Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 139

Memuat...

"Teecu.... teecu hanya mendengar keterangan muridnya itu...."

Kini Sin Hong yang terkejut.

"Yo Han, keterangan apakah yang telah kau berikan?"

Tanyanya keren.

"Teecu tidak memberi keterangan bahwa Suhu adalah orang Kim-liong-pang."

Yo Han membantah sambil memandang kepada Ceng Ki dengan mata melotot marah,

"tadi dia mengatakan bahwa suci-nya adalah Naga Betina, karena tidak mau kalah teecu mengatakan bahwa Suhu tidak akan kalah karena Suhu adalah Kim Liong (Naga Emas). Teecu tidak tahu mengapa mereka lalu menganggap Suhu orang dari Kim-liongpang!"

Mendengar ini, Sin Hong dan Bhe Gun Ek saling pandang, dan guru silat itu mengangguk-angguk, menarik napas panjang dan bertanya kepada puterinya.

"Nah, engkau mendengar sendiri, semua ini hanya kesalahpahaman saja karena mulut anak-anak. Lalu kenapa engkau menyerangnya mati-matian?"

"Begini, Ayah. Mula-mula, aku melihat Ceng Ki dan dua orang sutenya pulang dalam keadaan luka-luka. Ada yang kepalanya benjol-benjol karena dibentur-benturkan tanah, dan Ceng Ki sendiri pergelangan tangannya luka karena digigit sehingga harus diobati dan dibalut untuk menghentikan darah yang keluar banyak. Menurut cerita mereka, mereka berkelahi dengan seorang anak jahat yang menjambak dan menggigit. Aku segera bersama Ceng Ki mencari anak itu dan ternyata dia berada di sini dan anak itu adalah murid orang ini. Kami berdebat, berselisih dan berkelahi."

Bhe Gun Ek mengerutkan alisnya.

"Hemmm, hanya karena perkelahian anak-anak engkau lalu membela sampai berkelahi dengan orang? Siang Cun, bukanlah itu keterlaluan namanya?"

"Aku menjadi marah melihat para sute itu, apalagi Ceng Ki yang luka tergigit. Kalau mereka berkelahi biasa saja dan kalah pandai, aku pun tidak ambil peduli. Akan tetapi digigit!"

Sin Hong melangkah maju dan memberi hormat.

"Maaf, Paman, sesungguhnya urusan ini kecil saja dan harap dihabiskan saja. Murid saya ini sudah minta maaf dan menyadari kesalahannya, juga saya minta maaf untuk dia. Kami hanya dua orang perantau yang tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, karena itu, sekali lagi, harap urusan kecil ini dihabiskan sampai di sini."

Bhe Gun Ek tadi sudah melihat betapa pemuda berpakaian putih ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Dengan tangan kosong mampu menghadapi sepasang pedang puterinya, bahkan dia melihat betapa kedua pedang itu tidak berdaya sama sekali, yang sebatang dijepit dua buah jari dan dipakai menangkisi pedang yang lain! Bukan itu saja, dia sendiri tadi menyerang dengan pukulan tenaga sakti, akan tetapi dapat disambut oleh pemuda itu secara aneh dan mengejutkan karena tenaga pukulannya seperti mengenai benda lunak yang membuat pukulan itu kehilangan kekuatannya. Mendengar semua keterangan itu, dia pun cepat membalas penghormatan Sin Hong.

"Orang muda yang gagah, harap jangan terlalu merendahkan diri. Sepatutnya, kami dari Ngo-heng Bu-koan yang harus meminta maaf. Sikap murid-murid kecil kami, juga puteri kami tadi terhadap engkau dan muridmu sungguh tidak patut. Maafkanlah, orang muda dan tentu saja dengan senang hati kami menghabiskan urusan kecil itu sampai di sini saja. Bahkan, perkenankan kami mengundang Ji-wi untuk berkunjung ke rumah kami agar perkenalan ini dapat dipererat. Saya Bhe Gun Ek, juga puteri kami ini, Bhe Siang Cun, dan semua murid Ngo-heng Bu-koan mengundang Ji-wi untuk makan bersama di tempat kami."

Sin Hong merasa rikuh sekali. Dia memang menghargai sikap guru silat itu, akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk hadir sebagai tamu, untuk dijamu makan, mengingat bahwa dia dan muridnya tidak mempunyai pakaian yang pantas untuk bertamu. Akan tetapi sebelum dia menolak dengan halus, tiba-tiba Yo Han berkata,

"Wah, Suhu. Bhe-kauwsu yang terhormat ini sungguh gagah perkasa dan baik hati sekali, cocok seperti yang Suhu nasihatkan kepada teecu bahwa seorang gagah lebih dulu akan mencari kesalahan diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain! Dan bersikap ramah terhadap siapapun juga tanpa memandang kedudukan atau harta benda. Suhu, teecu senang sekali berkenalan dengan orang-orang gagah dari Ngo-heng Bu-koan!"

Mendengar ucapan yang lantang dan keluar dari mulut seorang bocah berusia sembilan tahun, Bhe Gun Ek memandang kagum dan tahulah dia mengapa bocah yang kabarnya tadi hanya mampu menampar dan menggigit menjadi murid seorang pemuda yang berilmu setinggi ini. Kiranya bocah ini baru menerima gemblengan batin lebih dulu sehingga sekecil itu telah memiliki jiwa yang amat gagah perkasa! Sedangkan Sin Hong diam-diam mendongkol akan tetapi juga geli hatinya terhadap muridnya. Dia tahu bahwa Yo Han kegirangan diundang makan, karena dia masih menyesal menghilangkan uang dari gurunya tadi dan kini gurunya diundang makan, maka dia pun girang sekali. Gurunya sejak kemarin belum makan dan dia pun demikian pula, dan perutnya sudah lapar sekali! Bhe Gun Ek tersenyum girang.

"Wah, sungguh kami merasa berbahagia sekali, ternyata Ji-wi guru dan murid merupakan orang-orang gagah yang mengagumkan."

Lalu kepada puterinya dan Ceng Ki dia berkata,

"Hayo Siang Cun, engkau minta maaf kepada Tai-hiap (Pendekar Besar) ini, dan kau Ceng Ki, minta maaf kepada saudara kecil yang gagah ini!"

Siang Cun memang sudah tidak marah lagi setelah mendengar bahwa lawannya itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kim-liong-pang, bahkan ia merasa kagum bukan main. Selama hidupnya, baru sekali ini ia bertemu tanding seorang pemuda yang selihai ini. Maka, mendengar ucapan ayahnya, ia pun cepat memberi hormat kepada Sin Hong.

"Saudara yang gagah, harap maafkan kesalahanku tadi karena kurang pengertian."

Sin Hong cepat membalas penghormatan itu.

"Akan tetapi, engkau sudah mengenal nama kami semua sedangkan kami belum mengenal namamu dan muridmu."

Kata Siang Cun. Sin Hong tersenyum.

"Nona, aku dan muridku hanya orang-orang pengembara yang tidak tentu tempat tinggalnya, nama kami pun sama sekali tidak terkenal."

"Enci yang gagah, jangan percaya kata-kata Suhu. Dia dijuluki orang Pek-ho Eng-hiong (Pendekar Bangau Putih)...."

"Yo Han! Berapa kali kularang engkau menyombongkan diri?"

Sin Hong membentak dengan muka merah. Muridnya itu memang kadang-kadang nakal sekali, dan dia cepat menjura kepada Bhe Gun Ek dan Bhe Siang Cun, berkata dengan sikap merendah.

"Namaku Tan Sin Hong, dan muridku yang bodoh dan bandel ini bernama Yo Han."

Sementara itu, ketika Ceng Ki memberi hormat dan minta maaf kepadanya, Yo Han cepat berkata,

"Sudahlah, jangan minta maaf kepadaku, akan tetapi mintalah maaf kepada suhumu karena engkau telah melanggar ajarannya yang baik."

Kemudian, kontan dia berlutut di depan suhunya sendiri dan berkata,

"Harap Suhu sudi memaafkan kenakalan dan kebandelan teecu."

Yo Han memang cerdik sekali. Dia maklum bahwa dia telah membuat gurunya rikuh, maka kini setelah memberi nasihat kepada Ceng Ki, dia pun cepat mendahului minta maaf kepada gurunya sendiri. Mendengar ucapan Yo Han tadi, dan melihat anak itu minta maaf kepada gurunya, tentu saja Ceng Ki merasa malu dan cepat dia pun menjatuhkan dirinya di depan kaki gurunya dan mohon maaf atas kesalahannya.

"Harap Suhu sudi memaafkan teecu yang telah membuat keributan."

Melihat ini, Bhe Gun Ek tertawa bergelak dengan girang sekali.

"Ha-ha-ha! Memang banyak untungnya bergaul dengan orang-orang bijaksana. Tan-taihiap, kami merasa girang dan beruntung sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan engkau dan muridmu. Yo Han, terima kasih atas pelajaran yang kau berikan kepada Ceng Ki! Marilah, Tan-taihiap, mari kita bercakap-cakap di rumah kami agar lebih leluasa!"

Sin Hong tidak dapat menolak lagi dan dia berjalan seiring dengan Bhe Gun Ek dan puterinya.

Yo Han mengiring-kan di belakangnya, bersama Ceng Ki yang kini bersikap manis kepadanya. Sin Hong dan muridnya disambut sebagai seorang tamu kehormatan, dan pihak tuan rumah, dari Bhe Kauwsu, puterinya sampai para murid utama yang ikut menyambut, bersikap hormat kepada Sin Hong dan muridnya walaupun pakaian guru dan murid ini dihias tambalan. Hal ini membuat Sin Hong tertarik dan juga kagum. Tahulah dia bahwa dia berada di antara orang gagah dan hatinya merasa senang. Dalam perjamuan yang meriah, ketika mereka makan minum bersama di sebuah meja besar yang terbuat dari meja disambung-sambung yang duduk mengelilingi meja itu ada belasan orang banyaknya termasuk murid-murid kepala, Sin Hong bertanya kepada tuan rumah tentang Kim-liong-pang.

"Bhe Kauwsu, aku masih merasa heran sekali ketika disangka orang dari Kim-liong-pang. Agaknya ada permusuhan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang itu. Perkumpulan apakah Kim-liong-pang itu dan kalau boleh aku bertanya, mengapa terjadi permusuhan?"

Ditanya demikian, wajah tuan rumah dan para muridnya menjadi muram. Setelah beberapa kali menarik napas panjang, Bhe Gun Ek lalu berkata,

"Kalau dipikir memang membuat orang menjadi penasaran dan sakit hati, Tan-taihiap. Bayangkan saja, Kim-liong-pang yang sarangnya berada di puncak bukit Kim-liong-san di luar kota Lu-jiang ini, dia pimpin oleh seorang sahabat baik, bahkan puteranya menjadi tunangan puteriku Siang Cun ini. Akan tetapi kini kami kedua pihak menjadi musuh besar dan terjadi perkelahian yang mengorbankan banyak murid-murid kami dan para anggauta Kim-liong-pang sendiri."

Tiba-tiba seorang di antara para murid kepala bangkit berdiri dan sambil mengepal tinju dia berkata,

"Suhu, maafkan teecu! Membicarakan Kim-liong-pang membuat teecu kehilangan nafsu makan dan sebaiknya kalau teecu tidak ikut mendengarkan. Perkenankan teecu mengundurkan diri, Suhu!"

Bhe Kauwsu memandang kepada murid itu dan menarik napas panjang.

"Aku dapat mengerti perasaanmu, Hok Ci. Kuperkenankan engkau mundur."

Murid Ngo-heng Bu-koan itu lalu menjura ke arah Sin Hong.

"Tan-taihiap, harap maafkan saya."

Post a Comment