Sin Hong tidak berpura-pura kalau dia nampak terharu dan berduka mengingat akan nasib yang menimpa diri Ci Hwa. Dan diam-diam dia mengepal tinju teringat akan kata-kata terakhir gadis itu yang menyatakan betapa Siangkoan Liong telah menodainya.
"Ah, kalau begitu pantas ia mendapatkan cinta dan kasih sayangmu, Hong-ko. Akan tetapi, ia telah meninggal dunia, tidak perlu diingat dan disedihkan lagi. Di dunia ini masih banyak terdapat gadis-gadis cantik yang akan dapat menggantikan Ci Hwa di dalam hatimu."
Sin Hong menggeleng kepala.
"Agaknya tidak mudah, Lian-moi. Seseorang haruslah setia terhadap perasaan hatinya sendiri. Kematian Ci Hwa membuat aku merasa lumpuh lahir batin, tidak akan memikirkan lagi tentang ikatan batin dengan wanita lain sampai entah kapan."
Kembali Suma Lian merasa betapa hatinya tertusuk kekecewaan yang mengherankannya. Dan sekaligus ucapan pemuda itu mengingatkan ia akan keadaan dirinya yang telah dipertunangkan, dijodohkan oleh neneknya sebagai pesan terakhir. Dijodohkan dengan Gu Hong Beng! Dan ia pun termenung. Tiba-tiba Sin Hong meloncat dan menginjak-injak api unggun sehingga padam. Tentu saja Suma Lian terkejut, akan tetapi sebelum ia sempat mengeluarkan suara, Sin Hong sudah menaruh telunjuk di depan mulutnya.
"Shhhhh lihat di sana...."
Bisiknya. Suma Lian yang juga sudah meloncat berdiri itu membalikkan tubuh memandang ke arah yang ditunjuk Sin Hong. Bulan sepotong memberi penerangan yang cukup bagi matanya yang berpenglihatan tajam itu sehingga ia mampu pula melihat adanya bayangan yang berlari cepat, datang dari arah sarang Tiat-liong-pang.
"Aku mau kejar dia!"
Kata Sin Hong dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat sekali, melakukan pengejaran. Sejenak Suma Lian tertegun dan kagum, kemudian ia mengumpulkan buntalan pakaiannya dan buntalan pakaian Sin Hong,
Dipanggulnya dua buntalan pakaian itu dan dia pun mengejar. Bayangan yang berlari cepat meninggal-kan sarang Tiat-liong-pang itu bukan lain adalah Gu Hong Beng! Seperti kita ketahui, pemuda perkasa ini sedang diuji oleh Siangkoan Lohan untuk mengantarkan surat dari para pimpinan pemberontak itu kepada Panglima Coa, komandan pasukan di benteng pemerintah yang bertugas di perbatasan utara. Komandan Coa inilah tokoh yang bersekutu dengan pihak pemberotak. Gu Hong Beng diuji dengan mengadakan hubungan ke benteng itu, mengantar surat dan dua orang temannya, Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian, masih ditahan dan menjadi sandera. Selagi dia berlari cepat menuju ke perbentengan, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan di depannya berdiri seorang laki-laki muda yang membentak,
"Sobat, berhenti dulu! Siapakah engkau, dari mana dan hendak ke mana? Aku melihat engkau baru keluar dari perkampungan Tiat-liong-pang!"
Mendengar bentakan ini dan melihat betapa orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi yang dapat dilihat dari gerakannya yang cepat, Hong Beng mengira bahwa tentu orang ini seorang pandai yang menjadi kaki tangan pemberontak dan yang menjadi satu di antara mata-mata pemberontak yang banyak disebar di daerah itu. Agaknya orang ini belum sempat mengenalnya, pikir Hong Beng. Untuk menghindarkan kesalahpahaman, dia pun langsung saja mengaku.
"Sobat, harap jangan menggangguku. Aku adalah utusan pribadi Siangkoan Pangcu yang melakukan. tugas rahasia amat penting, maka harap kau suka memberi jalan!"
Akan tetapi sungguh di luar dugaan Hong Beng. Begitu dia menjawab, pemuda itu langsung saja menyerangnya dan menotok ke arah dada dan pundaknya, untuk merobohkannya. Hong Beng cepat meloncat ke belakang sambil menangkis, lalu membalas karena kini dia pun sadar bahwa orang ini berniat buruk kepadanya. Mungkin saja para pimpinan pemberontak itu memang berniat buruk dan sengaja menyuruh kaki tangannya untuk menghadang dan membunuhnya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa penghadangnya ini adalah Tan Sin Hong, yang tentu saja segera menyerang untuk menangkapnya begitu mendengar bahwa dia adalah utusan pribadi yang membawa tugas rahasia dari ketua Tiat-liong-pang.
"Dukkk! kedua lengan mereka bertemu dan keduanya terkejut. Hong Beng yang terdorong oleh tenaga yang amat kuat, terkejut karena sama sekali tidak menyangka bahwa penghadangnya ini adalah seorang yang demikian lihainya,
Sebaliknya, Sin Hong juga kagum karena merasa betapa lengannya tergetar oleh pertemuan dua tenaga sakti itu. Hong Beng yang maklum bahwa lawannya walaupun di bawah sinar bulan redup itu nampak masih amat muda, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dia tidak mau kalau tugasnya ini terganggu, dan mungkin saja orang ini adalah utusan khusus Siangkoan Lohan yang dikirim ke situ untuk sengaja menghadangnya dan menguji kesetiaannya! Maka, begitu menyerang lagi, dia sudah mengerahkan tenaga sakti dari Pulau Es, yaitu Swat-im Sin-kang. Ketika tangan kirinya mendorong ke arah dada Sin Hong, maka hawa yang amat dingin menyambar dahsyat. Ketika dia menghadapi pukulan ini, merasakan hawa dingin yang menyengat mendahului pukulan, Sin Hong mengeluarkan seruan kaget dan cepat dia menghindar dengan loncatan ke kiri.
"Haiiiii! Apakah itu bukan Swat-im Sin-kang?"
Tanyanya heran. Mendengar pertanyaan ini, Hong Beng juga tertegun. Kiranya lawannya demikian lihainya sehingga mengenal pula pukulan dahsyat dari Pulau Es. Pada saat itu, nampak bayangan lain berkelebat dan ternyata bayangan itu seorang gadis cantik jelita yang menggendong dua buntalan pakaian.
Sejenak Hong Beng menjadi bengong. Biarpun sudah bertahun-tahun tidak saling bertemu dan ketika dia bertemu dengan gadis itu, Suma Lian baru berusia tiga belas tahun, namun dia tidak pernah dapat melupakan wajah remaja itu, semenjak gadis itu oleh neneknya dijodohkan dengan dia. Apalagi setelah dia mengalami kegagalan dalam cintanya kepada gadis bernama Can Bi Lan yang kini menjadi isteri pendekar Sim Houw (baca kisah SULING NAGA), maka wajah Suma Lian selalu terbayang di dalam hatinya. Kini, begitu bertemu, dia yakin bahwa gadis cantik jelita ini adalah Suma Lian! Di lain fihak, Suma Lian juga mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat, karena ia merasa tidak asing dengan pria yang tadi berkelahi melawan Sin Hong itu.
"Bukankah.... bukankah Nona ini Sumoi Suma Lian....?"
Akhirnya Hong Beng berseru, sedangkan Sin Hong menghentikan serangannya setelah tadi mengenal ilmu dahsyat Swat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju) dari keluarga Pulau Es.
"Ah, suheng Gu Hong Beng kiranya....!"
Suma Lian teringat begitu pemuda itu menyebutnya sumoi, dan seketika wajahnya berubah kemerahan karena ia teringat akan pesan pamannya, Suma Ciang Bun bahwa murid pamannya ini telah dijodohkan dengannya!
"Sumoi, sungguh tak kusangka akan bertemu denganmu di sini. Bagaimana engkau bisa berada di sini dan.... dan.... saudara ini siapakah?"
Dia memandang kepada Sin Hong yang tersenyum. Kiranya inilah yang bernama Gu Hong Beng, pikir Sin Hong. Tunangan dari Suma Lian! Seorang pria yang tampan dan gagah, pakaiannya biru sederhana dan bicaranya halus. Juga memiliki ilmu kepandaian tinggi, pantas kalau menjadi suami Suma Lian. Akan tetapi dia teringat akan pengakuan Gu Hong Beng tadi. Utusan Siangkoan Pangcu, membawa tugas rahasia yang amat penting! Oleh karena itu, timbul kecurigaannya dan sebelum Suma Lian menjawab, dia sudah mendahului.
"Lian-moi, hati-hati, bagaimanapun juga, dia adalah utusan dari Siangkoan Lohan, membawa tugas rahasia yang penting!"
Ucapan Sin Hong ini mengejutkan hati Suma Lian dan ia memandang kepada pria yang dicalonkan sebagai suaminya itu dengan pandang mata penuh selidik dan kecurigaan.
"Apa? Suheng, benarkah bahwa engkau kini telah menjadi kaki tangan pemberontak yang bergabung dengan para tokoh sesat itu?"
Hong Beng menghela napas panjang, lalu memperhatikan sekeliling tempat itu.
"Mari kita bicara,"
Bisiknya,
"akan tetapi harus berhati-hati agar tidak terdengar orang lain."
"Mari ikut denganku,"
Kata Sin Hong yang mengajak Hong Beng dan Suma Lian memasuki hutan di mana dia dan gadis itu tadi membuat api unggun. Tempat ini memang terlindung pohon-pohon, dan berada di tempat agak tinggi sehingga dapat melihat kalau ada orang datang ke tempat itu.
"Nah, di sini kita bisa bicara dengan aman,"
Katanya. Hong Beng lalu memandang Suma Lian dan kembali sinar kagum terbayang di matanya melihat gadis ini. Betapa cantik jelitanya Suma Lian sekarang dan jantungnya berdebar tegang, bukan hanya tegang karena gembira membayangkan gadis ini ditunangkan dengan dia, akan tetapi juga tegang melihat betapa gadis ini sekarang berdua dengan seorang pemuda yang lihai! Biarpun pemuda itu tidak dapat dikatakan berwajah tampan sekali, namun dia tidak buruk, dan wajahnya cerah, ramah dan menarik.
"Sumoi, apa yang kulakukan ini memang benar, yaitu bahwa aku menjadi utusan Siangkoan Lohan membawa tugas rahasia yang penting sekali. Akan tetapi, hal ini kulakukan dengan terpaksa karena aku sedang bersandiwara untuk menyelamatkan nyawa dua orang sandera. Engkau mengenal baik seorang di antara mereka, karena ia bukan lain adalah nona Pouw Li Sian...."
"Aaaihhh....!"
Tentu saja Suma Lian terkejut sekali mendengar nama saudara seperguruannya itu.
"Apa yang telah terjadi? Bagaimana Sian-sumoi dapat menjadi sandera di Tiat-liong-pang?"
Hong Beng lalu menceritakan semua yang telah terjadi, betapa tadinya mereka berempat, dia, Cu Kun Tek, Pouw Li Sian, dan juga Kwee Ci Hwa menjadi tawanan dan terancam nyawa mereka. Diceritakannya pula betapa Ci Hwa berhasil membebaskan mereka, entah dengan cara bagaimana, akan tetapi gadis itu lalu lenyap.
"Setelah membebaskan kami, ia pergi entah ke mana...."
"Ia telah tewas!"
Kata Sin Hong cepat, sengaja untuk memberi kesan kepada Suma Lian bahwa dia berduka atas kematian gadis yang dicintanya. Lalu diceritakannya kepada Gu Hong Beng tentang peristiwa itu, ketika dia dan Suma Lian membantu Ci Hwa melarikan diri akan tetapi gadis itu tewas karena luka-lukanya. Mendengar ini, Gu Hong Beng menarik napas panjang.
"Ah, sungguh kasihan sekali gadis bernasib malang itu...."
Dia lalu melanjutkan ceritanya, betapa mereka bertiga tertangkap lagi karena dikeroyok dan dimasukkan tahanan.
"Ouwyang Sianseng yang menjadi pelopor pemberontakan itu, bersama Siangkoan Lohan, lalu menyuruh kami bertiga mengambil keputusan, memilih satu antara dua. Membantu pemberontakan mereka atau dibunuh! Kami tidak takut mati, akan tetapi juga enggan mati konyol. Oleh karena itu, aku bersandiwara, pura-pura menakluk dan aku diuji dengan tugas ini, tugas khusus menyampaikan surat penting kepada Panglima Coa yang bersekutu dengan pemberontak. Aku sedang mencari jalan bagaimana baiknya untuk dapat menyelamatkan dua orang kawan yang dijadikan sandera, dan tiba-tiba saudara ini menyusul dan menyerangku."
"Suheng, saudara ini adalah Tan Sin Hong. Kami berdua juga sedang melakukan penyelidikan untuk menentang gerakan yang dipimpin oleh Tiat-liong-pang dan yang bersekutu dengan para tokoh sesat itu. Kami tidak tahu bahwa engkau dan juga Sian-sumoi ditawan di sana."
Tiba-tiba Sin Hong berkata,
"Lian-moi, harap kau suka membantu saudara Gu Hong Beng, menyampaikan surat dan mencari akal, sedangkan aku sendiri akan menyelundup ke sarang Tiat-liong-pang untuk mencoba kalau-kalau aku akan dapat membebaskan saudara Cu Kun Tek dan nona Pouw Li Sian itu!"
Tanpa menanti jawaban, Sin Hong berkelebat dan lenyap dari tempat itu.
"Hong-ko....!"
Suma Lian memanggil, akan tetapi pemuda itu telah lenyap ditelan kegelapan malam. Diam-diam Gu Hong Beng kagum bukan main.
"Dia amat lihai...."
Katanya.
"Tentu saja, Suheng. Dia adalah murid terakhir dari para locianpwe di Istana Gurun Pasir."