Dan dia lalu meninggalkan ruangan itu dengan langkah lebar. Sin Hong memperhatikan murid itu. Seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tubuhnya sedang saja namun nampak kuat dan gesit, wajahnya tampan namun dia melihat keganasan membayang pada pandang matanya, dan mulutnya selalu tersenyum agak sinis.
"Kasihan dia....!"
Kata Bhe Kauwsu.
"Harap maafkan dia, Tan-taihiap. Di antara kami, mungkin dia yang paling menderita akibat permusuhan dengan Kim-liong-pang, bahkan dialah yang mula-mula kehilangan seorang tunangan yang terbunuh oleh pihak Kim-liong-pang."
Sin Hong memandang tajam penuh selidik.
"Apakah Kim-liong-pang perkumpulan orang jahat?"
"Sama sekali tidak. Bahkan ketuanya, Ciok Kam Heng adalah bekas sahabatku, seorang gagah yang selalu menjunjung tinggi kebenaran. Puteranya, Ciok Lim, tadinya bahkan bertunangan dengan puteri kami Siang Cun. Sekarang tentu saja pertunangan itu putus dan mereka menjadi musuh besar kami."
"Tapi.... mengapa begitu?"
Sin Hong penasaran.
"Engkau sudah kami anggap sebagai seorang sahabat baik, Tan-taihiap, maka kami takkan menyimpan rahasia. Baiklah, kami akan bercerita mengenai permusuhan itu."
Bhe Gun Ek lalu bercerita dengan singkat namun jelas. Dia adalah seorang ahli silat yang banyak mempelajari ilmu silat Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai, bahkan menggabungkan ilmu kedua partai persilatan itu dan menciptakan beberapa macam ilmu silat sendiri, di antaranya yang paling hebat adalah Ngo-heng-kun. Ketika dia membuka rumah perguruan silat, dia memakai nama Ngo-heng Bu-koan karena memang inti pelajaran yang dia berikan adalah Ngo-heng-kun. Bhe Gun Ek dan isterinya hanya mempunyai seorang anak, yaitu Bhe Siang Cun yang telah mewarisi ilmu-ilmunya bahkan gadis ini membantu para suhengnya, yaitu murid-murid tertua dan utama dari ayahnya, untuk membimbing kepada para murid muda.
Ketika Siang Cun berusia delapan belas tahun, setahun yang lalu, Bhe Gun Ek menerima pinangan seorang sahabatnya, yaitu Ciok Kam Heng, ketua dari Kim-liong-pang di puncak bukit Kim-liong-san yang nampak dari kota Lu-jiang. Sudah lama dia bersahabat dengan Ciok Kam Heng dan pinangan itu segera diterima dengan senang hati. Juga Siang Cu tidak membantah. Putera tunggal ketua Kim-liong-pang itu bernama Ciok Lim, kini berusia dua puluh lima tahun. Dia seorang pemuda yang cukup ganteng dan memiliki ilmu silat yang tinggi pula, bahkan dalam suatu pesta tahun baru, iseng-iseng kedua orang tua mereka menguji ilmu kepandaian pemuda dan gadis ini. Mereka yang sudah ditunangkan itu mengadu ilmu dan harus diakui oleh Siang Cun bahwa tingkat kepandaian tunangannya itu sedikit lebih tinggi darinya.
Hal ini membuat hatinya senang, apalagi dalam adu ilmu itu, Ciok Lim selalu mengalah sehingga tidak membikin malu padanya. Akan tetapi pada suatu malam, ketika Ciok Lim yang dijamu oleh Bhe-kauwsu pulang dalam keadaan setengah mabuk, terjadilah hal yang amat mengerikan. Seorang murid perempuan dari Ngo-heng Bu-koan yang bernama Bong Siok Cin, seorang gadis manis berusia tujuh belas tahun, kedapatan tewas dalam keadaan telanjang bulat di dalam hutan kecil di kaki bukit Kim-liong-san! Jelas bahwa gadis itu telah diperkosa orang lalu dibunuh! Dan di antara pakaiannya yang berserakan direnggut dengan paksa dan robek-robek, para murid Ngo-heng Bu-koan menemukan sebuah topi merah. Topi yang biasa dipakai oleh Ciok Lim! Tentu saja terjadi geger di kalangan murid Ngo-heng Bu-koan!
Yang paling berduka dan marah adalah Phoa Hok Ci, karena Bong Siok Cin yang terbunuh dalam keadaan terhina dan menyedihkan itu bukan lain adalah tunangannya! Biarpun Bhe Kauwsu membujuknya agar bersabar dan kematian murid itu perlu diselidiki dengan seksama, namun Phoa Hok Ci tidak dapat menahan dendam sakit hatinya. Bersama tiga orang sute yang ikut berbela sungkawa dan bersetia kawan dia lalu pergi ke Kim-liong-san, mendatangi perkumpulan Kim-liong-pang dan langsung menantang Ciok Lim yang dituduhnya pemerkosa dan pembunuh! Ciok Lim yang keluar menemui empat orang murid Ngo-heng Bu-koan itu terkejut bukan main dan tentu saja dia menyangkal keras. Akan tetapi, dengan sikap menantang, dengan senyumnya yang sinis, Phoa Hok Ci yang menaruh dendam hebat atas kematian tunangannya itu, segera bertanya.
"Ciok Lim, kami tidak menuduh membuta-tuli! Coba katakan, ke mana semalam engkau pergi sampai larut malam?"
Ciok Lim mengerutkan alisnya. Dia mengenal Phoa Hok Ci sebagai suheng dari tunangannya, puteri Bhe Kauwsu.
"Kukira semua murid Ngo-heng Bu-koan juga melihatku. Aku mendapat kehormatan dijamu minum arak oleh calon ayah mertuaku, yaitu guru kalian. Menjelang tengah malam, aku pulang."
"Dalam keadaan mabuk, bukan?"
Phoa Hok Ci mendesak.
"Aku tidak pernah mabuk, dalam arti kata sampai tidak sadar. Memang aku telah minum banyak, akan tetapi aku masih sadar dan dapat pulang, setibanya di rumah langsung tidur."
"Hemmm, bagus sekali karanganmu itu! Engkau dalam keadaan setengah mabuk, bertemu dengan sumoi Bong Siok Cin di jalan. Engkau menggodanya dan tentu saja ia bukan lawanmu. Engkau menangkapnya dan membawanya sampai ke hutan di kaki bukit Kim-liong-san, kemudian engkau memperkosanya! Karena takut gadis itu membuka rahasia kejahatanmu, engkau lalu membunuhnya!"
"Tidak benar! Itu fitnah belaka!"
Bantah Ciok Lim dan ketika itu sudah banyak anggauta Kim-liong-pang yang keluar menyaksikan percekcokan itu.
"Aku tidak bertemu siapapun dan dan tidak melakukan perbuatan terkutuk seperti yang kau tuduhkan"
"Ciok Lim, tidak perlu engkau menyangkal lagi. Bukti-bukti telah lengkap, maka kunasihatkan engkau untuk menyerah saja agar kami tangkap dan kami bawa menghadap suhu kami!"
Kata pula Phoa Hok Ci dengan muka merah dan mencorong marah.
"Tidak! Apa buktinya bahwa aku melakukan perbuatan jahat itu?"
Tantang Ciok Lim.
"Hemmm, masih hendak menyangkal dan mau melihat buktinya?"
Phoa Hok Ci mengeluarkan sebuah topi merah yang sejak tadi disimpannya di dalam saku bajunya. Itulah topi yang ditemukan di antara pakaian Bong Siok Cin yang berserakan.
"Nah, lihat, topi siapakah ini?"
Sepasang mata Ciok Lim terbelalak memandang kepada topi di tangan murid Ngo-heng Bu-koan itu, dan wajahnya berubah.
"Itu.... itu memang topiku.... semalam aku kehilangan topiku itu! Ah, aku berada dalam keadaan setengah mabuk karena terlalu banyak minum sehingga aku lupa lagi di mana kutaruh topiku. Akan tetapi.... bagaimana topiku itu dapat berada di tanganmu?"
Mulut Phoa Hok Ci semakin sinis menyeringai.
"Hemmm, pandai berpura-pura pula! Ciok Lim, tidak perlu engkau menyangkal lagi. Topi ini kami temukan di dekat mayat sumoi Bong Siok Cin!"
"Suheng, tangkap saja dia. Untuk apa banyak cakap lagi terhadap seorang pemerkosa dan pembunuh yang amat keji?"
Teriak seorang murid Ngo-heng Bu-koan. Phoa Hok Ci lalu maju menyerang dengan pedangnya. Ciok Lim terpaksa membela diri dan mencabut pedang pula. Ketika tiga orang murid Ngo-heng Bu-koan maju mereka disambut oleh banyak murid atau anggauta Kim-liong-pang. Terjadilah perkelahian dengan kekalahan di pihak empat orang murid Ngo-heng Bu-koan!
Mereka terpaksa melarikan diri dalam keadaan luka-luka dan sambil mengeluh mereka mengadu kepada guru mereka. Bhe Kauwsu menjadi bingung. Memang murid perempuan dari perguruannya diperkosa dan dibunuh orang, akan tetapi dia masih meragukan apakah benar calon mantunya yang melakukan perbuatan keji itu. Bagaimanapun juga, topi merah itu ditemukan di antara pakaian mendiang Siok Cin yang berserakan, dan semalam, ketika dia menjamu minum arak kepada calon mantunya ltu, memang Ciok Lim memakai topi merah itu! Ketika Bhe Gu Ek yang cukup bijaksana mengambil keputusan untuk mengunjungi Kim-liong-pang dan mengadakan perundingan yang penuh persahabatan dengan sahabatnya dan calon besannya, walaupun puterinya sendiri dan para muridnya menyatakan tidak setuju,
Tiba-tiba muncul belasan orang anggauta Kim-liong-pang yang datang dengan marah-marah dan memaki-maki Ngo-heng Bu-koan yang katanya merupakan pembunuh curang! Bhe Gun Ek melarang puterinya dan para muridnya yang hendak keluar menghajar orang-orang Kim-liong-pang, dan dia sendiri lalu keluar, diikuti oleh Siang Cun dan banyak murid kepala yang masih merasa penasaran. Para anggauta Kim-liong-pang itu biasanya bersikap hormat kepada Bhe Kauwsu karena guru silat ini adalah calon besan dari ketua mereka. Akan tetapi sekarang mereka bersikap lain sama sekali. Mereka tetap berdiri tegak dan bertolak pinggang biarpun Bhe Gun Ek sudah muncul dan berdiri di depan mereka! Melihat sikap ini, Bhe Kauwsu mengerutkan alisnya, akan tetapi dia menahan sabar karena maklum bahwa sikap mereka itu pasti ada sebabnya.
"Bukankah Cu-wi para anggauta Kim-liong-pang? Ada keperluan apakah Cu-wi datang berkunjung? Apakah diutus oleh Ciok Pangcu (Ketua Pangcu)?"
Tanya Bhe Kauwsu dengan suara ramah.
"Bhe Kauwsu, kami datang untuk menuntut balas atas kematian seorang sute kami yang tidak berdosa! Sute kami dibunuh oleh seorang murid dari Kauwsu, maka sebaiknya kalau murid yang jahat itu diserahkan kepada kami!"
Kata seorang di antara mereka, mewakili teman-temannya, dengan nada suara penuh kemarahan. Bhe Kauwsu mengerutkan alisnya lebih dalam lagi dan setelah menarik napas panjang dia berkata,
"Aih, apa lagi ini? Terbunuhnya seorang murid perempuan dari perguruan kami belum juga diselesaikan, dan sekarang muncul tuduhan bahwa seorang anggauta Kim-liong-pang terbunuh oleh seorang muridku?"
"Bhe Kauwsu! Kongcu kami sama sekali tidak merasa melakukan pembunuhan terhadap murid perempuan perguruan sini. Kongcu berani bersumpah...."
"Sumpah palsu! Siapapun juga dapat bersumpah palsu!"
Bentak Siang Cun. Gadis ini sekarang amat membenci tunangannya dan hal inilah yang membuat para murid Ngo-heng Bu-koan semakin bersemangat memusuhi pihak Kim-liong-pang.
"Sebaiknya kalau Kauwsu menyelidiki yang benar. Bukan kongcu kami yang membunuh. Akan tetapi kini murid-muridmu telah membunuh seorang sute kami dengan amat kejamnya! Mungkin sute dikeroyok, melihat betapa tubuhnya hancur dicacah-cacah oleh bacokan senjata tajam. Sungguh pembunuhan yang kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan!"
"Huh! Apakah pembunuhan terhadap sumoi Bong Siok Cin itu berperikemanusiaan? Sebelum dibunuh diperkosa dulu! Perbuatan itu biadab dan lebih kejam lagi. Kalau sampai ada seorang saudara seperguruanku membalas dendam dan membunuh seorang anggauta Kim-liong-pang, hal itu sudah sepantasnya!"
"Hok Ci, diam kau! Dan Siang Cun, jangan mencampuri percakapan kami! Kalian dengarkan saja!"
Bhe Kauwsu membentak karena suara para muridnya itu hanya akan memanaskan suasana saja. Lalu dia menghadapi orang-orang Kim-liong-pang itu dan berkata,
"Cuwi menuduh bahwa murid-murid kami melakukan pengeroyokan dan pembunuhan terhadap seorang anggauta Kim-liong-pang. Apa buktinya bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh murid perguruan kami?"