Kata Sin Hong, Mendengar ini, Cu Kun Tek yang tadi bersama Pouw Li Sian dibebaskan oleh Sin Hong, mengangguk dan dia pun menggunakan pedangnya untuk membantu para pendekar lain, mengamuk di antara para tokoh sesat. Adapun Sin Hong kini berhadapan dengan Ciu Hok Kwi. Keduanya saling pandang dan sinar mata Sin Hong mengeluarkan sinar berkilat. Dia memang marah sekali, bukan hanya karena orang ini yang telah membunuh ayah kandungnya, melainkan terutama sekali karena dia telah membunuh pula Kwee Ci Hwa. Dia tahu bahwa orang ini hanyalah kaki tangan Tiat-liong-pang, akan tetapi orang seperti Ciu Hok Kwi ini jahat dan berbahaya sekali karena pandai bersandiwara sehingga mendiang ayahnya sendiri kena dikelabuhi, bahkan dia sendiri pun kena ditipu dan telah menaruh kepercayaan kepada bekas "pembantu"
Ayah kandungnya ini.
"Ciu Hok Kwi, sekarang engkau hendak berkata apa lagi? Kiranya semua pembunuhan itu engkau yang melakukannya, terhadap ayah kandungku, terhadap orang she Lay, dan juga Kwee Ci Hwa."
Mendengar ini, Ciu Hok Kwi yang sudah tahu bahwa dia pun tidak akan dapat melarikan diri dan terpaksa harus melawan sampai mati, tersenyum mengejek dan berkata,
"Engkau baru tahu? Bodoh! Memang aku yang telah mengatur semua itu, demi perjuangan Tiat-liongpang, membunuh ayahmu, anak buahnya, orang she Lay yang berkhianat, akulah yang.... ha-ha-ha, mempermainkan Kwee Ci Hwa sepuas hatiku lalu membunuhnya! Habis, engkau mau apa?"
Keterangan tambahan dari Ciu Hok Kwi bahwa dia telah mempermainkan Ci Hwa, menambah api yang berkobar di kepala Sin Hong. Kiranya sebelum membunuhnya, orang ini telah mempermainkan Ci Hwa! Kini baru dia mengerti. Ci Hwa telah mengorbankan diri, dalam usahanya menyelamatkan Gu Hong Beng, Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian. Gadis itu telah berhasil merayu Ciu Hok Kwi ini, menyerahkan diri, agaknya demikian melihat pengakuan Ciu Hok Kwi tadi, dan berhasil mencuri kunci dan membebaskan tiga orang tawanan itu sebelum ia kembali ke kamar dan berusaha membunuh Ciu Hok Kwi akan tetapi malah terluka parah dan biarpun akhirnya dapat dibebaskan, tetap saja tewas karena luka-luka itu.
"Jahanam, engkau memang jahat sekali!"
Kata Sin Hong dan dia pun menerjang ke depan dengan kedua tangan digerakkan seperti leher dan moncong burung bangau. Dalam kemarahannya, begitu menyerang dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu silat tangan kosong Pek-ho Sin-kun! Dari kedua tangannya itu menyambar angin pukulan dahsyat bukan main. Melihat ini, Ciu Hok Kwi cepat mengelebatkan pedangnya membacok ke arah lengan yang meluncur ke depan itu dan Sin Hong sama sekali tidak menarik tangannya, bahkan sengaja menerima bacokan pedang itu dengan lengannya.
"Takkk!"
Bukan lengan itu yang putus, melainkan pedang itu yang terpental bahkan terlepas dari pegangan tangan Ciu Hok Kwi saking kerasnya pertemuan antara pedang dan lengan yang mengandung tenaga sin-kang yang amat hebat itu! Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga sin-kang dari pemuda berpakaian putih ini kalau diingat betapa mendiang kakek Kao Kok Cu, nenek Wan Ceng, dan kakek Tiong Khi Hwesio, telah mengoperkan tenaga mereka kepadanya dan dia telah memiliki tenaga gabungan dari tiga orang sakti yang kesemuanya terkandung di dalam gerakan silat sakti Bangau Putih! Ciu Hok Kwi terkejut bukan main, akan tetapi sebelum dia sempat mengelak, sebuah tendangan dari kaki Sin Hong mengenai pahanya. Tubuhnya terpelanting sampai empat lima meter jauhnya dan kebetulan sekali jatuh di dekat kaki Gu Hong Beng.
Melihat orang yang dibencinya ini terbanting keras dan merangkak hendak bangun Hong Beng mengelebatkan pedangnya dan leher Ciu Hok Kwi yang sedang merangkak seperti anjing itu terbabat pedang! Leher itu putus seketika dan kepalanya terpental, menggelinding sampai jauh. Kini banyak di antara para pendekar yang melihat betapa para tokoh sesat yang terlihai sudah roboh, berdiri menonton perkelahian yang berlangsung dengan amat hebatnya dan amat menarik, yaitu perkelahian antara Suma Ceng Liong dan Siangkoan Lohan! Memang hebat sekali perkelahian antara dua orang gagah perkasa ini! Siangkoan Lohan atau yang bernama Siangkoan Tek, ketua Tiat-long-pang memang seorang yang amat gagah perkasa. Tubuhnya tinggi kurus namun mukanya merah dengan jenggot panjang ke dada dan matanya mencorong seperti mata naga.
Dia memiliki tenaga raksasa, bukan saja tenaga luar dengan otot-ototnya, melainkan juga memiliki sin-kang yang amat kuat. Banyak ilmu silat aneh dan lihai dikuasainya, bahkan dia menguasai pula ilmu gulat dari utara. Tendangan mautnya Ban-kin-twi (Tendangan Selaksa Kati) amat berbahaya, dan dia juga memiliki ilmu silat Tiat-wi Liong-kun (Silat Naga Ekor Besi) dengan mempergunakan tenaga dalam Liong-jiauw-kang (Tangan Cakar Naga) yang dahsyat. Semua ini masih ditambah lagi dengan Kim-hun-cwe (Pipa Tembakau Emas) sebagai senjata, maka lengkaplan Siangkoan Lohan sebagai seorang lawan yang tangguh. Dia pun memiliki pengalaman berkelahi yang sudah puluhun tahun. Namun, lawannya bukan pula orang sembarangan. Sungguh sial sekali bagi ketua Tiat-liong-pang itu bahwa sekali ini dia mendapatkan lawan seorang pendekar besar, yaitu Suma Ceng Liong!
Pendekar ini adalah seorang cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, cucu yang paling pandai di antara semua cucu pendekar sakti itu. Sejak kecilnya, Suma Ceng Liong berbakat sekali dan selain ilmu-ilmu yang tinggi dari keluarga Pulau Es, juga dia menguasai dengan amat baiknya beberapa macam ilmu aneh, di antaranya Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) semacam ilmu totokan yang amat dahsyat dari mendiang Hek I Mo-ong, seorang datuk sesat yang pernah menjadi gurunya. Juga dia mahir ilmu sihir yang dipelajarinya dari ibunya. Karena dia telah memiliki ilmu-ilmu yang demikian tingginya, juga karena seluruh tubuhnya telah dilindungi tenaga sin-kang yang membuatnya kebal, Suma Ceng Liong melawan Siangkoan Lohan hanya dengan kedua tangan kosong saja! Perkelahian antara kedua orang ini, merupakan pertandingan yang paling hebat dan menarik.
Semua pendekar yang tidak merasa perlu lagi membantu kawan-kawan yang sedang membabat sisa orang-orang sesat, kini menonton dan tidak seorang pun di antara mereka berani membantu Suma Ceng Liong. Sebagai seorang pendekar besar, tentu Suma Ceng Liong akan merasa tersinggung kalau perkelahiannya melawan ketua Tiat-liong-pang ini dibantu orang lain. Sin Hong sendiri yang sudah merasa gatal tangan untuk menghajar dan menundukkan ketua Tiat-liong-pang yang menjadi biang keladi semua kerusuhan ini, bahkan yang menjadi biang keladi kenancuran keluarga ayahnya, juga hanya menonton saja seperti yang lain. Apalagi dia, bahkan Kam Hong dan Bu Ci Sian sendiri, sepasang suami isteri sakti yang menjadi mertua dari Suma Ceng Liong, juga hanya menonton, demikian pula isterinya, Kam Bi Eng.
Ketika melihat betapa tempat itu dikelilingi para pendekar yang menonton, diam-diam hal ini mengecilkan hati Siangkoan Lohan. Kalau para pendekar sudah duduk enak-enakan menonton, hal itu hanya berarti bahwa semua pembantunya telah gagal dan telah roboh. Dia tadi sudah merasa marah dan penasaran, juga menyesal dan kecewa melihat betapa Ouwyang Sianseng melarikan diri, demikian pula Sin-kiam Mo-li dan puteranya sendiri. Diam-diam dia memaki mereka sebagai pengecut-pengecut yang curang, yang ingin mendapatkan enaknya saja, dan tidak bertanggung jawab kalau ada malapetaka menimpa, tidak setia kawan. Perasan ini, ditambah perasaan gentar menghadapi para pendekar yang sudah mengurung tempat itu, setidaknya mempengaruhi permainan kaki tangan ketua Tiat-liong-pang ini.
"Haiiiiittttt....!"
Siangkoan Lohan yang sudah hampir putus asa melihat betapa semua pembantu utamanya telah roboh, kini mengirim hantaman dengan hun-cwe mautnya. Dia menggunakan seluruh tenaganya karena dia ingin mengakhiri perkelahian itu secepatnya, kalah atau menang, maka dia hendak mengadu tenaganya.
Hun-cwe menyambar menjadi sinar keemasan ke arah kepala Suma Ceng Liong. Suma Ceng Liong juga percaya akan kekuatan sendiri, akan tetapi dia belum nekat seperti lawannya. Kalau dia mengadu tenaga secara langsung, belum tentu dia kalah kuat, akan tetapi karena dia pun tahu bahwa lawannya bertenaga besar, maka kalah menang akan membawa akibat yang merugikan dirinya, setidaknya dia akan terguncang hebat. Dia tidak sebodoh itu, dan dia pun menangkis sambaran hun-cwe itu bukan secara langsung dari depan, melainkan dari samping sehingga mereka tidak mengadu tenaga dengan langsung. Pada saat itu, tangan kiri ketua Tiat-liong-pang itu memukul dengan telapak tangan terbuka. Melihat ini terpaksa Suma Ceng Liong menyambut dengan telapak tangan kanannya sambil mendorong.
"Dukkk! Plakkk!"
Pertemuan telapak tangan itu membuat keduanya terpental ke belakang dan mereka berdiri berhadapan dalam jarak yang cukup jauh. Tiba-tiba Siangkoan Lohan kembali mengeluarkan pekik dahsyat dan tubuhnya lalu meloncat tinggi ke depan, dan dari atas dia menyerang dengan huncwe dan tangan kirinya. Inilah jurus terakhir dari kakek itu setelah tadi berkali-kali dia mempergunakan tendangan Ban-kin-twi tanpa hasil apa pun karena lawannya selalu dapat mengelak,
Bahkan kalau menangkis dari samping, kakinya terasa nyeri dan tergetar hebat. Kini dia mengerahkan seluruh tenaganya dalam serangan sambil meloncat setengah terbang ini. Suma Ceng Liong menyambutnya dengan loncatan yang sama, dan pendekar ini tanpa ragu-ragu lagi mempergunakan ilmu Coan-kut-ci dari mendiang Hek I Mo-ong, ilmu yang amat dahsyat dan mengerikan. Begitu dia meloncat dan menggerakkan kedua tangan dengan jari-jari terpentang lurus ke depan, terdengar suara bercuitan. Orang-orang hanya melihat betapa dua tubuh yang meloncat itu seperti saling terkam, dan melihat betapa kedua orang gagah perkasa itu dapat meloncat turun pula ke atas tanah, saling membelakangi. Kalau Suma Ceng Liong dengan cepat membalikkan tubuh menghadapi lawan, adalah tubuh Siangkoan Lohan yang diam saja,
Tetap membelakangi lawan, Kam Bi Eng melihat betapa baju di dada suaminya terobek dan nampak ada tanda menghitam pada dada itu, maka cepat dia menghampiri suaminya. Suma Ceng Liong tersenyum menggeleng kepala tanda bahwa luka di dadanya tidak berbahaya sehingga Kam Bi Eng menjadi lega, lalu mereka menoleh dan memandang kepada Siangkoan Lohan. Semua mata kini ditujukan kepada ketua Tiat-liong-pang itu. Tubuhnya masih berdiri tegak, dan kini perlahan-lahan tubuh itu membalik kaku dan semua orang melihat betapa kakek itu masih memegang senjata hun-cwe emasnya, tubuhnya tidak nampak terluka, akan tetapi dari bawah kain penutup rambut itu menetes darah yang berjatuhan ke atas dahi, pipi dan dagunya! Dia memandang kepada Suma Ceng Liong, lalu terdengar dia berkata.
"Mereka, pengecut-pengecut itu berada di rumah Ouwyang Sianseng di lereng balik bukit ini."
Setelah berkata demikian,tubuhnya lalu jatuh kaku seperti sebatang balok dan ketika diperiksa, ternyata dia telah tewas karena luka-luka di kepalanya, di balik kain penutup kepala! Kiranya, ilmu Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) dari Suma Ceng Liong tadi telah membuat jari-jari tangan pendekar itu menembus kepala! Mendengar ucapan ketua Tiat-liong-pang sebelum tewas, Sin Hong maklum siapa yang dia maksudkan.
"Ban-tok-kiam, bahkan Koai-liong Po-kiam mereka bawa, aku harus mengejar mereka!"
Katanya kepada Kao Hong Li dan dia pun cepat melompat dan lari.
"Susiok, tunggu, aku membantumu!"
Teriak Hong Li yang melompat mengejar pula, maklum pula bahwa susioknya itu akan mengejar Ouwyang Sianseng, Siangkoan Liong, dan Sin-kiam Mo-li, tiga orang yang lolos dari situ dan yang melarikan pusaka-pusaka dari Istana Gurun Pasir, juga pusaka dari Lembah Naga Siluman yang mereka rampas dari tangan Cu Kun Tek.
"Ah, berbahaya sekali membiarkan mereka berdua menghadapi Ouwyang Sianseng yang amat lihai,"
Kata Kam Hong dan dia pun mengejar ke arah balik puncak bukit itu. Ketika mereka tiba di luar sarang Tiat-liong-pang, ternyata pertempuran juga sudah tinggal sedikit. Semua pasukan pemberontak dapat dirobohkan, tewas atau terluka, dan sisanya hanya melawan untuk mempertahankan diri saja. Jumlah pasukan pemerintah jauh lebih banyak sehingga perlawanan pasukan yang terdiri dari anak buah Tiat-liong-pang, pasukan Mongol, anggauta Ang I Mo-pang dan anak buah beberapa orang tokoh sesat itu tidak ada artinya sama sekali.
Rumah itu merupakan sebuah gedung yang tidak berapa besar akan tetapi kokoh kuat dan nampak menyeramkan, dilindungi oleh pohon-pohon dan hampir tidak nampak dari luar. Sin Hong dan para pendekar lainnya berdiri di depan rumah itu, di pekarangan depan, memandang ke arah pintu dan jendela yang tertutup. Cuaca senja itu muram, seolah-olah sang matahari lebih siang menyembunyikan diri di balik awan tebal karena merasa ngeri menyaksikan ulah manusia yang saling bunuh di bukit itu. Beberapa kali Sin Hong berteriak sambil mengerahkan khi-kangnya sehingga suaranya bergema sampai jauh, memanggil, nama-nama Ouwyang Sianseng, Siangkoan Liong, dan Sin-kiam Mo-li yang ditantangnya keluar. Akan tetapi, tidak ada jawaban dari dalam rumah itu.
"Biar aku menerjang masuk!"
Kata Sin Hong, akan tetapi sebelum dia bergerak, Kam Hong mencegahnya.
"Berbahaya sekali memasuki sarang seorang seperti Ouwyang Sianseng. Rumah itu pasti penuh dengan alat rahasia dan jebakan. Dia licik dan curang, sebaiknya memaksa mereka keluar dengan api."
Sin Hong mengangguk kagum.
"Pendapat Locianpwe benar sekali, terima kasih!"