru dan murid semakin akrab, mereka merencanakan sesuatu yang akan mendatangkan keuntungan bagi keduanya. Phoa Hok Ci tergila-gila kepada Siang Cun, puteri gurunya sendiri, akan tetapi gurunya tidak suka menerimanya sebagai calon mantu,