"Suheng mencuri topi milik Ciok Lim dan meninggalkannya di dekat mayat Cin-sumoi?"
"Benar!"
"Dan pembunuhan-pembunuhan yang lain itu.... pembunuhan terhadap murid perguruan kita yang tidak diakui oleh pihak Kim-liong-pang, kemudian pembunuhan terhadap murid Kim-liong-pang yang tidak kita akui, semua itu adalah perbuatanmu pula?"
"Benar."
"Dan kematian sute sore tadi.... juga engkau yang membunuhnya?"
"Benar!"
"Suheng! Engkau telah gila, dan mengapa.... mengapa kau ceritakan semua ini kepadaku? Mengapa engkau berani mengakui semua itu kepadaku?"
"Karena engkau takkan mampu membuka mulut lagi!"
Tiba-tiba pedang di tangan Hok Ci menyambar dan pedang itu telah menembus dada dan jantung murid Ngo-heng Bu-koan itu.
Dia roboh terjengkang dan matanya terbelalak, mulutnya mengeluarkan jerit tertahan dan dia pun tewas seketika, roboh terlentang dengan pedang masih menancap di dadanya dan agaknya memang dibiarkan tinggal di dada itu oleh Hok Ci. Sin Hong terkejut bukan main dan merasa menyesal. Sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa Phoa Hok Ci akan membunuh sutenya sehingga dia pun tidak menyangka sesuatu dan tidak keburu mencegah pembunuhan yang terjadi di depan matanya ini. Tak disangkanya bahwa permusuhan hebat antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan itu terjadi karena perbuatan Phoa Hok Ci yang agaknya sudah gila! Orang ini tergila-gila kepada Bhe Siang Cun dan karena pinangannya ditolak, juga karena besarnya nafsu menguasai dirinya untuk memiliki Siang Cun,
Dia tidak segan-segan melakukan segala perbuatan yang amat kejam. Dia memperkosa mendiang Bong Siok Cin, sumoinya sendiri, lalu membunuhnya, dan meninggalkan topi milik putera ketua Kim-liong-pang yang dicurinya di dekat mayat sumoinya itu. Dan dia pun masih memperbesar permusuhan dan dendam antara kedua pihak dengan melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi, baik murid Kim-liong-pang yang dibunuhnya, maupun murid Ngo-heng Bu-koan sendiri! Dan siang tadi dia membunuh sutenya yang paling dekat dengan dia, mungkin selain untuk memperbesar dendam, juga karena sutenya itu mengetahui atau mencium bau akibat perbuatannya yang jahat. Seperti juga pembunuhan dilakukan terhadap sutenya ini dengan dua tujuan, pertama agar sutenya tidak dapat menceritakan hal-hal yang kiranya mencurigakan,
Dan kedua agar ada bukti bahwa kematian putera ketua Kim-liong-pang adalah karena perbuatan sute itu, murid Ngo-heng Bu-koan! Dan dia membunuh sutenya agar kelihatan bahwa mereka berdua itu tewas bersama dalam suatu perkelahian. Bukan main kaget dan marahnya hati Sin Hong dan diam-diam dia kagum sekali kepada muridnya. Ternyata dugaan Yo Han benar dan tepat! Kemungkinan ke tiga itu bukan kemungkinan lagi melainkan kenyataan! Ada orang ke tiga yang sengaja mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan demi kepentingan dirinya sendiri! Dan orang itu bukan lain adalah Phoa Hok Ci, murid utama yang dipercaya oleh Bhe Kauwsu. Satu-satunya kebodohan dan kelemahan manusia adalah membiarkan si aku merajalela dalam diri kita masing-masing.
Kalau si aku sudah merajalela dalam diri, menguasai diri sepenuhnya, maka celakalah hidup ini. Segala malapetaka, kesengsaraan, bersumber dari si aku ini yang mendorong kita untuk mengejar segala macam kesenangan dan menggunakan segala macam cara untuk mencapai hasil pengejaran itu. Si aku ini yang mendatangkan loba, tamak, iri, dengki, marah, benci takut dan sebagainya. Si aku mengotori dan merusak batin. Si aku bagaikan setan yang menjadi raja dalam batin kita masing-masing dan selama setan itu masih bertahta di dalam batin maka hidup ini penuh konflik, penuh permusuhan, dendam, kebencian dan karenanya terciptalah rasa takut dan kesengsaraan. Kalau setan ini tidak lagi bercokol di dalam batin, maka sinar cinta kasih akan menerangi batin, kekuasaan Tuhan sendiri akan memenuhi batin. Sin Hong cepat meloncat keluar sambil membentak.
"Phoa Hok Ci, kiranya engkau biang keladi semua permusuhan ini!"
Phoa Hok Ci terkejut bukan main, akan tetapi tangan kirinya bergerak ke arah Sin Hong. Pendekar ini cepat melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran pasir hitam yang mengandung racun itu! Akan tetapi tiba-tiba tangan kanan murid Ngo-heng Bu-koan itu bergerak dan asap hitam bergumpal-gumpal membuat penglihatan Sin Hong tertutup. Ketika pendekar ini meloncat lagi ke samping agak jauh dan memandang,
Ternyata Phoa Hok Ci telah lari jauh sekali! Sin Hong terkejut. Dia mengenal ilmu dari golongan hitam dan biasanya hanya orang-orang seperti para tokoh Pek-lian-kauw yang memiliki senjata rahasia seperti itu. Bagaimana mungkin seorang murid Ngo-heng Bu-koan dapat mempergunakan senjata rahasia dari golongan sesat? Tentu orang itu telah diam-diam berguru kepada tokoh sesat, pikirnya. Akan tetapi Sin Hong cepat meloncat dan melakukan pengejaran. Kembali dia terkejut. Kiranya Phoa Hok Ci memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mampu berlari cepat sekali! Sin Hong menemui kesulitan karena cuaca sudah mulai gelap dan dia tidak mengenal lapangan. Tidak seperti Phoa Hok Ci yang agaknya sudah hafal benar akan keadaan di wilayah itu sehingga Sin Hong belum juga mampu menyusul orang yang melarikan diri,
Walaupun dia masih belum kehilangan jejaknya. Phoa Hok Ci berlari cepat. Dia merasa jerih untuk melawan Sin Hong, karena dia tahu benar betapa lihainya pemuda yang pernah menjadi tamu di Ngo-heng Bu-koan itu. Dan yang amat mengecilkan hatinya adalah semua rahasianya. Dia harus bertindak cepat kalau tidak ingin menemui kegagalan dalam akhir rencananya yang sudah berjalan demikian baiknya. Tanpa disadarinya, dia lari melalui dekat tempat di mana Yo Han bersembunyi menanti gurunya. Yo Han terkejut melihat orang lari berkelebat di dekat tempat persembunyiannya. Dan dia mengenal orang itu sebagai Phoa Hok Ci! Selagi dia bangkit berdiri dan memandang keheranan ke arah larinya orang itu, tiba-tiba saja gurunya telah berada di dekatnya.
"Kau melihat orang yang lari tadi?"
Tanya gurunya.
"Phoa Hok Ci?"