"Harap kalian bersabar dan percayalah kepadaku."
Li Sian merasa terharu. Tentu saja ia percaya kepada pemuda itu, dan ia merasa betapa beratnya tugas Hong Beng, bukan hanya tugas menyerahkan surat itu, terutama sekali karena pemuda itu bertanggung jawab atas nyawa mereka berdua, seolah-olah nyawa mereka berdua di dalam genggaman tangan Hong Beng.
"Berangkatlah dan harap hati-hati, saudara Gu Hong Beng,"
Katanya. Kun Tek memandang kepada Hong Beng dan terdengar suaranya yang lantang.
"Hong Beng, sejak dahulu aku selalu percaya kepadamu, dan sekarang pun kami percaya penuh kepadamu!"
Hong Beng mengangguk, kemudian setelah semua rantai yang membelenggunya dilepas dia pun berangkat meninggalkan sarang pemberontak itu, menuju ke benteng pasukan pemerintah seperti yang ditunjukan di dalam peta.
Setelah Hong Beng berangkat, Ouwyang Sianseng memegang janji. Dia pun bersama Siangkoan Lohan membebaskan belenggu yang mengikat Kun Tek dan Li Sian, kemudian mengantar mereka, dikawal oleh pasukan penjaga, menuju ke dua buah kamar di mana mereka berdua menjadi sandera. Hidup bebas seperti tamu, akan tetapi selalu dikawal dan dijaga ketat. Ouwyang Sianseng tidak bodoh, maka yang bertugas menjaga kedua orang sandera ini adalah tokoh-tokoh sesat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin, Thian Kek Sengjin, Ciu Hok Kwi, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek, Tok-ciang Hui-moko Liok Cit bahkan Siangkoan Liong sendiri selalu berada di tempat dekat sehingga selalu siap kalau-kalau kedua orang sandera itu mencoba untuk memberontak dan melarikan diri.
Akan tetapi dengan cerdiknya Siangkoan Liong tidak pernah lagi mencoba untuk menggoda Li Sian, bahkan dia tidak pernah memperlihatkan diri agar gadis itu tidak menjadi marah. Dia pun tahu akan siasat gurunya, dan memang dia harus mengakui perlunya banyak tenaga bantuan para ahli silat. Dia masih ngeri kalau membayangkan akan kelihaian kakek dan nenek yang telah menolong rombongan utusan kota raja itu. Dia pun mengerti bahwa kini gurunya mengutus Hong Beng pergi mengunjungi Panglima Coa juga untuk melihat apa yang telah terjadi di dalam benteng itu, karena sudah beberapa hari Panglima Coa tidak pernah mengirim utusan. Hong Beng yang melakukan perjalanan seorang diri, dengan hati-hati sekali menyusup-nyusup ke dalam hutan.
Beberapa kali dia berhenti dan menyelinap untuk bersembunyi, kemudian memanjat pohon untuk meneliti apakah perjalanannya itu diikuti orang ataukah tidak. Akhirnya dia merasa yakin bahwa fihak pemberontak tidak mengutus orang untuk membayanginya, maka hatinya menjadi lega. Dengan hati-hati Hong Beng lalu membuka sampul surat yang diserahkan kepadanya oleh Ouwyang Sianseng untuk diberikan kepada Panglima Coa atau Perwira Song. Dalam keadaan seperti itu, dia tidak rikuh lagi membuka surat orang, dan dibacanya surat itu. Isinya penting sekali. Di dalam surat itu, terang-terangan Ouwyang Sianseng memperkenalkan dirinya sebagai pembantu baru yang sedang diuji kesetiaannya! Dan Ouwyang Sianseng menanyakan tentang utusan kota raja kepada Panglima Coa,
Dan bahwa kalau tidak ada suatu hal yang menjadi penghalang, agar panglima Coa mempersiapkan pasukannya karena pasukan mereka akan mulai bergerak ke selatan! Disebutkan pula bahwa kini Tiat-liong-pang sudah siap, dengan anak buahnya yang berjumlah hampir lima ratus orang banyaknya, dengan Ang I Mopang lima puluh orang, dan agaknya orang-orang Mongol di bawah pimpinan Agakai sudah terkumpul seribu orang! Kalau Panglima Coa sudah siap, harap membawa pasukannya berkumpul di sarang Tiat-liong-pang agar dapat dibagi-bagi pasukan itu untuk melakukan gerakan ke berbagai jurusan! Hong Beng termenung. Surat ini penting sekali! Dan dia yang menjadi utusan. Bagaimanapun juga, dia tidak dapat mundur, karena di sana ada nyawa dua orang sahabatnya menjadi tanggungan.
Dia harus menyampai-kan surat ini, dan kembali. Kalau Pouw Li Sian dan Cu Kun Tek sudah dibebaskan, barulah mereka akan melihat perkembangannya. Sekarang, dia tidak dapat melakukan sesuatu kecuali menyampaikan surat itu kepada Panglima Coa atau Perwira Song. Sin Hong termenung. Malam itu dia dan Suma Lian terpaksa bermalam di hutan lebat, tak jauh dari sarang Tiat-liong-pang. Mereka telah melakukan penyelidikan semenjak mengubur jenazah Kwee Ci Hwa, dan mereka berdua terkejut melihat betapa kekuatan para pemberontak memang besar. Dan kini, agaknya pasukan Mongol sudah pula berkumpul di tempat itu, dan jumlah orang-orang Mongol ini banyak sekali, jauh lebih banyak dari orang-orang Tiat-liong-pang sendiri. Pasukan Mongol yang kelihatan buas ini berkumpul di lapangan luas yang berada di sebelah timur sarang Tiat-liong-pang, membuat tenda-tenda sementara.
Melihat kenyataan ini, Sin Hong dan Suma Lian terkejut sekali dan tentu saja mereka berdua tidak akan mampu melakukan sesuatu terhadap kekuatan yang demikian besarnya. Mereka lalu mengambil keputusan untuk pergi mencari para pendekar yang kabarnya banyak berkumpul di situ untuk menentang para tokoh sesat agar mereka dapat melakukan gerakan bersama, atau menyampaikan berita tentang gerakan kaum sesat ini kepada benteng pasukan penjaga perbatasan. Malam itu terpaksa mereka melewatkan malam di dalam hutan. Karena melihat Suma Lian kelelahan, setelah mereka makan malam yang terdiri dari roti dan daging kering, Sin Hong mempersilah-kan gadis itu untuk beristirahat dan tidur, sedangkan dia berjaga di dekat api unggun yang mereka buat. Sin Hong melamun setelah melihat gadis itu rebah di dekat api unggun sambil berkerudung jubah luar yang lebar.
Dia terkenang kepada Ci Hwa dan keterangan yang dikemukakan gadis itu sebelum tewas. Dan Sin Hong mengepal tinju. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa benar-benar Tiat-liong-pang yang mendalangi pembunuhan terhadap ayahnya itu. Dan Ciu Hok Kwi, Ciu Piauwsu yang pernah menjadi pembantu ayahnya, ternyata adalah tokoh Tiat-liong-pang yang pandai. Bahkan orang she Ciu itu pula yang menjadi pembunuh bertopeng, pembunuh orang she Lay yang gendut, dan kalau begitu, Ciu Hok Kwi ini pula yang mengatur segalanya. Dia telah terkecoh. Ketika Ciu Hok Kwi marah-marah dan pergi menantang Kwee Piauwsu, semua itu ternyata hanya sandiwara belaka! Kini jelaslah sudah semuanya bagi dia. Tiat-liong-pang memang membutuhkan perusahan piauw-kiok itu.
Dengan adanya perusahaan itu, mudah bagi Tiat-liong-pang untuk mengadakan hubungan dengan sekutunya, orang-orang Mongol di luar Tembok Besar. Tanpa dicurigai pasukan pemerintah yang berjaga di tapal batas utara. Dan usaha mereka telah berhasil karena buktinya kini pasukan Mongol telah dapat diselundupkan ke Tiat-liong-pang dalam jumlah besar tanpa diketahui oleh pasukan pemerintah. Dan dia tidak tahu bahwa kaum sesat, termasuk Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya, tentu membantu pula gerakan pemberontakan itu. Sin-kiam Moli berada di sana, tentu dua orang kawannya yang lihai, yaitu Thian Kong Cinjin tokoh Pat-kwa-pai dan Thian Kek Sengjin tokoh Pek-lian-pai, juga berada di sana. Tiga orang itulah yang masih hidup di antara mereka yang menyerbu Istana Gurun Pasir! Dan dua batang pedang pusaka Istana Gurun Pasir,
Yaitu Ban-tok-kiam dan Cui-beng-kiam, berada di tangan tiga orang itu dan dia harus merampasnya kembali. Dengan demikian, maka semua persoalan yang harus diberes-kan berada di Tiat-liong-pang. Urusan ayahnya, urusan guru-gurunya, juga urusan umum! Bagaimana-pun juga dia harus bangkit menantang Tiat-liong-pang, demi orang tuanya, demi guru-gurunya dan demi rakyat karena kalau pemberontakan yang dipimpin para tokoh sesat itu terjadi, tentu banyak rakyat yang menjadi korban keganasan mereka. Terdengar Suma Lian mengeluh dan Sin Hong melirik. Gadis itu bergerak dan kini terlentang. Seorang gadis yang hebat, pikirnya. Cantik jelita, gagah perkasa, pembera-ni, jenaka dan serba menyenangkan, keturunan keluarga Pulau Es pula! Seorang gadis pilihan dan harus diakuinya bahwa hatinya tertarik sekali begitu dia bertemu Suma Lian.
Dia merasa kagum bukan main. Dengan mudah sekali dia akan dapat jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Suma Lian ini. Akan tetapi, dia tahu bahwa hal itu tidak mungkin, bahkan tidak boleh sama sekali. Dia mendengar sendiri percaka-pan antara Suma Lian dan paman gadis itu, Suma Ciang Bun. Gadis jelita ini telah ditunangkan, telah dijodohkan dengan murid pendekar itu yang bernama Gu Hong Beng! Tidak, dia sama sekali tidak boleh mengganggu gadis ini! Pantangan besar baginya! Dia tidak akan mengorbankan orang lain, apalagi keluarga para pendekar terhormat itu, demi kesenangan diri sendiri! Dia harus menjauhkan diri dari Suma Lian, secepatnya agar jangan sampai pergaulan mereka menjadi semakin akrab karena dia melihat betapa ada tanda-tanda gadis ini bersikap amat baik dan manis kepadanya. Hal ini harus dicegah!
"Hong-ko, apakah yang kau pikirkan?"
Sin Hong terkejut bukan main mendengar teguran suara halus Suma Lian itu. Dia cepat menoleh dan ternyata gadis itu yang masih terlentang, sudah membuka sepasang matanya yang indah dan kocak itu dan sedang memandang kepadanya dengan penuh selidik, sedangkan mulut tersenyum jenaka.
"Apa? Aku aku tidak memikirkan apa-apa, Lian-moi."
Suma Lian bangkit duduk. Pita rambutnya terlepas dan rambut yang hitam panjang itu terurai. Disanggulnya rambut itu dan gerakan kedua lengan ketika menyanggul rambut itu sungguh luwes dan indah, membuat Sin Hong terpesona sejenak akan tetapi dia segera menundukkan mukanya agar tidak melihat pemandangan yang menarik itu. Seorang gadis menyanggul rambutnya, betapa luwes dan sedap dipandang!
"Hong-ko, tidak perlu kau menyangkal. Sejak tadi aku melihat engkau melamun, kadang-kadang mengepal tinju, merentang-rentangkan jari tangan, belasan kali engkau menarik napas panjang dan engkau memandangi api seolah-olah seluruh semangatmu melayang-layang ke dalamnya. Dan dari samping aku melihat wajahmu seperti orang berduka. Ada pakah Hong-ko?"
Suma Lian selesai menyanggul rambutnya dan ia duduk berhadapan dengan Sin Hong, terhalang api unggun sehingga mereka dapat saling melihat wajah masing-masing dengan jelas. Sin Hong melihat betapa wajah gadis itu kemerahan oleh sinar api, cantik jelita seperti wajah bidadari. Sin Hong merasa betapa jantungnya berdebar kencang dan kembali dia menundukkan mukanya agar tidak memandang keindahan yang nampak di depannya itu. Sungguh berbahaya sekali, pikirnya. Betapa mudahnya aku jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi ia sudah ada yang punya! Ia harus menggunakan akal untuk menjauhkan jarak di antara hati mereka. Dia menghela napas panjang.
"Aaah, hati siapa takkan berduga kalau kehilangan seorang yang amat disayangnya? Lenyapnya seorang yang dikasihi agaknya melenyapkan pula rasa bahagia di hati, melumpuhkan semangat...."
Suma Lian tertarik sekali dan memandang penuh selidik. Kerut alisnya menunjukkan bahwa ia terkejut dan juga kecewa bahwa pemuda di depannya ini sudah mempunyai seorang kekasih. Padahal ia mulai tertarik sekali!
"Siapakah orang yang kau sayang sedemikian besarnya itu, Hong-ko? Dan kenapa engkau kehilangan? Kemanakah ia pergi?"
"Baru saja ia meninggal dunia secara amat menyedihkan, Lian-moi."
Sepasang mata Suma Lan memandang penuh selidik, kemudian terbelalak ketika ia teringat,
"Ohhh! Kau maksudkan.... gadis yang tewas itu, yang bernama.... Kwee Ci Hwa....?"
Sin Hong memang suka kepada Ci Hwa, akan tetapi bukan gadis itu yang menjatuhkan hatinya, melainkan gadis yang berada di depannya ini. Akan tetapi dia mengangguk. Inilah satu-satunya jalan untuk menjauhkan diri dari Suma Lian, mengaku cinta kepada gadis yang telah tiada! Tidak ada halangannya. Kalau dia mengaku cinta kepada gadis yang masih hidup tentu akan mendatangkan kesulitan baru saja. Suma Lian merasa betapa kekecewaan menusuk hatinya, membuat ia heran sekali. Mengapa ia merasa kecewa mendengar Sin Hong cinta kepada seorang gadis lain? Dan di samping kekecewaannya, juga terdapat perasaan lega bahwa gadis yang dicintai Sin Hong itu telah tiada!
"Aih, sungguh aku tidak menyangka, Hong-ko. Kasihan sekali gadis itu."
Sin Hong menarik napas panjang.
"Memang patut dikasihani. Ia puteri Kwee-piauwsu yang tadinya kusangka menjadi biang keladi pembunuhan ayahku. Ci Hwa merasa penasaran bahwa ayahnya dituduh, maka ia meninggalkan rumah untuk membantu mencari siapa adanya pembunuh ayahku, bukan hanya untuk membantuku, akan tetapi juga untuk membersihkan nama ayahnya. Dan ia berhasil! Ia berhasil menemukan bahwa pelakunya adalah Ciu Hok Kwi, piauwsu yang dulu pernah menjadi pembantu ayahku, seorang tokoh Tiat-liong-pang yang menyelundup. Ia berhasil mencuci bersih nama ayahnya, dan berhasil membantuku menemukan pelakunya, dengan tebusan nyawanya!"