"Ehhh....?"
Hong Beng pura-pura kaget walaupun sudah dapat menduga bahwa tentu orang-orang cerdik ini berhasil pula mengadakan persekutuan dengan para pimpinan pasukan yang berkhianat terhadap negaranya.
"Ah, kalau seperti itu keadaannya, sungguh membesarkan hati. Akan tetapi, kami ingin sekali tahu, kalau kami menerima uluran tangan Pangcu dan mau bekerja sama, lalu apakah tugas kami? Terus terang saja, kami bertiga tidak mempunyai kepandaian untuk memimpin pasukan dalam peperangan."
Ouwyang Sianseng tertawa lembut, hatinya gembira karena sikap tiga orang muda itu agaknya sudah condong untuk mau bekerja sama. Bagaimanapun juga, mereka itu agaknya merasa ngeri dengan terjadinya peristiwa kemarin, dan mereka tidak ingin mati konyol dan tersiksa, memilih hidup dan bekerja sama!
"Ha-ha-ha, orang muda yang gagah. Tentu saja untuk memimpin pasukan, kami sudah mempunyai ahli-ahlinya. Tugas kalian sama dengan tugas para orang gagah yang membantu kami yaitu menghadapi pihak lawan yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi karena fihak pasukan juga tentu mempunyai banyak jagoan. Akan tetapi, sebelum kami menerima penyerahan diri dari kalian, terpaksa kami harus menguji kalian lebih dahulu. Apakah kalian bertiga ini benar-benar jujur untuk bekerja sama menentang pemerintah penjajah, ataukah hanya siasat saja dan mencari kesempatan untuk kemudian melarikan diri atau membalik mengkhianati kami."
Diam-diam tiga orang muda perkasa itu terkejut, dan Hong Beng memuji dalam hatinya. Kakek ini selain lihai sekali ilmu silatnya, juga ternyata amat cerdik. Dia harus berhati-hati menghadapi kakek ini. Seketika wajah Hong Beng menjadi merah dan sinar matanya mencorong karena marah.
"Locianpwe terlalu memandang rendah kepada kami orang-orang muda!"
Katanya dengan nada suara marah,
"Kami bukanlah pengkhianat bangsa, kami bukanlah penjilat penjajah asing dan kami berani bersumpah bahwa kami di dalam hati selalu menentang penjajahan! Kalau gerakan perjuangan yang Ji-wi pimpin ini bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi membebaskan rakyat jelata dari penindasan penjajah asing, kami akan rela membela dengan pertaruhan nyawa sekalipun!"
Hong Beng memang cerdik. Seperti tanpa disengaja, dia menyinggung cita-cita perjuangan itu. Siapakah orangnya yang mau berterang mengemukakan cita-cita pribadinya? Setiap pemimpin penggerak perjuangan atau pemberontakan sudah pasti menyembunyikan tujuan pribadi, dan menonjolkan cita-cita yang mulia demi bangsa dan tanah air. Demikian pula dengan Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan. Mendengar ucapan itu, Siangkoan Lohan yang sebenarnya memberontak karena ingin mengangkat puteranya menjadi kaisar, cepat berseru.
"Ah, tentu saja! Tentu saja perjuangan ini demi kepentingan rakyat!"
Ouwyang Sianseng yang cerdik lalu berkata,
"Bagaimanapun juga kami harus melihat bukti kejujuran kalian. Gu Hong Beng, dari beberapa orang pembantu kami, kami sudah mendengar bahwa sejak dahulu engkau adalah seorang pendekar muda yang gagah perkasa. Dan sekarang kami ingin melihat bukti kegagahanmu itu, kami mempunyai tugas untukmu. Dua orang temanmu ini akan tetap menjadi sandera, walaupun mereka akan diperlakukan sebagai tamu yang terhormat, bukan sebagai tawanan. Nah, kalau tugasmu itu berhasil kau lakukan dengan baik, barulah kami percaya dan kalian bertiga akan kami terima sebagai pembantu-pembantu yang kami hargai. Sebaliknya, kalau engkau bermain curang, ingat bahwa dua orang temanmu masih berada di sini sebagai sandera,"
Ouwyang Sianseng tentu saja sudah mendengar banyak tentang tiga orang itu dari Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya, karena mereka itu merupakan musuh-musuh lama, terutama sekali Hong Beng dan Kun Tek (baca kisah SULING NAGA). Hong Beng saling pandang dengan dua orang temannya, lalu berkata kepada mereka,
"Kalian berdua tenanglah menjadi sandera di sini, karena aku pasti akan mampu melaksanakan tugas itu dengan baik."
Kemudian dia menghadapi lagi Ouwyang Sianseng dan berkata,
"Baiklah, Locianpwe. Tugas apa yang diserahkan kepadaku? Akan kulaksanakan dengan baik!"
Dia merasa perlu untuk menenangkan hati dua orang temannya, terutama Kun Tek yang keras hati, agar Kun Tek mengerti bahwa tentu Hong Beng akan dapat mencari akal dan jalan yang baik untuk menghadapi tugas itu! Padahal, tentu saja Hong Beng sendiri belum mengerti bagaimana dia akan dapat keluar dari ujian ini, karena macam ujian itu pun dia belum tahu.
"Begini, orang muda. Seperti telah kukatakan tadi, kami mempunyai hubungan dengan panglima tinggi pemimpin pasukan yang berjaga di tapal batas. Komandan itu adalah Coa-tai-ciangkun dan wakilnya adalah Song-ciangkun. Mereka berdua itulah yang memimpin puluhan orang perwira yang mengepalai pasukan-pasukan pemerintah di perbatasan! Dan mereka sudah siap membantu kami. Oleh karena itu, engkau kuberi tugas untuk pergi menyelundup ke dalam benteng itu, membawa surat kami untuk disampaikan kepada komandan Coa."
"Akan tetapi, Locianpwe, kalau memang Locianpwe sudah mempunyai hubungan dengan mereka, apa perlunya lagi aku harus menyelundup ke dalam benteng? Bukankah masuk lewat pintu gerbang pun tidak mengapa, kalau mereka tahu bahwa aku utusan dari Tiat-liong-pang, tentu akan diterima sebagai sahabat,"
Bantah Hong Beng yang cerdik.
"Ah, engkau sungguh bodoh, orang muda. Memang koman-dannya dan para perwiranya sudah bersekutu dengan kita, akan tetapi karena hal itu berbahaya tentu saja mereka tidak terang-terangan, dan tidak semua anak buah pasukan tahu akan hal itu. Pasukan hanya mentaati perintah komandannya, maka tidak perlu mengetahui semua hal, takut kalau-kalau hal itu dibocorkannya sebelum gerakan kita berhasil. Sudahlah, engkau membawa surat kami, malam-malam menyelundup masuk ke dalam benteng dan menyerahkan surat kepada Panglima Coa atau Perwira Song. Sanggupkah?"
Hong Beng tersenyum.
"Tugas itu tidak berat tentu saja aku sanggup!"
"Masih ada kelanjutannya. Kalau engkau sudah menyerahkan surat kepada Panglima Coa atau Perwira Song, engkau harus siap melaksanakan semua tugas yang diserahkan mereka kepadamu! Ingat, membantah mereka berarti membantah kami pula."
Hong Beng diam-diam merasa gentar juga, akan tetapi dengan tenang dia mengangguk,
"Bagaimana andaikata aku ketahuan orang di dalam benteng dan aku diserang dan hendak ditangkap? Apakah aku harus melarikan diri ataukah...."
"Kalau yang melihatmu hanya beberapa orang saja, bunuh mereka. Kalau banyak orang larilah. Akan tetapi kalau mungkin yakinkan hati mereka bahwa engkau adalah sahabat Panglima Coa. Nah, ini suratnya sudah kami persiapkan, sekarang juga berangkatlah, dan ini peta petunjuk di mana adanya benteng itu."
Hong Beng menerima surat dan peta itu, lalu sebelum berangkat dia menoleh kepada dua orang temannya.