Halo!

Kisah si Bangau Putih Chapter 122

Memuat...

"Kawan-kawan, mundurlah dan biarkan aku yang menangkap wanita yang sombong ini!"

Teman-temannya yang sudan maklum akan kelihaian jagoan muda murid Kun-lun-pai ini, mundur dan membiarkan si kumis tebal untuk menghadapi Hong Li. Namun, sebagai seorang pendekar, agaknya si kumis tebal masih saja sungkan untuk melawan seorang wanita muda. Dia memasang kuda-kuda dengan gagahnya, kuda-kuda dari silat Kun-lun-pai yang terkenal indah gerakannya itu, akan tetapi tidak segera menyerang, melainkan berkata kepada Hong Li.

"Nona, silakan mulai menyerang!"

Hong Li tidak memasang kuda-kuda, hanya berdiri santai saja, bahkan mentertawakan lawannya.

"Eh, kenapa? Bukankah yang hendak menggunakan kekerasan itu engkau? Kenapa aku yang disuruh menyerang? Aku tidak bisa menggunakan kekerasan!"

Teman-temannya tertawa dan si kumis tebal menjadi semakin kikuk.

"Kalau begitu, biarlah aku yang mulai dulu. Awas, Nona, aku akan bergerak menangkapmu, maaf!"

Dan orang itu, dengan kedua lengan bergerak cepat, menubruk ke depan, maksudnya hendak menangkap kedua pergelangan tangan Hong Li agar dia dapat menangkap gadis itu tanpa banyak pergulatan.

"Ihhh....!"

Hong Li berseru dan dengan gerakan kaku yang disengaja, ia mengelak, akan tetapi cukup untuk membuat tubrukan lawan itu mengenai tempat kosong belaka!

"Wah, sayang luput, ya?"

Hong Li mentertawakannya sambil melenggang-lenggokkan tubuhnya yang ramping padat. Kembali terdengar suara ketawa teman-teman si kumis tebal.

"Awas, aku akan menotok dan membuat engkau tidak mampu bergerak, Nona. Maaf!"

Dan kini si kumis tebal kembali menyerang, bukan sembarangan lagi menubruk, melainkan mengirimkan totokan dengan dua jari tangan kanan kiri, yang kanan menotok pundak kiri, yang kiri menotok pinggang. Hong Li yang melihat bahwa tingkat kepandaian lawan masih jauh berada di bawah tingkatnya, menyambut totokan-totokan itu dengan dua pasang jari tangannya pula, jari telunjuk dan jari tengah dipergunakan untuk menangkap atau menjepit totokan lawan.

"Cuppp! Cappp!"

Si kumis tebal itu terbelalak melihat betapa totokannya itu disambut jepitan jari tangan lawan. Dia berusaha menarik kembali jarinya, namun sia-sia dan terasa nyeri, seolah-olah jari tangannya telah terjepit oleh jepitan besi! Tentu saja nampaknya lucu sekali perkelahian itu dan teman-teman si kumis kembali tertawa. Kaki Hong Li bergerak dan tubuh si kumis tebal itu terpelanting, tidak begitu keras karena Hong Li memang tidak mempergunakan tenaga besar. Empat orang kawan si kumis tebal kini menghentikan suara ketawa mereka dan baru mereka sadar bahwa gadis cantik itu ternyata bukan orang sembarangan, buktinya si kumis tebal yang mereka kenal sebagai murid Kun-lun-pai yang cukup kuat, dalam segebrakan saja roboh secara aneh! Kini mereka berempat berloncatan menghadapi Hong Li dan seorang di antara mereka membentak,

"Nona, siapakah engkau? Harap jangan main-main dengan kami dan mengaku terus terang apakah engkau seorang mata-mata pemberontak?"

Mereka sudah mendengar bahwa gerombolan pemberontak bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat yang tinggi ilmunya.

"Siapakah main-main dengan kalian?"

Hong Li menjawab.

"Siapa adanya aku tidak ada hubungannya dengan kalian. Aku berjalan seorang diri tidak mengganggu siapapun juga. Adalah kalian yang menghadang perjalananku dan andaikata aku benar mata-mata pemberontak, habis kalian mau apa?"

"Tangkap mata-mata ini!"

Bentak si kumis tebal yang sudah meloncat bangun kembali dan kini lima orang itu sudah menerjang untuk menangkap Hong Li. Gadis ini dengan lincah sekali lalu berloncatan mengelak. Gadis ini adalah cucu dalam dari Naga Sakti Gurun Pasir, juga cucu luar dari Pendekar Super Sakti Pulau Es. Dari ayahnya ia mewarisi ilmu-ilmu dari Gurun Pasir, dan dari ibunya ia mewarisi ilmu-ilmu Pulau Es, tentu saja ia lihai bukan main.

Diserang oleh lima orang pendekar yang tingkatnya masih tengah-tengah tentu saja ia seperti menghadapi pengeroyokan lima orang anak kecil saja. Dengan mudah ia menghindarkan setiap serangan dengan elakan dan setiap kali tangannya menangkis, orang yang ditangkisnya tentu terpelanting! Sungguh mereka itu seperti sekumpulan semut yang mengeroyok jangkrik, beberapa kali terpelanting dan bangkit kembali. Kalau saja Hong Li menghendaki, tentu dengan mudah ia akan membuat mereka roboh untuk tidak dapat bangun kembali. Akan tetapi gadis ini pun tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang baik-baik, dan ia pun hanya ingin main-main saja, menghajar mereka karena mereka memandang rendah kepadanya! Pada saat itu, berkelebat bayangan orang, bayangan putih dan seorang pemuda berpakaian serba putih tiba di situ.

"Tahan....!"

Katanya kepada lima orang itu yang segera menghentikan pengeroyokan mereka. Mereka terengah-engah, dengan tubuh basah oleh keringat dan babak bundas. Sedikitnya setiap orang sudah terpelanting dua kali dalam pengeroyokan itu. Melihat kehadiran si baju putih, si kumis tebal cepat berseru girang,

"Tan Tai-hiap, cepat bantu kami menangkap mata-mata musuh yang lihai ini!"

Akan tetapi lima orang itu tertegun ketika melihat betapa orang yang mereka harapkan akan membantu mereka itu kini berdiri berhadapan dengan gadis itu, saling pandang dan akhirnya pemuda berpakaian putih itu berseru girang.

"Nona Kao Hong Li....!"

"Eh, engkau.... eh Susiok....!"

Pemuda berpakaian putih itu bukan lain adalah Tan Sin Hong. Baru kemarin dia bertemu dengan para pendekar, ketika para pendekar yang jumlahnya kurang lebih lima belas orang itu dikepung dan dikeroyok,

Bahkan terancam oleh orang-orang Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai yang bersekutu dengan para pemberontak. Sin Hong turun tangan membantu mereka sehingga mereka berhasil mengusir musuh dari dalam hutan. Dan semua pendekar mengagumi Tan Sin Hong yang mereka sebut Tan-taihiap (Pendekar Besar Tan). Para pendekar itu adalah mereka yang berdatangan karena merasa penasaran mendengar bahwa Tiat-liong-pang melakukan pemberontakan dan bersekutu dengan kaum sesat. Pada waktu itu, masih banyak lagi para pendekar yang berpencaran di sekitar daerah yang dijadikan sarang Tiat-liong-pang, siap untuk menggempur kaum sesat yang berkumpul di atas apabila saatnya tiba. Mendengar betapa gadis itu menyebut susiok (paman guru) kepada Sin Hong, tentu saja para pendekar itu terkejut dan melongo. Sin Hong lalu menoleh kepada mereka.

"Aih, sobat-sobat sungguh kurang cermat. Nona ini adalah nona Kao Hong Li, seorang pendekar wanita yang tinggi ilmunya, bagaimana kalian sangka ia seorang mata-mata pemberontak?"

Kao Hong Li mengerling ke arah si kumis tebal dan kawan-kawannya sambil tersenyum.

"Habis. Kalian tidak memberi kesempatan kepadaku, datang-datang kalian menuduh aku mata-mata musuh sih, jadi aku menjadi marah dan ingin menguji kalian!"

Si kumis tebal dan teman-temannya menjadi malu, dan dengan muka merah mereka memberi hormat, dipimpin oleh si kumis tebal yang berkata.

"Maaf, maaf, karena tidak mengenal Lihiap (PendeKar Wanita) maka kami berlaku kurang hormat. Maklumlah, baru kemarin kami diserang oleh gerombolan pemberontak, maka tadi kami menyangka Lihiap seorang di antara mereka. Maaf!"

"Sudahlah,"

Kata Hong Li.

"Aku yang minta maaf. Susiok, bagaimara engkau bisa berada di sini?"

Sin Hong memandang kepada lima orang itu dan berkata.

"Harap kalian memberi kesempatan kepada kami untuk bicara berdua."

Lima orang itu mengangguk maklum dan mereka pun berloncatan masuk ke dalam hutan dan menghilang di balik batang-batang pohon, Sin Hong lalu menghampiri Hong Li.

"Bagaimana, Nona, apakah selama ini engkau baik-baik saja? Dan kuharap kedua orang tuamu juga berada dalam keadaan selamat dan sehat."

Katanya dengan sikap sopan. Hong Li cemberut.

"Susiok, bagaimana sih engkau ini? Bukankah engkau ini murid kong-kong, jadi engkau adalah sute dari ayahku dan karena itu, engkau ini susiokku dan aku masih terhitung keponakanmu sendiri, murid keponakan! Kenapa engkau masih menyebut aku nona-nona segala? Lupakah engkau bahwa namaku Hong Li? Kao Hong Li?"

Menghadapi berondongan serangan ini, Sin Hong tersipu. Bagaimanapun juga, dia seorang pemuda yang tidak biasa berhadapan dengan wanita, apalagi yang galak dan lincah seperti Hong Li ini. Dalam hal kelincahan, kejenakaan dan kegalakan, gadis ini rupanya menjadi saingan berat dari Suma Lian!

"Habis, aku harus menyebut apa kalau bukan nona?"

"Memangnya seorang susiok hendak dijadikan bujang maka menyebut nona kepadaku? Sebut saja namaku!"

"Mana aku berani?"

"Kalau tidak berani, sudahlah. Kita tidak usah bicara. Aku tidak sudi kau sebut nona!"

Post a Comment