Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 135

Memuat...

Kata seorang di antara mereka yang terkecil, yang kini sudah memondong anjing yang kelihatan ketakutan itu sambil mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Yo Han merasa semakin menyesal.

"Maaf.... aku.... aku tadi terkejut sekali, melihat ada anjing hendak menggigit kakiku sambil menyalak, aku tidak melihat bahwa anjing itu hanya anak anjing. Karena kaget aku lalu menendangnya. Maafkanlah aku."

Dia teringat akan nasihat gurunya bahwa kalau dia melakukan suatu kesalahan, biar terhadap seorang anak kecil sekalipun, dia harus berani menyatakan penyesalannya dan minta maaf.

"Enak saja minta maaf! Apakah kalau sudah minta maaf, anjing kami itu lalu sudah tidak merasa nyeri lagi oleh tendanganmu tadi? Huh, engkau tentu anak jembel yang datang dari luar kota maka tidak mengenal kami dan berani berbuat kurang ajar!"

Bentak seorang di antara mereka yang paling besar, usianya kurang lebih dua belas tahun sambil bertolak pinggang. Kini, Yo Han melihat bahwa tiga orang anak itu bersikap gagah dan pakaian mereka ringkas seperti pakaian yang biasa dipergunakan untuk berlatih silat. Kembali Yo Han meminta maaf, sekali ini dia merangkap kedua tangan di depan dada untuk memberi hormat.

"Saya merasa bersalah dan saya menyesal sekali telah lengah dan terburu nafsu, menendang anjing kecil yang tidak bersalah itu. Harap kalian suka memaafkan saya."

Dia mengatur kata-katanya dengan sopan dan merendahkan diri.

"Orang yang melakukan kesalahan harus dihukum!"

Bentak orang ke dua yang usianya sebaya dengan Yo Han.

"Kau layak dipukul!"

Yo Han menarik napas panjang. Nasib, pikirnya. Akan tetapi, semua nasihat gurunya masih bergema di telinganya, maka dia pun mengangguk dan pasrah.

"Kalau kalian masih merasa penasaran dan sakit hati, nah, tamparlah mukaku sebagai hukuman atas kesalahanku menendang anjing kalian tadi. Silakan!"

Dia memanjangkan leher, memberikan mukanya untuk ditampar.

"Bagus kalau kau tahu diri! Memang kami ingin memukulmu!"

Kata anak terbesar.

"Mari, Sute, kita hajar anak jembel ini sampai dia bertobat!"

Yo Han yang sudah mengambil keputusan untuk menyerahkan mukanya untuk ditampar sebagai penebusan kesalahannya, memejam-kan kedua mata dan siap menerima tamparan yang bagaimana keras pun pada mukanya.

"Plakkk! Dukkk! Desss....!"

Tubuh Yo Han terpelanting ke atas tanah dan dia membuka mata, meng-goyang-goyang kepalanya yang terasa pening, mengelus dada dan perut. Dia tidak hanya mendapatkan satu kali tamparan, akan tetapi juga dadanya dipukul dan perutnya ditendang! Yo Han merasa penasaran sekali. Mereka itu keterlaluan, pikirnya. Sekali maju tiga orang menyerangnya dan memukul dengan keras, sungguh tidak sepadan dengan kesalahannya tadi. Akan tetapi karena dia teringat akan kesalahannya, dia pun menahan kemarahannya dan mengusap bibirnya yang berdarah karena ujung bibir itu pecah terkena tamparan yang amat keras, lalu dia bangkit berdiri.

"Aku sudah menerima hukuman. Kesalahanku sudah terbayar lunas sekarang."

Katanya dan dia hendak melanjutkan perjalanannya ke kota untuk membeli makanan dan minuman seperti yang dipesan gurunya. Akan tetapi tiba-tiba anak terbesar menarik bajunya, di sentakkan ke belakang sehingga Yo Han hampir jatuh.

"Hemmm, kau hendak lari ke mana? Tidak boleh pergi sebelum kami selesai denganmu!"

Sepasang alis Yo Han yang hitam dan tebal itu berkerut dan sepasang mata itu mencorong penuh selidik ketika Yo Han menatap wajah anak laki-laki yang tubuhnya gempal itu.

"Bukankah kalian sudah memukul aku sebagai hukuman atas kesalahanku? Kalian mau apalagi dan mengapa menahan aku?"

"Kesalahanmu ada dua macam. Pertama, engkau menendang anjing kami dan untuk itu memang kami tadi sudah menghukum kamu dengan pukulan. Akan tetapi kesalahan kedua, belum lunas, dan harus dibayar sekarang."

"Kesalahan yang mana lagi?"

Yo Han bertanya penasaran. Engkau tidak menghargai kami, tidak menghormati kami. Ketahuilah bahwa kami adalah murid-murid Ngo-heng Bukoan, dan kau bersikap kurang ajar kepada kami. Inilah kesalahanmu ke dua dan untuk ini, engkau harus berlutut dan menyebut kami tuan-tuan muda dan minta maaf atas sikapmu yang kurang ajar itu. Wajah Yo Han berubah merah. Suhunya selalu menekankan bahwa dia haruslah rendah hati dan mengalah, akan tetapi tidak boleh rendah diri dan pengecut. Tiga orang anak ini jelas hendak menghinanya dan kalau dia mentaati perintah mereka, berlutut minta maaf, berarti dia rendah diri dan penakut. Mereka itu sewenang-wenang dan sombong, maka tidak perlu dihormati, bahkan layak kalau ditentang.

"Aku tidak mengenal siapa kalian, dan andaikata sudah mengenal sekalipun, aku tidak biasa menjilat orang yang kedudukannya lebih tinggi. Aku tidak merasa bersalah dengan sikapku, maka sudahlah, aku masih banyak urusan dan harus pergi tidak dapat melayani kalian lebih lama lagi!"

Berkata demikian Yo Han membalikkan tubuh dan hendak pergi.

"Jembel sombong! Engkau memang harus dipukul sampai setengah mati baru tahu rasa!"

Bentak anak terbesar. Yo Han maklum bahwa dirinya diserang. Dia membalik dan mencoba untuk mengelak, akan tetapi pukulan anak itu cepat dan tepat. Elakannya kurang cepat dan pundaknya kena tonjokan yang membuat tubuhnya terjengkang! Akan tetapi sekali ini, Yo Han sudah marah sekali. Dia meloncat bangun dan melihat seorang di antara mereka sudah menerjangnya lagi, dia pun menyambut dengan tendangan.

"Uukkk!"

Anak itu kena ditendang pahanya dan terpelanting. Dua orang kawannya segera maju mengeroyok dan anak yang tertendang itu pun sudah bangkit lagi dan ikut mengeroyok, Yo Han dikeroyok tiga! Kasihan anak ini. Tiga orang lawannya telah pandai bermain silat, sedangkan dia baru mempelajari langkah-langkah dasar saja. Melawan mereka satu lawan satu saja belum tentu dia menang, apalagi dikeroyok tiga.

Tubuhnya menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan mereka. Akan tetapi, Yo Han memiliki keberanian luar biasa dan tahan uji benar-benar. Biarpun sudah puluhan kali dia jatuh bangun, tubuhnya memar dan babak belur, pakaiannya robek-robek, dia tidak pernah nrengeluarkan keluhan dan setiap kali jatuh, dia bangun kembali, meloncat dan melawan lagi mati-matian! Hal ini membuat tiga orang lawannya menjadi bingung dan agak gentar. Mereka mengira bahwa dengan beberapa kali dirobohkan saja, anak jembel itu akan berlutut minta ampun. Akan tetapi siapa kira, sudah puluhan kali jatuh, anak itu tetap melawan. Apalagi minta ampun, mengeluh pun tiduk pernah! Karena gentar, mereka agak lengah dan begitu Yo Han berhasil mencengkeram dan menjambak rambut seorang di antara mereka, dia membanting anak itu,

Menggumulnya dengan kedua tangan menjambak rambut dan dia membentur-benturkan kepala anak itu di atas tanah! Dia tidak peduli akan pukulan bertubi-tubi yang dilakukan dua orang anak lain pada tubunnya. Dia tetap menunggangi anak yang dijambaknya, dan dibentur-benturkannya kepala itu Tiba-tiba anak terbesar menolong sutenya dengan merangkul leher Yo Han dengan lengannya dan menjepitnya. Karena lehernya terjepit dan dia tidak dapat bernapas, Yo Han gelagapan dan terpaksa melepaskan anak yang dijambaknya tadi. Anak itu sudah mulai menangis dan daun telinganya robek dan berdarah. Yo Han meronta-ronta, lalu berhasil membalikkan kepalanya, lalu dia membuka mulut dan menggigit pergelangan tangan anak yang memitingnya! Digigitnya sekuat tenaga.

Post a Comment