Mulutnya merasakan darah yang asin, gigitannya semakin kuat dan anak terbesar itu berteriak-teriak, mengaduh kesakitan. Baru setelah anak ketiga menghantam pelipis Yo Han yang membuatnya pening, gigitannya terlepas dan anak yang digigit pergelangan tangannya tadi, meloncat bangun dan menangis, memegang lengan yang tadi digigit. Tangisnya bukan hanya karena rasa nyeri, melainkan karena khawatir melihat betapa dari pergelangan tangan yang tergigit itu bercucuran darah yang banyak sekali! Dua orang sutenya juga bingung dan takut, lalu mereka bertiga melarikan diri ke kota, diikuti anjing bulu putih. Yo Han membereskan pakaiannya. Akan tetapi tidak dapat dibereskan lagi karena pakaian yang tua itu sudah compang-camping, maka dia hanya mengebut-ngebutkan bagian yang kotor oleh tanah dan debu saja.
Akan tetapi, tiba-tiba wajahnya berubah agak khawatir ketika tangannya merogoh saku baju dan tidak menemukan beberapa keping uang kecil pemberian gurunya! Kantung itu telah robek dan uangnya entah jatuh ke mana. Dia mulai mencari-cari di sekitar tempat itu namun sia-sia. Karena tidak dapat menemukan uang itu, akhirnya terpaksa dia kembali ke bukit di mana suhunya menanti di kuil tua. Sin Hong sedang membuat minuman teh ketika melihat munculnya Yo Han. Dia merasa heran karena cepatnya anak itu sudah kembali, akan tetapi keheranannya berubah menjadi kekagetan melihat anak itu tidak membawa apa-apa, pakaiannya robek-robek dan mukanya penuh benjolan biru, tubuhnya babak-belur. Akan tetapi Sin Hong bersikap tenang-tenang saja ketika bertanya.
"Yo Han, apakah yang telah terjadi denganmu?"
Yo Han duduk di atas lantai, di depan gurunya. Maaf, Suhu, uang pemberian Suhu hilang sehingga teecu tidak dapat membeli apa-apa.
"Hemm, dan pakaian-mu robek-robek, tubuhmu babak-belur...."
"Teecu.... telah berkelahi, Suhu."
Sin Hong memandang muridnya dengan alis berkerut. Dia merasa yakin bahwa kalau sampai muridnya itu terpaksa berkelahi, sudah pasti muridnya itu tidak berada di pihak yang salah. Akan tetapi, dia sudah berulang kali memberi nasihat agar muridnya menjauhkan diri dari perkelahian dan permusuhan, maka kini dia bersikap keren.
"Ceritakan semua!"
"Sebelum tiba di pintu gerbang kota, teecu melihat tiga orang anak sebaya teecu bermain-main di tepi jalan. Tiba-tiba ada anjing menyalak dan akan menggigit kaki teecu. Karena terkejut dan takut digigit, teecu menendang perut anjing itu. Baru ternyata kemudian bahwa anjing itu hanyalah seekor anak anjing dan tiga orang anak itu pemiliknya. Mereka adalah murid-murid Ngo-heng Bu-koan. Mereka marah. Teecu sudah minta maaf dan teecu mempersilakan mereka menghukum teecu. Mereka bertiga memukul teecu satu kali sampai teecu roboh. Teecu menerima hukuman yang keterlaluan itu dan hendak pergi, akan tetapi mereka melarang. Mereka mengatakan bahwa teecu mempunyai kesalahan lagi, yaitu tidak menghormati mereka sebagai murid-murid Ngo-heng Bu-koan. Mereka mengharuskan teecu berlutut minta ampun. Teecu tidak sudi dan hendak pergi, lalu mereka menyerang dan memukuli teecu. Terpaksa teecu melawan."
"Dan kau kalah?"
"Mereka bertiga itu pandai silat, Suhu, sedangkan teecu belum bisa. Teecu dihujani pukulan dan tendangan, sampai roboh puluhan kali, akan tetapi karena teecu tidak merasa bersalah, teecu melawan terus. Akhirnya teecu dapat menghajar mereka, dan mereka melarikan diri sambil menangis."
Sin Hong terbelalak, memandang tidak percaya.
"Mereka lari sambil menangis? Bagaimana engkau menghajar mereka?"
"Teecu dapat menjambak rambut seorang di antara mereka dan membentur-benturkan di atas tanah, ketika seorang lagi memiting leher teecu, teecu dapat menggigit pergelangan tangannya. Darahnya keluar banyak sekali dan mereka melarikan diri, yang dua orang itu menangis. Akan tetapi, uang itu hilang dan harap Suhu maafkan teecu."
Sin Hong menahan ketawannya. Dia teringat akan sikap mendiang ayah Yo Han. Ayah Yo Han yang bernama Yo Jin itu sungguh merupa-kan seorang pria yang amat mengagumkan. Seorang petani dusun sederhana, sedikit pun tidak pandai ilmu silat, akan tetapi memiliki ketabahan melebihi seorang pendekar yang pandai silat! Kalau membela kebenaran, Yo Jin ini tidak berkedip sedikit pun juga biarpun diancam maut! Dan agaknya kenekatan dan ketabahan itu kini menurun kepada Yo Han.
"Anak bodoh! Sudah berapa kali kukatakan bahwa engkau tidak boleh berkelahi?"
Dibentak demikian, Yo Han menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.
"Harap Suhu maafkan teecu. Teecu bersalah dan bersedia menerima hukuman!"
Sin Hong tersenyum dalam batinnya. Anak ini memang hebat, pikirnya.
"Sudahlah, Yo Han. Engkau memang hanya membela diri, akan tetapi bela diri seperti itu adalah konyol. Untung engkau tidak dipukuli sampai mati. Kalau tadi engkau melarikan diri kembali ke sini, aku tidak akan menganggap engkau penakut. Orang berani harus memakai perhitungan, kalau hanya berani dan nekat tanpa perhitungan, orang itu akan mati konyol. Kalau orang melarikan diri dari bahaya yang tidak dapat ditentang dengan kepandaiannya, bukan berarti dia pengecut, melainkan dia mempergunakan kecerdikannya. Berani membuta bukanlah gagah namanya, melainkan bodoh dan konyol."
"Maaf, Suhu. Teecu memang bersalah dan teecu tadi pun bingung dan ragu karena teecu tidak pernah melupakan nasihat Suhu. Akan tetapi, bayangkan saja Suhu, andaikata teecu tidak melawan dan melarikan diri, bukankah teecu akan dianggap takut? Padahal, teecu adalah murid Suhu yang memiliki kesaktian, bukankah kalau teecu lari, berarti teecu membikin malu kepada Suhu?"
Sin Hong tersenyum.
"Membanggakan kepandaian guru atau kepandaian sendiri merupakan kesombongan, Yo Han. Sudahlah, jangan kau kira aku pelit dan tidak suka mengajarkan silat kepadamu. Selama ini, aku menggembleng tubuhmu agar memiliki kekuatan. Kalau engkau tidak memiliki kekuatan, bagaimana mungkin engkau dapat bertahan dipukuli oleh tiga orang yang lebih pandai darimu, sampai puluhan kali jatuh bangun akan tetapi tetap dapat melawan? Apa artinya memiliki kepandaian silat tinggi kalau tubuhnya lemah? Nah, sekarang engkau mengerti mengapa sampai kini aku belum mengajarkan ilmu silat, hanya penggemblengan kekuatan tubuh dan daya tahan, juga dasar langkah-langkah ilmu silat. Mulai hari ini, aku akan mulai mengajarkan ilmu pukulan dan tendangan."
Bukan main girang hati Yo Han. Dia memberi hormat sampai delapan kali untuk menyatakan terima kasihnya. Pada saat itu, terdengar suara orang di luar kuil.
"Kau yakin bahwa dia masuk ke dalam kuil ini?"
Demikian terdengar suara seorang wanita.
"Benar, Suci (Kakak Seperguruan). Sudah kutanya-tanyakan, dia berada di dalam kuil tua ini,"
Terdengar jawaban seorang anak-anak.
"Heiii, jembel busuk, keluarlah engkau!"
Suara anak-anak itu berteriak.
"Wah, itu suara anak yang teecu gigit pergelangan tangannya, Suhu,"
Kata Yo Han kepada gurunya, akan tetapi dia sama sekali tidak merasa takut.
"Hemmm, mau apa dia datang? Dan dengan siapa?"
Sin Hong mengangkat cawannya dan minum air teh yang masih panas. Mereka, guru dan murid itu, selalu membawa perabot masak dalam buntalan pakaian mereka, juga mangkok, cawan dan sumpit.
"Entahlah, Suhu. Mungkin minta digigit sebelah lengannya yang lain!"
Kata Yo Han gemas. Gurunya mengerutkan alisnya, dan Yo Han lalu bangkit berdiri.
"Suhu, biarlah teecu menghadapi mereka."
"Tunggu, Yo Han. Jangan engkau membuat urusan menjadi semakin parah. Mari kita keluar bersama, kita lihat apa yang mereka kehendaki."
Sin Hong bangkit dan bersama muridnya dia keluar dari ruangan samping itu, menuju ke depan di mana dia melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga belas tahun bersama seorang gadis yang bertubuh ramping padat.
Gadis itu berusia kurang lebih sembilan belas tahun, pakaiannya ringkas seperti pakaian seorang ahli silat, rambutnya yang hitam digelung ke atas dan dihias bunga emas. Pakaian berwarna hijau muda yang berpotongan ringkas itu membuat tubuhnya nampak menggairahkan. Akan tetapi melihat sepintas saja mudah diduga bahwa ia seorang gadis yang gagah. Wajahnya manis dengan dagu runcing, mulut kecil dan sepasang mata yang jeli dan tajam. Seorang gadis yang gagah dan cantik. Dengan hati yang merasa agak tidak enak karena dia harus menghadapi seorang gadis cantik yang agaknya sedang marah, Sin Hong menghampiri mereka. Begitu melihat Yo Han, anak itu yang kini lengannya dibalut, berseru,
"Itulah dia, Suci! Itulah jembel busuk itu!"
Gadis itu hanya sebentar saja memandang kepada Yo Han.
Diam-diam ia mendongkol sekali mengingat betapa tiga orang murid Ngo-heng Bu-koan dikalahkan oleh seorang anak laki-laki yang pakaiannya tambal-tambalan dan compang-camping, yang usianya dua tiga tahun lebih muda dari sutenya ini! Memalukan sekali, pikirnya. Dan ia lalu memandang kepada Sin Hong, memperhatikan pemuda itu. Seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh empat tahun, berpakaian serba putih, bersih, namun juga ada tambalannya. Wajah pemuda itu biasa saja, tidak terlalu menarik, juga tidak buruk, akan tetapi sinar matanya lembut dan mulutnya tersenyum ramah membayangkan kehalusan watak. Sin Hong mendahului gadis itu, mengangkat kedua tangan ke depan dada untuk memberi hormat. Perbuatannya ini diturut oleh muridnya sehingga gadis itu kembali terheran melihat betapa kedua orang jembel itu bersikap demikian sopan.
"Maafkan kami, Nona. Apakah Ji-wi (Kalian berdua) datang untuk mencari kami?"
Sin Hong bertanya dengan sikap yang halus dan sopan. Gadis itu memandang bingung. Kalau yang menggigit dan menjambak para murid kecil perguruan ayahnya hanya seorang bocah berusia kurang lebih sembilan tahun, tentu saja ia tidak dapat turun tangan menghajarnya! Bagaimana mungkin ia harus menyerang seorang bocah? Ia adalah Bhe Siang Cun, puteri dari ketua atau kauwsu (guru silat) perguruan silat Ngo-heng Bu-koan! Bahkan ialah yang membimbing dan mengajar para murid perguruan silat itu mewakili ayahnya. Memalukan sekali kalau ia harus berkelahi melawan seorang anak kecil berusia sembilan tahun! Ia lalu mengalihkan pandang matanya, memperhatikan Sin Hong tanpa membalas penghormatan pemuda itu.
"Aku mencari bocah bengal ini. Apamukah dia?"
Ia melirik kepada Yo Han yang menahan dirinya untuk diam saja karena dia takut kepada gurunya. Akan tetapi dia membalas pandang mata gadis itu dengan berani dan sikapnya tenang sekali. Dia merasa tidak bersalah, maka sedikit pun tidak merasa takut.
"Dia ini adalah muridku, Nona. Kalau dia melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan hatimu, harap Nona suka memaafkan anak yang masih kecil ini."
Mendengar bahwa pemuda itu guru dari anak nakal itu, lega rasa hati Siang Cun. Setidaknya, ia akan berurusan dengan gurunya, bukan dengan bocah itu.
"Bagus!"
Katanya.
"Engkau adalah gurunya maka harus engkau yang bertanggung jawab atas kejahatannya! Biarpun dia masih kecil, akan tetapi dia jahat sekali. Lihat apa yang telah dilakukannya terhadap suteku ini. Dia ini suteku, akan tetapi aku yang membimbing mereka, maka aku dapat juga disebut guru mereka. Tiga orang suteku telah luka-luka karena perbuatan muridmu yang jahat ini. Lihat pergelangan tangan suteku yang ini digigit sampai terluka parah dan banyak darah terbuang."
Sin Hong menahan senyumnya. Gadis itu lincah dan galak, menunjukkan sikap yang mengandung kegagahan walaupun ada keangkuhan membayanginya.
"Sekali lagi maaf. Muridku telah bercerita kepadaku tentang perkelahian antara dia dan tiga orang anak-anak yang usianya lebih tua darinya. Menurut dia, dia telah dihina dan dikeroyok oleh tiga orang anak itu, maka dia membela diri..."