"Dia telah menendang anjing peliharaan dan. kesayangan kami!"
Gadis itu memotong.
"Sudah sepatutnya kalau dia dihajar atas perbuatannya itu! Dan kalau dia melawan secara gagah dan benar, kami pun tidak akan ribut lagi. Kalau tiga orang suteku kalah oleh ilmu silatnya, aku hanya akan menegur murid-murid itu. Akan tetapi muridmu ini jahat, menggunakan kecurangan, menggigit dan mencakar!"
Sin Hong kini tersenyum.
"Muridku sudah mengakui kesalahannya menendang anak anjing itu karena kaget ketika diserbu anjing itu, akan tetapi tiga orang anak itu mengeroyoknya. Muridku ini tidak pandai silat, mana mungkin menggunakan ilmu silat untuk membela diri? Dia hanya dapat menggigit, mencakar, hanya untuk membela dirinya yang dipukuli tiga orang anak. Harap Nona suka memaafkan kami dan menyudahi saja urusan antara anak-anak kecil ini. Lihat, muridku juga sudah babak belur. Tentu dia lebih banyak menerima pukulan daripada para sutemu, dan dia lebih banyak menderita kesakitan."
Diam-diam Sin Hong. merasa bangga melihat kenyataan betapa muridnya itu, biarpun lebih banyak menerima hantaman, tetap tenang dan tabah, tidak seperti anak yang lengannya dibalut itu, kelihatan cengeng.
"Tidak bisa!"
Siang Cun membantah.
"Kalau tidak ada gurunya, aku hanya akan menegur bocah bengal ini. Akan tetapi setelah ada gurunya yang bertanggung jawab, maka engkau sebagai gurunya harus berani menghadapi akibat perbuatan muridmu dan bertanggung jawab sepenuhnya!"
Sin Hong mengerutkan alisnya. Gadis ini terlalu mendesak dan mau menang sendiri saja, pikirnya. Akan tetapi dia masih tersenyum.
"Lalu apa yang harus kulakukan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan muridku, Nona? Tentu saja aku suka bertanggung jawab."
"Para suteku atau juga murid-muridku berkelahi dengan muridmu yang mempergunakan kecurangan. Sekarang, kita sama-sama guru atau pelatih masing-masing harus menentukan siapa di antara kita yang lebih unggul! Aku tantang kamu untuk mengadu ilmu silat dengan adil dan jujur, tidak mempergunakan kecurangan."
Setelah berkata demikian, Siang Cun sudah mengambil sikap, memasang kuda-kuda ilmu silat perguruan ayahnya. Ayahnya adalah seorang ahli ilmu silat Ngo-heng-kun, dan ilmu silat tangan kosong ini memiliki banyak sekali perkembangan sehingga dapat dipergunakan untuk memainkan senjata apa pun juga. Sesuai dengan namanya, Ngo-heng-kun (Silat Lima Unsur) memiliki lima macam sifat yang paling berlawanan dan juga saling membantu. Ayah Siang Cun yang bernama Bhe Gun Ek adalah seorang pendekar yang mahir ilmu-ilmu silat Siauwlim-pai dan Bu-tong-pai.
Penggabungan kedua aliran inilah yang menciptakan Ngo-heng-kun seperti yang dimilikinya sekarang, yang berbeda dengan Ngo-heng-kun dari Siauw-lim-pai maupun Bu-tong-pai, akan tetapi yang mengandung bagian-bagian terindah dan terlihai dari keduanya. Ketika memasang kuda-kuda ilmu silat Ngo-heng-kun, Siang Cun berdiri dengan kedua kaki terpentang, yang kiri di depan, yang kanan di belakang, ditekuk menyerong, tubuhnya tegak, kedua lengannya melingkar di depan dada, membentuk tanda Im-yang karena Im-yang merupakan inti dari Ngo-heng. Sikapnya gagah dan kuda-kuda itu indah, membuat Sin Hong kagum dan tertarik. Tentu saja sama sekali dia tidak berniat untuk berkelahi apalagi bermusuhan dengan gadis itu atau siapa saja hanya karena perkelahian anak-anak maka dia pun tidak mau melayani gadis itu.
"Nona, maafkanlah kami. Aku tidak ingin berkelahi dan biarlah sebelum berkelahi aku mengaku kalah padamu!"
Mendengar ini, diam-diam Yo Han merasa penasaran sekali. Dia menganggap gurunya orang yang amat gagah perkasa, sakti dan tak mengenal takut. Akan tetapi mengapa gurunya menerima saja sikap gadis ini yang demikian angkuh dan memandang rendah? Dia tidak berani menegur gurunya, akan tetapi anak yang banyak akalnya ini mengambil keputusan untuk menambah minyak pada api yang membakar dada gadis itu agar gadis itu benar-benar dapat bertanding melawan gurunya!
"Bibi yang baik...."
Dia berkata sambil melangkah maju mendekati Siang Cun.
"Aku bukan bibimu!"
Bentak gadis itu, semakin marah karena ia merasa tidak pantas seorang anak berusia sembilan atau sepuluh tahun menyebut ia bibi, padahal ia baru berusia sembilan belas tahun. Yo Han yang memang sengaja, segera melanjutkan.
"Ah, Enci yang baik, harap jangan melanjutkan sikap Enci menantang Suhuku. Tidak tahukah Enci bahwa Suhu bersikap mengalah kepadamu? Kalau Suhu menanggapi dan menyambut tantanganmu, dalam beberapa jurus saja Enci tentu akan kalah...."
"Yo Han....!"
Sin Hong berseru, alisnya berkerut dan dia terkejut mendengar ucapan muridnya itu yang demikian menyombongkan diri. Yo Han membungkam dan melangkah mundur akan tetapi sudah cukup baginya. Akalnya itu berhasil, karena wajah Siang Cun menjadi merah padam dan gadis itu sudah menjadi marah sekali.
"Bagus, kalian adalah orang-orang sombong! Nah, sambutlah seranganku, hendak kulihat apakah benar dalam beberapa jurus engkau mampu mengalahkan aku!"
Berkata demikian, tanpa memberi kesempatan kepada Sin Hong untuk membantah lagi, Siang Cun sudah menyerang dengan cepatnya. Serangannya itu cepat bertubi-tubi datangnya, dan setiap tamparan, tonjokan atau tendangan mendatangkan angin yang kuat, tanda bahwa gadis ini memiliki kekuatan sin-kang yang sudah lumayan hebatnya.
"Plak-plak! Wuuuuuttt.... plak-wuuut-wuuuttt!"