Lima kali berturut-turut Siang Cun mengirim serangan yang cukup dahsyat. Sin Hong yang didesak itu hanya main mundur, menangkis atau mengelak. Ketika menangkis, dia menyimpan tenaganya karena tidak ingin mencelakai gadis itu, akan tetapi dia kagum ketika mendapat kenyataan bahwa kekhawatirannya itu tidak beralasan karena gadis itu ternyata memiliki sin-kang yang kuat! Dan setiap serangan yang dilakukan gadis itu pun dahsyat, cepat dan kuat sehingga dalam gebrakan pertama saja tahulah Sin Hong bahwa gadis ini bukan seorang ahli silat sembarangan saja, melainkan seorang yang telah mewarisi ilmu silat tingkat tinggi. Di lain pihak, Siang Cun juga terkejut bukan main. Tadinya dipandangnya rendah pemuda berpakaian putih itu.
Muridnya hanya pandai mencakar dan menggigit, tentu gurunya juga hanya mempunyai ilmu silat pasaran saja. Akan tetapi, sungguh mengherankan sekali betapa serangkaian serangannya yang termasuk jurus cukup ampuh dapat dihindarkan pemuda itu dengan tangkisan dan elakan yang cukup lincah! Dan biarpun ia tidak merasakan adanya tenaga yang kuat ketika pemuda itu menangkis, namun pemuda itu pun tidak nampak terhuyung atau terdorong mundur. Ia menjadi penasaran dan kini Bhe Siang Cun mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus simpanan dari Ngo-heng-kun untuk merobohkan atau mengalahkan lawannya! Sin Hong semakin kagum. Kiranya gadis ini memang lihai sekali. Ilmu silatnya itu hebat, selain cepat dan kuat, juga memiliki gaya yang indah dan daya serang yang berbahaya.
Terpaksa dia mulai mempergunakan sin-kangnya kalau dia tidak ingin celaka atau benar-benar roboh di tangan gadis ini! Sin Hong mulai memainkan ilmu silat gabungan antara Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa) yang dipelajarinya dari seorang di antara tiga orang gurunya di Istana Gurun Pasir, yaitu Tiong Khi Hwesio. Dia tidak memainkan Pek-ho Sin-kun, karena ilmu ini terlalu hebat untuk dipakai main-main, dan hanya dia pergunakan kalau terpaksa sekali menghadapi lawan yang amat tangguh. Begitu dia mainkan kedua gabungan ilmu silat sakti ini dan mengerahkan sin-kangnya, beberapa kali Siang Cun mengeluarkan seruan kaget. Baru ia tahu bahwa pemuda berpakaian putih ini benar-benar lihai sekali dan ia pun kini merasa betapa pemuda itu sejak tadi banyak mengalah dan jarang membalas serangannya, bahkan main mundur saja.
Padahal, setiap kali beradu lengan, ia merasa lengannya kesemutan dan seperti hampir lumpuh karena getaran hebat yang terkandung dalam lengan pemuda itu. Mulailah ia merasa kagum, heran dan menduga-duga siapa adanya pemuda yang amat lihai ini. Sementara itu, melihat betapa gurunya selalu menangkis dan mengelak selalu main mundur, diam-diam Yo Han merasa khawatir juga. Dia percaya penuh kepada suhunya yakin akan kelihaian suhunya. Akan tetapi agaknya suhunya tidak mau sungguh-sungguh melawan gadis ini dan hal inilah yang membuatnya khawatir. Adapun anak laki-laki yang dibalut lengannya, yang tadi digigitnya, kelihatan gembira sekali. Anak itu lalu mendekati Yo Han dan berkata dengan nada suara sombong.
"Gurumu itu sebentar lagi tentu akan dipukul roboh oleh Su-ci!"
Yo Han mengerutkan alisnya dan memandang marah kepada bekas lawan itu.
"Belum tentu! Suhuku bukan orang yang mudah dikalahkan!" "Hemmm, kita lihat saja! Suci-ku adalah puteri dari suhu, ketua dari Ngo-heng Bu-koan yang sudah terkenal di seluruh dunia. Suci-ku gagah perkasa dan tak pernah terkalahkan seperti seekor Naga Betina!"
Diam-diam Yo Han mendongkol. Mana ada manusia dibandingkan naga? Bohong dan membual saja, akan tetapi karena marah dia pun tidak mau kalah.
"Apa anehnya Naga Betina? Suhuku sama dengan Naga Emas!"
Mendengar Yo Han menyebut Kim-liang (Naga Emas), tiba-tiba anak itu terbelalak dan wajahnya berubah kaget dan agak pucat.
"Dia.... dia.... dari Kim-liong?"
Tentu saja Yo Han tidak mengerti apa yang dimaksudkan anak itu, akan tetapi karena sudah terlanjur membual, dia pun mengangguk.
"Tentu saja dia Kim-liong. Kau kira siapa?"
Sungguh mengherankan sekali. Mendengar ini, anak itu lalu lari menghampiri suci-nya yang sedang bertanding dan dia pun berteriak,
"Suci, awas! Dia itu dari Kim-liong-pang!"
Mendengar ini, Siang Cun juga nampak terkejut dan ia pun cepat mencabut sepasang pedang yang sejak tadi tergantung di punggungnya. Dara ini memang tadi ingin mengadu ilmu dengan Sin Hong, akan tetapi hal itu terdorong oleh rasa penasaran saja. Ia tidak ingin bermusuhan pula, maka tidak pernah menggunakan senjata. Akan tetapi kini, begitu mendengar disebutnya Kim-liong-pang, ia menjadi marah dan kaget, lalu seketika mencabut sepasang pedangnya dan membentak.
"Keparat, kiranya engkau jahanam dari Kim-liong-pang!"
Dan tanpa memberi kesempatan kepada Sin Hong untuk membantah,
Siang Cun kini sudah memutar sepasang pedangnya dan menyerang dengan hebat! Gadis ini memang memiliki keahlian memainkan sepasang pedang. Ilmu pedangnya masih merupakan perkembangan dari Ngo-heng-kun. Dibantu oleh ayahnya yang ahli, gadis ini telah berhasil menciptakan ilmu pedangnya sendiri yang dinamakan Ngo-heng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Lima Unsur) yang hebat. Sin Hong terkejut sekali. Dia hendak menyangkal bahwa dia dari Kim-liong-pang, karena memang dia sama sekali tidak tahu menahu tentang Kim-liong-pang. Akan tetapi melihat permainan sepasang pedang yang indah dan ampuh itu, dia pun tertarik. Seperti para pendekar pada umumnya, ilmu silat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Sin Hong. Ilmu silat merupakan kesukaannya, olah raganya, keseniannya, bahkan pelindung dirinya.
Maka, setiap kali mendapat kesempatan bertemu tanding, hal ini merupakan suatu kegembiraan tersendiri. Apalagi kalau melihat ilmu silat lawan yang indah dan ampuh, tentu timbul keinginan hatinya untuk menguji ilmu itu, atau juga menguji kepandaian sendiri apakah akan mampu melawan orang yang memiliki ilmu yang indah dan ampuh itu. Oleh karena itu, begitu melihat gadis itu memainkan sepasang pedangnya, timbul keinginan hati Sin Hong untuk menguji ilmu itu dan dia pun segera memainkan Pek-ho Sin-kun! Terjadilah perkelahian yang amat indah ditonton, akan tetapi juga menegangkan karena nampaknya amat berbahaya bagi Sin Hong. Dua gulungan sinar pedang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, dibarengi suara berdesing dan tubuh Sin Hong lenyap, berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar pedang.
Sin Hong memainkan Pek-ho Sin-kun dengan cekatan sekali. Kedua lengan ditelusuri tenaga sin-kang yang amat hebat, yaitu sin-kang gabungan yang diterimanya dari ketiga orang gurunya, manusia-manusia sakti di Istana Gurun Pasir. Dengan tangan dan lengan telanjang, pemuda ini sekarang berani menangkis pedang atau senjata apa pun tanpa takut kalau kulit lengannya lecet! Kedua tangan itu kadang-kadang membentuk moncong atau paruh burung bangau putih, lengan menjadi leher yang panjang dan paruh itu dapat mematuk-matuk berupa totokan-totokan pada jalan darah di tubuh lawan, bahkan lengan yang menjadi leher itu dapat menangkis dan membelit senjata, mencoba merampasnya. Kadang-kadang kedua lengan itu menjadi seperti sayap burung dan gerakan tubuh pemuda itu indah bukan main.
Kadang-kadang, kedua kakinya membuat langkah yang lebar, kadang-kadang pula geseran kakinya halus dan pendek-pendek, dan ada kalanya tubuhnya itu meloncat tinggi seperti bangau terbang, dan dalam keadaan tubuh melayang ini keempat buah kaki dan tangannya dapat melakukan serangan yang amat dahsyat dari atas! Akan tetapi, seperti juga tadi, Sin Hong yang hanya ingin menguji ilmu pedang gadis itu, tidak bertindak sungguh-sungguh dalam serangannya, lebih banyak membela diri saja. Kalau dia menghendaki, meng-ingat bahwa tingkat ilmu kepandaiannya masih jauh di atas Siang Cun, tentu dalam waktu yang tidak terlalu lama dia akan dapat merobohkan gadis itu, atau setidaknya merampas sepasang pedangnya. Namun, dia tidak mau melakukan hal itu, karena kalau dia berbuat demikian,
Tentu akan semakin besar kemarahan dan dendam gadis itu kepadanya dan permusuhan antara mereka tentu akan menjadi-jadi. Dia kini dapat menduga bahwa selain marah karena para sutenya tadi dijambak dan digigit Yo Han, juga dalam urusan antara dia dan gadis ini timbul suatu kesalahpahaman mengenai Kim-liong-pang yang belum dikenalnya. Sementara itu, Bhe Siang Cun kini benar-benar terkejut. Bukan hanya karena seruan sutenya yang mengatakan bahwa pemuda berpakaian putih ini dari Kimliong-pang, akan tetapi kenyataan betapa dengan kedua tangan kosong, pemuda itu mampu menghindarkan semua serangan-nya! Dan hebatnya, pemuda itu berani menangkis kedua pedangnya dengan tangan dan lengan begitu saja tanpa terluka atau lecet sedikit pun! Tak disangkanya bahwa lawan ini demikian lihainya dan ia pun mulai merasa khawatir.
Kalau lawannya ini dari Kim-liong-pang, maka ia tak mungkin dapat keluar dari perkelahian itu dalam keadaan hidup! Tinggal dua pilihan, yaitu membunuh atau terbunuh! Maka ia pun semakin nekat memutar pedangnya dengan cepat dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh. Melihat kenekatan gadis itu, Sin Hong juga merasa khawatir. Perkelahian ini harus dihentikan secepatnya, pikirnya. Maka, ketika pedang kanan dari gadis itu menyambar dari atas ke bawah, dia menggeser kaki mundur dan ketika pedang itu lewat, tangan kanannya menyambar seperti paruh bangau putih, dan tahu-tahu dua buah jari tangannya ditekuk, yaitu telunjuk dan jari tengah, telah menjepit pedang itu! Bhe Siang Cun sekuat tenaga menarik pedangnya, namun sia-sia. Pedang itu seperti terjepit catut baja yang amat kuat!
"Sudahlah, Nona. Hentikan pertandingan ini dan mari kita bicara!"
"Tutup mulut! Aku tidak takut mati dan aku tidak sudi berunding dengan orang Kim-liong-pang!"
Gadis itu menarik-narik lagi tanpa hasil.
"Nona, aku bukan orang Kim-liong-pang!" "Tak perlu berbohong!"
Siang Cun yang merasa gemas sekali karena pedangnya dijepit dua jari dan ia tidak mampu menarik kembali, merasa terhina dan dipermainkan. Hampir tak masuk diakal kalau pedangnya dapat dijepit dua buah jari lawan tanpa ia mampu melepaskannya kembali! Ia dianggap anak kecil yang tidak berdaya saja! Sambil membentak, kini pedang di tangan kirinya membuat gerakan memutar dan membacok ke arah kepala Sin Hong.
"Tranggg....!"
Gadis itu terkejut karena pedang kirinya tertangkis oleh pedang kanannya sendiri, yang terbawa oleh dua buah jari tangan yang membetotnya! Beberapa kali pedang kirinya membacok, selalu ditangkis oleh pedangnya sendiri. Ia demikian jengkel dan malu sehingga mukanya meran dan matanya panas. Hampir ia menangis! Tiba-tiba terdengar anak yang dibalut lengannya itu berseru,
"Suhu, dia orang Kim-liong-pang!"
Dan pria yang baru datang itu, yang bukan lain adalah Bhe Gun Ek, melihat betapa puterinya dipermainkan seorang pemuda yang amat lihai. Melihat betapa dengan sepasang pedang di tangan Siang Cun masih dapat dipermainkan, tahulah dia bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian tinggi.
"Orang Kim-liong-pang banyak lagak!"
Serunya dan dia pun meloncat ke dekat dua orang yang sedang tarik menarik pedang itu, dan dengan kedua tangan didorongkan, Bhe-kauwsu (guru silat Bhe) menyerang Sin Hong. Sin Hong mendengar suara angin pukulan itu dan terkejut. Itulah pukulan yang mengandung tenaga sakti amat kuat dan amat berbahaya. Terpaksa dia lalu mendorong sehingga tubuh Siang Cun terhuyung ke belakang, dan dia pun cepat menyambut dorongan kedua tangan lawan baru itu dengan kedua tangannya sendiri. Namun karena dia tidak bermaksud untuk mencari musuh, maka dia tidak mau menyambut dengan perlawanan keras, melainkan menyambut dan mengatur tenaganya untuk menyedot dan melumpuhkan tenaga dorongan lawan.
"Wuuuuuttt.... plak! Ahhh....!"
Bhe Gun Ek terkejut bukan main sehingga mengeluarkan seruan sambil melompat jauh ke samping ketika dia merasa betapa kedua telapak tangannya bertemu dengan dua telapak tangan lawan yang lembut, dan merasa betapa tenaga sin-kangnya seperti amblas masuk atau bertemu dengan benda yang lembut. Dia merasa khawatir kalau sekali pukul dia mencelakai lawan yang belum dikenalnya siapa walaupun tadi anak itu mengatakan dia dari Kim-liong-pang, dan untuk menarik kembali pukulannya sudah tidak mungkin, maka jalan satu-satunya adalah melompat jauh ke samping sehingga hal ini akan mengurangi daya pukulannya. Akan tetapi, alangkah terkejut dan herannya ketika dia melihat pemuda itu tidak apa-apa, bergeming sedikit pun tidak, masih berdiri tegak bahkan tersenyum kepadanya. Dia pun tahu bahwa pemuda itu memang lihai, maka dia lalu menghampiri.
"Orang muda dari Kim-liong-pang, katakan dulu siapa namamu sebelum kita bertanding mati-matian di tempat ini!"
Tantangnya. Sin Hong memandang penuh perhatian. Seorang laki-laki yang gagah, berusia sekitar empat puluh lima tahun. tubuhnya sedang namun kokoh kuat membayangkan adanya tenaga besar. Pakaiannya sederhana saja, seperti-pakaian seorang guru silat yang ringkas. Di pinggangnya nampak sebuah sabuk rantai dari baja dan Sin Hong dapat menduga bahwa tentu orang ini ahli pula memainkan rantai baja yang dipakai sebagai sabuk itu sebagai sebuah senjata yang ampuh. Dia lalu menjura dengan hormat.
"Harap Paman suka memaafkan saya. Sesungguhnya, saya sama sekali bukan orang Kim-liong-pang, bahkan nama perkumpulan itu pun baru sekali ini saya dengar. Saya adalah seorang perantau yang kebetulan saja hari ini tiba di sini dan memilih kuil tua ini sebagai tempat tinggal sementara. Melihat sikap sopan pemuda itu dan mendengar kata-katanya, Bhe Gun Ek menjadi heran dan dia pun menoleh kepada puterinya.
"Benarkah dia seorang dari Kim-liong-pang?"
Tanyanya.
"Ayah, aku pun hanya mendengar dari Ceng Ki!"
Jawab gadis itu sambil menoleh kepada sutenya yang lengannya dibalut. Kini Bhe Gun Ek memandang muridnya itu dengan sikap keren.
"Ceng Ki, bagaimana engkau berani mengatakan bahwa dia ini orang Kim-liong-pang?"
Anak itu nampak ketakutan berhada-pan dengan Bhe Kauw-su yang memang terkenal galak terhadap para muridnya dan mengharuskan para muridnya memegang peraturan dan tidak melanggar. Dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut dan menjawab pertanyaan gurunya.